Anda di halaman 1dari 20

Gratifikasi seks ditinjau dari Hukum Agama, Hukum Positif dan Sosial

Disusun Oleh : Panti Puspita Sari /100290 Isna Wanufika /100290 Nuraeni Dwi Susanti /10029067 Dita Nurhaifah/ 10029070 Rossy Indah W 10029095 Syefira Octyola 10029104

Saat ini negara kita sedang mengalami krisis moral. Mulai dari kejahatan, seks bebas, penyalahgunaan wewenang maupun pembangkangan kepada ajaran agama. Dalam hal ini kita akan membahas tentang penyalahgunaan wewenang yang di lakukan oleh pejabat, tokoh maupun pemimpin yg untuk kepentingan pribadi dan kelompok.

Bentuk penyalahgunaan wewenangpun bermacam-macam, misalnya membuat kebijakan yang arahnya menguntungkan pemimpin tersebut baik secara materiil maupun moril. Oknum pejabat, pemimpin maupun tokoh tentu ada alasan melakukan ini, misalnya karena tuntutan kebutuhan, atau ingin mendapat imbalan yang lebih. Berbicara tentang imbalan atau hadiah, tentu kita akan berbicara tentang gratifikasi.

Gratifikasi adalah sebuah pemberian hadiah yang ditujukan kepada penguasa maupun pemimpin dg maksud menjaga/membangun hub baik 2 belah pihak. Bentuk gratifikasipun bermacam-macam, diantaranya gratifikasi barang dan jasa termasuk didalamnya adalah jasa pelayanan seks. Kedua macam bentuk gratifikasi tersebut cukup jitu dan bisa dipastikan berhasil. Perbedaanya terletak pada pembuktian, bentuk dan sifat dasar kebutuhan biologis manusia.

Gratifikasi
Gratifikasi adalah Tindakan Korupsi yaitu pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Yang dapat diberikan didalam ataupun diluar negri.

Gratifikasi Seks
Gratifikasi berasal dari kata gratification yang berarti kepuasan atau kegembiraan dan seks berasal dari kata sex yang berarti jenis kelamin. Dari pengertian tersebut, rumusan sederhana dari gratifikasi seks adalah pemberian dalam bentuk layanan kesenangan yang menimbulkan kepuasan secara seksual bagi penerimanya.

Suap dan Gratifikasi


Suap : sesuatu atau janji, sedangkan ia mengetahui atau patut dapat menduga bahwa pemberian sesuatu atau janji itu dimaksudkan supaya ia berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum. Gratifikasi : pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya.(jokowi-jimy liu) Perbedaan mendasar : suap adalah di lakukan untuk memuluskan sebuah rencana yang terhambat. Sedang gratifikasi lebih ke membina hubungan baik untuk kelancaran segala urusan di masa yang akan datang.

Hukum Agama
Islam melarang keras seorang Muslim memberikan hadiah kepada penguasa, hakim, maupun pejabat pemerintahan lain untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

Sesuai dengan sabda Rasul dan Hadits dibawah ini :


Rasulullah saw bersabda: Hadiah bagi penguasa itu adalah kecurangan (ghulul) Barangsiapa yang kami pekerjakan untuk mengerjakan suatu pekerjaan, dan kami telah memberikan upahnya, maka apa yang diambilnya selain itu adalah suatu kecurangan.[HR. Abu Dawud] Hadiah yang diterima seorang penguasa adalah suht (haram) dan suap yang diterima hakim adalah kufur . [HR. Imam Ahmad bin Hanbal]

Dalam pandangan Islam, gratifikasi seksual adalah perzinahan. Sebagai perzinahan, maka baik pihak yang menerima hadiah maupun perempuan yang dihadiahkan, keduanya akan dijatuhi hukuman had yang telah ditetapkan dalam Islam. Allah berfirman :
]:[ Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. (QS. An Nuur :2)

lanjut
Hukuman di atas adalah bagi orang yang belum menikah. Sementara bagi orang yang sudah menikah, adalah dirajam sampai mati. Pelaksanaan hukuman dalam Islam wajib disaksikan oleh khalayak sebagaimana dikatakan dalam penggalan terakhir surat An Nuur: 2 di atas. Tujuannya selain memberikan sanksi psikologis bagi pelaku, juga akan memberikan pengaruh munculnya rasa takut pada orang-orang yang akan melakukan kejahatan tersebut.

Seorang pemimpin yang mau menerima gratifikasi seks maka ia sungguh sangat merugi karena telah terjatuh didalam 2 perbuatan haram yaitu menerima hadiah diluar haknya dan melakukan perbuatan haram atau berzina.

Hukum Sosial
Ketidakberdayaan hukum akibat minimnya komitmen para elite reformasi menjadi dua faktor penyebab yang saling berkaitan dari ketidakpastian pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) di Indonesia. Harus ada kerjasama berbagai pihak untuk melawan/ memberantas berbagai tindakan KKN.

Sanksi sosial yg diperoleh:


Martabat kepemimpinanya jatuh di mata masyarakat krn seks yg tdk terkendali adl slah satu penyebab hancurnya penilaian seseorang thd orang lain.

Hukum Positif
Definisi gratifikasi adalah pemberian hadiah. Dalam hukum pidana korupsi, gratifikasi termasuk tindak pidana korupsi terlebih jika diberikan pada PNS atau pejabat krn dapat dikatakan suap. Ada tiga unsur pelaku gratikasi seksual yaitu, orang yang memberi gratifikasi, pejabat yang disuap dan pelayan seksualnya sendiri. Menurut ketentuan Pasal 5 jo. Pasal 12 huruf a dan huruf b UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor ), baik pelaku pemberimaupun penerima gratifikasi diancam dengan hukuman pidana.

Hukuman yg diberikan :
Pasal 5 UU Tipikor (pemberi) : pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah). Pasal 12 UU Tipikor (penerima) : Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)

Dampak Gratifikasi (Penguasa)


Hanya mau melayani orang yang mampu memberinya hadiah/ pamrih Menentapkan hukum yang menyengsarakan rakyat miskin demi kepentingan pemberi hadiah Roda pemerintahan tidak berjalan normal,birokrasi sulit dan tidak adil. Terbentuk penguasa yang rela menggadaikan negara demi kepentingan kelompok tertentu.

Dampak Masyarakat dan Negara


Rakyat terdzalimi karena urusannya terbengkalai. Lahir kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Hilangnya rasa nyaman, adil dan tentram dlm hatimasyarakat karena lembaga pengayom yang tidak amanah. Hilangnya kedaulatan suatu negara.