Anda di halaman 1dari 72

LAPORAN KASUS

CHF + CKD + CUSHING SYNDROME
PEMBIMBING : dr. BUDI PRAKOSO, Sp. PD
OLEH : I WAYAN ADI KASTINA PUTRA

IDENTITAS
1. Nama : TN. K
2. Umur : 50 tahun
3. Status : JKN
4. Alamat : Dusun Kesamben RT 02 RW 03,
Malang
5. Agama : Hindu
6. No. RM : 268166
7. Masa Perawatan : 27 Juni - 2016

ANAMNESA
Autoanamnesa
Keluhan utama : Bengkak
Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang ke IGD RST dr. Soepraoen Malang pada tanggal 27
Juni 2016 dengan keluhan bengkak. Bengkak muncul tiba-tiba yang
awalnya muncul pada pergelangan kaki dan kemudian hingga wajah,
perut dan kelopak mata. Keluhan ini sudah dirasakan sejak 2,5 bulan yang
lalu dan disertai dengan sesak. Sesak terasa bertambah berat ketika
berjalan ke kamar mandi dan berkurang ketika pasien beristirahat.
Biasanya pasien tidur menggunakan 2 - 3 bantal. Pusing (-), mual (-),
muntah (-), demam (-).

Pasien tidak pernah mengeluh nyeri dada dan berdebar-debar sebelumnya. BAB tidak ada keluhan. Nafsu makan baik. BAK lancar tidak ada keluhan . Selain itu pasien juga mengeluh batuk pada malam hari dengan dahak berwarna putih yang mengganggu ketika tidur. Pasien kadang terbangun dari tidur pada malam hari karena sesak.

Riwayat penyakit dahulu :  Tidak pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya  Riwayat penyakit tekanan darah tinggi (-)  Riwayat penyakit kencing manis (-) Riwayat penyakit keluarga  Riwayat penyakit tekanan darah tinggi (-)  Riwayat penyakit kencing manis (-)  Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti ini .

Riwayat Pengobatan Pasien belum pernah berobat sebelumnya Riwayat Kebiasaan  Rokok (+) Garam baru filter 2 pak/ hari. sudah stop sejak 7 bln lalu  Alkohol (-)  Olahraga (-) Status Gizi • TB: 160 cm • BB: 73 kg • IMT: 28.5 kg/m2 . bubuk 2x/hari. sudah stop sejak 3th lalu  Kopi (+) hitam bubuk 3x/hari  Jamu (+) asam urat (tablet) 3x/hari.

1 C axilla SpO2 : 92% .PEMERIKSAAN FISIK • Keadaan Umum : Tampak sakit sedang • Kesadaran : Compos Mentis • GCS : 4/5/6 • Vital Sign : Tensi : 120/70 mmHg Nadi : 98 x/menit iregularly iregular RR : 18 x/menit Suhu : 36.

simetris (+) • Pupil : isokor 3mm • Warna rambut : hitam • Reflek cahaya : + / + • Turgor : normal • Konjungtiva palpebra pucat : -/- • Wajah : Moonface (+) • Sklera ikterik : -/- Telinga Mulut • Pendengaran : DBN • Bibir cianosis :- Hidung • Gusi berdarah : - • DBN • Lidah kotor :- .PEMERIKSAAN FISIK Kepala : Mata • Bentuk : oval.

PEMERIKSAAN FISIK Leher • Deviasi trakea (-) • Peningkatan JVP (SDE) • Pembesaran KGB (-) • Massa (-) • Buffalo hump (+) Thorax • Bentuk simetris • Pembesaran kelenjar getah bening aksilla (-) • Spider nevi (-) • Rambut ketiak rontok (-) .

. .PEMERIKSAAN Depan Belakang PARU Kanan Kiri Kanan Kiri Inspeksi • Bentuk simetris simetris simetris simetris • Gerak nafas simetris simetris Simetris simetris • Penonjolan . - • Penyempitan ICS . . . - Palpasi • Gerak nafas simetris simetris simetris simetris • Stem fremitus simetris simetris simetris simetris Perkusi • Suara perkusi Sonor sonor sonor sonor • Batas paru – hati ICS V Auskultasi • Suara nafas BV BV BV BV • Suara tambahan Ronkhi Ronkhi basah Ronkhi basah Ronkhi basah basah . . . - • Otot nafas bantuan .

PEMERIKSAAN JANTUNG Inspeksi : Ictus cordis terlihat Palpasi : Ictus cordis teraba pada ICS VI 3 cm dari MCL S Perkusi : • Batas atas : ICS II • Batas kiri bawah : ICS VI 3 cm dari MCL Sinistra • Batas kanan bawah : ICS IV PSL Dextra Auskultasi : • Suara jantung S3 gallop • Murmur (-) .

PEMERIKSAAN ABDOMEN Inspeksi Palpasi Perkusi • Bentuk cembung • Dinding perut • Timpani • Umbilicus tidak supel (+) • Meteorismus (-) menonjol • Distended • Shifting dullness • Striae gravidarum (. • Hepar sulit ) (+) dievaluasi • Troube space • Lien tidak teraba timpani Auskultasi • Tidak ada nyeri • BU (+) 6 x/menit tekan • Bruit (-) .

. + + Akral dingin .PEMERIKSAAN Atas Bawah EKSTREMITAS Kanan Kiri Kanan Kiri Edema . . - . .

4-17.3 g/dl ) • Lekosit 15.90 ( 0.1 / <0.7 – 1.25 mg/dl ) total/Direct .000 ( 150 – 450 ribu ) • PCV 33.2 ( 40 – 50 %) Fall ginjal • Ureum 78 ( 14 .39 ( < 1.0 – 15.530 ( 4 – 10 ribu / cmm ) • Trombosit 296.84/0.45 mg/dl ) • Kreatinin 2.PEMERIKSAAN PENUNJANG 27/06/2016 Parameter Hasil Nilai rujukan Hematologi • Hemoglobin 10.5 ( L : 14.4 mg/d l) Faal hati • SGOT 20 ( < 33 U/L ) • SGPT 12 (< 42 U/L ) • Bilirubin 0.5 ) / ( P : 12.

kanan : baik Kesimpulan : Cardiomegaly disertai congestive pulmonum .PEMERIKSAAN PENUNJANG THORAX X-RAY 27/06/2016 • Trakea posisi ditengah • COR : CTR ratio membesar > 50% Hilus tak melebar • Pulmo : Corakan bronkovaskular meningkat Tampak infiltrate pada med-distal paru kanan dan kiri. • Sinus phrenicocostalis kanan kiri tajam • Hemidiafragma kiri.

PEMERIKSAAN PENUNJANG ELEKTROKARDIOGRAM 27/06/2016 • Irama : Irama sinus takikardi • Axis : Normal Axis • Hipertrofi : Dilatasi atrium kiri (terminal force) • Iskemik / infark : - Kesimpulan : Sinus takikardi .

5 IV Muntah (-). sesak (-). Lasix 3 x 1 IV Bengkak sudah berkurang. N: 118 x/mnit 3. Ceftriaxone 2 x 1 IV demam (-).Wh -/- -/- -/- Abd : -I : Flat -Aus : BU + . Valsartan 1x 40mg PO S : 36. Nitrocaf 2. BAK (+). Mual (-). T: 120/1000 mmHg syndrome 2.pusing (-).6x/m -Pa : Thympani --Per : meteorismus (-) : Shifting dullnes(+) Ekstremitas : Akral Dingin (-) Edema (-) . KU : Cukup Decompensatio Cordis + cushing 1.5mg 3x1 PO Kep/leher : - Thoraks : Cor = S3 gallop Rh -/. Dexamethasone 1x1. 6. Plavix 1x1 PO A/I/C/D = -/-/-/.FOLLOW UP 28 Juni 2016 SUBJECTIVE OBJECTIVE ASSESMENT PLANING Batuk (+) dahak (-).1 ͦC axilla 5. BAB (+) RR : 20 x/mnit (O2) 4.

Fluconazole 1x1 PO Cor = S3 gallop Rh -/. 7.FOLLOW UP 29 Juni 2016 SUBJECTIVE OBJECTIVE ASSESMENT PLANING Badan terasa lebih enak. sesak (-). Digoxin 3x1 PO Thoraks : 8.2 ͦC axilla 5. N: 106 x/mnit 3. T: 130/90 mmHg syndrome 2. 6. RR : 22 x/mnit (O2) 4. Dexamethasone 1x1. Plavix 1x1 PO BAK (+).Wh -/- -/- -/- Abd : -I : Flat -Aus : BU + . BAB (+) A/I/C/D = -/-/-/. demam (-). Muntah (-) S : 36. Nitrocaf 2. bengkak berkurang. gatal. Valsartan 1x 40mg PO Mual (-). Lasix 3 x 1 IV gatal sekitar perut. Ceftriaxone 2 x 1 IV Batuk (-).5mg 3x1 PO Kep/leher : . KU : Cukup Decompensatio Cordis + cushing 1.5 IV pusing (-).7x/m -Pa : Thympani --Per : meteorismus (-) : Shifting dullnes(+) Ekstremitas : Akral Dingin (-) Edema (-) .

PEMERIKSAAN PENUNJANG ELEKTROKARDIOGRAM 29/06/2016 • Irama : Sinus takikardi • Axis : Normal Axis • Hipertrofi : - • Iskemik / infark : - Kesimpulan : Sinus takikardi .

demam (-). N: 106 x/mnit 3.FOLLOW UP 30 Juni 2016 SUBJECTIVE OBJECTIVE ASSESMENT PLANING Sesak (+) ketika ke kamar KU : Cukup Decompensatio Cordis + cushing 1.5 IV sulit tidur. minum RR : 25 x/mnit (O2) 4. Plavix 1x1 PO gatal sekitar perut. pusing (-). Nitrocaf 2. Fluconazole 1x1 PO Cor = S3 gallop Rh -/. 6. T: 110/80 mmHg syndrome + CKD 2. Digoxin 3x1 PO Thoraks : 8.5x/m -Pa : Thympani --Per : meteorismus (-) : Shifting dullnes(+) Ekstremitas : Akral Dingin (-) Edema (-) . makan (+). A/I/C/D = -/-/-/.Wh -/- -/- -/- Abd : -I : Flat -Aus : BU + . Dexamethasone 1x1. gatal. Ceftriaxone 2 x 1 IV keringat dingin (+).3 ͦC axilla 5. Muntah (-). 7.5mg 3x1 PO BAK (+). Mual (-). Lasix 3 x 1 IV mandi. S : 36. Valsartan 40mg 1x1 PO (+). BAB (+) Kep/leher : . batuk (-).

PEMERIKSAAN PENUNJANG ELEKTROKARDIOGRAM 30/06/2016 • Irama : Sinus takikardi • Axis : Normal Axis • Hipertrofi : LVH • Iskemik / infark : - Kesimpulan : Sinus takikardi .

N: 96 x/mnit 3. Dexamethasone 1x1.2 ͦC axilla 5. sesak (-). Lasix 3 x 1 IV (-).5mg 3x1 PO Kep/leher : . demam (-). Valsartan 40mg 1x1 PO BAK (+). Nitrocaf 2. Ceftriaxone 2 x 1 IV (-).5 IV Mual (-).Wh -/- -/- -/- Abd : -I : Flat -Aus : BU + .FOLLOW UP 1 Juli 2016 SUBJECTIVE OBJECTIVE ASSESMENT PLANING Tubuh terasa lebih enak. Muntah (-) RR : 23 x/mnit (O2) 4.5x/m -Pa : Thympani --Per : meteorismus (-) : Shifting dullnes(+) Ekstremitas : Akral Dingin (-) Edema (-) . batuk KU : Cukup Decompensatio Cordis + cushing 1. Plavix 1x1 PO semalam A/I/C/D = -/-/-/. tidur nyenyak. Digoxin 3x1 PO Thoraks : Cor = S3 gallop Rh -/. 6. 7. BAB (+) 4 dalam S : 36. pusing T: 120/80 mmHg syndrome + CKD 2.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
ELEKTROKARDIOGRAM 01/07/2016

• Irama : Sinus takikardi
• Axis : Normal Axis
• Hipertrofi : -
• Iskemik / infark : -
Kesimpulan : Sinus takikardi

RESUME
Telah diperiksa pasien laki-laki, usia 50 tahun dengan keluhan utama :
Odem
Dari anamnesa didapatkan :
• Dyspnea d’effort (+)
• Orthopnea (+)
• PND (+)
• Odem (+)
• Cough (+)
• Anorexia (+)

RESUME
Dari pemeriksaan fisik di dapatkan
• Nadi iregular
• Takikardi
• Takipnea
• Ronkhi basal paru kanan dan kiri
• Pitting oedem extremitas inferior
• Moon face
• Buffalo hump
• Batas jantung melebar
• Suara jantung S3 gallop (+), punctum maksimum di apex pada ICS
VI 2 cm dari MCLS

ECG • Sinus takikardi dengan clock wise rotation . Hematologi • Lekositosis • Anemia • Azotemi 2.RESUME Dari pemeriksaan penunjang di dapatkan : 1. Foto Thorax • Cardiomegaly 3.

1.Congestive 1.Xray syndrome 3.PND 4. BNP/NT-PRO jam 3. ACTH plasma 11.5 tab 4.EKG serial 12.Nadi ireguler 5.Oedem ext inferior 2. Cardiac 1. Kortisol plasma 10.Serum Elektrolit 13.Problem Clue List Problem List Diagnosa Kerja Planning Diagnosa Planning Terapi Planning Monitoring 1. CK. Test supresi :Cardiomegaly dexamethasone dgn congestive 1.1 Cushing 2. EKG serial 3. Digoxin 1 x 5. EKG serial d’effort BNP 2. Darah lengkap 1.Ortopneu 3.1. Ekokardiografi 1 x 0.4 syndrome .Takikardi Elektrolit 7..1 Non cardiac 1.1 rutin amp / 24 2.GFR: 31.Azotemi Cardiorenal 3. Valsartan 3.Ronkhi basah 9.Dyspnea Cardiomyopaty 2. KU tahun Heart Failure 1.Laki-laki 50 1.2 2.Ekokardiografi pulmonum 2. CKMB 8. Inj Lasix 6 1.Takipnea 6. Serum 1 tab 6.1.1. TTV 2.S3 gallop 2.

S3 gallop CAP 12.Anoreksia bolus 6. TTV 2. Kultur sputum 10.1 BNP duduk 2.1 3.Laki-laki 50 2. Darah lengkap 9. Pewarnaan inferior Pneumonia gram sputum 11.Problem Clue List Problem List Diagnosa Kerja Planning Diagnosa Planning Terapi Planning Monitoring 1. EKG d’effort Heart Failure 3.Ronkhi cardiogenic 2.1 Cardiogenic 1.Ortopneu 4.Takipnea 8. Acute lung 2.Oedem ext 2. Serum Elektrolit 3.Batuk berdahak 7. Ekokardiografi 2. BNP/NT-PRO 1.Furosemid 4.2.EKG : Sinus .Xray :Cardiomegaly dg congestive pulmonum 13.1.Oksigen 3.PND 3x 40 mg iv 5.Takikardi 2. EKG serial 4lpm serial 3.Posisi ½ 1.Dyspnea Congestive 2. KU tahun odem 2.2 Non 1.

Oedem ext (CO ) 3. TTV 2. FeNa induce 3. Laki-laki 50 3. KU tahun 3. inferior 4.Anoreksia Congestive 1.1 Prerenal 1. Natrium urin Protein/kre 5.1 Drug 2.Takikardi Heart Failure 2. Natrium urin 5.Lekositosis 6.2. Digoxin 1 x 1 3. Cairan 4.GFR: 31.73 m2 3. Azotemia 3. Furosemid 1.1. USG 7.Azotemi 7. Osmolaritas 6. FeU nephropathy 4. inj. Sedimen urin 2. Osmolaritas atinin 6.1 2.Problem Clue List Problem List Diagnosa Kerja Planning Diagnosa Planning Terapi Planning Monitoring 1.4 ml/mnt/1. Biopsi Ginal . FeNa tab 4. FeU 5.EKG serial 3 x 40 mg IV 2.Ekokardiografi 1.Anemia 5.2 Renal 1. Sedimen urin 3. Elektrolit 3. USG 7. Biopsi Ginal 8.

Test supresi inferior dexamethason 5. 11.Buffalo hump 7.Oedem ext 3.2.Moon face e 6.Azotemi . ACTH 3.Lekositosis 8.Takikardi (10.Takipnea plasma 4. 15) 2.

Dari pemeriksaan penunjang di dapatkan : 1. Foto Thorax • Cardiomegaly dengan congestive pulmonum 3.5) • Azotemi (Kreatinin: 2. Hematologi • Lekositosis (15.530) • Anemia (10.9 / Ureum: 78) 2. ECG • Sinus takikardi dengan clock wise rotation .

• Anorexia (+) punctum maksimum di apex pada ICS VI 2 cm dari MCLS Dari pemeriksaan fisik di dapatkan • Nadi iregular • Takikardi • Takipnea . PEMBAHASAN Pasien laki-laki usia 50 tahun dengan diagnosa kerja Congestive Heart Failure Dari anamnesa didapatkan: • Ronkhi basal paru kanan dan kiri • Dyspnea d’effort (+) • Pitting oedem extremitas inferior • Orthopnea (+) • Moon face • PND (+) • Buffalo hump • Odem (+) • Batas jantung melebar • Cough (+) • Suara jantung S3 gallop (+).

Diagnosis 1 CHF Kriteria yang memenuhi Congestive Heart Failure pada pasien: Kriteria Mayor Kriteria Minor • PND • Edema ekstremitas • Ronki paru • Dyspnea d’effort • Kardiomegali • Takikardia (>120x/m) • Edema paru akut • Gallop S3 Dari temuan diatas sudah memenuhi kriteria Framingham Diagnosis gagal jantung ditegakkan jika ada 2 kriteria mayor atau 1 kriteria major dan 2 kriteria minor. .

Suara jantung S3 gallop 8.Anoreksia 10. Takikardi 1.Laki-laki 50 tahun 1. Pitting odem tungkai 6. Cardiomegaly disertai 2. 9.Takipnea (+). Takipnea dengan Congesti Paru 3.Dyspnea 2. Rhonki basal Paru 4.Takikardi kanan dan kiri 5.Batuk berdahak 3.PND 4. Cardiomegaly 7.Ortopnea 6.Cardiomegaly Congesti Paru .Diagnosis 2 Acute Lung Oedema Anamnesa Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Penunjang 1.Nausea 5.

Pitting odem tungkai . Moonface 1. Lekositosis 2.Diagnosa 3 Cushing Syndrome Anamnesa Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Penunjang 1. Takikardi 4. Takipnea 5.Laki-laki 50 tahun 1.Odem pada wajah 2. Buffalo hump 3.Riwayat minum jamu 3.

GAGAL JANTUNG .

.

clinical symptoms and signs of low cardiac output and/or pulmonary or systemic congestion. . or increases the need for urgent therapy subsequent risk of. GAGAL JANTUNG CHF AHF Heart failure is a complex gradual or rapid change in syndrome in which heart failure signs and abnormal heart function symptoms resulting in the results in.

ETIOLOGI GAGAL JANTUNG .

GAGAL JANTUNG Gagal Jantung Kiri Gagal Jantung Kanan • Sesak nafas • Dyspnea tapi bukan • Batuk orthopnea atau PND • PND (+) • Edema perifer • JVP meningkat • Hepatomegali • Asites .

GAGAL JANTUNG KONGESTIF Kriteria Mayor Kriteria Minor • PND • Edema ekstremitas • Distensi vena leher • Batuk malam hari • Ronki paru • dyspnea d’effort • Kardiomegali • Hepatomegali • Edema paru akut • Efusi pleura • Gallop S3 • Penurunan kapasitas • Peningkatan JVP vital 1/3 dari normal • Refluks hepatojuguler • Takikardia (>120x/m) .

.

.

TEKNIK DIAGNOSTIK GAGAL JANTUNG .

dan sesak. . Gejala IV gagal jantung saat istirahat. dada berdebar dan sesak. Nyaman saat istirahat. Ditandai dengan batasan aktifitas fisik. Aktivitas fisik sehari-hari tidak I menyebabkan kelelahan. Tidak dapat melakukan aktifitas fisik tanpa ketidaknyamanan. dada berdebar atau sesak. ketidaknyamanan bertambah. dada berdebar. Jika melakukan aktivitas fisik. KLASIFIKASI GAGAL JANTUNG (NYHA) Kelas Gejala Pasien Tidak ada batasan aktivitas fisik. Aktifitas fisik sehari- II hari menyebabkan kelelahan. Aktifitas fisik III ringan menyebabkan kelelahan. Nyaman saat istirahat. Batasan aktivitas fisik ringan.

TATA LAKSANA GAGAL JANTUNG .

Diuretic untuk gejala/tanda kongesti + ACE inhibitor atau ARB jika tidak tertoleransi Tambahkan beta blocker Masih NYHA kelas II-IV? Ya Tdk Tambahkan MR antagonist Masih NYHA kelas II-IV? Ya Tdk Tanpa terapi spesifik lebih lanjut LVEF < 35% Lanjutkan program Ya Tdk tatalaksana Irama sinus & HR > 70x/m? Ya Tdk .

Tambah Ivabradine Masih NYHA II-IV & LVEF < 35%? Ya Tdk Durasi QRS > 120mnt Ya Tdk Pertimbangkan Pertimbangkan CRT-P/CRT-D ICD Masih NYHA kelas II-IV? Tanpa terapi spesifik lebih lanjut Ya Tdk Lanjutkan program tatalaksana Pertimbangkan digoxin dan/atau H-ISDN Jika tahap terminal. pertimbangkan LVAD dan/atau transplantasi .

CUSHING SYNDROME .

.

• Hiperlipidemia. Merupakan istilah yang • Depresi atau psikosis. • Peningkatan berat badan • Obesitas sentral • Hipertensi • Wajah kemerahan (plethora) Cushing syndrome • Kelemahan otot proksimal • Gangguan toleransi glukosa (DM) • Penurunan libido atau impotensi. keadaan akibat peningkatan konsentrasi glukokortikoid di • Mudah timbul memar (bruising) sirkulasi darah. digunakan untuk menyatakan • Osteopenia atau osteoporosis. • Gangguan menstruasi • Striae keunguan • Fnfeksi bakteri • Jerawat • Hirsutism .

.

Patofisiologi Cushing Syndrome Cushing syndrome ACTH ACTH Dependent Independent Cushing’s disease Endogen Eksogen Sekresi ACTH Karsinoma Iatrogenik ektopik adrenal Adenoma adrenal Sekresi CRH ektopik Mikronodular adrenal .

Penyangga Glucokortikoid sintesis protein & lemak Anabolik Hepar Sel limfoid .Fungsi Hormon GLukokortikoid Protein Metabolik Lemak Otot Hambat Jar.

5 mg IV tap off .PENATALAKSANAAN • Stop konsumsi jamu (steroid) • Dexametasone 1x1.

ACUTE LUNG ODEM .

DEFINISI Edema Paru Akut (EPA) adalah akumulasi cairan di paru- paru yang terjadi secara mendadak. . Hal ini dapat disebabkan oleh tekanan intravaskular yang tinggi (edema paru kardiak) atau karena peningkatan permeabilitas membran kapiler (edema paru non kardiak) yang mengakibatkan terjadinya ekstravasasi cairan dengan cepat.

tetapi karena paru itu disebabkan karena meningkatnya sendiri. Atau karena peningkatan tekanan vena pulmonalis permeabilitas kapiler yang mengakibatkan terjadinya extravasasi cairan secara cepat .KLASIFIKASI Edema Paru Kardiogenik Edema Paru Non-Kardiogenik Edema paru yang disebabkan Edema paru yang bukan oleh meningkatnya tekanan disebabkan karena gangguan hidrostatik kapiler yang pada jantung.

hati. penyakit dermatologi atau penyakit nutrisi. • Peningkatan tekanan vena paru sekunder oleh karena gangguan fungsi ventrikel kiri. • Peningkatan tekanan kapiler paru sekunder oleh karena peningkatan tekanan arteria pulmonalis (over perfusion pulmonary edema). protein-losing enteropaday. Ketidak-seimbangan Starling Forces : Peningkatan tekanan kapiler paru : • Peningkatan tekanan vena paru tanpa adanya gangguan fungsi ventrikel kiri (stenosis mitral). 2.ETIOLOGI I. Penurunan tekanan onkotik plasma Hipoalbuminemia sekunder oleh karena penyakit ginjal. .

. 4. Peningkatan tekanan onkotik intersisial. • Tekanan pleura yang sangat negatif oleh karena obstruksi saluran napas akut bersamaan dengan peningkatan end-expiratory volume (asma).3. Peningkatan tekanan negatif intersisial : • Pengambilan terlalu cepat pneumotorak atau efusi pleura (unilateral).

. virus. • Imunologi : pneumonitis hipersensitif. endotoksin bakteri. • Aspirasi asam lambung.Perubahan permeabilitas membran alveolar-kapiler (Adult Respiratory Distress Syndrome) • Pneumonia (bakteri. • Shock Lung oleh karena trauma di luar toraks. kinin). • Bahan asing dalam sirkulasi (bisa ular. • Pneumonitis radiasi akut. alpha- naphthyl thiourea). alloxan. dsb). • Bahan toksik inhalan (phosgene. ozone. parasit). chlorine. leukoagglutinin. • Bahan vasoaktif endogen (histamin. NO2. obat nitrofurantoin.

Keluhan pada stadium ini mungkin hanya berupa adanya sesak nafas saat bekerja. kecuali mungkin adanya ronkhi pada saat inpsirasi karena terbukanya saluran nafas yang tertutup saat inspirasi. Pemeriksaan fisik juga tak jelas menemukan kelainan.MANIFESTASI KLINIS • Stadium 1 Adanya distensi dan pembuluh darah kecil paru yang prominen akan memperbaiki pertukaran gas di paru dan sedikit meningkatkan kapasitas difusi gas CO. .

Batas pembuluh darah paru menjadi kabur.• Stadium 2 Pada stadium ini terjadi edem paru interstisial. . Sering terdengar takipnea. akan lebih memperkecil saluran nafas kecil. demikian pula hilus juga menjadi kabur dan septa interlobularis menebal (garis kerley B). terutama di daerah basal oleh karena pengaruh gravitasi. Mungkin pula terjadi refleks bronkhokonstriksi. Adanya penumpukan cairan di jaringan kendor interstisial.

Terjadi right to left intrapulmonary shunt. Kapasitas vital dan volume paru yang lain turun dengan nyata. terjadi hipoksemia dan hipokapsia. Penderita biasanya menderita hipokapsia. tetapi pada kasus yang berat dapat terjadi hiperkapnia dan acute. Pertukaran gas sangat terganggu. Penderita nampak sesak sekali dengan batuk berbuih kemerahan.• Stadium 3 Pada stadium ini terjadi edem alveolar. .

PEMERIKSAAN FISIK • Terdapat takipnea. akral agar dapat mempergunakan otot-otot dingin dengan sianosis bantu nafas dengan lebih baik saat respirasi atau sedikit membungkuk ke • pada edem paru non kardiogenik depan. bunyi jantung 3 dan meningkat 4 • Pasien biasanya dalam posisi duduk • Terdapat juga edem perifer. • Pada pemeriksaan paru terdengar • Ortopnea ronki basah setengah lapangan paru atau lebih dan terdapat wheezing • Takikardia • Pemeriksaan jantung dapat ditemukan • Hipotensi atau tekanan darah bisa ditemukan gallop. akan didapatkan khas bahwa Pada pemeriksaan fisik. pada perkusi • Terlihat retraksi inspirasi pada sela terdengar keredupan dan pada interkostal • Batuk dengan sputum yang berwarna kemerahan (pink frothy sputum) • JVP meningkat .

PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratorim yang relevan diperlukan untuk mengkaji etiologi edem paru. Urinalisa gas darah 6. 7. Hematologi / darah rutin 2. Fungsi ginjal 3. EKG . Kadar protein 5. Pemeriksaan tersebut diantaranya pemeriksaan 1. troponin I) dan Brain Natriuretic Peptide (BNP). Ekokardiografi 8. Elektrolit 4. Enzim jantung (CK-MB. BNP dan prekursornya pro BNP dapat digunakan sebagai rapid test untuk menilai edem paru kardiogenik pada kondisi gawat darurat. Kateterisasi Pulmonal 9.

Fibrosis interstitial .MANIFESTASI RADIOLOGI 1. Batas hillus tidak jelas / suram 4. Didapatkan pelebaran atau penebalan hillus Edema interstitial 2. Corakan paru meningkat 3.

Edema paru akut kardiogenik .

.

untuk mempertahankan PO2. Oksigen (40-50%) segera diberikan sampai dengan 8 L/menit. kalau perlu dengan masker. . b. Posisi dan Terapi Oksigen Pasien diposisikan dalam keadaan duduk atau setengah duduk. meningkatkan aliran darah ginjal dan pengeluaran natrium dan memperkuat konstraksi miokard. Aminofilin Kadang-kadang aminofilin 240-480 mg intravena efektif mengurangi bronkokonstriksi.PENATALAKSANAAN a.

nitroglycerin dapat diberikan melalui drip intravena 10-30 ug/menit dan dititrasi. dapat diulangi atau dosis ditingkatkan setelah 4 jam atau dilanjutkan dengan drip kontinu sampai dicapai produksi urin 1 ml/kgBB/jam. Diuretik loop intravena Diberikan furosemid 40-80 mg i. d.4-0. Jika pasien tidak respon atau EKG menunjukkan tanda-tanda iskemik.v. .5 – 1 mg iv. bolus atau bumetanide 0.6 mg (dapat diulangi setiap 5 menit).c. Nitroglycerin dan Nitroprusside Nitroglycerin sublingual 0. Selama terapi ini elektrolit serum dimonitor terutama kalium.

TERIMA KASIH .