Anda di halaman 1dari 37

Aspek Psikososial dan

Ekonomi Infeksi HIV

Toha Muhaimin
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia
2008

Materi kuliah PMS-HIV/AIDS sesi IX


Kilas Balik

Kasus I AIDS dilaporkan Di Los Angeles oleh


Dr. Gottlib MMWR, Juni 1981:
empat remaja homoseksual
semuanya aktif seksual
gejala yang sama: penurunan imunitas dan infeksi
Pneumocystis carinii pneumonia (PCP)

Promiskuitas (pergaulan bebas, seks komersial)


Pengguna narkoba suntikan (IDU)
Ketiga hal tsb tidak sesuai:
moral
aturan agama,
maupun masyarakat umum

Timbul: Stigma dan diskriminasi


Stigma: bentuk prasangka (prejudice)
yang mendiskreditkan atau menolak
seseorang atau kelompok karena mereka
dianggap berbeda dengan diri kita atau
kebanyakan orang
Diskriminasi: suatu aksi atau tindakan
terhadap prasangka
Stigma (pasif) Diskriminasi (aktif)

(National AIDS Trust, 2005)


Stigma dan diskriminasi pada Odha akan
menyebabkan:
enggan membuka diri
takut perlakuan masyarakat
tidak bisa bebas akses terhadap pengobatan.

Stigma dan diskriminasi pada odha,kesenjangan


terbesar:
dalam upaya pencegahan penularan HIV lebih luas
pelayanan yang adekuat,
pengobatan dan dukungan

(AIDS CALGARY Awareness Association, 2004)


Soweto, Afsel: Informan/pengasuh (ibu,
nenek, bibi, sdr kandung) enggan
memberi tahu status HIV+ ke anak-anak
yang bersangkutan karena merasa
adanya stigma, kurang pengetahuan dan
ketrampilan
(Kouyoumdjian, 2005)

Di Rumania: stigma menyebabkan banyak


orang tua yang anaknya terinfeksi HIV
tidak mau memberitahu anaknya bahwa ia
terinfeksi HIV
(Ionescu, 2006)
Bbrp kelompok agama di Amerika dan
tempat lain menganggap epidemi AIDS
sebagai peringatan terhadap pesan moral
yang berhubungan dengan perilaku seks,
penyalahgunaan obat narkotik, dosa dan
penyakit.
(Kiple, 2003)
Di Indonesia:
HIV dan AIDS merupakan kutukan Tuhan
atas umat manusia modern yang selama
ini mengingkari perintah dan ajaran
agama.
Selama ini kaum agama yang merasa
terpinggirkan argumenargumen tentang
kehidupan duniawi
Dengan epidemi HIV dan AIDS ini merasa
punya dukungan dari langit
(Masudi, 1997)
Stigma pada HIV dan AIDS dapat disebabkan:
Semacam vonis mati (belum ada obat sembuh)
Kesalahfahaman pengertian HIV dan AIDS
Mitos-mitos
Hubungan HIV/AIDS dengan perilaku tertentu
Prejudis terhadap kelompok masyarakat tertentu
karena suku, gender dan atau orientasi
seksualnya
Berita media yang bias tentang HIV dan AIDS

(National AIDS Trust, 2005)


Responden dewasa heteroseks: AIDS
berhubungan dengan perilaku homoseks
atau biseksual
Mereka mempunyai prejudis yang lebih
Sekitar 20%, baik responden kulit putih
maupun kulit hitam, menghindari petugas
pembantu yang mengidap AIDS
(Herek dan Capitanio, 1993).
Di Indonesia?
Ada 33 dari sejumlah Odha (1993
2002), yang mengalami diskriminasi
yang dilakukan baik oleh lingkungan
masyarakat, perorangan, instansi
pemerintah, petugas kesehatan, bahkan
oleh keluarganya sendiri.
(YPI, 2002)
Anak-anak yatim (orphan)
Afrika Sub-Sahara: wilayah yang paling
menderita (Whiteside, 2001; Lane, 2004)

Di wilayah ini, pada 2001 diperkirakan ada


sekitar 11 juta anak (< 15 th), yang kehilangan
baik salah satu orang tua atau keduanya akibat
AIDS (Lane, 2004)

Akhir 2003 diperkirakan terdapat 15 juta anak


(<18 th) kehilangan salah satu atau kedua orang
tua akibat AIDS, dan 82% berada di Afrika Sub-
Sahara (USAID, UNICEF dan UNAIDS)
Di pedesaan Uganda bagian Selatan-Barat,
10% lebih anak-anak (< 15 tahun) kehilangan
satu atau kedua orang tua mereka.
Jumlah anak yang hanya kehilangan bapak
lebih banyak (6,3%) dan yang hanya ditinggal
ibunya lebih banyak (2,8%).
Umumnya anak-anak ini tinggal bersama orang
tua yang masih hidup, atau dengan famili
meskipun orang tua mereka masih hidup,
sebagai bagian dari sistim extended family atau
keluarga besar
(Kamali, 1996).
Di Asia Tenggara (estimasi UNAIDS):
Akhir 1999, anak yatim karena AIDS
terbanyak di Myanmar (35.000) dan
Kamboja (11.000)
Di Indonesia, diperkirakan ada 1735 anak
yatim (< 15 th) karena AIDS
(Phiri dalam Cornia, 2000).
AIDS meningkatkn biaya bisnis perusahaan:
baik biaya langsung (pengobatan karyawan,
asuransi)
biaya tidak langsung (turunnya tingkat
produktivitas, absenteeism, dan biaya untuk
rekrutmen dan training karyawan baru untuk
pengganti)
(The Brookings Institution, 2001; Bureau for
Economic Research, 2004).

Beban sosial, kesehatan dan keuangan akan


menjadi masalah keluarga dan rumah tangga
(The Brookings Institution, 2001).
Di Zambia, anak yatim di pedesaan karena
HIV/AIDS, angka absen sekolah 20% lebih tinggi
dibanding anak yang bukan yatim.
Di Kenya bagian barat, 20% rumah tangga yang
ada anak yatim, tidak menyekolahkan anak
yatim tersebut terutama karena tidak mampu
membayar, dan
Kebanyakan anak yatim perempuan lebih dulu
berhenti sekolah atau lebih terlambat memasuki
sekolah dibanding anak yatim laki-laki
(http://www.uneca.org/chga/doc/impact_family.pdf )
POTRET
KELUARGA DENGAN
HIV dan AIDS
Studi Kasus di Jakarta

Toha Muhaimin
(Yayasan Pelita Ilmu)

Lokakarya Nasional Penelitian HIV dan AIDS: Perempuan, Anak dan


Remaja Kelompok Rentan yang Terlupakan
Jakarta, 12-13 Desember 2007
Latar Belakang
Jumlah kasus HIV dan AIDS meningkat terus sejak kasus
pertama ditemukan 1987
Berkembangnya epidemi akan meningkat jumlah kasus
perempuan
Adanya kasus dalam keluarga akan mempengaruhi
kehidupan keluarga dan anak
Timbul masalah sosial-ekonomi, kesehatan dan pendidikan
dalam keluarga dan anak
YPI adalah salah satu LSM yang memberikan pelayanan
berkelanjutan, khususnya pelayanan dan dukungan terhadap
orang dengan HIV dan AIDS (Odha).
Sejak 1995 sampai November 2007 YPI telah memberi
dukungan kepada 1528 odha baik laki maupun perempuan
(DN dan LN)
Tujuan

Tujuan Umum:
Melihat dampak HIV dan AIDS pada keluarga dan
anak

Tujuan Khusus:
Melihat dampak sosial-ekonomi pada keluarga
dan anak
Melihat dampak kesehatan dan pendidikan pada
keluarga dan anak
Metode
Studi kasus dengan wawancara dengan
beberapa informan:
Odha dukungan YPI
Anak dalam keluarga
Kepala Keluarga/Pengasuh anak
Pendamping odha/relawan
Hasil
Studi kasus 1

Keluarga mempunyai anak 4 orang dan salah


satu anak perempuan kawin dengan menantu
HIV+ dan mendapatkan seorang cucu HIV+
Studi Kasus 1

Bapak Ibu
sudah meninggal masih hidup

Punya empat anak

Suami baru Alm SK1


HIV ? Suami IDU HIV+ Rn, 17 th
HIV+

1 th HIV+ dapat ARV


HIV ? sejak usia 7 bln.
skrang umur 3 th
KASUS 1
Sebuah keluarga tinggal di sebuah rumah petak
kira-kira 2X2.5 mt, satu ruang, tingkat dua
dengan kayu, di perkampungan padat
Ekonomi keluarga: dulu bapak tukang parkir,
Ibunya tdk kerja.
SK1, 4 bersaudara, 1 orang sudah berkeluarga
dan pisah rumah.
Dia sering menonton BF bersama pacar sejak klas
3 SMP.
Kawin waktu umur 16 tahun dengan suami (Sm1)
IDU karena KDN, klas 1 SMA baru 3 bulan dan
DO
Suami jualan aqua di perempatan jalan.
Sm1 ditemukan di PKM, berobat karena sakit dan
dirujuk ke RSP, test HIV+.
Sm1 meninggal, dan istri sedang hamil 7 bulan
ikut PMTCT YPI, melahirkan di RSPI dengan SC.
Beberapa hari terjadi infeksi pada luka jahitan dan
dilakukan bedah ulang. Infeksi mungkin karena
rumah terlalu kecil/sempit yang tidak sehat.
Lahir anak (A1) dan test HIV+ meski sudah ikut
progam PMTCT YPI
DAMPAK PADA KEHIDUPAN KELUARGA
Adik SK1, 17 th, tidak sekolah lagi sejak ayahnya
meninggal kira-kira 1 th yl (Adik ini waktu SMA
dibiayai oleh Sm1)
Adik SK1 ini merasakan kesedihan mendalam
karena Sm1 meninggal waktu kakaknya sedang
hamil, juga takut anaknya tertular HIV. Sekarang
terpaksa kerja cuci piring di restoran dengan gaji
Rp 550.000/bulan dari jam 8-22:00.
Sekarang ibu juga terpaksa kerja, serabutan
(cucian tetangga atau membantu masak)
SK1 orangnya lincah, lugu sekali, aktif di YPI dan
sering dapat tambahan income bila ada
undangan seminar karena dia berani tampil
sebagai nara sumber.
SK1 menjanda beberapa waktu kira-kira 1 tahun.
SK1 menikah lagi dengan Sm2, sopir angkot,
bujangan.
SK1 3 bln terakhir mendapat modal bergulir dari
YPI, jualan jagung dan es di SD
Anak SK1 dirawat sama nenek dan adiknya, Rn
(anaknya cekatan)
A1 pernah sekolah (play group) tapi karena nakal,
akhirnya diberhenti oleh ibunya (SK1)
Kalau anak sakit tiba-tiba, biasanya cari pinjaman
meskipun tidak tahu bagaimana menggantinya.
Sayang pinjamnya sama rentenir sehingga
utangnya bertambah.
Sekarang setelah sering dapat honor, jarang utang
dan sering nabung dalam bentuk perhiasan emas.
STIGMA dan DISKRIMINASI
Sebagian masyarakat di lingkungannya tahu status SK1
HIV+ dari kemunculannya di TV.
Ttngga melarang anak2nya main dg anak SK1. Bekas
urin anaknya, suka disiram air panas oleh tetangga.
Menurut adik SK1 (Rn) jika ada yg olok-olok (A1),
didiamkan saja dan tidak boleh bermain ditempat itu lagi.
Masih ada kakak yang masih takut menggunakan alat
makan dan minum SK1 dan A1, ketakutan bila tertukar
gelas bekas minumnya meski tahu cara menularkannya
Pernah dibilang sama pak RT bahwa ia akan cepat
meninggal. Tahu-tahu pak RT yang meninggal duluan
dan dia dengan beraninya menyindir istri pak RT
Studi Kasus 2

Bpk kerja sopir Ibu tidak kerja

Punya 3 anak perempuan

Suami (IDU) HIV+


Meninggal HIV+ dari suami

23 th 18 th 11 th
Anak II, 3 th, HIV?
belum bicara dan gigi-,
kurus, sering pilek, Anak I meninggal, 5 bl, dicurigai HIV+
diare, sariawan
KASUS 2
Keluarga dengan 3 anak perempuan, 23 th, 18
th dan 11 th
Tinggal di rumah kontrakan, cukup dihuni 6
orang.
Bapak dulu sopir angkot, Ibu tidak bekerja
Anak I (SK2), putus sekolah SD kelas 2, HIV+
tertular dari perkawinan dengan suami,
meninggal karena IDU dan HIV+
Dari perkawinan ini: lahir anak pertama,
meninggal umur 5 bulan, dicurigai HIV+ karena
sariawan, jamur, diare dan infeksi-infeksi lain
Anak kedua, umur 3 tahun, HIV- tapi
pertumbuhannya tidak maksimal kurus, belum
bisa bicara, sering pilek, belum tumbuh gigi.

Anak II putus sekolah karena tidak ada biaya,


kerja membantu merawat anak SK2
Anak III masih sekolah di Madrasah TS
karena murah dan dekat, dibiayai SK2
Dampak Kehidupan Keluarga:

SK2 menjadi tulang punggung keluarga


Dia bekerja di pabrik anduk
Dia jarang kontrol karena kalau sering
minta ijin kantor takut dipecat
Sering putus obat meskipun tahu hal tidak
boleh. Dia merasakan seperti makan buah
simalakama
SK2 begabung YPI sejak ikut VCT setelah suami
meninggal karena HIV atas anjuran Sdrnya yang
mengenal program YPI di lingkungannya.
Sdrnya tahu bahwa SK2 hamil dg suami HIV+,
partus N dan menyusui ia dianjurkan bergabung
dg YPI setelah konsultasi lebih dahulu dengan
suami.
Suami SK2 orang mampu. Stlh diketahui meninggal
krn HIV semua harta suami dikuasai kel suami, adik
angkat, dg alasan sdh membuat aib keluarga dan
anak istrinya tdk mendptkan haknya sama sekali
mendapat warisan
SK2 mendapat bantuan modal bergulir
YPU 2 juta tapi dikelola bapaknya, jualan
teh botol gerobag dibawah jembatan
layang. Tapi banyak saingan penjual teh
botol yang lain.
Obat2an ditanggung Sdrnya di Bkt Duri
(bon di bayar sepupu)
STIGMA dan DISKRIMINASI
Semua keluarga tahu status HIV SK2 dan
memberi support. Lebih banyak stigma
dari keluarga besan
Kalau berobat sering di antar bapak dan
ibu serta anaknya (3 th)
Lingkungan belum tahun status HIV
sehingga tidak ada stigma dan
diskriminasi.
Kesimpulan/Rekomendasi

Dampak/akibat adanya odha dalam


keluarga sangat unik untuk tiap keluarga.
Namun begitu masalah ekonomi keluarga
tampaknya yang paling perlu mendapat
perhatian dan intervensi lebih lanjut
Terima kasih