Anda di halaman 1dari 45

ASUHAN KEPERAWATAN

GANGGUAN SISTEM
REPRODUKSI

MIRA TRISYANI
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNPAD

Tujuan Pembelajaran
Diharapkan setelah mengikuti perkulihan
diharapkan mahasiswa dapat :

Mengidentifikasi tanda dan gejala terhadap


gangguan sistem reproduksi
Melakukan pengkajian terhadap tanda dan
gejala gangguan sistem reproduksi yang
lazim terjadi pada klien
Menerapkan asuhan keperawatan pada
klien beserta keluarga yang sedang
mengalami gangguan sistem reproduksi

Pengkajian Keperawatan

Untuk mengumpulkan simptom dan


fokus pengkajian
Sebagai data base informasi tentang
tingkat wellness klien, health practices,
past illness, and health care goals and
need
Pengkajian meliputi riwayat kesehatan,
pengkajian fisik, pengkajian psikososial,
pemeriksaan laboratorium dan
diagnostik, review catatan klinik dan
review literatur.

Nursing Intervention

Intervensi keperawatan adalah tindakan


langsung untuk membantu klien
mengatasi masalah fisik dan emosional
dalam mencapai tujuan yang
diharapkan.
Praktik mandiri keperawatan dalam
memberikan asuhan tanpa order dari
profesi lain.
Melakukan intervensi kolaborasi dengan
profesi lain

Skill

Keterampilan intelektual
Keterampilan verbal dan non-verbal
dengan klien, keluarga dan tim
kesehatan
Teknikal atau psikomotor skills yang
digunakan selama implementasi

Metode Implementasi

Membantu pemenuhan kebutuhan ADL


Konseling, strategi yang digunakan:
modifikasi perilaku, Biofeedback,
relaksasi training reality orientation,
crisis intervention, play therapy
Teaching
Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab
asuhan keperawatan, dengan cara:

Evaluasi dan treatmen efek samping


Cara-cara pencegahan
Melakukan prosedur dengan benar

Cont: Metode Implementasi

Membantu klien dalam pencapaian


tujuan intervensi dengan cara:

Memberikan privacy
Adekuat discharge planning dan teaching
education untuk promosi kesehatan

PANDUAN PENGKAJIAN GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI

A. IDENTITAS
Identitas Klien: Nama, umur, status
pernikahan, pekerjaan, agama,suku,
bangsa, pendidikan, alamat, diagnose
medis, no. medRek
Identitas penanggung jawab: Nama,
umur, agama, status marital,
pekerjaan, suku bangsa, pendidikan,
alamat, hubungan dengan klien.

PANDUAN PENGKAJIAN GANGGUAN SISTEM


REPRODUKSI

B. KELUHAN UTAMA SAAT


PENGKAJIAN
C. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG

Alergi
Imunisasi
Tes skrining
Aktivitas seksualitas
Diet
Terapi yang diterima saat ini

PANDUAN PENGKAJIAN GANGGUAN SISTEM


REPRODUKSI
D. PEMERIKSAAN FISIK

Penampilan umum
Tanda-tanda vital
Kulit
Kepala
Mata, Mulut
Leher,
Paru, Jantung dan Payudara,
Peripheral vascular
Abdomen
Ektremitas atas dan bawah
Genitourinaria
Rectum musculoskeletal
Neurologi

PANDUAN PENGKAJIAN GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI

E. STATUS NUTRISI
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium, EKG dan X-Ray

G. PSIKOLOGIS DAN SOSIAL

Pengkajian psikologis
Ketakutan akan pengobatan
Ketakutan pada nyeri
Apakah pasien mengalami stress?Jelaskan
Pengetahuan: penyakit, terapi, perawatan

H. PENGKAJIAN SPIRITUAL

Infeksi Ginekologi

Pelvic Inflamatory Disease

PID disebabkan bakteri anaerob non IMS


atau bakteri penyebab IMS (contoh:
clamidia trachomatis dan Neisseria
Gonorrhoe).
Faktor resiko: remaja, riwayat PID,
gonorrhea atau clamydia, pasangan
dengan gonorrhea atau clamydia,
multiple partner, pemasangan IUD,
bakterial vaginosis, status
socioeconomic.
Jaur perjalanan infeksi: cervicitis

PID (Pelvic Inflamatory


Disease)

Proses infeksi pada


pelvic termasuk tuba
falopi, ovarium, pelvic
peritoneum, vena dan
jaringan penghubung
pelvic

Pengkajian

Subjective Data

Nyeri abdominal
dan pelvic
Low back pain
Disparenia
Perubahan vaginal
( berbau, ada
cairan)
Malaise , menggigil

Pengkajian

Objective Data

Demam (T > 38.3C)


Mual, muntah
Pruritus atau maserasi di vulva
Diare
Kembung

Diagnostik Test

Peningkatan jumlah sel darah putih


Peningkatan kadar sedimen eritrosit
Kultur sekresi purulent menunjukkan
hasil positif terhadap organisms
Pada laparoskopis menunjukan adanya
radang pelvic
Terdapat abses saat di USG tuboovarian

Mucopurulent Cervical Discharge


(Positive swab test)
18

Source:Seattle STD/HIV Prevention Training Center at the University of Washington/


Claire E. Stevens and Ronald E. Roddy

Diagnosis

Potensial Komplikasi

Infeksi saluran kemih


Peritonitis
Abses tuba ovarium
Infertilitas
Kehamilan ektopic
Paralitic illeus

pelvic inflammatory disease reference.m


p4

Managemen Terapeutik

Pemberian antibiotik
Bed rest dalam posisi semi fowler atau
posisi nyaman
Pemberian cairan parenteral
Pemasangan NGT jika mengalami
paralitic illeus
Lepas IUD
Lepas tampon
Analgetik

Diagnosa Keperawatan
1.

2.

3.

Nyeri b/d dengan inflamasi jaringan atau


organ
Kecemasan b/d ketidakyakinan akan hasil
akhir PID, kurang informasi tentang PID,
dan dampak pada hubungan dengan
pasangan pada saat ini dan yang akan
datang
Resiko tinggi gangguan integritas kulit
sekunder terhadap keluaran dari vagina

DP. Nyeri: Intervensi Keperawatan

Pengkajian menyeluruh riwayat nyeri


klien, meliputi:

Tingkat ketidaknyamanan menggunakan


skala nyeri 0 10
Karakteristik nyeri (akut atau kronik)
Onset, durasi, intensitas, dan frekuensi
Hubungan dengan faktor lain, seperti siklus
menstruasi, aktifitas seksual, symptom
infeksi ginekologi
Usaha yang dilakukan untuk mengurangi
nyeri

DP. Nyeri: intervensi keperawatan

Diskusikan metode-metode
nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri
seperti exercise, massage
Kolaborasi:

Diskusikan dengan tim kesehatan alternatif


untuk mengontrol nyeri:
Metode

pembedahan
Terapi medis
Klinik nyeri
Akupressure

DP. Kecemasan Intervensi


Keperawatan

Jelaskan PID pada pasien


Monitor tanda-tanda terjadinya
distress
Pertahankan sikap tenang, rileks dan
tidak menghakimi ketika menjawab
pertanyaan atau ketika memberikan
informasi
Pertahankan lingkungan private dan
dorong pasien untuk berbagi perasaan
dan respon sewajar mungkin

DP. Resiko Tinggi gangguan Integritas Kulit

Jelaskan dan ajarkan klien untuk


melakukan kebersihan perineal
Ajarkan pasien untuk teknik
membersihkan perineum setelah
aliminasi untuk pencegahan kontaminasi
uretra
Jelaskan rasionalisasi menggunakan
celana dalam katun

Patient/Family Teaching

Jelaskan pentingnya melakukan cuci tangan


sebelum dan sesudah kontak dengan perineum
Jelaskan pentingnya mengunankan pembalut ,
dan mengganti sesuai kebutuhan
Jelaskan pentingnya asupan nutrisi seimbang
Ajarkan seksualitas yang aman untuk
pencegahan penularan apabila penyebab
penyakit dari gonococcus atau clamidia
Jelaskan kemungkinan beresiko infertilitas dan
kehamilan ektopik di masa yang akan datang

Infeksi Menular Seksual

Mitos (benar/salah)

Keluhan: nyeri
Pil KB dapat menularkan IMS
Jika terkena IMS satu kali dan di obati, tidak
akan terkena lagi
Hanya salah satu pasangan saja yang
diperiksa genetalia
Kondom dapat mencegah penyebaran IMS

Infeksi Menular Seksual

Merupakan penyait dan infeksi yang


ditularkan dari manusia ke manusia
melalui:

Sexual intercourse
Oral-genital contact
IV drug

Gejala IMS

Nyeri
Darah dalam urine
Rasa terbakar saat berkemih
Ruam
Gatal
Keluaran dari genitalia

Organisme Penyebab IMS


1.
2.
3.
4.
5.

Gonorrhea dan clamidia


Herpes Simplex
Human Papilloma Virus
Syphilis
Vaginitis (bacterial vaginosis,
trichomonas vaginalis, candidiasis
vulvovaginalis)

Secondary Stage

Chlamydia

Umumnya muncul gejala seperti demam,


penurunan BB tanpa sebab, nyeri menelan, mual,
diare, sariawan di sekitar mulut.
Gejala pada wanita: perubahan vagina, nyeri saat
berkemih, nyeri abdomen bagian bawah, perdrahan
diantara siklus menstruasi, demam ringan (gejala
lanjutan)
Gejala pada pria: perubahan dari penis/nyeri saat
berkemih, rasa terbakar dan gatal di area
puerpurium, nyeri di area testis, demam ringan
(ada kaitannya dengan peradangan di epididimistestis)

Komplikasi Chlamydia

Penyebaran infeksi
Infertiity
Peradangan cervix
PID

Gonorrhea

Biasanya terkena akibat kontak seksual


(anal sex, oral sex)
Dapat ditularkan dari ibu ke anak saat
persalinan
Infeki gonorrhea dapat menyebar pada
organ lainnya

Gejala

Dapat muncul dalam waktu singkat atau


lama
Nyeri dan kemerahan di kerongkongan
Rectal pain
Terdapat darah dan pus di genetalia atau
anus

Gejala pada Wanita

Gejala mungkin baru muncul pada 2-21


hari setelah berhubungan sexual
Terdapat keluaran warna kuning atau
ptih dari vagina
Kemungkinan rasa terbakar saat
berkemih
Nyeri semakin bertambah
Kram atau nyeri pada abdomen bagian
bawah, kadang disertai mual atau
demam

Gejala pada pria

Keluaran purulen warna kuning atau


putih dari penis
Rasa terbakar saat berkemih
Peningkatan BAK
Pembengkakan testis

Syphilis

Efek jangka panjang lebih berat, sampai


mengancam kematian
Ditularkan melalui kontak langsung
dengan penderita syphilis
Nyeri dirasakan di genetalia ekternal,
vgina, anus atau rectum. Juga bisa
dirasakan di area bibir dan sekitar mulut.

Gejala

Biasanya muncul 10-90 hari setelah


kontak
Orang yang terinfeksi merasakan nyeri
di area fokus kontak (mulut, anus,
rectum, kerongongan, atau organ
sexual)

Komplikasi

Penyebaran infeki
Infeksi memburuk
Kerusakan organ multi sistem
Artritis
Demensia
Meningitis
Stroke

Diagnosa Keperawatan
1.

2.

3.

4.

Nyeri akut sehunungan dengan


peradagan cervix
Kecemasan sehubungan dengan
diagnosa penyakit
Kurangnya pengetahuan s.d. penyakit,
penyebaran dan pengelolaan
Resiko tinggi infeksi s.d. penyebaran
infeksi

Intervensi

Kaji jaringan perineum, kemampuan


berkemih, TTV, tingkat nyeri, pengetahuan
tentang penyakit, pengobatan dan penularan.
Monitor intake dan output
Berikan antibiotik sesuai anjuran dokter
Jaga lesi tetap bersih dan kering
Anjurkan untuk sitz bath untuk mengurangi
ketidaknyamanan
Cuci tangan sebelum dan sesudah kotak
dengan pasien

Intervensi

Ajarkan klien tanda dan gejala


penyebaran penyakit
Ajarkan klien cara pencegahan
penularan infeksi kepada orang lain
Ajarkan klien self-care termasuk
manajemen obat, personal hygiene dan
safe sexual practices.
Komunikasi dengan klien

Sekian.