Anda di halaman 1dari 13

PENANGGULANGA

N FILARIASIS
By :
Tri N Hatala, S.Kep.,Ns

Pengertian
Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit
nematoda yang tersebar di Indonesia.
Penyakit Kaki Gajah (Filariasis atau Elephantiasis) adalah golongan
penyakit menular. Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila
tidak mendapatkan pengobatan, dapat menimbulkan cacat menetap
berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan
maupun laki-laki.
Penyakit Kaki Gajah bukanlah penyakit yang mematikan, namun
demikian bagi penderita mungkin menjadi sesuatu yang dirasakan
memalukan bahkan dapat mengganggu aktifitas.

Tanda dan Gejala


1. Akut
.
Demam berulang-ulang selama 3-5 hari, demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah
bekerja berat
. Pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiak (lymphadenitis)
yang tampak kemerahan, panas dan sakit
. Radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki
atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis)
. Filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan
mengeluarkan nanah serta darah
. Pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas
(early lymphodema)
2. Kronis
. berupa pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar
(elephantiasis skroti).

Faktor-faktor Timbulnya
Penyakit
1. AGENT
Patogenesiti, cacing ini tegolong pathogenesis karena menimbulkan
penyakit.
Virulensi, karena derajat kerusakan yang ditimbulkan cacing ini hebat
maka dapat dikatakan virulen.
Antigenesiti, mekanisme pertahanan tubuh yang ditimbulkan oleh agent ini
rendah, sehingga dapat dikatakan antigenesitinya juga rendah.
Infektiviti, agent ini memiliki kemampuan untuk tinggal di dalam diri
penjamu yang sangat baik, sehingga dapat dengan mudah menyesuaikan
diri dengan keadaan tubuh pejamu.

2. Hospes
a. Manusia.
Setiap orang mempunyai peluang yang sama untuk dapat tertular filariasis
apabila digigit oleh nyamuk infektif (mengandung larva stadium III). Manusia
yang mengandung parasit selalu dapat menjadi sumber infeksi bagi orang lain
yang rentan (suseptibel). Biasanya pendatang baru ke daerah endemis
(transmigran) lebih rentan terhadap infeksi filariasis dan lebih menderita dari
pada penduduk asli. Pada umumya laki-laki banyak terkena infeksi karena
lebih banyak kesempatan untuk mendapat infeksi (exposure). Gejala penyakit
lebih nyata pada laki-laki karena pekerjaan fisik yang lebih berat
(Gandahusada, 1998).
Selain itu dipengaruhi oleh :

b. Kebiasaan Hidup
Kebiasaan hidup yang buruk dapat mengundang atau
mempercepat masuknya bibit penyakit seperti :
Kebiasaan Keluar Rumah

Kebiasaan untuk berada di luar rumah sampai larut


malam, dimana vektornya bersifat eksofilik dan eksofagik
akan memudahkan gigitan nyamuk. Menurut hasil
penelitian Kadarusman (2003) diketahui bahwa kebiasaan
keluar pada malam hari ada hubungan dengan kejadian
filariasis.

Lanjutan Kebiasaan Hidup


Pemakaian Kelambu

Pemakaian kelambu sangat efektif dan berguna untuk


mencegah kontak dengan nyamuk. Hasil penelitian yang
dilakukan oleh Ansyari (2004) menyatakan bahwa
kebiasaan tidak menggunakan kelambu waktu tidur
sebagai faktor resiko kejadian filariasis

Lanjutan Kebiasaan Hidup


Obat Anti Nyamuk

Kegiatan ini hampir seluruhnya dilaksanakan sendiri


oleh masyarakat seperti berusaha menghindarkan diri
dari gigitan nyamuk vektor (mengurangi kontak dengan
vektor) misalnya menggunakan obat nyamuk semprot atau
obat nyamuk bakar, mengoles kulit dengan obat anti
nyamuk, atau dengan cara memberantas nyamuk.
Menurut Astri (2006) diketahui bahwa kebiasaan tidak
menggunakan obat anti nyamuk malam hari ada
hubungan dengan kejadian filariasis

Lanjutan Kebiasaan Hidup


Pekerjaan
Pekerjaan yang dilakukan pada jam-jam nyamuk mencari
darah dapat berisiko untuk terkena filariasis, diketahui
bahwa pekerjaan pada malam hari ada hubungan dengan
kejadian filariasis. Menurut Astri (2006) diketahui bahwa
pekerjaan pada malam hari ada hubungan dengan
kejadian filariasis

Penanggulangan Filariasia
Program Minum Obat Massal Pencegahan
Adapun langkah-langkah dalam kegiatan POMP Filariasis
ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
Pemberian Obat Masal Pencegahan ( POMP ) Filariasis
merupakan bagian dari program Eliminasi filariasis,
Program eliminasi filariasis terdiri dari :
1. Pendataan Penderita Filariasis
Kabupaten melakukan pendataan penderita Filariasis
tahap lanjut (Kronis) dan dilaporkan ke Dinkes Provinsi
dan Kementrian Kesehatan.

2. Survey Darah Jari


Untuk kabupaten yang melaporkan adanya penderita
Filariasis dilakukan pemeriksaan darah jari di desa-desa
yang dipilih untuk mengetahui adanya penduduk yang
mengandung anak cacing filaria dalam tubuhnya.
3. Pemberian Obat Masal Pencegahan Filariasis
Di Kabupaten dengan hasil survey darah jari 1%
dilaksanakan kegiatan Pemberian Obat Masal Pencegahan
Filariasis (POMPFil) satu kali setahun selama 5 tahun
berturut-turut, di seluruh wilayah kabupaten tsb.

Survey Darah jari


a. Survei darah jari dilakukan beberapa kali di satu kabupaten yang endemis yaitu
sebelum program POMP Filariasis, pada tahun ketiga dan setelah pelaksanaan POMP
Filariasis di tahun ke lima.

b. Pemeriksaan adanya anak cacing filaria (mikrofilaria) dilakukan untuk semua orang
dalam satu wilayah tertentu, baik yang sakit filariasis maupun orang-orang sehat

c. Waktu: pemeriksaan dilakukan di malam hari (jam 10 (malam) 2 (dini hari).


Karena anak cacing berada di pembuluh darah tepi pada malam hari, di siang hari
cacing bersembunyi di pembuluh darah organ dalam
Pelaksanaan POMP filariasis

Pemberian Obat Masal Pencegahan Filariasis adalah


memberikan obat anti filariasis (DEC &Albendazole)
kepada semua penduduk di daerah endemis filaria.
Manfaat obat anti filariasis atau disebut juga obat
pencegahan filariasis
Menghentikan perkembangbiakan cacing filariasis
Mencegah semua penduduk dari penularan filariasis
Melindungi anak anda tertular filariasis