Anda di halaman 1dari 14

FIELD PROJECT

LANSIA DENGAN OSTEOPOROSIS


KELOMPOK: 1
LATAR BELAKANG

Insiden osteoporosis meningkat sejalan dengan meningkatnya


populasi usia lanjut. Pada tahun 2005 terdapat 18 juta lanjut
usia di Indonesia, jumlah ini akan bertambah hingga 33 juta
pada tahun 2020 dengan usia harapan hidup mencapai 70
tahun.
Di Indonesia 19,7% dari jumlah lansia atau sekitar 3,6 juta
orang diantaranya menderita osteoporosis.
LANJUTAN...

Osteoporosis berisiko tinggi karena tulang menjadi rapuh dan


mudah retak bahkan patah.
WHO memperkirakan pada pertengahan abad
mendatang, jumlah patah tulang pada panggul karena
osteoporosis akan meningkat tiga kali lipat, dari 1,7 juta
pada tahun 1990 menjadi 6,3 juta kasus pada tahun 2050
kelak.
Untuk itu kelompok kami akan menjabarkan bagaimana upaya
pencegahan dan penatalaksanaan osteoporosis pada lansia.
KONSEP
OSTEOPOROSIS
Osteoporosis adalah tulang yang keropos, yaitu penyakit yang
mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau
berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan
penurunan kualitas jaringan tulang, yang dapat menimbulkan
kerapuhan tulang (Tandra, 2009).
PENYEBAB
OSTEOPOROSIS
Penyebab primer
Penyebab primer ini dapat terjadi karena menopause, usia lanjut
dan penyebab penyebab lain yang belum diketahui secara pasti.

Penyebab sekunder
Penyebab skunder dari penyakit ini adalah karena adanya
penggunaan obat kortikosteroid, gangguan metabolisme, gizi
buruk, penyakit tulang sumsum, gangguan fungsi ginjal, penyakit
hepar, penyakit paru kronis, cedera urat saraf tulang belakang,
rematik, transplantasi organ.
Gejala Osteoporosis
Pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala, bahkan sampai
puluhan tahun tanpa keluhan. Jika kepadatan tulang sangat berkurang
sehingga tulang menjadi kolaps atau hancur, akan timbul nyeri dan
perubahan bentuk tulang. Jadi, seseorang dengan osteoporosis biasanya
akan memberikan keluhan atau gejala sebagai berikut:
1. Tinggi badan berkurang
2. Bungkuk atau bentuk tubuh berubah
3. Patah tulang
4. Nyeri bila ada patah tulang (Tandra, 2009).
FAKTOR RESIKO

1. Jenis kelamin
2. Usia
3. Ras
4. Pigmentasi dan tempat tinggal
5. Riwayat keluarga
PENATALAKSANAAN

Meningkatkan pembentukan tulang seperti, obat-obatan yang


dapat meningkatkan pembentukan tulang adalah Na-fluorida
dan steroid anabolik
Menghambat resobsi tulang seperti, obat-obatan yang dapat
mengahambat resorbsi tulang adalah kalsium, kalsitonin,
estrogen dan difosfonat.
TINJAUAN KASUS

Data yang kami dapat dari Puskesmas Jenggawah pada bulan


Januari-April tahun 2016 diperoleh 1.280 lansia dengan
diagnosa osteoporosis, dengan rata-rata 320 kasus osteoporosis
per bulannya dari target 993 lansia per bulannya. 1.280 lansia
yang terdiagnosis osteroporosis terbagi menjadi 875 kasus
diderita oleh lansia wanita, sedangkan sisanya 405 kasus
diderita oleh lansia pria.
PEMBAHASAN

Upaya Pencegahan
Upaya pencegahan osteoporosis hendaknya memperhatikan
kondisi puncak massa tulang, dimana kondisi tersebut optimal
pada masa dewasa muda (20-30 th).
Dengan tercapainya puncak massa tulang optimal pada masa
dewasa muda, osteoporosis yang mungkin timbul pada usia tua
akan lebih ringan.
LANJUTAN...

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 1142/Menkes/Sk/Xii/2008 tentang Pedoman
Pengendalian Osteoporosis Menteri Kesehatan Republik
Indonesia, upaya pencegahan osteoporosis, antaralain:
1. Gizi
2. Aktivitas fisik
3. Paparan sinar matahari
LANJUTAN...

Upaya pencegahan osteoporosis menurut Ramadani (2010):


1. Pencegahan primer
2. Pencegahan sekunder
3. Pencegahan tersier
DOKUMENTASI