Anda di halaman 1dari 8

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pada POM (Project Operation Manual) program BERMUTU (Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading) yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional tahun 2008, Bab II subbagian latar belakang halaman II-1 disebutkan hal sebagai berikut. Salah satu indikator yang menunjukkan mutu pendidikan di tanah air cenderung masih rendah adalah hasil penilaian internasional tentang prestasi siswa. Survei Trends International Mathematics and Science Study (TIMSS) pada tahun 2003 menempatkan Indonesia pada peringkat 34 dari 45 negara. Walaupun rerata skor naik menjadi 411 dibandingkan 403 pada tahun 1999, kenaikan tersebut secara statistik tidak signifikan, dan skor itu masih di bawah rata-rata untuk wilayah ASEAN. Prestasi itu bahkan relatif lebih buruk pada Programme for International Student Assessment (PISA), yang mengukur kemampuan anak usia 15 tahun dalam literasi membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan. Program yang diukur setiap tiga tahun, pada tahun 2003 menempatkan Indonesia pada peringkat 2 terendah dari 40 negara sampel, yaitu hanya satu peringkat lebih tinggi dari Tunisia. (Wardhani dan Rumiati: 2011) Hasil yang rendah tersebut tentu disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktor penyebabnya adalah siswa Indonesia pada umumnya kurang terlatih dalam menyelesaikan soal dengan karakteristik seperti soal-soal TIMSS dan PISA yang bersubstansi kontekstual, menuntut penalaran, argumentasi serta kreativitas dalam penyelesaiannya. Model pengembangan silabus yang diterbitkan BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) pada umumnya menyajikan instrumen penilaian hasil belajar yang substansinya kurang dikaitkan dengan konteks kehidupan yang dihadapi siswa dan kurang memfasilitasi siswa dalam mengungkapkan proses

berpikir dan berargumentasi. Bahkan, jika kita mencermati buku-buku teks matematika siswa yang digunakan di sekolah, termasuk yang sudah lolos dari penilaian BSNP, maka tidak mudah untuk menemukan jenis soal yang lebih banyak mengukur kemampuan nalar, pemecahan masalah, atau berargumentasi. Model soal yang sering kita temukan adalah soal jenis tes kemampuan yang berkaitan dengan ingatan dan perhitungan semata, dengan kata lain hanya dengan mengetahui rumus siswa dapat menyelesaikannya. Padahal, buku-buku tersebutlah yang banyak digeluti siswa dalam pembelajaran sehari-hari. Di samping itu, kompetensi dalam matematika seringkali dihubungkan dengan kemampuan memanipulasi bilangan yang identik dengan ilmu berhitung saja. Kemampuan berhitung memang tidak dapat dihindari ketika belajar matematika. Namun, berhitung hanya merupakan sebagian kecil dari keseluruhan isi matematika. Sehingga permasalahan utamanya adalah siswa cenderung melihat matematika sebagai satu set prosedur yang akan diterapkan pada satu set simbol, akibatnya banyak siswa gagal memperoleh pengetahuan, khususnya pengetahuan tentang nilai matematika yang sebenarnya. Sebagai tambahan, salah satu hal yang membuat siswa sulit dalam belajar/ memahami matematika adalah adanya gap antara pengalaman kehidupan sehari-hari siswa dan matematika formal. Sehubungan dengan hal-hal tersebut, sudah semestinya kita

mengupayakan berbagai alternatif dan inovasi dalam rangka meningkatkan kemampuan matematika siswa kita. Salah satu unsur kuncinya adalah perbaikan proses pembelajaran di sekolah, khususnya dengan meningkatan porsi menalar, memecahkan masalah, berargumentasi dan berkomunikasi melalui materi ajar

yang lebih kontekstual. Selain itu proses pembelajaran matematika perlu dikaitkan dengan permasalahan kontekstual yang ada dalam masyarakat, tidak hanya yang dialami siswa saja. Berbagai budaya yang ada di Indonesia dan dunia juga perlu dipelajari. Dengan menyertakan konteks budaya ini, wawasan siswa akan menjadi semakin luas, dan kosakata yang dimiliki juga semakin kaya, sehingga siswa akan mudah menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi. Perlu kita ketahui bahwa sekolah merupakan tempat kebudayaan karena proses belajar merupakan proses pembudayaan yakni untuk pencapaian akademik siswa, untuk membudayakan sikap, pengetahuan, keterampilan dan tradisi yang ada dalam suatu komunitas budaya. Budaya menurut E.B.Tylor dalam Ratna (2005) adalah pola utuh perilaku manusia dan produk yang dihasilkannya yang membawa pola pikir, pola lisan, pola aksi, dan artifak, dan sangat tergantung pada kemampuan seseorang untuk belajar, untuk menyampaikan pengetahuannya kepada generasi berikutnya melalui beragam alat, bahasa dan pola nalar. Budaya merupakan suatu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan sehari-hari, karena budaya satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh dari beragam perwujudan yang dihasilkan dan atau berlaku dalam suatu komunitas. Hal tersebut memungkinkan bahwa terdapat konsep-konsep matematika yang tertanam dalam praktek-praktek budaya dan mengakui bahwa semua budaya dan semua orang mengembangkan metode unik untuk memahami dan mengubah realitas mereka sendiri, yang kemudian disebut etnomatematika (Orey, 2000). Bertahun-tahun para pendidikan dan peneliti pendidikan matematika terfokus pada kegiatan di kelas sebagai seting utama dalam pembelajaran

matematika. Karena memang masyarakat berpikir bahwa konsep-konsep matematika dan keterampilan hanya dapat diperoleh jika individu pergi ke sekolah. Namun, kenyataan bahwa pengetahuan matematika dapat diperoleh di luar sekolah memunculkan hal baru dalam analisis pembelajaran matematika. DAmbrosio (1985) menggunakan istilah ethnomathematics untuk menyebut bentuk matematika yang berbeda dengan matematika di sekolah sebagai akibat kegiatan di lingkungan yang dikelilingi pengaruh budaya. Tujuan dari penggunaan matematika di lingkungan yang dipengaruhi budaya berbeda dengan matematika di kelas dengan penekananya pada belajar untuk mengetahui (learning to know). Sebagai bidang penelitian, etnomatematika sering didefinisikan sebagai penelitian yang menunjukkan bagaimana matematika dihasilkan, ditransfer, disebarkan dan dikhususkan dalam beragam sistem budaya. Ethnomathematics diawali oleh kata "ethno" dan diakhiri dengan "mathematics" yang selanjutnya disebut dengan etnomatematika. Penelitian para ahli tentang etnomatematika menunjukkan bahwa matematika dalam kehidupan sehari-hari tidak sepenuhnya sama dengan matematika sekolah yang diajarkan dalam sistem sekolah umum. Perbedaan semacam ini ada dan terjadi bahkan pada cabang ilmu matematika yang paling khas seperti yang dilakukan dalam perhitungan, pengurutan, pengklasifikasian, pengukuran, dan lain sebagainya. Penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari seperti halnya yang dilakukan masyarakat dalam aktivitas jual beli, membangun rumah, mengukur atau menimbang, menentuan pola-pola geometri yang serasi (memola), dan sebagainya sering kali sangat berbeda dengan matematika yang dipelajari di

sekolah. Saat kita memasak di dapur, tanpa sadar kita sering mengukur isi dengan sendok, cangkir, atau takaran dalam bentuk lain seperti sejumput, dan lain sebagainya. Sedangkan di sekolah, mengukur isi diajarkan dengan menggunakan satuan liter atau meter kubik. Selain itu matematika dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai berbeda antara daerah satu dengan lainnya misalnya dalam sistem numerasi atau alat-alat hitung yang digunakan. Etnomatematika merupakan sebuah studi tentang perbedaan cara masyarakat memecahkan masalah matematika dan algoritma praktis berdasarkan perspektif matematika mereka sendiri yang mengacu pada bentuk-bentuk matematika yang bervariasi sebagai konsekuensi yang tertanam dalam kegiatan budaya. Dalam pandangan ini, Orey (2000) menegaskan, "mungkin

Ethnomathematics ditandai sebagai alat untuk bertindak di dunia" dengan demikian etnomatematika memberikan wawasan peran sosial matematika dalam bidang akademik. Pembelajaran matematika berbasis budaya merupakan salah satu cara yang dipersepsikan dapat menjadikan pembelajaran matematika bermakna dan kontekstual yang sangat terkait dengan komunitas budaya, dimana matematika dipelajari dan akan diterapkan nantinya. Selain itu pembelajaran matematika berbasis budaya akan menjadi alternatif pembelajaran yang menarik dan menyenangkan karena memungkinkan terjadinya pemaknaan secara kontekstual berdasarkan pada pengalaman siswa sebagai seorang anggota suatu masyarakat budaya. Ini merupakan salah satu prinsip dasar dari teori konstruktivisme, yaitu bahwa siswa harus secara individu menentukan dan

mentransfer informasi-informasi kompleks apabila mereka harus menjadikan informasi itu milikya sendiri (Nur dan Wikandari, 2008). Dari uraian di atas peneliti memandang perlu untuk menulis tentang EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA MASYARAKAT SIDOARJO, sebagai suatu kajian khusus tentang matematika yang dimiliki dan dipraktikkan oleh masyarakat Sidoarjo secara turun temurun, yang diharapkan dapat menjadi bahan rujukan pembelajaran matematika kontekstual. B. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian adalah bagaimana bentuk etnomatematika masyarakat Sidoarjo? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan, maka tujuan dari peneliti yaitu: 1. Mendeskripsikan hasil eksplorasi bentuk etnomatematika masyarakat Sidoarjo. 2. mendokumentasikan budaya masyarakat Sidoarjo berkaitan dengan

matematika agar tidak hilang. D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan temuan yang :

1. memberikan wawasan baru tentang pengetahuan matematika yang pada hakekatnya memiliki wajah yang beragam, bukan hanya matematika formal di sekolah. 2. memberikan informasi lebih mengenai etnomatematika yang merupakan bukti adanya kedekatan antara konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari. 3. dapat dijadikan bahan rujukan penyusunan soal-soal pemecahan masalah matematika kontekstual. 4. dapat dijadikan sumber belajar matematika untuk meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri guru-guru serta peserta didik di daerah Sidoarjo dalam belajar matematika. E. Batasan Penelitian Peneliti memberi batasan penelitian bahwa etnomatematika yang akan peneliti bahas hanya mengungkap etnomatematika dalam aktivitas

mengelompokkan, berhitung, mengukur, merancang bangunan atau alat, membuat pola, dan bermain saja. F. Definisi Operasional Untuk menghindari perbedaan pengertian yang menimbulkan berbagai penafsiran, peneliti memberi definisi operasional sebagai berikut: 1. Eksplorasi adalah serangkaian kegiatan pencarian dan pengumpulan data tentang suatu objek yang ada pada suatu daerah yang kemudian diikuti dengan identifikasi dengan tujuan memperoleh pengetahuan lebih banyak tentang objek tersebut.

2. Etnomatematika adalah cara-cara khusus yang dipakai oleh suatu kelompok budaya atau masyarakat tertentu dalam aktivitas matematika. 3. Aktivitas matematika adalah aktivitas yang di dalamnya terjadi proses pengabstraksian dari pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari ke dalam matematika atau sebaliknya, meliputi aktivitas mengelompokkan, berhitung, mengukur, merancang bangunan atau alat, membuat pola, membilang, menentukan lokasi, bermain, menjelaskan, dan sebagainya. 4. Bentuk etnomatematika adalah berbagai hasil aktivitas matematika yang dimiliki atau berkembang di masyarakat Sidoarjo, meliputi konsep-konsep matematika pada peninggalan budaya berupa candi dan prasasti, gerabah dan peralatan tradisional, satuan lokal, motif kain batik dan bordir, serta permainan tradisional. 5. Masyarakat adalah sekelompok orang yang hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok/ kumpulan manusia tersebut. 6. Masyarakat Sidoarjo adalah suatu masyarakat yang pernah atau masih mendiami wilayah kabupaten Sidoarjo.