Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KASUS

ABSES PAROTIS SINISTRA


Oleh :
LUVITA AMALLIA S
Pembimbing :
dr. WIWIN

Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta


RSUD TAIS SELUMA
20016

PENDAHULUAN
Abses Parotis merupakan salah satu
infeksi pada leher bagian dalam (deep
neck infection), disertai dengan
pembentukan pus.

Penelitian yang dilakukan oleh Huang dkk tahun


1997-2002 menemukan kasus infeksi leher
dalam sebanyak 185 kasus. Diantaranya adalah :
- Abses parafaring (38,4%)
- Abses submandibula (15,7%)
- Angina Ludovici (12,4%)
- Parotis (7%)
- Retrofaring (5,9%)

mengancam jiwa
apabila abses tidak ditangani

dengan adekuat obstruksi jalan


nafas sepsis dan kematian.

PEMBAHASAN
Menurut Smeltzer dan Bare gejala dari
abses tergantung kepada lokasi dan
pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ
saraf. Gejala tersebut dapat berupa :
Nyeri
Teraba hangat
Pembengkakan
Kemerahan
Demam

Diagnosis abses leher dalam ditegakkan berdasarkan :

ANAMNESIS

PEMERIKSAAN FISIK

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pada pemeriksaan fisik didapatkan


adanya pembengkakan fluktuatif, dan
nyeri tekan. Pada insisi didapatkan
material yang bernanah atau purulent
(merupakan tanda khas).

Infeksi dapat bersumber dari gigi,


dasar mulut, faring, kelenjer liur atau
kelenjer limfa submandibula.
Sebagian lain dapat merupakan
kelanjutan infeksi ruang leher dalam
lainnya.

Sebagian besar kasus infeksi leher


dalam disebabkan oleh berbagai
kuman, baik aerob maupun anaerob.

Etiologi
Kuman aerob yang paling sering
ditemukan adalah Streptococcus sp,
Staphylococcus sp, Neisseria sp,
Klebsiella sp, Haemophillus sp.

Kuman anaerob Bacteroides


melaninogenesis, Eubacterium
Peptostreptococcus dan yang jarang
adalah kuman Fusobacterium. Sering
ditemukan pada infeksi gigi.

Patogenesis
Beratnya infeksi tergantung
dari virulensi kuman, daya
tahan tubuh dan lokasi
anatomi. Infeksi gigi dapat
mengenai
pulpa
dan
periodontal.
Penyebaran
infeksi
dapat
meluas
melalui foramen apikal gigi
ke daerah sekitarnya.

Penyebaran infeksi dapat meluas melalui


foramen apikal gigi ke daerah sekitarnya.
Apek gigi molar I yang berada di atas
milohioid menyebabkan penjalaran infeksi
akan masuk terlebih dahulu ke daerah
sublingual, sedangkan molar II dan III
apeknya berada di bawah milohioid
sehingga infeksi akan lebih cepat ke
daerah submaksila.

Penyebaran infeksi melalui gigi

infeksi gigi atau odontogenik merupakan penyebab


terbanyak dari abses leher dalam. Berhubungan dengan
ini, ruang parotis sering terkena infeksi. Infeksi gigi dapat
mengenai pulpa dan periodontal. Penyebaran infeksi dapat
meluas melalui foramen apikal gigi ke daerah sekitarnya

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium
Radiologis
Rontgen jaringan lunak kepala AP
Rontgen panoramik
Rontgen thoraks
USG
Tomografi komputer (CT-scan)

Tatalaksana

Antibiotik growth spectrum


Berdasarkan uji kepekaaan, kuman aerob memiliki
angka sensitifitas tinggi terhadap terhadap ceforazone
sulbactam, moxyfloxacine, ceforazone, ceftriaxone, yaitu
lebih dari 70%. Metronidazole dan klindamisin angka
sensitifitasnya masih tinggi terutama untuk kuman
anaerob gram negatif. Antibiotik biasanya dilakukan
selama lebih kurang 10 hari.

Insisi dibuat pada tempat yang paling berfluktuasi atau


setinggi os hyoid, tergantung letak dan luas abses.
Eksplorasi dilakukan secara tumpul sampai mencapai ruang
sublingual, kemudian dipasang salir.

Pasien dirawat inap sampai 1-2 hari gejala dan


infeksi reda.

tanda

LAPORAN KASUS
IDENTITAS
Nama/MR : Ny. A / 027471
Umur : 79 tahun
Jenis Kelamin: Perempuan
Alamat : Desa Tanjung seru
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Suku Bangsa : Serawai
Berobat tanggal: 24-02-2016

ANAMNESIS
Keluhan utama:
Nyeri di pipi kiri sejak 2 minggu SMRS
Riwayat penyakit sekarang:
Nyeri dirasakan memberat sejak 4 hari SMRS.
Nyeri mulut diikuti dengan bengkak kemudian
mulut sulit dibuka. Bengkak awalnya sebesar
kelereng namun dalam 4 hari semakin
membesar. Pasien tidak bisa makan hanya bisa
minum air putih sedikit menggunakan sedotan
sejak 1 hari SMRS, karena semakin nyeri dan
mulut tidak bisa membuka lebar. Berbicara
sulit dan terasa semakin sulit bernafas dan
leher sulit digerakan. Bau mulut (+).

Keluarga pasien mengatakan, 1 bulan yang lalu


awalnya pasien mengatakan giginya berlobang dan
terasa sakit. Pasien lalu membeli obat diwarung
namun keluhan tidak menghilang. Pasien ada riwayat
demam 5 hari terakhir. Anak pasien lalu
memberikan obat penurun panas, kemudian demam
tidak ada lagi.
Suara serak disangkal.
Lidah terasa terangkat tidak ada.
Riwayat keluar darah atau nanah dari mulut tidak
ada.
Riwayat sering bersin dan hidung berair tidak ada.
Pasien menyangkal pernah sakit di telinga, hidung,
dan tenggorokan sebelumnya.
Mual muntah disangkal.
BAB dan BAK tidak ada keluhan.

Riwayat penyakit dahulu:


Gigi berlobang sejak 10 tahun yang lalu.
Tidak pernah menderita sakit atau bengkak
di leher sebelumnya.
Riwayat penyakit keluarga:
Tidak ada anggota keluarga yang menderita
pembengkakan atau sakit di leher.
Riwayat pekerjaan, sosial ekonomi, dan
lingkungan:
Pasien tidak bekerja, golongan ekonomi
menengah kebawah, dan pendidikan
terakhir adalah SD.

Riwayat Alergi :
Tidak diketahui.
Riwayat Pengobatan :
Sebelumnya pasien tidak pernah
berobat.

PEMERIKSAAN FISIK
STATUS GENERALIS
Tanda vital
Keadaan umum: sakit sedang
Kesadaran : komposmentis kooperatif
Tekanan darah : 150/90 mmHg
Frekuensi nadi
: 98x/menit
Frekuensi nafas: 26x/menit
Suhu tubuh
: 38o C

Pemeriksaan sistemik
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
THT : serumen (-/-), sekret(-/-), epistaksis( -/-),
deviasi septum (-), faring hiperemis (-/-), T2/T2, Gigi
karies (+).
KGB : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
leher.
Jantung : iktus jantung tidak terlihat, batas jantung
normal, bunyi murni, reguler, bising tidak ada
Paru: simetris, fremitus kiri dan kanan sama, sonor,
suara nafas vesikuler, tidak ada suara tambahan
Abdomen : tidak membuncit, hepar dan lien tidak
teraba, timpani, bising usus normal
Ekstremitas: tidak ada paresis atau paralisis, reflek
fisiologis (+/+), reflek patologis (-/-)

Pemeriksaan leher (regio sub mandibulasub mental)

Tampak pembengkakan di leher kiri


sebesar tinju orang dewasa, hiperemis
(+), teraba panas (+), fluktuasi (+),
trismus (+) 2 jari, tidak ikut pada saat
menelan, terfiksir, nyeri tekan (+).

Pemeriksaan Penunjang :

Diagnosis kerja : abses parotis


sinistra
Diagnosis tambahan :
Diagnosis banding
: abses
submandibula

Penatalaksanaan :
- Aspirasi abses, pus (+) 10 cc
- Rujuk ke RS. Raflesia untuk dilakukan operasi
insisi abses
- Menjaga oral hygiene, berkumur kumur dengan
antiseptic (betadine kumur) > 6x sehari.
- Cefixim 2x 100mg
- Metronidazol 2x500mg
- Metil prednisolon 2x4mg
- Natrium diclovenac 3x1
- Ranitidin 2x 150mg
Rencana : dilakukan insisi abses
Prognosis : Dubia ad Bonam

FOLLOW UP
07 maret 2016
S:
Pasien mengeluh masih demam terutama pada malam
hari.
masih ada nanah keluar dari luka di pipi bawah, masih
nyeri. .
O:
menunjukkan tanda vital pasien stabil; ditemukan
trismus 3 jari tampak kulit hiperemis, terdapat pus
10cc, darah tidak ada, nyeri tekan (+), fluktuasi (-),
teraba hangat..
A:
Post insisi Abses parotis Sinistra dalam perawatan hari
ke 3
P:
Cefixim 2x100mg
Metronidazole 2x500 mg
Metil prednisolon 2x4 mg
Natrium diclovenac 3x1
Ranitidin 3x150 mg
Redresing menggunakan Nacl 0,9% + metronidazol 10cc
2x dan luka ditutup
Oral higiene dengan betadine kumur > 6x sehari

08 maret 2016
S:
Demam tidak ada
nanah keluar dari pipi kiri berkurang
masih nyeri, mulut hanya bisa dibuka 2 jari
O:
menunjukkan tanda vital pasien stabil; ditemukan
trismus 2cm
tampak kulit hiperemis, terdapat pus 5cc, darah
tidak ada, nyeri tekan.
A:
Post insisi Abses parotis Sinistra dalam perawatan
hari ke 4
P:
Cefixim 2x100mg
Metronidazole 2x500 mg
Metil prednisolon 2x4 mg
Natrium diclovenac 3x1
Ranitidin 3x150 mg
Redresing menggunakan Nacl 0,9% + metronidazol
10cc 2x dan luka ditutup
Oral higiene dengan betadine kumur > 6x sehari

09 maret 2016
S:
Demam tidak ada
nanah keluar dari pipi kiri berkurang
masih nyeri, mulut hanya bisa dibuka 2 jari
O:
menunjukkan tanda vital pasien stabiltampak
kulit hiperemis, terdapat pus 3cc, darah
tidak ada, nyeri tekan.
A:
Post insisi Abses parotis Sinistra dalam
perawatan hari ke 5
P:
Cefixim 2x100mg
Metronidazole 2x500 mg
Metil prednisolon 2x4 mg
Natrium diclovenac 3x1
Ranitidin 3x150 mg
Redresing menggunakan Nacl 0,9%
metronidazol 10cc 2x dan luka ditutup
Oral higiene dengan betadine kumur > 6x
sehari

10 maret 2016
S:
Demam tidak ada
nyeri di pipi kiri berkurang.
Mulut sudah lebih mudah dibuka
O:
menunjukkan tanda vital pasien stabil
A:
Post insisi Abses parotis Sinistra dalam
perawatan hari ke 6
P:
Cefixim 2x100mg
Metronidazole 2x500 mg
Metil prednisolon 2x4 mg
Natrium diclovenac 3x1
Ranitidin 3x150 mg
Redresing menggunakan Nacl 0,9% +
metronidazol 10cc 2x dan luka ditutup
Oral higiene dengan betadine kumur > 6x
sehari

DAFTAR PUSTAKA
Huang T, chen T, Rong P, Tseng F, Yeah T, Shyang C. Deep neck
infection: analysis of 18 cases. Head and neck. Ockt 2004.860-4
Yang S.W, Lee M.H, See L.C, Huang S.H, Chen T.M, Chen T.A. Deep
neck abscess: an analysis of microbial etiology and effectiveness of
antibiotics. Infection and Drug Resistance. 2008;1:1-8.
Rizzo PB, Mosto MCD. Submandibular space infection: a potentially
lethal infection. International Journal of Infectious Disease
2009;13:327-33
Soetjipto D, Mangunkusumo E. Sinus paranasal. Dalam : Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ke-6.
Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007. 145-48
Ballenger JJ. Penyakit telinga hidung tenggorok kepala dan leher. Jilid
1. Edisi ke-13. Jakarta: Bina Rupa Aksara,1994.295-304