Anda di halaman 1dari 17

MANFAAT KOMUNIKASI KONSELING

DALAM MENGENDALIKAN EMOSI


ATLET BILLIARD
(Studi Wawancara Mendalam di Pusat Pelatihan
Olahraga Billiard Gajah Mada Sport Center
Pekanbaru Provinsi Riau)
RANDY KURNIAWAN
NPM 41153035120127

UNIVERSITAS LANGLANGBUANA
BANDUNG

KONTEKS PENELITIAN
Stres sebelum bertanding
adalah hal yang sering terjadi
pada setiap atlet ketika akan
bertanding, stres bisa jadi
pemicu semangat dan motivasi
untuk
maju,
namun
stres
berlebihan
bisa
berdampak
negatif,
sehingga
akan
menurunkan
kinerja
dan

FOKUS PENELITIAN
Menang atau kalah dalam kompetisi
billiard merupakan hal yang biasa dalam
sebuah pertandingan. Setiap pelatih
perlu mentransfer tidak hanya keahlian
dan keterampilan namun juga sikap
mental yang benar. Memiliki keahlian
namun tidak didukung sikap mental yang
dewasa, maka dapat membawa dampak
yang tidak diharapkan.

FOKUS PENELITIAN
Berdasarkan konteks penelitian,
maka
fokus
penelitian
adalah
Bagaimanakah Manfaat Komunikasi
Konseling
Dalam
Mengendalikan
Emosi
Atlet
Billiard?
(Studi
Wawancara
Mendalam
di
Pusat
Pelatihan Olahraga Billiard Gajah
Mada
Sport
Center
Pekanbaru
Provinsi Riau).

PERTANYAAN PENELITIAN
Berdasarkan konteks penelitian dan fokus
penelitian, maka pertanyaan penelitian ini
adalah:

Bagaimanakah teknik komunikasi konseling


dalam mengendalikan emosi atlet?
Bagaimanakah bentuk komunikasi konseling
dalam mengendalikan emosi atlet?
Bagaimanakah proses komunikasi konseling
dalam mengendalikan emosi atlet?
Bagaimanakah manfaat komunikasi konseling
dalam mengendalikan emosi atlet?

JENIS STUDI

1.

2.

3.

4.

Menurut Dun (dalam Ardianto, 2010: 61-62),


ruang lingkup kajian wawancara mendalam
meliputi:
Seorang informan atau kelompok informan
mengomunikasikan bahan-bahan dan
mendorong untuk didiskusikan secara bebas.
Wawancara mendalam dapat dilakukan melalui
telepon.
Pewawancara dilatih secara psikologis agar
dapat menggali perasaan dan sikap yang
tersembunyi dari informan.
Dengan wawancara mendalam kepada
informan, penelitian dapat mengetahui alasan
yang sebenarnya dari responden mengambil

LANDASAN TEORITIS

1. Teori Komunikasi Antarpribadi Joseph A. DeVito:


keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif dan
kesetaraan
2. Teori Konstruksi Sosial Diri Rom Harre:
penunjukan (display) yaitu, adalah aspek dari diri itu dapat
ditunjukan kepada pihak luar (public) atau merupakan sesuatu
yang pribadi atau privat; relasi atau sumber, yaitu tingkatan atau
derajat pada bagian atau wilayah tertentu dari diri yang
dipercaya berasal dari dalam individu sendiri atau luar; agen
(agency) yaitu derajat atau tingkatan dari kekuatan aktif yang
ditimbul oleh diri sendiri
3. Teori Konstruksi Sosial James Averill:
kemampuan untuk memahami emosi dikonstruksikan secara
sosial.

TINJAUAN TENTANG
KOMUNIKASI KONSELING
OLAHRAGA
Dalam hal ini, atlet disebut dengan konseli,
yaitu pihak yang berkonsultasi, pihak yang
mengutarakan keluha-keluhan, dan
permasalahan yang dihadapi. Sedangkan
pelatih berperan sebagai konselor, yaitu
pihak yang memberikan arahan, bimbingan
kepada atlet untuk mengatasi problem
yang dihadapinya.

MENGENDALIKAN EMOSI
ATLET
1. Berfikir Positif
2. Motivasi
3. Sasaran Yang Jelas
4. Pengendalian Emosi
5. Daya Tahan Terhadap Stres
6. Rasa Percaya Diri
7. Daya Konsentrasi
8. Kemampuan Evaluasi Diri
9. Minat
10. Kecerdasan Emosional

METODE PENELITIAN
KUALITATIF
Penelitian kualitatif menurut Creswell
(2013: 4) merupakan metode-metode
untuk mengeksplorasi dan memahami
makna yang oleh sejumlah individu atau
sekelompok orang dianggap berasal dari
masalah sosial atau kemanusiaan.

PARADIGMA PENELITIAN
KONSTRUKTIVISME
Bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai
alat untuk memahami realitas objektif
belaka dan dipisahkan dari subjek
sebagai penyampai pesan.
Konstruktivisme justru menganggap
subjek sebagai faktor sentral dalam
kegiatan komunikasi serta hubunganhubungan sosialnya. Subjek memiliki
kemampuan melakukan kontrol terhadap
maksud-maksud tertentu dalam setiap
wacana.

PENDEKATAN PENELITIAN
WAWANCARA MENDALAM
Metode wawancara mendalam (indepth
interview)
adalah
sama
seperti metode wawancara lainnya,
hanya peran pewawancara, tujuan
wawancara, peran informan, dan
melakukan wawancara yang berbeda
dengan wawancara pada umumnya.
Wawancara
mendalam
dilakukan
berkali-kali dan membutuhkan waktu
yang
lama
bersama
informan
dilokasi penelitian, hal mana kondisi
ini tidak terjadi pada wawancara lain

PENENTUAN SUMBER DATA


PENELITIAN
Pemilihan informan dilakukan dengan strategi
purposive. Strategi ini menghendaki informan
dipilih berdasarkan pertimbangan peneliti dengan
tujuan tertentu yaitu:
Jefry Pelatih (Informan Kunci)
Bambang Irawan Atlet (Informan 1)
Zainul Aziz Atlet (Informan 2)
Yanto Budiman Atlet (Informan 3)
Jhony M.Atlet (Informan 4)
Yogi Rezky Atlet (Informan 5)

PERSEPSI PELATIH DALAM KOMUNIKASI


KONSELING ATLET BILLIARD
.

Setiap pelatih harus mentransfer


pengalaman, keahlian dan keterampilan
serta sikap mental yang benar. Atlet yang
memiliki keahlian namun tidak didukung
sikap mental yang dewasa, maka dapat
membawa
dampak
yang
tidak
diharapkan.

PEMAKNAAN ATLET BILLIARD TENTANG PENGENDALIAN EMOSI

Pelatih melakukan komunikasi konseling melalui


pendekatan
untuk
mengukur
kecerdasan
emosional atlet. Pelatih mengajarkan teknik
mengelola emosi saat atlet akan bertanding
agar tidak stress, panik dan grogi ketika
berhadapan dengan lawan.
Pelatih mengarahkan atlet untuk tetap tenang
dalam mengambil keputusan mengarahkan bola
dan memukul bola.
Bila pengendalian emosi atlet itu bagus berarti
atlet bisa mengatur suasana hati supaya tenang
tidak stres dan penuh konsentrasi untuk
mengambil keputusan memukul bola agar tepat
sasaran.

SIMPULAN DAN SARAN


Menurunnya prestasi atlet billiard dari Provinsi Riau
disebabkan karena kurang terjalinnya komunikasi yang
baik antara pelatih dengan atlet, sehingga terjadi
salah pengertian. Atlet merasa diperlakukan tidak adil,
sehingga tidak mau bersikap terbuka terhadap pelatih
yang berakibat kurangnya kepercayaan atlet terhadap
pelatih dan menurunnya prestasi atlet.
Untuk menghindari terjadinya hambatan komunikasi
tersebut, sebaiknya pelatih bersikap terbuka, empati,
mendukung, berpikir positif dan setara dalam
berkomunikasi dengan atlet dalam membangun
mental atlet yang memiliki kinerja dan mampu meraih
prestasi.

Sekian

Terima Kasih
dan
Semoga Bermanfaat