Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN II PERANAN AUKSIN TERHADAP PERAKARAN STEK

Disusun oleh : Adhimi Rahmala Dewi B1J010046 Novia Citra B1J010176 Ivi Rosalina B1J010184 Safrial Qadiri B1J010193 Meilina Retno Asih B1J010197 Cahyo Adi Purwoko B1J010221 Hendri Apriyadi B1J010210 Kelompok 2 Rombongan II Asisten : Khafid Mukti Wijaksana

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2012

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN Acara praktikum : Peranan auksin terhadap perakaran stek NAA serta akuades. Hasil dan pembahasan A. Hasil Jumlah Akar
Perlakuan Fe-EDTA FeCl3 Tanpa Ca Tanpa S Tanpa Mg Tanpa K Tanpa N Tanpa P Tanpa Fe Tanpa Hara Ulangan 2 0 0 4 0 1 0 2 3 2 3 Total Total 2,000 16,000 7,000 5,000 6,000 4,000 6,000 6,000 7,000 4,000 63,0000 Rataan 0,667 5,333 2,333 1,667 2,000 1,333 2,000 2,000 2,333 1,333

Tujuan : Mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan

1 2 10 0 1 5 2 4 2 3 0

3 0 6 3 4 0 2 0 1 2 1

S R Perla n kua G t ala Tota l

dB

Fhitung 9 4 ,0 3 3 2 333 4 73 0 082 ,6 0 7 ,9 9 1 4 2 12 667 5 333 0 0 ,6 6 6 ,1 3 3 2 14 000 9 4 ,7 0 0

JK

KT

ns

F Ta ble 0 5 ,0 2 9 ,3

0 1 ,0 3 6 ,4

Panjang Akar
Perlakuan Fe-EDTA FeCl3 Tanpa Ca Tanpa S Tanpa Mg Tanpa K Tanpa N Tanpa P Tanpa Fe Tanpa Hara 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 4 Total Ulangan 2 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 4 0 0 1 1 Total 1,000 0,000 0,100 0,000 1,600 4,500 0,000 0,000 0,500 4,500 12,2000 Rataan 0,333 0,000 0,033 0,000 0,533 1,500 0,000 0,000 0,167 1,500

S R Perla n kua G t ala Tota l

dB 9 2 0 2 9

Fhitung 9 100 1 922 1 036 ,8 2 0 ,0 0 2 ,5 9 0 3 1 ,4 6 6 0 2 3 3 4 4 6 7 ,7 2 3 2 ,2 8 6 4 567

JK

KT

ns

F Ta ble 0 5 ,0 2 9 ,3

0 1 ,0 3 6 ,4

Tinggi Tanaman
Perlakuan Fe-EDTA FeCl3 Tanpa Ca Tanpa S Tanpa Mg Tanpa K Tanpa N Tanpa P Tanpa Fe Tanpa Hara 1 0 1 0 1 5 1 0 0 1 1 Total
S R Perla n kua G t ala Tota l dB 9 2 0 2 9 JK KT

Ulangan 2 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0

3 1 1 0 0 0 3 0 2 1 0

Total 1,000 1,500 0,000 3,500 5,000 3,000 0,000 1,500 2,000 0,500 18,0000

Rataan 0,333 0,500 0,000 1,167 1,667 1,000 0,000 0,500 0,667 0,167
F Ta ble 0 5 ,0 2 9 ,3

Fhitung 7 667 0 704 0 024 ,8 6 6 ,8 4 7 ,6 6 9 2 2 ,8 3 3 1 4 6 7 8 3 3 3 ,4 1 6 3 ,7 0 0 6 000

ns

0 1 ,0 3 6 ,4

B. Pembahasan Hasil pengamatan pada parameter jumlah akar didapatkan hasil F hitung lebih kecil dari pada F tabel yang berarti hasil menunjukan tidak signifikan. Dalam hal ini unsur hara yang digunakan tidak berpengaruh terhadap jumlah akar tumbuhan. Hal ini tidak sesuai dengan pustaka yang menyatakan bahwa unsur hara khusus nya Fosfor sangat mempengaruhi pembentukan dan perkembangan akar (Howler, 1981). Ketidak signifikan hasil ini dapat di sebabkan karena tanaman tidak diberi asupan hara mikro, karena menurut Soepardi (1983) ketiadaannya unsur mikro yang di samping pemberian unsure mirko menyebabkan tanaman tidak tumbuh optimal optimal (Soepardi, 1983). Hasil pengamatan pada parameter panjang akar diperoleh hasil F hitung lebih kecil dari pada F tabel yang berarti hasil menunjukan tidak signifikan. Dalam hal ini, unsur hara tidak berpengaruh pada perpanjangan akar. Setelah dilihat dalam referensi, ternyata hasilnya berkebalikan. Seharusnya, hara tetap mempengaruhi perpanjangan akar, yaitu Fosfor ( P ) yang berfungsi untuk merangsang petumbuhan akar, karena akar merupakan bagian yang meristematik (Howler, 1981).Pengamatan pada tinggi tanaman, diperoleh hasil bahwa F hitung lebih kecil daripada F tabel, dengan hasil yang diperoleh berarti bahwa hasil menunjukkan tidak signifikan. Menurut pustaka, jika tanaman kekurangan satu unsur hara baik berupa unsure hara makro/mikro, walaupun unsur hara yang lain cukup banyak, maka produktivitas pertumbuhan tanaman akan terganggu. Kuncinya adalah, pengelompokan kandungan unsur hara makro dan mikro dalam tanah dapat digunakan untuk memperkirakan kebutuhan unsur hara tanaman. Melihat kondisi yang demikian maka, dapat diberikan unsur hara berupa pupuk dalam jumlah yang lengkap dan seimbang, sehingga kebutuhan sumber hara pada tanah akan optimal dan terjaga. Dalam hal ini pupuk cair organik super A1 dapat menjadi alternatif terbaik, untuk kebutuhan unsur hara yang seimbang dan optimal (Series, 2011). Unsur hara esensial adalah unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman, fungsinya tidak dapat digantikan oleh unsur lain. Bila jumlahnya tidak mencukupi, maka tanaman tidak dapat tumbuh dengan Normal (Hidayatus, 2011). Unsur hara esensial ini diantaranya : Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Belerang (S),

Besi (Fe), Mangan (Mn), Boron (B), Molibdenum (Mo), Tembaga/cuprum (Cu), Seng (Zn) dan Klor (Cl) (Hidayatus, 2011). Berdasarkan jumlah kebutuhannya bagi tanaman, dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1. Unsur hara makro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang relatif besar. beberapa unsur hara ini diantaranya : Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Belerang (S). 2. Unsur hara mikro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang relatif kecil, bila berlebihan menjadi racun. Unsur hara ini diantaranya : Besi (Fe), Mangan (Mn), Boron (B), Molibdenum (Mo), Tembaga/cuprum (Cu), Seng (Zn) dan Klor (Cl), Natrium (Na), Cobalt (Co), Silicon (Si), Nikel (Ni) (Hidayatus, 2011); (Ispandi, 2005). FUNGSI UNSUR HARA MAKRO Jumlah tak terbatas, tidak perlu diusahakan pengadaannya. Unsur hara ini disebut juga pokok, karena penyusun bahan organik, jumlahnya tak terbatas di alam. Tidak ada kasus kekurangan, kalaupun ada gejalanya layu menyeluruh dan merata karena tanaman tidak disiram atau kekurangan air. Menurut Hidayatus (2011), fungsifungsi dari hara makro dan mikro adalah sebagai berikut : 1. Karbon (C) Sebagai pembangun bahan organik karena sebagian besar bahan kering tanaman terdiri dari bahan organik, diambil tanaman berupa C02. 2. Hidrogen (H) Sebagai elemen pokok pembangun bahan organik. diambil dalam bentuk air (H2O) 3. Oksigen (O) Sebagai pembangun bahan organik, respirasi, dan pembakar energi. diambil oleh tanaman dalam bentuk Oksigen Bebas (O2) atau air (H2O) Jumlah terbatas bahkan sangat kecil di alam atau jumlah kecil yang bisa diserap tanaman, harus diusahakan pengadaannya karena nutrisi penting. 4. Nitrogen (N) Merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan. Merupakan bagian dari sel (organ) tanaman itu sendiri. Berfungsi untuk sintesa asam amino dan protein dalam tanaman. Merangsang pertumbuhan vegetatif ( warna hijau ) seperti daun.

Tanaman yang kekurangan unsur N gejalanya : pertumbuhan lambat/kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat menguning dan mati. 5. Pospor (P) Berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman. Merangsang Merangsang pembungaan pembentukan dan biji. pembuahan. Merangsang Merangsang pembelahan pertumbuhan sel tanaman akar. dan

memperbesar jaringan sel. Tanaman yang kekurangan unsur P gejaalanya : pembentukan buah/dan biji berkurang, kerdil, daun berwarna keunguan atau kemerahan ( kurang sehat ). 6. Kalium (K) Berfungsi dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, enzim dan mineral termasuk air. Meningkatkan daya tahan/kekebalan tanaman terhadap penyakit. Tanaman yang kekurangan unsur K gejalanya : batang dan daun menjadi lemas/rebah, daun berwarna hijau gelap kebiruan tidak hijau segar dan sehat, ujung daun menguning dan kering, timbul bercak coklat pada pucuk daun. 7. Calsium (Ca) Merupakan bagian penting dari dinding sel dan sangat penting untuk menunjang proses pertumbuhan. Kalsium adalah untuk menyusun klorofil. Dibutuhkan enzim untuk metabolis karbohidrat, serta mempergiat sel meristem. Kekurangan kalsium mengakibatkan terjadinya disintegrasi padaujung-ujung tanaman (ujung batang, akar, dan buah) sehingga ujungnya menjadi mengering atau mati, tunas daun yang masih muda akan tumbuh abnormal. 8. Magnesium (Mg) Merupakan penyusun utama khlorofil yang menentukan laju fotosintesa / pembentukan karbohidrat. Berfungsi untuk transportasi fosfat. menciptakan warna hijau pada daun. Kekurangan magnesium yaitu menguningnya daun yang dimulai dariujung da bagian bawah daun. 9. Sulfur (S) / Belerang Pembentukan asam amino dan pertumbuhan tunas serta membantu pembentukan bintil akar tanaman Pertumbuhan anakan pada tanaman Berperan dalam pembentukan klorofil serta meningkatkan ketahanan terhadap jamur Pada beberapa

jenis tanaman antara lain berfungsi membentuk senyawa minyak yang menghasilkan aroma dan juga aktifator enzim membentuk papain. Gejala kekurangan sulfur pada tanaman pada umumnya mirip kekurangan unsur nitrogen. misalnya daun berwarna hijau mudah pucat hingga berwarna kuning, tanaman kurus dan kerdil, perkembangannya lambat (Hidayatus, 2011). FUNGSI UNSUR HARA MIKRO 10. Ferrit/besi (Fe) Berfungsi untuk pembentukan klorofil. Tanda kekurangan Fe yaitu daun menguning dan ahirnya mati dari pucuk. 11. Mangan (Mn) Untuk penyusunan klorofil, perkecambahan, dan pemasakan buah. Ciri kekurangan Mn biji yang terbentuk akan sangat jelek, daun menguning dan beberapa jaringan akan mati. 12. Tembaga/Cupprum (Cu) Belum banyak diketahui, namun tembaga berfungsi untuk pembentukan klorofil. Ciri kekurangan tembaga daun tidak merata dan daun sering layu, malah terkadang klorosis. 13. Seng/zink (Zn) Memberi dorongan terhadap pertumbuhan tanaman karena diduga Zn dapat berfungsi untuk membebtuk hormon tumbuh. Kekuranan unsur ini ditandai dengan daun berwarna aneh-aneh misal kekuning-kuningan atau pada daun yang sudah tua berwarna kemerahan . mengakibatkan terdapatnya lubang kecil-kecil. 14. Boron (B) Unsur ini berfungsi menangkut karbohidrat kedalam tubuh tanaman dan menghisap unsur kalsium.Berfungsi dalam perkembangan bagian-bagian tanaman untuk tumbuh aktif. Pada tanaman penghasil biji unsur ini berpengaruh terhadap pembagian sel. Menaikkan mutu tanaman sayuran dan tanaman buah (Hidayatus, 2011). Kekurangan unsur boron paling nyata tampak pada tepi-tepi daun yaitu gejala klorosis, mulai dari bagian bawah daun. daun yang baru muncul terlihat kecil dan tanaman agak kerdil cabang tumbuh sejajar. kuncup-kuncup mati dan berwarna hitam. Kekurangan unsur ini menimbulkan penyakit fisiologis , khususnya pada tanaman Kalau diperhatikan dengan seksama cabang dan batangpun ikut terkena bencana yang

sayur dan buah, pada tanaman semangka biasanya ditandai dengan pertumbuhan batang muda yang tegak berdiri, ruas pendek, daun mengecil, dan bila terkena angin batang muda tersebut mudah patah dan mengeluarkan cairan berwarna kecoklatan, pada tanaman sayur dan buah kekurangan unsur bini agak sulit dibedakan dengan tanaman yang terkena serangan virus. Dan pada tanaman jagung kekurangan unsur ini bisa mengakibaatkan tongkol tanpa biji sama sekali ( mirip jagung yang tidak terbuahi) (Hidayatus, 2011). Air dan unsur hara diserap tanaman lewat akar, penyerapan unsur hara terbagi atas tiga cara yakni difusi, mass flow (aliran massa), dan intersepsi akar. Air beserta nutrient yang terlarut didalamnya, disebut larutan tanah, bergerak melalui tanah hingga mencapai akar tanaman. Selanjutnya dari kejadian tersebut terjadi penyerapan air dan nutrient oleh sel sel tanaman dengan mekanisme yang berbeda (Winarso. S, 2003). 1. Aliran massa (mass flow) merupakan penyerapan unsur hara melalui pergerakan nutrien atau hara yang ada didalam tanah dalam massa air yang bergerak. 2. Intersepsi akar terjadi pada waktu akar tanaman tumbuh memasuki ruangan yang ditempati oleh unsur hara dan terjadi kontak yang sangat dekat sehingga terjadi pertukaran ion pada permukaan akar dan permukaan kompleks adsorpsi. 3. Difusi merupakan penyerapan hara oleh akar dari larutan tanah, hara yang terlarut lainnya bergerak menuju akar tanpa aliran masa, prisip difusi yakni pergerakan area berkonsentrasi setiap elemen tinggi menuju area yang berkonsentrasi setiap elemen lebih rendah (Winarso. S, 2003). Unsur hara N (nitrogen) sebagian besar berasal dari udara yakni dalam bentuk N2 tetapi bentuk ini tidak bisa diserap oleh tanaman, melainkan unsur N bisa diserap oleh tanaman dalam bentuk ion yakni NH4+ dan NO3-. Ion NH4+ merupakan bentuk yang terfiksasi liat ( Bahan organik, BO, mineral) dan merupakan bentuk yang lamkedalam bat tersedia. Ion NH4+ diserap oleh tanaman dalam bentuk aerob sedangkan NO3- diserap oleh tanaman dalam sasana anaerob karena tidak membutuhkan bantuan oksigen karena penyerapan tersebut terjadi dibawah tanah yang terdapat sedikit oksigen. Ion NO3- cepat tersedia bagi tanaman dan mikroorganisme, organism juga menggunakan NH4+ dalam suasana aerobic, ion NO3- sangat mobil didalam tanah. Ion tersebut bergerak bebas dengan air tanah, sehingga dapat tercuci ke dalam air tanah dan erosi ke badan badan air sehingga terjadi pengkayaan (eutrofikasi) (Winarso. S, 2003).

Ion NH4+ lebih stabil di dalam tanah apabila dibanding dengan ion NO3-, sebab dapat diikat dalam tapak serapan yang baik pada liat organik meupun anorganik. Sehingga akan menjadi sangat baik dan menguntungkan mempertahankan N dalam bentuk NH4+. Pemupukan N dengan membenamkan ke dalam tanah atau lapisan reduksi pada tanah sawah adalah usaha untuk mengurangi kehilangan N melalui penguapan maupun pencucian. Ion NH4+ bukan merupakan subyek pencucian air ke dalam air tanah. Beberapa tanaman (gandum, kapas, jagung hibrida) hasilnya meningkat jika diberikan N campuran NH4+ dan NO3-. Denitrifikasi tidak akan terjadi jika N masih dalam bentuk NH4+ (Winarso. S, 2003). Alat yang digunakan dalam praktikum hara adalah penggaris, botol gelap, kapas, tipe-x, label. Fungsi dari penggaris adalah untuk mengukur tinggi tanaman dan panjang akar tiap pengamatan. Botol gelap berfungsi sebagai media penanaman jagung. Penggunaan botol gelap dimaksudkan agar tanaman tidak terkena cahaya matahari secara langsung supaya unsure hara tidak rusak, serta penggunaan botol gelap ini agar media sesuai dengan tempat asli tubuhan hidup yaitu kondisi di tanah yang gelap. Penggunaan kapas digunakan untuk menyumba tanaman agar tanaman dapat berdiri tegak. Label digunakan untuk menandai setiap botol yang diberi perlakuan yang berbeda. Tipe-x digunakan utnuk menandai volume air sebelum dan sesudah pengamatan (Soebiham, 1996). Kekurangan salah satu atau beberapa unsur hara akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak sebagaimana mestinya yaitu ada kelainan atau penyimpangan-penyimpangan dan banyak pula tanaman yang mati muda yang sebelumnya tampak layu dan mengering. Keadaan yang demikian akan merugikan petani dan tentu saja sangat tidak diharapkan oleh petani (Dwijosaputro,1982). A. Gejala Kekurangan Unsur Hara Makro 1. Kekurangan Unsur Nitrogen ( N ) Gejala sehubungan dengan kekurangan unsur hara ini dapat terlihat dimulai dari daunnya, warnanya yang hijau agak kekuningan selanjutnya berubah menjadi kuning . Jaringan daun mati dan inilah yang menyebabkan daun selanjutnya menjadi kering dan berwarna merah kecoklatan. Pada tanaman dewasa pertumbuhan yang terhambat ini akan berpengaruh pada pertumbuhan, yang dalam hal ini perkembangan buah tidak sempurna, umumnya kecil-kecil dan cepat matang. Kandungan unsur N yang rendah dapat menimbulkan daun penuh dengan serat, hal ini dikarenakan menebalnya membran sel daun sedangkan selnya sendiri berukuran kecil-kecil.

2. Kekurangan unsur fosfor ( P ) Sebagaimana telah dijelaskan bahwa fungsi fosfat dalam tanaman adalah: dapat mempercepat pertumbuhan akar semai, mempercepat dan memperkuat pertumbuhan tanaman dewasa pada umumnya, meningkatkan produk biji-bijian dan memperkuat tubuh tanaman padi-padian sehingga tidak mudah rebah. Karena itu defisiensi unsur hara ini akan menimbulkan hambatan pada pertumbuhan sistem perakaran, daun, batang seperti misalnya pada tanaman serealia (padi-padian, rumput-rumputan, jewawut, gandum, jagung) daunnya berwarna hijau tua/ keabu-abuan, mengkilap, sering pula terdapat pigmen merah pada daun bagian bawah, selanjutnya mati. Tangkai daun kelihatan lancip. Pertumbuhan buah jelek, merugikan hasil biji. 3. Kekurangan Unsur Kalium ( K ) Defisiensi Kalium memang agak sulit diketahui gejalanya, karena gejala ini jarang ditampakkan ketika tanaman masih muda, jadi agak berlainan dengan gejalagejala karena difisiensi N dan P. Gejala yang terdapat pada daun terjadi secara setempat-setempat. Padapermulaannya tampak agak mengkerut dan kadang-kadang mengkilap dan selanjutnya sejak ujung dan tepi daun tampakmenguning, warna seperti ini tampak pula di antara tulang-tulang daun, pada akhirnya daun tampak bercakbercak kotor, berwarna coklat, sering pula bagian yang bercak ini jatuh sehingga daun tampak bergerigi dan kemudian mati. Pada tanaman kentang gejala yang dapat dilihat pada daun yang mana terjadi pengkerutan dan peng-gulungan, warna daun hijau tua berubah menjadi kuning bertitik-titik coklat. Gejala yang terdapat pada batang yaitu batangnya lemah dan pendek-pendek sehinga tanaman tampak kerdil. Gejala yang tampak pada buah misalnya buah kelapa dan jeruk banyak yang berjatuhan sebelum masak, sedang masaknya buahpun berlangsung sangat lambat. Bagi tanaman yang berumbi menderita defisiensi K hasil umbinya sangat kurang dan kadar hidrat arangnya demikian rendah. 4. Kekurangan Unsur Kalsium (Ca) Defisiensi unsur Ca meyebabkan terhambatnya pertumbuhan sistem perakara, selain akar kurang sekali fungsinyapun demikian terhambat, gejala-gejalanya yang timbul tampak pada daun, dimana daun-daun muda selain berkeriput mengalami perubahan warna, pada ujung dan tepi-tepinya klorosis ( berubah menjadi kuning) dan warna ini menjalar diantara ujung tulang-tulang daun, jaringan-jaringan daun pada beberapa tempat mati. Kuncup-kuncup yang telah tumbuh mati. Defisiensi unsur Ca menyebabkan pula pertumbuhan tanaman demi-kian lemah dan menderita. Hal ini

dikarenakan pengaruh terkumpulnya zat-zat lain yang banyak pada sebagian dari jaringan-jaringannya. Keadaan yang tidak seimbang inilah yang menyebabkan lemah dan menderitanya tanaman tersebut atau dapat dikatakan karena distribusi zat-zat yang penting bagi pertumbuhan bagian yang lain terhambat ( tidak lancar). 5. Kekurangan Unsur Magnesium ( Mg ) Unsur Mg merupakan bagian pembentuk klorofil, oleh karena itu kekurangan Mg yang tersedia bagi tanaman akan menimbulkan gejala gejala yang tampak pada bagian daun, terutama pada daun tua. Klorosis tampak pada diantara tulang-tulang daun, sedangkan tulang-tulang daun itu sendiri tetap berwarna hijau. Bagian diantara tulang-tulang daun itu secara teratur berubah menjadi kuning dengan bercak kecoklatan. Daun-daun ini mudah terbakar oleh terik matahari karena tidak mempunyai lapisan lilin, karena itu banyak yang berubah warna menjadi coklat tua/kehitaman dan mengkerut. Defisiensi Mg menimbulkan pengaruh pula pada pertumbuhan biji, bagi tanaman yang banyak menghasilakn biji hendaknya diperhatikan pemupukannya dengan Mg SO4, MgCO3 dan Mg(OH)2. 6. Kekurangan Unsur Belerang ( S ) Defisiensi unsur S gejalanya klorosis terutama pada daun-daun muda, perubahan warna tidak berlangsung setempat-tempat, melainkan pada bagian daun selengkapnya, warna hijau makin pudar berubah menjadi hijau yang sangat muda, kadang mengkilap keputih-putihan dan kadang-kadang perubahannya tidak merata tetapi berlangsung pada bagian daun selengkapnya. Perubahan warna ini dapat pula menjadi kuning sama sekali, sehingga tanaman tampak berdaun kuning dan hijau, seperti misalnya gejala-gejala yang tampak pada daun tanaman teh di beberapa tempat di Kenya yang terkenal dengan sebutan Tea Yellows atau Yellow Disease (Melati, 1991);(Jeyanny, 2009). B. Gejala Kekurangan Unsur Hara Mikro 1. Kekurangan Unsur Besi ( Fe ) Defisiensi zat besi sesungguh-nya jarang sekali terjadi. Terjadinya gejalagejala pada bagian tanaman terutama daun yang kemudian dinyatakan sebagai kekurangan tersedia-nya zat Fe ( besi ) adalah karena tidak seimbang tersedianya zat Fe dengan zat kapur pada tanah yang berkelebihan kapur dan yang bersifat alkalis. Jadi masalah ini merupakan masalah pada daerah daerah yang tanahnya banyak mengandung kapur. Gejala-gejala yang tampak pada daun muda, mula-mula secara setempat-tempat berwarna hijau pucat atau hijau kekuningan-kuningan, sedang tulang-

tulang daun tetap berwarna hijau serta jaringan-jaringannya tidak mati. Selanjutnya pada tulang-tulang daun terjadi klorosis yang tadinya berwarna hijau berubah menjadi warna kuning dan ada pula yang menjadi putih. Gejala selanjutnya yang paling hebat terjadi pada musim kemarau, daun-daun muda yang banyak yang menjadi kering dan berjatuhan. Tanaman kopi yang ditanam didaerah-daerah yang tanahnya banyak mengandung kapur, sering tampak gejala-gejala demikian. 2. Kekurangan Unsur Mangan (Mn) Gejala-gejala dari defisiensi Mn pada tanaman adalah hampir sama dengan gejala defisiensi Fe pada tanaman. Pada daun-daun muda diantara tulang -tulang daun secara setempat-setempat terjadi klorosis, dari warna hijau menjadi warna kuning yang selanjutnya menjadi putih. Akan tetapi tulang-tualng daunnya tetap berwarna hijau, ada yang sampai ke bagian sisi-sisi dari tulang. Jaringan-jaringan pada bagian daun yang klorosis mati sehingga praktis bagian-bagian tersebut mati, mengering ada kalanya yang terus mengeriput dan ada pula yang jatuh sehingga daun tampak menggerigi. Defisiensi ter-sedianya Mn akibatnya pada pembentukan biji-bijian kurang baik. 3. Kekurangan Unsur Borium ( B ) Walaupun unsur Borium sedikit saja diperlukan tanaman bagi pertumbuhannya tetapi kalau unsur ini tidak tersedia bagi tanaman gejalanya cukup serius, seperti: * Pada bagian daun, terutama daun-daun yang masih muda terjadi klorosis, secara setempat-setempat pada permukaan daun bagian bawah, yang selanjutnya menjalar ke bagian tepi-tepinya. Jaringan-jaringan daun mati. Daun-daun baru yang masih kecilkecil tidak dapat berkembang, sehingga per-tumbuhan selanjutnya kerdil. Kuncupkuncup yang mati berwarna hitam/coklat. * Pada bagian buah terjadi penggabusan, sedang pada tanaman yang menghasilkan umbi, umbinya kecil kecil yang kadang-kadang penuh dengan lubang-lubang kecil berwarna hitam, demikian pula pada bagian akar-akarnya. 4. Kekurangan Unsur Tembaga ( Cu ) Defisiensi unsur tembaga akan menimbulkan gejala-gejala sebagai berikut: * Pada bagian daun, terutama daun-daun yang masih muda tampak layu dan kemudian mati (die back), sedang ranting-rantingnya berubah warna menjadi coklat dan ahkirnya mati. * Pada bagian buah, buah-buah tanaman umumnya kecil-kecil berwarna coklat pada bagian dalamnya sering didapatkan sejenis perekat ( gum ).Gejala-gejala seperti

terdapat pada tanaman penghasil buah-buahan ( yang kekurangan zat Cu ), seperti tanaman jeruk, apel, peer dan lain-lain. 5. Kekurangan Unsur Seng/Zinkum ( Zn) Tidak tersediannya unsur Zn bagi pertumbuhan tanaman meyebabkan tanaman tersebut mengalami beberapa pen-yimpangan dalam per-tumbuhannya. Penyimpangan ini menimbulkan gejala-gejala yang dapat kita lihat pada bagian daun-daun yang tua: *Bentuk lebih kecil dan sempit dari pada bentuk umumnya. *Klorosis terjadi diantara tulang-tulang daun. * Daun mati sebelum waktunya, kemudian berguguran dimulai dari daun-daun yang ada di bagian bawah menuju ke puncak. 6. Kekurangan Unsur Molibdenum (Mo) Molibdenum atau sering pula disebut Molibdin tersedianya dalam tanah dalam bentuk MoS2 dan sangat dipengaruhi oleh pH, biasanya pada pH rendah tersedianya bagi tanaman akan kurang. Defisiensi unsur ini menyebab-kan beberapa gejala pada tanaman, antara lain per-tumbuhannya tidak normal, terutama pada sayur-sayuran. Secara umum daun-daunnya mengalami perubahan warna, kadang-kadang mengalami pengkerutan terlebih dahulu sebelum mengering dan mati. Mati pucuk ( die back ) bisa pula terjadi pada tanaman yang mengalami kekurangan unsur hara ini. 7. Kekurangan Unsur Si, Cl Dan Na Unsur Si atau Silisium hanya diperlukan oleh tanaman Serelia misalnya padipadian, akan tetapi kekurangan unsur ini belum diketahui dengan jelas akibatnya bagi tanaman. Defisiensi unsur Cl atau Klorida dapat menimbulkan gejala pertumbuhan daun yang kurang abnormal ( terutama pada tanaman sayur-sayuran), daun tampak kurang sehat dan berwarna tembaga. Kadang-kadang pertumbuhan tanaman tomat, gandum dan kapas menunjukkan gejala seperti itu. Defisiensi unsur Na atau Natrium bagi pertumbuhan tanaman yang baru diketahui pengaruhnya yaitu meng-akibatkan resistensi tanaman akan merosot terutama pada musim kering. Tanpa Na tanaman dalam pertumbuhan-nya tidak dapat meningkatkan kandungan air ( banyak air yang dapat dipegang per unit berat kering ) pada jaringan daun. Gejala-gejala lainnya belum diketahui secara jelas. 8. Unsur Fungsional / Beneficial Element Unsur fungsional adalah unsur -unsur yang belum memenuhi kriteria unsur essensial seperti yang dikemukakan oleh ARNON & STOKT sehingga unsur-unsur ini

tidak dapat digolongkan dalam unsur essensial, namun untuk penting untuk tanamantanaman tertentu. Dengan adanya unsur fungsional ini dapat lebih memperbaiki pertumbuhan dan kualitas hasil atau dengan kata lain, tanpa unsur fungsional ini tanaman tetap dapat men-yelesaikan siklus hidupnya dengan sempurna dan normal tetapi dengan adanya unsur ini maka pertumbuhan dan kualitas akan lebih baik pada hasil tanaman tertentu, misalnya mentimun dapat mengantikan sebagaimana peranan K pada tanaman kelapa. Contoh lain dengan pemberian Na pada tanaman bit gula (Beta vulgaris) akan memperbesar umbi dua sampai tiga kali. Dari hasil -hasil percobaan, ternyata pada tanaman kenaf dan Rosela (tanaman serat) didapatkan bahwa kalau tanaman diberikan NaCl 100 ppm maka pertumbuhan lebih baik dan berat kering meningkat jika dibandingkan dengan tanpa pemberian NaCl (Yudhi Wijaya, 2009); (Nursyamsi, 2008).

KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan : 1. Unsur yang digunakan tidak berpengaruh terhadap baik jumlah akar, panjang akar tanaman yang diujikan.

2. Unsur hara yang dibutuhkan tumbuhan untuk hidup dibedakan menjadi unsure hara makronutrien dan unsure hara mikronutrien semua berjumlah kir-kira 14 unsur yang dibutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA Dwidjoseputro, D .1992. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Hidayatus, I. 2011. Hara esensial, hara makro dan http://www.agroinformatika.net/2011/11/kimiawan-jerman-abad-19menemukan-hukum.html. diakses tanggal 21 April 2012.

mikro.

Ispandi. Anwar. 2005. Efektifitas Pengapuran Terhadap Serapan Hara Dan Produksi Beberapa Klon Ubikayu Di Lahan Kering Masam. Pusat Penelitian Tanaman Pangan, Bogor. Jeyanny, V., Ag Ab Rasip, K Wan Rasidah & Y Ahmad Zuhaidi. 2009. Effects Of Macronutrient Deficiencies On The Growth And Vigour Of Khaya Ivorensis Seedlings Malaysia. Melati, Maya, Fred Rumawas, Justika S. Baharsjah, Ipg Wldjaja-Adhi. 1991. Tanggap Kedelai (Glycine Max (L.) Merr.) Terhadap Pupuk Mikro Zn, Cu, B Pada Beberapa Dosis Pupuk Kandang Di Tanah Latosol. Pusat Penelitian Tanah Bogor. Nursyamsi, D., K. Idris, S. Sabiham, D.A. Rachim, dan A. Sofyan. 2008. Pengaruh Asam Oksalat, Na+, Nh4+, Dan Fe3+ Terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, Dan K Tanaman, Serta Produksi Jagung Pada Tanah-Tanah Yang Didominasi Smektit. Balai Penelitian Tanah, Bogor. Salisbury, F.B. dan Ross, C.W .1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Bandung: ITB Press. Series, 2011. Pengaruh Unsur Hara dan Bahan Organik. http://salaknurseries.blogspot.com/2010/09/pengertian-unsur-hara-dan-bahan organik.html. diakses tanggal 21 April 2012.

Soebiham. 1996. Prinsip Prinsip Dasar Uji Tanah. Bogor : Institut Pertanian Bogor. Winarso, S.2003. Kesuburan Tanah Dasar Kesehatan Dan Kualitas Tanah. Jember : Gava Media. Yudhi, Wijaya. 2009. Gejala Tanaman Kekurangan Unsur Hara. http://yudhiwijaya.wordpress.com/2009/02/08/gejala-tanaman-kekuranganunsur-hara/. Diakses tanggal 21 April.2012.