Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masalah kesehatan merupakan masalah yang sangat penting yang di hadapi oleh masyarakat kita saat ini .Semakin maju teknologi di bidang kedokteran ,semakin banyak pula macam penyakit yang mendera masyarakat. Hal ini tentu saja di pengaruhi oleh faktor tingkah laku manusia itu sendiri. Sebagaimana kita ketahui bhwa salah satu tujuan nasional adalah memajukan kesejahteraan bangsa, yang berarti memenuhi kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan, sandang, pangan, pendidikan, kesehatan, lapangan kerja dan ketenteraman hidup. Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk, jadi tanggung jawab untuk terwujudnya derajat kesehatan yang optimal berada di tangan seluruh masyarakat Indonesia, pemerintah dan swasta bersama-sama. 1.2 Tujuan Adapun tujuan disusunnya makalah ini adalah : 1) Menegetahui dan memahami definisi kesehatan 2) Mengetahui kesehatan 3) Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan 4) Memahami faktor penentu derajat kesehatan 5) Memahami cara/ mekanisme masuknya racun dalam tubuh serta cara mengeluarkannya upaya-upaya yang dilakukan untuk merpertahankan

BAB II KONSEP DASAR KESEHATAN 2.1 Konsep Sehat Sakit Ada beberapa definisi sehat, menurut: a) Perkin, 1983: sehat adalah suatu keadaan dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dengan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya. b) WHO 1947 dan UU pokok kesehatan no. 9 tahun 1960 : sehat adalah suatu keadaan sejahtera, sempurna fisik, mental dan sosial yang tidak hanya terbatas pada bebas penyakit atau kelemahan saja. c) WHO 1957 : sehat adalah suatu keadaan dan kualitas organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dipunyainya. d) White, 1997 : sehat adalah keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa oleh ahlinya tidak mempunyai keluhan atau tidak terdapat tanda-tanda penyakit atau kelainan. e) UU Kesehatan no. 23 tahun 1992 : sehat adalah suatu keadaan sejahtera badan jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Ada juga beberapa definisi sakit yaitu:
a)

Pemons, 1972: Sakit adalah gangguan dalam fungsi normal individu sebagai totalitas termasuk keadaan organisme sebagai sistem biologis dan penyesuaian sosialnya.

b)

Bauman, 1965: Seseorang menggunakan kriteria untuk menentukan apakah mereka sakit atau tidak, yaitu : 1) Adanya gejala, misalnya naiknya temperatur, nyeri. 2) Persepsi tentang bagaimana mereka merasakan, seperti baik, buruk, dan sakit. 3) Kemampuan untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari misalnya bekerja ,sekolah.

Rentang sehat sakit Rentang Sehat Rentang Sakit

Sejahtera - sehat sekali-sehat normal-stgah sehat- sakit -sakit kronis-mati

Tahapan proses terjadinya penyakit yaitu: 1) Tahap Gejala Tahap awal sesorang mengalami proses penyakit. Ditandai adanya perasaan tidak nyaman terhadap dirinya karena timbulnya suatu gejala yang dapat meliputi gejala fisik, yaitu: panas, nyeri dll. 2) Tahap Asumsi Terhadap Penyakit Pada tahap ini seseorang akan melakukan interpretasi terhadap penyakit yang dialaminya dan akan merasakan keragu-raguan pada kelainan yang dirasakan pada tubuhnya. Respon dalam bentuk emosi terhadap gejala tersebut, seperti: takut dan cemas. 3) Tahap Kontak Dengan Pelayanan Kesehatan Pada tahap ini penderita meminta nasihat pada profesi kesehatan, seperti : dokter, perawat, atau lainnya atas inisitip dirinya sendiri. 4) Tahap Ketergantungan

Tahapan ini terjadi setelah seseorang dianggap mengalami suatu penyakit yang tentunya akan mndapatkan bantuan pengobatan sehingga kondisi seseorang sudah mulai ketergantungan dalam pengobatan. 5) Tahap Penyembuhan Merupakan tahapan terahir menuju proses kembalinya kemampuan untuk beradaptasi, dimana seseorang akan melakukan proses belajar untuk melepaskan perannya selama sakit dan kembali berperan seperti sebelum sakit serta adanya persiapan untuk berfungsi dalam kehidupan sosial. 2.2 Paradigma sehat Adalah cara pandang atau pola pikir pembangunan kesehatan yang bersifat holistik, proaktif antisipatif, dengan melihat masalah kesehatan sebagai masalah yang dipengaruhi oleh banyak faktor secara dinamis dan lintas sektoral, dalam suatu wilayah yang berorientasi kepada peningkatan pemeliharaan dan perlindungan terhadap penduduk agar tetap sehat dan bukan hanya penyembuhan penduduk yang sakit. Pada intinya paradigma sehat memberikan perhatian utama terhadap kebijakan yang bersifat pencegahan dan promosi kesehatan, memberikan dukungan dan alokasi sumber daya untuk menjaga agar yang sehat tetap sehat, namun tetap mengupayakan yang sakit segera sehat. Pada prinsipnya kebijakan tersebut menekankan pada masyarakat untuk mengutamakan kegiatan kesehatan daripada mengobati penyakit. Telah dikembangkan pengertian tentang penyakit yang mempunyai konotasi biomedik dan sosio kultural. Dalam bahasa Inggris dikenal kata disease dan illness sedangkan dalam bahasa Indonesia, kedua pengertian itu dinamakan penyakit. Dilihat dari segi sosio kultural terdapat perbedaan besar antara kedua pengertian tersebut. Dengan disease dimaksudkan gangguan fungsi atau adaptasi dari proses-proses biologik dan psikofisiologik pada seorang individu, dengan illness dimaksud reaksi personal, interpersonal, dan kultural terhadap penyakit atau perasaan kurang nyaman. Para dokter mendiagnosis dan mengobati disease, sedangkan pasien mengalami illness yang dapat disebabkan oleh disease illness tidak selalu disertai kelainan organik maupun fungsional tubuh.

Rentang Sehat

Rentang Sakit

Sejahtera - sehat sekali-sehat normal-stgah sakit- sakit -sakit kronis-mati Berdasarkan rentang sehat sakit tersebut, maka paradigma

keperawatan dalam konsep sehat sakit memandang bahwa bentuk pelayanan keperawatan yang akan diberikan selama rentang sehat dan sakit, akan melihat terlebih dahulu status kesehatan dalam rentang sehat sakit tersebut, apakah statusnya dalam tahap setengah sakit, sakit, sakit kronis. Rentang ini merupakan suatu alat ukur dalam menilai status kesehatan yang bersifat dinamis dan selalu berubah dalam setiap waktu. Melalui rentang ini dapat diketahui batasan perawat dalam melakukan tindakan keperawatan dengan jelas. 2.3 Dampak Sakit Dampak sakit dapat terjadi pada individu yang mengalami sakit baik yang dirawat dirumah atau dirumah sakit. Dampak tersebut dapat terjadi pada individu, keluarga, dan masyarakat. Dampak-dampak tersebut antara lain: 1) Terjadi perubahan peran pada kelurga karena selama sakit peran dalam kelurga akan terganggu mengingat terjadi penggantian peran diantara anggota keluarga. 2) Terjadinya ganggua psikologis. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya stres sampai mengalami kecemasan berat apabila psikologisnya tidak disiapkan dengan baik. 3) Masalah keuangan. Dampak ini jelas akan terjadi karena adanya beberapa pengeluaran keuangan yang sebelumnya tidak diduga selama sakit orang tersebut harus dirawat di rumah sakit. 4) Kesepian akibat perpisahan. Dampak ini dapat terjadi pada seseorang yang sebelumnya selalu berkumpul dengan keluarga. 5) Terjadinya perubahan kebiasaan sosial. Dampak ini jelas terjadi mengingat selama dirumah interaksi dengan lingkungan masyarakat selalu terjadi dan selama dirawat dirumah sakit malah sebaliknya.

6) Terganggunya privasi seseorang. Privasi seseorang dapat ditujukan pada perasaan menyenangkan dan mereflikasikan tingkat penghargaan

seseorang. Dan perasaan menyenangkan ini akan mengalami gangguan selama sakit 7) Otonomi. Telah disediakan segala kebutuhan bagi pasien dirumah sakit mengakibatkan menurunnya kemampuan aktivitas pasien karena

keadaannya untuk mandiri dan mengatur sendiri sulit dicapai dan pasien akan selalu memiliki ketergantungan. 8) Terjadi perubahan gaya hidup. Adanya peraturan dan ketentuan dari rumah sakit khusunya perilaku sehat serta aturan dalam makanan, obat dan aktivitas agar seseorang akan mengalami perubahan dalam gaya hidup. 2.4 Prilaku Pada Orang Sakit Selain dampak yang terjadi akibat sakit atau dirawat dirumah sakit, seseorangpu selama sakit akan mengalami perubahan dalam berprilaku yang berdampak pada dirinya. Adapun perubahan prilaku yang terjadi selama sakit antara lain: 1) Adanya perasaan ketakutan Perubahan prilaku ini dapat terjadi pada semua orang dengan ditandai adanya peasaan takut sebagai dampak dari sakit. Dan apabila seseorang tersebut belum mampu menerima sakitnya maka dia akan merasa takut dan apabila dibirkan akan menganggu status mental 2) Menarik diri Tingkat kecemasan yang dialami orang sakit akan berbeda. Dan untuk mengurangi kecemasan dia akan menarik diri dari orang lain. 3) Egosentris Perilaku ini dapat terjadi pada orang sakit yang ditunjukkan dengan selalu banyak mempersoalkan dirinya sendiri dan tidak mau mendengarkan perasaan orang lain. 4) Sensitif terhadap persoalan kecil Perilaku ini dapat terjadi pada orang sakit dan biasanya selalu ditimbulkan dengan selalu mempersoalkan hal-hal kecil sebagai dampak terganggunya psikologis dan selalu mengomel.

5) Reaksi emosional tinggi Prilaku ini dapat ditunjukkan dari seseorang yang mengalami sakit dengan mudah menangis, tersinggung, marah, serta menunut perhatian lebih dari orang sekitarnya. 6) Perubahan persepsi Terjadi perubahan persepsi selama sakit ini dapat ditunjukkan dengan timbul persepsi bahwa dokter dan perawat adalah orang yang dapat membantu menyembuhkannya dan menaruh harapan besar pada dokter dan perawat tersebut. 7) Berkurangnya minat Perubahan prilaku yang ditunjukkan pada seseorang yang mengalami sakit adalah berkurangnya minat karena terjadi stres yang mengkibatkan penyakit yang dirasakan serta mengalami penurunan dalam melakukan aktivitasnya seharai-hari. 2.5 Dasar-Dasar Pembangunan Kesehatan Dasar-dasar pembangunan nasional di bidang kesehatan adalah sebagai berikut: 1. Semua warga negara berhak memperoleh derajat kesehatan yang optimal agar dapat bekerja dan hidup layak sesuai dengan martabat manusia. 2. Pemerintah dan masyarakat bertanggung jawab dalam memelihara dan mempertinggi derajat kesehatan rakyat. 3. Penyelenggaraan upaya kesehatan diatur oleh pemerintah dan dilakukan secara serasi dan seimbang oleh pemerintah dan masyarakat. 2.6 Tujuan Pembangunan Kesehatan Untuk jangka panjang pembangunan bidang kesehatan diarahkan untuk tercapainya tujuan utama sebagai berikut: 1. Peningkatan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan.

2. Perbaikan mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan. 3. Peningkatan status gizi masyarakat. 4. Pengurangan kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas). 5. Pengembangan keluarga sehat sejahtera, dengan makin diterimanya norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera. 2.7 Upaya-Upaya Untuk Mempertahankan Kesehatan. Upaya-upaya tersebut diantaranya adalah:
1) Upaya Pemeliharaan Kesehatan a) Kuratif : tindakan pengobatan b) Rehabilitatif : upaya pemeliharaan atau pemulihan kesehatan agar

penyakitnya tidak semakin terpuruk dengan mengkonsumsi makanan yang menunjang utnuk kesembuahan penyakitnya.
2) Upaya Peningkatan Kesehatan a) Preventif : upaya pencegahan terhadap suatu penyakit b) Promotif : upaya peningkatn kesehatan

Sarana Kesehatan yang Mendukung Upaya Kesehatan berdasarkan UU RI No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan: a) Puskesmas b) Dokter praktek c) Toko obat d) Praktek bidan e) Rumah sakit khusus f) Rumah sakit g) Apotek h) Pedagang besar farmasi i) Laboratorium

j) Sekolah dan akademi kesehatan k) Balai pelatihan kesehatan l) Sarana kesehatan laiannya. 2.8 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan
1) Gizi / Makanan

Saat ini gangguan kesehatan cenderung karena gizi salah (malnutrition). Gizi salah (malnutris) adalah keadaan patologis akibat kekurangan atau kelebihan secara alternatif maupun absolut satu atau lebih dari zat gizi. Ada empat bentuk Malnutrition (diktat Ilmu Gizi):
a) Undernutrition: kekurangan konsumsi pangan secara relatif maupun

absolut untuk periode tertentu.


b) Specific

Deficiency:

kekurangan

zat

gizi

tertentu,

misalnya

kekurangan vit A, Iodium, Fe, dll


c) Over Nutrition: kelebihan konsumsi pangan untuk periode tertentu d) Imbalance: terjadi karena disproporsi zat gizi, misalnya: kolesterol

terjadi karena tidak seimbangnya LDL (Low Density Lipoprotein), HDL (High Density Lipoprotein). Malnutrisi adalah istilah umum untuk suatu kondisi medis yang disebabkan oleh pemberian atau cara makan yang tidak tepat atau tidak mencukupi.Istilah ini seringkali lebih dikaitkan dengan keadaan

undernutrition (gizi kurang) yang diakibatkan oleh konsumsi makanan yang kurang, penyerapan yang buruk, atau kehilangan zat gizi secara berlebihan. Namun demikian, sebenarnya istilah tersebut juga dapat mencakup keadaan overnutrition (gizi berlebih). Berikut ini penyakit yang ditimbulkan yaitu: a) Penyakit yang disebabkan karena gizi kurang Masalah ini sangat berhubungan dengan terganggunya kesehatan yang dikenal dengan istilah penyakit kurang gizi. Hal ini
9

merupakan masalah yang sangat kompleks, merupakan akibat dari suatu rangkaian proses masalah di masyarakat. Manutrisi akibat asupan zat gizi yang kurang untuk menjaga fungsi tubuh yang sehat seringkali dikaitkan dengan kemiskinan, terutama pada negara-negara berkembang. Sevaliknya, malnutrisi akibat pola makan yang berlebih atau asupan gizi yang tidak seimbang lebih sering diamati pada negara-negara maju, misalnya dikaitkan dengan angka obesitas yang meningkat. Obesitas adalah suatu keadaan di mana cadangan energi yang disimpan pada jaringan lemak sangat meningkat hingga mencapai tingkatan tertentu, yang terkait erat dengan gangguan kondisi kesehatan tertentu atau meningkatnya angka kematian. Ketika berbicara mengenai gizi kurang (undernutrition), perhatian terbesar akan ditujukan pada anak, terutama balita. Hal ini dikarenakan pada usia tersebut, asupan kurang yang berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, akan memberikan dampak terhadap proses tumbuh kembang anak dengan segala akibatnya di kemudian hari. Tidak hanya pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga perkembangan mentalnya. Satu hal yang akan berdampak pada produktivitas suatu bangsa. Masalah malnutrisi masih ditemukan pada banyak tempat di Indonesia, dan ironisnya Indonesia mengalami kedua ekstrim permasalahan malnutrisi. Di satu sisi, daerah yang mengalami rawan pangan dan kelompok dengan kemampuan ekonomi yang kurang memadai amat rentan terhadap terjadinya malnutrisi dalam bentuk gizi kurang. Organisasi pangan dunia (FAO) mencatat pada kurun waktu 2001-2003 di Indonesia terdapat sekitar 13,8 juta penduduk yang kekurangan gizi. Sementara berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional 2005, angka gizi buruk dan gizi kurang adalah 28 persen dari jumlah anak Indonesia.

10

b) Penyakit yang disebabkan karena gizi lebih Masalah gizi lebih disebabkan oleh kebanyakan masukan energi dibandingkan dengan keluaran energi. Masalah gizi lebih bisa terjadi pada gizi makro (KH, P, L) dengan indikator dimensi tubuh yang tidak seimbang (berlebihan/gemuk/obesitas). Di beberapa tempat seperti daerah perkotaan dan pada kelompok ekonomi berkecukupan, obesitas menjadi bagian dari masalah kesehatan. Sekalipun belum ada data resmi yang diungkapkan pemerintah, beragam penelitian menunjukkan angka obesitas yang cukup mencengangkan. Sepintas, dapat diamati bahwa kedua permasalahan ini mungkin berpangkal pada pengetahuan yang kurang memadai tentang gizi di masyarakat. Oleh karenanya, edukasi kepada masyarakat dengan memberikan informasi yang tepat tentang pemenuhan gizi akan menjadi langkah yang baik dalam mencegah terjadinya undernutrisi maupun overnutrisi.
2) Penurunan Fungsi Fisiologis.

Penurunan fungsi fisiologis dapat terjadi karena faktor: a) Alamiah Penurunan fungsi tubuh secara alamiah terjadi sejalan dengan bertambahnya usia. Penurunan fungsi fisiologis tubuh sejalan dengan pertumbuhan usia dapat mengakibatkan gangguan pada kesehatan yang dikenal dengan penyakit degeneratif, selain itu juga akan berdampak pada mudahnya terkena infeksi, karena sistem kekebalan tubuh yang mulai menurun. Proses menua pada manusia merupakan suatu peristiwa alamiah yang tidak dapat dihindari, perklembangan fisik dan fungsi organ tubuh mulai mengalami penurunan. Perubahan komposisi tubuh menyebabkan berkurangnya jumlah cairan tubuh total sampai lebih dari 15 %. Masa otot bebas lemak (lean body mass) menurun sampai lebih dari 30 % dan lemak tubuh meningkat 30-40%. Berat badan
11

mungkin tidak akan berubah bahkan bertambah karena meningkatnya lemak tubuh, sehingga sering muncul kasus overweight dan obesitas. Pada masa lansia kulit tidak lagi mampu meregang elastis. Lapisan luar atau epidermal kulit mulai menipis karena lapisan dalam dermis menjadi lebih berserabut. Terjadi pengeriputan, kerja kelenjar peluh dan kelenjar minyak dalam kulit yang berfungsi melumasi, memelihara, dan memperlancar kelenturan kulit menjadi kurang efisien. Kelembaban kulit mulai berkurang. Kasus yang terjadi adalah mudahnya lansia terkena. Penurunan fungsi internal terjadi pada umumnya pada sistem Kardiovasculair, pernapasan, saraf, sensori dan muskuloskeletal.
3) Sanitasi dan Hygiene

Kurang terjaganya sanitasi dan hygiene dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan sejalan dengan mudahnya terjadi infeksi karena pertumbuhan mikroorganisme pathogen yang tidak dikendalikan.

Penyakkit yang umum terjadi adalah system pencernaan dan kulit.


4) Stress

Stress merupakan suatu keadaan seseorang di mana seseorang bermasalah dengan kemampuan dalam menerima suatu kenyataan yang dihadapi dan umumnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Munculnya stress dipengaruhi oleh pandangan hidup seseorang dan akan berdampak buruk pada kesehatan mentalnya dan pada kesehatan fisik. 2.9 Faktor Penentu Derajat Kesehatan Ada empat faktor yang menentukan derajat kesehatan seseorang menurut H.L. Bloem, yaitu: 1) Genetik (turunan) : Thalasemia 2) Lingkungan : keluarga, masyarakat, politik, sosial, sanitasi dan ketersediaan pangan

12

3) Perilaku (pilihan pola makan dan gaya hidup) : suatu kegiatan atau kebiasaan seseorang yang berlangsung secara kontinyu, contoh : personal hygine dan pola makan. 4) Pelayanan Kesehatan : Posyandu 2.10 Sumber Datangnya Toksin atau Racun Dalam Tubuh yang Dapat Mengganggu Kesehatan 1) Pencemaran udara yang mengotori darah dan organ tubuh kita sebagai penyebab penyumbatan pembuluh darah dan erusakan ginjal 2) Makanan cepat saji (fastfood) yang diolah dengan zat kimia sintesis untuk pewarna,pengawet,aroma, bumbu penyedap (monosodium

glutamat sebagai pencetus zat karsinogen penyebab kanker) 3) Minuman yang mengandung kimia sintesis untuk pengawet, pewarna, perasa, gula bibit atau aspartam zat karbon dioksida yang dapat merusak lambung. Dan juga air minum berunsur logam Fe, Al, Mn, Hg, kaporit yng dapat merusak ginjal 4) Hasil pertanian atau perkebunan yang pengolahannya menggunakan racun pembasmi hama dan pupuk non organik adalah penyebab imbalance hormon, kerusakan ginjal, liver, dan kanker 5) Kebiasaan buruk (bad habit) seperti: merokok,kecanduan zat adiktif, begadang tidak menjaga kebersihan, makan dan minum tidak teratur, terlalu berat berfikir atau bekerja. 6) Obat-obat kimia sintesis merupakan penyebab penyakit baru dan bila dikonsmsi secara berlabihan dapat merusak organ-organ tubuh. Dalam keadaan tertentu racun terus meningkat dalam tubuh dan menyebabkan timbulnya berbagai penyakit, sehingga kita harus

mengeluarkannya dari dalam tubuh. Pembersihan racun dari dalam tubuh kita dapat dilakuakn dengan berbagai cara antara lain yaitu: a) activating

13

adalah mengaktifkan sel tubuh untuk mengoptimalkan penyerapan nutrisi dalam tubuh. Dengan meningkatkan pemasukan nutrisi ke dalam sel tubuh dan sel darah, membantu regenerasi sel darah merah dan meningkatkan kadar O2 dalam darah, sel tubuh untuk beerja secara optimal dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhada penyakit. b) Balancing Yaitu mensuplai nutrisi yang seimbang kedalam tubuh. Nutrisi yang dibutuhkan dalam tubuh dapat kita penuhi dengan pola makan yang baik 5 porsi sayur dan buah-buahan. Nutrisi yang seimbang sangat dibutuhkan oleh sel tubuh untuk terus beraktifitas seperti vitamin,mineral dan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh kita untuk mlancarkan, menyeimbangkan sistem hormonal, dan asam basa dalam tubuh. c) Cleansing Yaitu mengeluarkan semua toksin atau racun yang berbahaya dari dalam tubuh yang telah ditumpuk dalam tubuh selama bertahun-tahun. d) Defending Yaitu meningkatkan sistem pertahanan tubuh dengan merangsang sel tubuh untuk membentuk antibody yang digunakan melindungi tubuh dari bahaya radikal bebas dan kuman penyakit.

14

2.11 Tingkatan Pencegahan Primer,Tersier dan Sekunder Tingkatan pencegahan ini membantu memelihara keseimbangan yang terdiri dari pencegahan primer, sekunder dan tersier. 1) Pencegahan primer : Terjadi sebelum sistem bereaksi terhadap stressor, meliputi : promosi kesehatan dan mempertahankan kesehatan. Pencegahan primer mengutamakan pada penguatan flexible lines of defense dengan cara mencegah stress dan mengurangi faktor-faktor resiko. Intervensi dilakukan jika resiko atau masalah sudah diidentifikasi tapi sebelum reaksi terjadi. Strateginya mencakup : immunisasi, pendidikan kesehatan, olah raga dan perubahan gaya hidup. 2) Pencegahan sekunder : Meliputi berbagai tindakan yang dimulai setelah ada gejala dari stressor. Pencegahan sekunder mengutamakan pada penguatan internal lines of resistance, mengurangi reaksi dan

meningkatkan faktor-faktor resisten sehingga melindungi struktur dasar melalui tindakan-tindakan yang tepat sesuai gejala. Tujuannya adalah untuk memperoleh kestabilan sistem secara optimal dan memelihara energi. Jika pencegahan sekunder tidak berhasil dan rekonstitusi tidak terjadi maka struktur dasar tidak dapat mendukung sistem dan intervensiintervensinya sehingga bisa menyebabkan kematian. 3) Pencegahan Tersier : Dilakukan setelah sistem ditangani dengan strategistrategi pencegahan sekunder. Pencegahan tersier difokuskan pada perbaikan kembali ke arah stabilitas sistem klien secara optimal. Tujuan utamanya adalah untuk memperkuat resistansi terhadap stressor untuk mencegah reaksi timbul kembali atau regresi, sehingga dapat

mempertahankan energi. Pencegahan tersier cenderung untuk kembali pada pencegahan primer.

15

BAB 3 PENUTUP 3.1 Kesimpulan Perkin, 1983: sehat adalah suatu keadaan dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dengan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya. WHO 1947 dan UU pokok kesehatan no. 9 tahun 1960 : sehat adalah suatu keadaan sejahtera, sempurna fisik, mental dan sosial yang tidak hanya terbatas pada bebas penyakit atau kelemahan saja. WHO 1957 : sehat adalah suatu keadaan dan kualitas organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dipunyainya. Pemons, 1972: Sakit adalah gangguan dalam fungsi normal individu sebagai totalitas termasuk keadaan organisme sebagai sistem biologis dan penyesuaian sosialnya. Ada empat faktor yang menentukan derajat kesehatan seseorang menurut H.L. Bloem: 1) Genetik (turunan) 2) Lingkungan 3) Perilaku (pilihan pola makan dan gaya hidup) 4) Pelayanan Kesehatan 3.2 Saran Kita sebagai calon perawat harus mampu memahami konsep dasar kesehatan, guna memberikan pelayanan kepada masyarakat secara optimal.

16

DAFTAR PUSTAKA Hendrick,P. 2000.Pengantar Kesehatan.Jakarta:EGC Sulastomo.2002.Manajemen Kesehatan.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama www.google// konsep dasar kesehatan.com

17