Anda di halaman 1dari 10

PEMERIKSAAN ENZIM ASETIL CHOLIN ESTERASE (AcHE)

Oleh : Nama NIM Kelompok Rombongan Asisten : Meilina Retno Asih : B1J010197 :4 :2 : Dayu Ardiyuda

LAPORAN PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI LINGKUNGAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2012

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pemakaian pestisida berlebih terutama Organofosfat maupun karbamat yang tidak hati-hati dan tanpa adanya alat pelindung, dapat menyebabkan keracunaan pada petani penyemprot atau yang menggunakan bahan-bahan tersebut. Organofosfat maupun karbamat merupakan inhibitor aatu penghambat kerja enzim

asetilcholinesterase atau sebagai anti cholinesterase karena kedua bahan tersebut mempunyai efek yang sama dalam system syaraf (perifer dan pusat). Enzim tersebut terdapat pada transissi kolinergik pada membrane pra atau post sinap dan berfungsi untuk menghidrolisis asetil cholin menjadi asam asetat atau cholin. Asetil cholin merupakan neurotransmitter atau penghantar impuls sayaf dan apabila ini mengalami gangguan seperti kadarnya berlebih dapat menyebabkan perangsangan aseptor kolinergik pada ujung syaraf secara terus menerus. Apabila aktivitas AcHE tinggal 25% dan tidak mendapatkan pengobatan maka dapat menyebabkan kematian karena kegagalan dan terhentinya kerja jantung (Tim Toksikologi, 2012).

B. Tujuan 1. Mengetahui ada tidaknya pencemaran akibat pestisida dari pemeriksaan AcHE. 2. Mengukur enzim AcHE dengan spektrofotometer.

C. Manfaat Mahasiswa memiliki keterampilan dalam melakukan pemeriksaan hematologi khususnya kadar AcHE sebagai akibat dari senyawa beracun.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Pada semua sistem saraf vertebrata dan serangga terdapat pusat-pusat sinaps yang akan mengalirkan sinyal berupa senyawa kimia ke otot maupun atau neuron yang lain. Senyawa kimia tersebut berupa neurotransmitter yang disebut dengan asetilkolin (ACh). Asetilkolin yang terbentuk akan segera mengalami hidrolisis oleh kolin esterase (ChE) menjadi kolin dan asam asetat. Peran ChE dimulai sebelum sinaptogenesis pada pembentukan neural tube pada ayam (Layer, 1991) dan pembentukan ChE terjadi seiring dengan pertumbuhan a kson (Gilbert, 1988). Sistem cholinergik pada awal perkembangan berfungsi sebagai regulasi pertumbuhan dan fungsi morfogenetik (Lauder dan Schambra, 1999) dengan cara mengendalikan proliferasi sel, motilitas, diferensiasi sel dan ekspresi gen (Weiss et al., 1998). Dengan demikian sistem cholinergik sangat berperan penting dalam perkembangan sel dan penyusun perkembangan otak (Slotkin, 1999). Mekanisme kerja cholinotoxic seperti insektisida, etanol dan nikotin (selanjutnya disebut dengan anti - ChE) menghambat aktivitas ChE dengan cara mengikat ChE membentuk ikatan kompleks dan menutup reseptor ACh baik reseptor nikotinik (Ncholinoreceptor) maupun muskarinik (M-cholinoreceptor) (Faiman et al., 1991). Reseptor nikotinik menerima rangsangan ACh dari ujung saraf otot lurik, ganglion saraf autonom dan sedikit SSP, sedang reseptor muskarinik menerima rangsangan ACh dari ujung saraf otot polos, kelenjar eksokrin dan endokrin (Ballantyne dan Marrs, 1992). Penurunan aktivitas ChE menyebabkan terjadi penumpukkan AChe pada sinaps dan aliran sinaps akan terganggu, kondisi demikian meyebabkan individu menjadi hiperaktif kemudian lumpuh dan mati. Pengukuran kadar ChE lebih sering dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemaparan insektisida dibanding dua enzim yang lain. (Ballantyne dan Marrs, 1992; Jin dan Kitos, 1996).

III. MATERI DAN METODE

A. Alat Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Tabung reaksi ukuran 5ml, mikropipet ukuran 100l, spektrofotometri, spuit, Torniquet dan Yellow Type.

B. Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah serum darah dan Reagen Cholin Esterase.

C. Cara kerja 1. Ambil darah probandus dengan spuit sebanyak 4cc dimasukan dalam tabung reaksi dan di sentrifuges selama 10 menit dengan kecepatan 6000rpm 2. Diambil serum sebanyak 400l dan dimasukan kedalam 4cc reagen kolinesterase kemudian pindahkan kedalam kuvet. 3. Baca absorbansi pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 405 nm,, tepat 20 detik (A1) dan 60 detik (A2). Perhitungan : Aktivitas AcHE = A2 - A1 x 35.200 unit/liter Nilai Normal : Laki-laki : 4600 - 11.500 unit/liter Perempuan : 3930 11.800 unit/liter

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Tabel Data Pengamatan AcHE Pada Darah Probandus Rombongan Dua Nama Tingkat No A1 A2 Aktivitas cHE (Jenis Kelamin) keracunan 1 Isal 0.313 0.313 68.5 x 4 = 274 5,93 % 2 Lita 0.310 0.306 274 x 4 = 1096 27,9 % 3 Ian 0.309 0.310 68.5 x 4 = 274 5,93 % 4 Erna 0.313 0.314 68.5 x 4 = 274 6,97 % Dengan : Kadar Kolin Esterase 85 100 % 50 85 % 25 50 % 0 25 %

Tingkat Keracunan Tidak Ada Racun Keracunan Ringan Keracunan Sedang Keracunana Berat

B. Pembahasan Pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk: 1) memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit yang merusak tanaman, bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil tanaman, 2) memberantas rerumputan, 3) mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan, 4) mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman, 5) memberantas atau mencegah binatang-binatang atau jasad-jasad renik dalam rumah tangga, bangunan, dan dalam alat-alat pengangkutan, 6) memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang perlu dilindungi dengan penggunaan pada tanaman, tanah, atau air (Anon. 2005c). Pestisida yang biasa kita dapat di pasaran adalah dalam bentuk cair, tepung, atau butiran. Ketiganya sama berbahayanya bagi kesehatan. Karena itu perlu ditangani dengan baik dan hati-hati. Paling tidak ada 100 jenis insektisida organofosfat yang dikeluarkan oleh WHO sebagai zat yang digunakan untuk mengendalikan vektor. Berdasarkan ketahanannya di lingkungan, maka pestisida dapat dikelompokkan atas dua golongan yaitu yang resisten dimana meninggalkan pengaruh terhadap lingkungan dan yang kurang resisten. Pestisida yang termasuk organochlorines termasuk pestisida yang resisten pada lingkungan dan meninggalkan residu yang terlalu lama dan dapat terakumulasi dalam jaringan melalui rantai makanan, contohnya DDT, Cyclodienes, Hexachlorocyclohexane (HCH), endrin. Pestisida kelompok organofosfat adalah pestisida yang mempunyai pengaruh yang efektif sesaat saja dan cepat terdegradasi di tanah, contohnya Disulfoton, Parathion, Diazinon, Azodrin, Gophacide, dan lainnya. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang diperoleh pada praktikum kali ini bahwa semua probandus yang digunakan terpapar oleh pestisida baik secara langsung ataupun tidak karena hasil yang ditunjukan menujukan bahwa mereka mengalami keracunan berat atau sedang karena hasil yang diperoleh kurang dari 50 %. Gejala klinik

baru akan timbul bila aktivitas kolinesterase 50% dari normal atau lebih rendah. Akan tetapi gejala dan tanda keracunan organofosfat juga tidak selamanya spesifik bahkan cenderung menyerupai gejala penyakit biasa (Gallo, 1991). Asetilkolin (AcH) adalah penghantar saraf yang berada pada seluruh sistem saraf pusat (SSP), saraf otonom (simpatik dan parasimpatik), dan sistem saraf somatik. Asetilkolin bekerja pada ganglion simpatik dan parasimpatik, reseptor parasimpatik, simpangan saraf otot, penghantar sel-sel saraf dan medula kelenjar suprarenal. Setelah masuk dalam tubuh, golongan organofosfat dan karbamat akan mengikat enzim asetilkolinesterase (AcHE), sehingga AcHE menjadi inaktif dan terjadi akumulasi asetilkolin. Enzim tersebut secara normal menghidrolisis asetilkolin menjadi asetat dan kolin. Pada saat enzim dihambat, mengakibatkan jumlah asetilkolin meningkat dan berikatan dengan reseptor muskarinik dan nikotinik pada system saraf pusat dan perifer. Hal tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang berpengaruh pada seluruh bagian tubuh (Barile, 1991). Organofosfat menghambat aksi pseudokolinesterase dalam plasma dan kolinesterase dalam sel darah merah dan pada sinapsisnya. Efek organofosfat yang utama adalah penghambatan terhadap aktivitas enzim asetilkolinesterase sehingga aktivitas asetilkolkolin sebagai neurotransmitter akan meningkat. Penghambatan kerja enzim terjadi karena organofosfat melakukan fosforilasi enzim tersebut dalam bentuk komponen yang stabil (Ames, et.al, 1989). Reaksi dibawah merupakan hidrolisis Asetilkolin menjadi asetat dan kolin yang dibantu oleh enzim Asetilkolinesterase :

Gejala keracunan kronik organofosfat timbul akibat penghambatan kolinesterase dan akan menetap selama 2 6 minggu, menyerupai keracunan akut ringan. Tetapi bila terpapar lagi dalam jumlah kecil dapat timbul gejala yang berat. Untuk golongan karbamat, ikatan kolinesterase akan bersifat sementara dan akan terlepas kembali dalam beberapa jam (reversibel), sehingga tidak akan timbul keracunan kronik. Hal ini berarti bahwa kejadian keracunan pada petani tidak dipengaruhi oleh masa kerja sebagai petani tetapi dipengaruhi oleh intensitas paparan yang terjadi serta rentang waktu penggunaan pestisida (Slotkin, 1999). Faktor yang mempengaruhi kadar enzim AcHE dalam tubuh adalah pemamparan yang dilakukan oleh seseorang terhadap jenis-jenis pestisida yang berbahaya seperti karbamat dan organofosfat yang mampu menghambat kerja enzim Asetilkolinesterase. Intenitas pemaparan terhadap jumlah pestisida yang digunakan mampu meningkatkan keracunanan karena kadar kolinesterasenya berkurang. Terutama dalam proses pengurangan dampak keracunan yang terjadi pada penderita adalah terapkan keadaan yang aman terhadap apa yang dilakukan ketika berdekatan dengan pencemaran atau bahan-bahan yang berbahaya (Lauder, 1999). Efek yang ditimbulkan ketika seseorang terpapar Organfosfat, dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Pemeriksaan AcHE pada probandus yang digunakan kali ini menunjukan hasil bahwa semua probandus yang digunakan dalam keadaan keracunan berat dan sedang. 2. Kadar AcHE dengan menggunakan spektrofotometer menunjukan hasil bahwa tingkat keracunan sedang 27,9 % dan tingkat keracunan berat dengan 5,93 % pada probandus yang digunakan pada praktikum kali ini.

DAFTAR REFERENSI

Ames, R.G., Brown S.K., Mengle D.C., Kahn E., Stratton J.W., Jackson R.J. 1989. Cholinesterase Activity Depression Among California Agricultural Pesticide Applicator. Industr. Med.
Anon. 2005c. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 Tahun 1973 Tentang Pengawasan Atau Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida dalam Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Kesehatan Kerja. Disnaker Propinsi Jatim. p: 97-100

Ballantyne B, and Marrs TC. 1992. Overview of the biological and clinical aspects of organo phosphate and carbamates. In: Clinical and experimental toxicology of organophosphat and carbamates. Ballantyne B, and Marrs TC (ed). ButterworthHeinemann Ltd. Oxford Barile, F.A. 1991. Clinical Toxicology: Principles and Mechanisms. CRC Press. London. Faiman MD, Chu F, Hart BW, and Kitos PA. 1991. Covalent binding of chick embryo proteins by the alkylthiocarbamate molinate . Toxicologist. 11(1): 73 [Abstract]. Gallo M.A., Lawryk N.J. . 1991. Organic Phosphorus Pesticides. Handbook of Pesticide Toxicology Gilbert S. 1988. Developmental Biology. 2nd ed. Sinauer Associates. Massachuset. Jin O, And Kitos P. 1996. Teratogenic Synergy Between A Thiocarbamate Herbicide And An Organophorus Insecticide. Faseb. J. 10(3): 792 [Abstract]. Lauder JM, and Schambra UB. 1999. Morphogenetic roles of acetylcholine. Environ. Health Perspect. 107 (S1): 65-69. Layer PG. 1991. Choline esterase during development of the avian nervous system . Cell Mol Neurobiol. 11:7-13 Slotkin TA. 1999. Developmental cholinotoxicants: nicotine and chlorpyrifos. Environ. Health Perspect. 107 (S1): 71-80 Tim Taksonomi. 2012. Buku pembimbing praktikum Toksikologi. Universitas Jenderal Soedirman.Purwokerto. Weiss ER, Maness P, and Launder JM. 1998. Why do neurotransmitters act like growth factors? Perspect. Dev. Neurobiol. 5(4) : 323-335.