Anda di halaman 1dari 52

MANAJEMEN ANASTESI PADA PASIEN DENGAN

TINDAKAN OPEN REDUCTION INTERNAL FIXATION


(ORIF) FRAKTUR TIBIA-FIBULA MENGGUNAKAN
LARYNGEAL MASK AIRWAY (LMA).

Disusun Oleh:
Raisha Triasari
N 111 17 136

Pembimbing Klinik :
dr. Imtihanah Amri, M.Kes, Sp. An
PENDAHULUAN

 Anastesi umum adalah tindakan yang dilakukan dengan cara menghilangkan


nyeri sentral, disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau
reversible.
 Pengelolaan jalan napas (airway) menjadi salah satu bagian yang terpenting
dalam suatu tindakan anastesi
 Penemuaan “Laryngeal Mask Airway” (LMA) oleh ahli anastesi asal Inggris, dr.
Archie Brain, telah memberikan dampak yang besar dalam praktek anastesi,
penanganan airway yang sulit, dan resusitasi kardiopulmonar.
 LMA atau sungkup laring menjadi sangat populer dalam beberapa dekade
terakhir ini, karena tidak memerlukan laringoskop, tidak perlu pemberian
pelumpuh otot, tidak merusak pita suara, respon kardiovaskuler sangat
rendah dibanding intubasi endotracheal.
TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi & Fisiologi Saluran Pernapasan Bagian Atas

 Hidung
Merupakan jalan utama pada pernapasan normal jika tidak ada obstruksi oleh
polip atau infeksi saluran napas atas.

 Faring
Faring meluas dari bagian belakang hidung turun ke kartilago krikoid berlanjut
sampai esofagus. Bagian atas atau nasofaring dipisahkan dengan orofaring
dibawahnya oleh jaringan palutum mole.

 Trakea
Adalah sebuah struktur berbentuk tubulus yang mulai setinggi servikal 6
columna vertebralis pada level kartilago tiroid, mendatar pada posterior,
panjang 10-15 cm, didukung oleh 16-20 tulang rawan yang bercabang menjadi
dua atau bifurkasio menjadi brongkus kanan dan kiri.
TINJAUAN PUSTAKA
Evaluasi Jalan Nafas

 Tujuan evaluasi jalan napas adalah untuk menghindari gagalnya penanganan


jalan napas dengan menerapkan cara alternatif pada pasien yang diduga akan
sulit diventilasi dan/atau diintubasi.
 Pasien dianggap memiliki kesulitan jalan napas jika anestesiolog mengalami
kesulitan untuk memberikan ventilasi dengan facemask pada jalan napas
bagian atas, kesulitan mengintubasi trakea, atau keduanya.
 Untuk memperkirakan adanya kesulitan mask ventilation atau kesulitan
intubasi endotrakea, setiap pasien yang menerima perawatan anestesi harus
menjalani anamnesis dan pemeriksaan fisis jalan napas yang komprehensif.
 Pemeriksaan yang paling sering dilakukan untuk mengevaluasi pasien untuk
menemukan adanya kesulitan intubasi adalah penentuan sesuatu yang disebut
Kelas Mallampati (Mallampati Class).
TINJAUAN PUSTAKA
Evaluasi Jalan Nafas

 Sistem klasifikasi Mallampati


TINJAUAN PUSTAKA
Alat-alat yang Digunakan dalam Manajemen Airway

 Oral dan Nasal Airway


Pemasangan oral airway kadang-kadang difasilitasi dengan penekanan refleks
jalan napas dan kadang-kadang dengan menekan lidah dengan spatel lidah.
Karena adanya resiko epistaksis, nasal airway tidak boleh digunakan pada
pasien yang diberi antikoagulan atau anak dengan adenoid. Juga, nasal
airway jangan digunakan pada pasien dengan fraktur basis cranii.
 Face Mask
Penggunaan face mask dapat memfasilitasi pengaliran oksigen atau gas
anestesi dari sistem pernapasan ke pasien dengan pemasangan face mask
yang rapat. Ventilasi dengan face mask dalam jangka lama dapat
menimbulkan cedera akibat tekanan pada cabang saraf trigeminal atau fasial.
TINJAUAN PUSTAKA
Alat-alat yang Digunakan dalam Manajemen Airway

 Intubasi Endotrakeal
Bertujuan untuk membersihkan saluran tracheobronchial, mempertahankan
jalan napas agar tetap paten, mencegah aspirasi, serta mempermudah
pemberian ventilasi dan oksigenasi bagi pasien operasi. Intubasi endotrakeal
diindikasikan pada berbagai keadaan saat sakit ataupun pada prosedur medis
untuk mempertahankan jalan napas seseorang, pernapasan, dan oksigenasi
darah.
 Laryngeal Mask Airway
Penggunaan LMA meningkat untuk menggantikan pemakaian face mask dan
ETT selama pemberian anestesi, untuk memfasilitasi ventilasi dan
pemasangan ETT pada pasien dengan jalan napas yang sulit, dan untuk
membantu ventilasi selama bronchoscopy fiberoptic, juga pemasangan
bronkoskop.
TINJAUAN PUSTAKA
Laryngeal Mask Airway (LMA)

 LMA telah digunakan secara luas untuk mengisi celah antara intubasi ET dan
pemakaian face mask.
 LMA di insersi secara blind ke dalam faring dan membentuk suatu sekat
bertekanan rendah sekeliling pintu masuk laring.
 LMA adalah alat supra glotis airway, didesain untuk memberikan dan
menjamin tertutupnya bagian dalam laring untuk ventilasi spontan dan
memungkinkan ventilasi kendali pada mode level tekanan positif.
 Alat ini tersedia dalam 8 ukuran untuk neonatus, infant, anak kecil, anak
besar, kecil, dewasa normal dan besar.
 LMA terdiri dari pipa dengan lubang yang besar, di akhir bagian proksimal
dihubungkan dengan sirkuit napas dengan konektor berukuran 15 mm, dan
pada bagian distal terdapat balon berbentuk elips yang dapat dikembangkan
lewat pipa.
TINJAUAN PUSTAKA
Laryngeal Mask Airway (LMA)

Ukuran Volume Inflasi Cuff


LMA Pedoman Seleksi Pasien (Kg) Maksimal (ml)

1 Neonatus/Bayi hingga 5 Kg 4
1½ Infant 5-10 Kg 7
2 Bayi/Anak-anak 10-20 Kg 10
2½ Anak-anak 20-30 Kg 14
3 Anak-anak 30-50 Kg 20
4 Dewasa 50-70 Kg 30
5 Dewasa 70-100 Kg 40
6 Dewasa Lebih dari 100 Kg 50

 Tabel Ukuran LMA


TINJAUAN PUSTAKA
Laryngeal Mask Airway (LMA)

 LMA memberikan alternatif untuk ventilasi selain face mask atau ETT.
 Kontraindikasi untuk LMA adalah pasien dengan kelainan faring (misalnya
abses), sumbatan faring, lambung yang penuh (misalnya kehamilan, hernia
hiatal), atau komplians paru rendah (misalnya penyakit restriksi jalan napas)
yang memerlukan tekanan inspirasi puncak lebih besar dari 30 cm H2O.

 Bagian-bagian LMA
TINJAUAN PUSTAKA
Laryngeal Mask Airway (LMA)

 Perbandingan LMA, Facemask, dan ETT


TINJAUAN PUSTAKA
Jenis-Jenis LMA

 Classic LMA
Merupakan suatu peralatan yang digunakan pada airway management yang
dapat digunakan ulang dan digunakan sebagai alternatif baik itu untuk
ventilasi facemask maupun intubasi ET. Jika LMA dimasukkan dengan tepat
maka tip LMA berada diatas sfingter esofagus, cuff samping berada di fossa
pyriformis, dan cuff bagian atas berlawanan dengan dasar lidah. Posisi seperti
ini akan menyebabkan ventilasi efektif dengan inflasi minimal dari lambung.
 LMA Fastrach (Intubating LMA)
ILMA tidak boleh dilakukan pada pasien-pasien dengan patologi esofagus
bagian atas karena pernah dilaporkan kejadian perforasi esofagus.
Intubasi pada ILMA bersifat “blind intubation technique”. Nyeri tenggorok dan
suara serak biasanya ringan, namun lebihsering terjadi pada pemakaian ILMA
dibandingkan cLMA. ILMA memegang peranan penting dalam manajemen
kesulitan intubasi yang tidak terduga.
TINJAUAN PUSTAKA
Jenis-Jenis LMA

 LMA Proseal
Memiliki 2 design yang menawarkan keuntungan lebih dibandingkan LMA
standar selama melakukan ventilasi tekanan positif. Pertama, tekanan seal
jalan nafas lebih baik yang berhubungan dengan rendahnya tekanan pada
mukosa. Kedua, LMA Proseal terdapat pemisahan antara saluran pernapasan
dengan saluran gastrointestinal, dengan penyatuan drainage tube yang
mengalirkan gas-gas esofagus atau memfasilitasi suatu jalur tubeorogastric
untuk dekompresi lambung.
 LMA Fastrach (Intubating LMA)
Bentuk dan ukuran mask nya hampir menyerupai cLMA, dengan airway tube
terdapat gulungan kawat yang menyebabkan fleksibilitasnya meningkat yang
memungkinkan posisi proximal end menjauhi lapang bedah tanpa
menyebabkan pergeseran mask. Berguna pada pembedahan kepala dan leher,
maxillo facial dan THT. fLMA memberikan perlindungan yang baik terhadap
laring dari sekresi dan darah yang ada diatas fLMA.
TINJAUAN PUSTAKA
Jenis-Jenis LMA
(a) (b)

(c) (d)

 (a) LMA Classic; (b) LMA Flexible;


(c) Intubating Laryngeal Mask
Airway; (d) LMA Proseal
TINJAUAN PUSTAKA
Teknik Anastesi LMA

 Indikasi
- Sebagai alternative dari ventilasi face mask atau intubasi ET untuk airway
management. LMA bukanlah suatu penggantian ET, ketika pemakaian ET
menjadi suatu indikasi.
- Pada penatalaksanaan difficult airway yang diketahui atau yang tidak
diperkirakan.
- Pada airway management selama resusitasi pada pasien yang tidak
sadarkan diri.
TINJAUAN PUSTAKA
Teknik Anastesi LMA

 Kontraindikasi
- Pasien-pasien dengan resiko aspirasi isi lambung (penggunaan pada
emergency adalah pengecualian).
- Pasien-pasien dengan penurunan compliance sistem pernafasan, karena
seal yang bertekanan rendah pada cuff LMA akan mengalami kebocoran
pada tekanan inspirasi tinggi dan akan terjadi pengembangan lambung.
Tekanan inspirasi puncak harus dijaga kurang dari 20 cm H2O untuk
meminimalisir kebocoran cuff dan pengembangan lambung.
- Pasien-pasien yang membutuhkan dukungan ventilasi mekanik jangka
waktu lama.
- Pasien-pasien dengan refleks jalan nafas atas yang intack karena insersi
dapat memicu terjadinya laryngospasm.
TINJAUAN PUSTAKA
Teknik Anastesi LMA

 Efek Samping
- Efek samping yang paling sering ditemukan adalah nyeri tenggorok, dengan
insidensi 10% dan sering berhubungan dengan over inflasi cuff LMA. Efek
samping yang utama adalah aspirasi.
TINJAUAN PUSTAKA
Teknik Anastesi LMA

 Teknik Induksi dan Insersi


- Untuk melakukan insersi cLMA membutuhkan kedalaman anestesi yang
lebih besar.
- Sebelum insersi, kondisi pasien harus sudah tidak respon dengan mandibula
yang relaksasi dan tidak respon terhadap tindakan jaw thrust. Tetapi,
insersi cLMA tidak membutuhkan pelumpuh otot.
- Propofol merupakan agen induksi yang paling tepat karena propofol dapat
menekan refleks jalan napas dan mampu melakukan insersi cLMA tanpa
batuk atau terjadinya gerakan.
- Jika propofol tidak tersedia, insersi dapat dilakukan setelah pemberian
induksi thiopental, ditambahkan agen volatil untuk mendalamkan anestesi
atau dengan penambahan anestesi lokal bersifat topikal ke oropharing.
TINJAUAN PUSTAKA
Teknik Anastesi LMA

 Teknik Induksi dan Insersi


- Untuk memperbaiki insersi mask, sebelum induksi dapat diberikan opioid
beronset cepat (seperti fentanyl atau alfentanyl).
- Jika diperlukan, cLMA dapat di insersi dibawah anestesi topikal. Insersi
dilakukan dengan posisi seperti akan dilakukan laryngoscopy
(Sniffing Position) dan akan lebih mudah jika dilakukan jaw thrust oleh
asisten selama dilakukan insersi.
- Dokter anastesi berdiri dibelakang pasien yang berbaring dengan posisi
supine dengan satu tangan menstabilisasi kepala dan leher pasien,
sementara tangan yang lain memegang cLMA.
- Tindakan ini terbaik dilakukan dengan cara menaruh tangan dibawah
occiput pasien dan dilakukan ekstensi ringan pada tulang belakang leher
bagian atas.
TINJAUAN PUSTAKA
Teknik Anastesi LMA

 Teknik Induksi dan Insersi


- cLMA dipegang seperti memegang pensil pada perbatasan mask dan tube.
Rute insersi cLMA harus menyerupai rute masuknya makanan.
- Selama insersi, cLMA dimajukan ke arah posterior sepanjang palatum
durum kemudian dilanjutkan mengikuti aspek posterior-superior dari jalan
nafas.
- Saat cLMA “berhenti” selama insersi, ujungnya telah mencapai
cricopharyngeus (sfingter esofagus bagian atas) dan harusnya sudah berada
pada posisi yang tepat.
- Insersi harus dilakukan dengan satu gerakan yang lembut untuk meyakinkan
“titik akhir” teridentifikasi.
TINJAUAN PUSTAKA
Teknik Anastesi LMA

 Teknik Induksi dan Insersi

 Pemasangan LMA
TINJAUAN PUSTAKA
Teknik Anastesi LMA

 Teknik Induksi dan Insersi


- Lima tes sederhana dapat dilakukan untuk meyakinkan ketepatan posisi
cLMA; (1) End point jelas dirasakan selama insersi. (2) Posisi cLMA menjadi
naik keluar sedikit dari mulut saat cuff di inflasi. (3) Leher bagian depan
tampak mengelembung sedikit selama cuff di inflasi. (4) Garis hitam di
belakang cLMA tetap digaris tengah. (5) Cuff cLMA tidak tampak di mulut.
- Jumlah udara yang direkomendasikan untuk inflasi cuff tergantung dari
pembuat LMA yang bervariasi sesuai dengan ukuran cLMA.
- Tekanan didalam cuff tidak boleh melebihi 60 cm H2O.
- Inflasi yang berlebihan akan meningkatkan resiko komplikasi
pharyngolaryngeal, termasuk cedera syaraf (glossopharyngeal, hypoglossal,
lingual dan laryngeal recuren) dan biasanya menyebabkan obstruksi jalan
nafas.
TINJAUAN PUSTAKA
Teknik Anastesi LMA

 Teknik Induksi dan Insersi


- Setelah cLMA di insersikan, pergerakan kepala dan leher akan membuat
perbedaan kecil terhadap posisi cLMA dan dapat menyebabkan perubahan
pada tekanan intra cuff dan sekat jalan nafas.
- Tekanan cuff yang berlebihan dapat dihindari dengan mempalpasi secara
intermiten pada pilot ballon.
- Setelah insersi, patensi jalan nafas harus di test dengan cara mem-bagging
dengan lembut.
- Perlu diingat, cuff cLMA menghasilkan sekat bertekanan rendah sekitar
laring dan tekanan jalan nafas diatas sekat ini akan menyebabkan
kebocoran gas anestesi dari jalan nafas.
TINJAUAN PUSTAKA
Teknik Anastesi LMA

 Teknik Induksi dan Insersi


- Dengan lembut, ventilasi tangan akan menyebabkan naiknya dinding dada
tanpa adanya suara ribut pada jalan napas atau kebocoran udara yang
dapat terdengar.
- Saturasi oksigen harus stabil.
- Jika kantung reservoir tidak terisi ulang kembali seperti normalnya, ini
mengindikasikan adanya kebocoran yang besar atau obstruksi jalan nafas
yang partial.
- Jika kedua hal tadi terjadi maka cLMA harus dipindahkan dan di insersi
ulang.
TINJAUAN PUSTAKA
Teknik Anastesi LMA

 Teknik Ekstubasi
- Pada akhir pembedahan, cLMA tetap pada posisinya sampai pasien bangun
dan mampu untuk membuka mulut sesuai perintah, dimana refleks proteksi
jalan napas telah normal pulih kembali.
- Melakukan penghisapan pada faring secara umum tidak diperlukan dan
malah dapat menstimuli dan meningkatkan komplikasi jalan nafas seperti
laryngospasm.
- Saat pasien dapat membuka mulut mereka, cLMA dapat ditarik.
- Kebanyakan sekresi akan terjadi pada saat–saat ini dan adanya sekresi
tambahan atau darah dapat dihisap saat cLMA ditarik jika pasien tidak
dapat menelansekret tersebut.
TINJAUAN PUSTAKA
Teknik Anastesi LMA

 Komplikasi Pemakaian LMA


- cLMA tidak menyediakan perlindungan terhadap aspirasi paru karena
regurgitasi isi lambung.
- Juga tidak bijaksana untuk menggunakan cLMA pada pasien-pasien yang
punya resiko meningkatnya regurgitasi, seperti: pasien yang tidak puasa,
emergensi, dan pada refluks gastro-esofageal.
TINJAUAN KASUS
Identitas Pasien

Nama An. N
Umur 10 tahun
Alamat Jln. Malotara
Agama Hindu
Ruangan Kenari
Tanggal Pemeriksaan 30 Januari 2018
Nomor Rekam Medis 803597
TINJAUAN KASUS
Anamnesis

Keluhan Utama Nyeri pada kaki kiri


Seorang pasien datang dengan keluhan nyeri pada
kaki kiri setelah jatuh ditabrak motor pada pukul
15.30 sore hari, posisi jatuh lupa, luka lecet
Riwayat Penyakit Sekarang ditangan kiri ukuran 9x0,5 cm.
Agama Demam (-), sesak (-), muntah (-), nyeri menelan
(-) dan gangguan menelan (-).
Riwayat alergi (-), asma (-), penyakit jantung (-),
penyakit berat lainnya (-), anestesi (-).
Riwayat penyakit paru (-), penyakit jantung (-),
Riwayat Penyakit Keluarga
penyakit diabetes melitus (-).
TINJAUAN KASUS
Pemeriksaan Fisik

 Status Generalisata
- Kesadaran : Compos mentis (GCS E4 V5 M6)
- Berat badan : 21 kg
- Status gizi : Gizi baik
- Pernafasan : 24 kali/menit
- Nadi : 96 kali/menit
- TD : 90/70 mmHg
- Suhu : 36o C
TINJAUAN KASUS
Pemeriksaan Fisik

 B1 (Breath)
- Airway bebas
- Gurgling/snoring/crowing: (-/-/-), potrusi mandibular (-), buka mulut 5
cm, jarak mentohyoid 4 cm, jarak hyothyoid 4 cm, leher pendek (-), gerak
leher bebas, tonsil (T1-T1), faring hiperemis (-).
- frekuensi pernapasan 24 kali/menit, suara pernapasan : bronkovesikular
(+/+), suara pernapasan tambahan ronchi (-/-),wheezing (-/-), skor
Mallampati score 1, massa (-), gigi ompong (-), gigi palsu (-).
 B2 (Blood)
- Akral hangat, ekstremitas atas (+/+) dan ekstremitas bawah (+/+), tekanan
darah 90/70 mmHg, denyut nadi 96 kali/menit, bunyi jantung S1/S2 murni
regular.
TINJAUAN KASUS
Pemeriksaan Fisik

 B3 (Brain)
- Kesadaran composmentis, pupil isokor 2mm/2mm, refleks cahaya (+/+),
anemis (-/-), ikterik (-/-).
 B4 (Bladder)
- BAK (+) spontan.
 B5 (Bowel)
- Abdomen tampak datar, peristaltik (+) kesan normal, timpani (+) diseluruh
kuadran abdomen, nyeri tekan (-).
 B6 (Back & Bone)
- Edema (-), akral dingin (-).
TINJAUAN KASUS
Pemeriksaan Penunjang

Parameter Hasil Satuan Nilai Normal


WBC 13 103/uL 4,8-10,8
RBC 3,9 106/uL 4,7-6,1
HGB 11,3 g/dL 14-18
HCT 32 % 42-52
PLT 298 103/uL 150-450
Gula darah 110 - 80-199 mg/dl.
Sewaktu
HbsAg Non Reaktif - -
 Tabel Darah rutin, laboratorium
tanggal 29 Januari 2018
TINJAUAN KASUS

 Diagnosis Kerja
- Fraktur os Tibia-Fibula.
 Tindakan
- Open Reduction Internal Fixation (ORIF).
 Kesan Anestesi
- Anak perempuan berumur 10 tahun dengan diagnosis fraktur os tibia-fibula
sinistra pro ORIF dan PS ASA I.
 Penatalaksanaan
- Rencana operasi ORIF.
TINJAUAN KASUS

 Di Ruangan
- IBS RSU Anutapura. Surat persetujuan tindakan operasi (+), surat
persetujuan tindakan anestesi (+). Puasa selama 8 jam pre operasi.
 Kesimpulan
- Diagnosis Pre Operatif : Fraktur os Tibia-Fibula pro ORIF
- Status Operatif : ASA I, Mallampati I
- Jenis Anastesi : General Anestesi
TINJAUAN KASUS
Laporan Anestesi

 Diagnosis Pra Bedah


- Fraktur os Tibia-Fibula pro ORIF
 Diagnosis Pasca Bedah
- Fraktur os Tibia-Fibula pro ORIF
 Penatalaksanaan Pra Operasi
- RL 150 ml
TINJAUAN KASUS
Laporan Anestesi

 Penatalaksanaan Anestesi
- Jenis Pembedahan : ORIF Tibia-Fibula Sinistra
- Jenis Anestesi : General Anestesi
- Teknik Anestesi : General Anestesi dengan teknik LMA nomor 2,5
- Mulai Anestesi : 31 Januari 2018, pukul 14.05 WITA
- Mulai Operasi : 31 Januari 2018, pukul 14.10 WITA
- Premedikasi : Midazolam 3mg, Fentanil 30 mg, Ondansentron 4 mg,
Dexametason 5mg
- Induksi : Propofol 1000 mg, Sevoflurance 2 vol %
- Medikasi Tambahan : Ketolorac 30 mg
TINJAUAN KASUS
Preinduksi

 Pemeriksaan Fisik Pre Operatif


- B1 (Breath)
Airway bebas, gurgling/snoring/crowing: (-/-/-), potrusi mandibular (-), buka
mulut 5 cm, jarak mentohyoid 4 cm, jarak hyothyoid 4 cm, leher pendek (-),
gerak leher bebas, tonsil (T1-T1), faring hiperemis (-), frekuensi pernapasan 24
kali/menit, suara pernapasan : bronkovesikular (+/+), suara pernapasan
tambahan ronchi (-/-),wheezing (-/-), Mallampati score 1, massa (-), gigi
ompong (-), gigi palsu (-).
- B2 (Blood)
Akral hangat, ekstremitas atas (+/+) dan ekstremitas bawah (+/+), tekanan
darah 90/70 mmHg, denyut nadi 96 kali/menit, bunyi jantung S1/S2 murni
regular.
TINJAUAN KASUS
Preinduksi

 Pemeriksaan Fisik Pre Operatif


- B3 (Brain)
Kesadaran composmentis, pupil isokor 2mm/2mm, refleks cahaya (+/+),
anemis (-/-), ikterik (-/-).
- B4 (Bladder)
BAK (+) spontan.
- B5 (Bowel)
Abdomen tampak datar, peristaltik (+) kesan normal, timpani (+) diseluruh
kuadran abdomen, nyeri tekan (-).
- B6 (Back & Bone)
Edema (-), akral dingin (-).
TINJAUAN KASUS
Persiapan Pasian Pre Operatif

 Persiapan Pasien Pre Operatif


- IVFD RL 150 ml.
 Persiapan Di Kamar Operasi
- Meja operasi dengan asesoris yang diperlukan.
- Mesin anestesi dengan sistem aliran gasnya.
- Alat-alat resusitasi (STATICS).
- Obat-obat anastesia yang diperlukan.
- Obat-obat resusitasi, misalnya: adrenalin, atropine, aminofilin, natrium
bikarbonat dan lain-lainnya.
- Tiang infus, plaster dan lain-lainnya.
- Alat pantau tekanan darah, suhu tubuh, dan EKG.
TINJAUAN KASUS
Persiapan Di Kamar Operasi

 Persiapan Di Kamar Operasi


- Meja operasi dengan asesoris yang diperlukan.
- Mesin anestesi dengan sistem aliran gasnya.
- Alat-alat resusitasi (STATICS).
- Obat-obat anastesia yang diperlukan.
- Obat-obat resusitasi, misalnya: adrenalin, atropine, aminofilin, natrium
bikarbonat dan lain-lainnya.
- Tiang infus, plaster dan lain-lainnya.
- Alat pantau tekanan darah, suhu tubuh, dan EKG.
- Alat-alat pantau sesuai indikasi (“Pulse Oxymeter” dan “Capnograf”).
- Kartu catatan medic anesthesia.
TINJAUAN KASUS
Persiapan Di Kamar Operasi
Stetoscope untuk mendengarkan suara paru dan jantung.
S Scope Laringo-Scope: pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan usia pasien. Lampu harus
cukup terang.

Pipa trakea, pilih sesuai ukuran pasien, pada kasus ini digunakan laryngeal mask airway
T Tubes
ukuran 2,5

Pipa mulut-faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa hidung-faring (naso-tracheal


A Airways airway). Pipa ini menahan lidah saat pasien tidak sadar untuk mengelakkan sumbatan
jalan napas.

T Tapes Plaster untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut.

Mandarin atau stilet dari kawat dibungkus plastik (kabel) yang mudah dibengkokkan untuk
I Introducer pemandu supaya pipa trakea mudah dimasukkan. Pada pasien ini tidak digunakan
introducel atau stilet.

C Connector Penyambung antara pipa dan peralatan anestesia.


S Suction Penyedot lendir, ludah dan lain-lainnya.

 Komponen STATICS
TINJAUAN KASUS
Intra Operatif

 Laporan Anestesi Durante Operatif


- • Jenis anestesi : General Anestesi
- • Lama anestesi : 14.05 – 16.25 (2 jam 20 menit)
- • Lama operasi : 14.10 – 16.10 (2 jam 5 menit)
- • Anestesiologi : dr. Ajutor Donny Tandiarrang, Sp.An
- • Ahli Bedah : dr. Djeky, Sp.OT
- • Posisi : Supine
- • Infus : 1 line di tangan kiri
 Obat-obatan yang diberikan
- Obat maintenance anastesi: Sevoflurance 2 vol %
- Obat Durante Operatif: Petidin 1 mg, Propofol 30 mg
Jam Tekanan Darah Frekuensi Denyut Nadi Saturasi Oksigen
14.05 90/60 mmHg 100 100

TINJAUAN KASUS 14.10


14.15
90/60 mmHg
90/60 mmHg
110
100
100
100

Intra Operatif 14.20


14.25
90/60 mmHg
110/80 mmHg
110
110
100
100
14.30 100/70 mmHg 140 100
14.35 110/65 mmHg 112 100

14.40 110/65 mmHg 112 100

14.45 140/80 mmHg 133 100

14.50 110/60 mmHg 110 100

14.55 100/57 mmHg 108 100

15.00 100/58 mmHg 124 100


 Laporan Monitoring Anastesi 15.05 100/60 mmHg 130 100

15.10 100/60 mmHg 110 100

15.15 100/60 mmHg 110 100

15.20 90/52 mmHg 110 100

15.25 90/52 mmHg 110 100

15.30 90/52 mmHg 110 100

15.35 100/70 mmHg 110 100

15.40 110/70 mmHg 110 100

15.45 90/65 mmHg 115 100

15.50 90/65 mmHg 115 100

15.55 90/65 mmHg 100 100

16.00 80/65 mmHg 100 100

16.05 80/65 mmHg 100 100

16.10 80/65 mmHg 100 100


TINJAUAN KASUS
Pemberian Cairan

 Berat Badan: 21 Kg
 Estimated Blood Volume (EBV): BBx 65cc/kgBBm; 21 kg x 65 cc = 1.365 cc
 Jumlah Perdarahan: ± 200 cc
 % Perdarahan: 200 cc / 1.365 cc x 100% = 14,65%
 Cairan masuk
- Pre operatif : Kristaloid RL 150 ml
- Durante operatif : Kristaloid RL 400 ml
- Total input cairan : Kristaloid RL 450 ml
 Cairan keluar durante operatif
- Perdarahan : ± 200 cc
- Urin dan total output cairan : (-) dan ± 200 cc
TINJAUAN KASUS
Pemberian Cairan

 Perhitungan Cairan
- Cairan Maintenance (M) : 21 kg x 35 = 735 = 30,6 cc/jam
- Cairan Defisit Pengganti Puasa : 8 x 30,6 = 244,8 ml; 244,8 ml – 150 = 94,8 ml
- Stress Operasi Sedang : 4 ml x 21 kg = 84 cc/jam
- Cairan Defisit Darah selama Operasi : 200 ml x 3 = 600 ml
- Untuk mengganti kehilangan darah 200 ml diperlukan 600 ml cairan kristaloid.
- Total kebutahan cairan selama 2 jam 5 menit operasi: 30,6 + 94,8 + 84 + 600 = 809 ml.
TINJAUAN KASUS
Post Operatif

 Pemantauan di Recovery Room


- Tensi, nadi, pernapasan, aktivitas motorik.
- Berikan antibiotic profilaksis, antiemetic, H2 reseptor bloker dan analgetik.
- Bila Aldrette score ≥8 boleh pindah ruangan.
- Mual (-), Muntah (-), Peristaltik usus (+), Boleh makan dan minum sedikit-sedikit.
TINJAUAN KASUS
Post Operatif

 Pemantauan di Recovery Room


TANDA KRITERIA SKOR
Seluruh ektrimitas dapat digerakkan 2
AKTIVITAS Dapat menggerakkan 2 ekstrimitas 1
Tidak bergerak 0
Mampu bernapas dalam dan batuk 2
RESPIRASI Dangkal namun pertukaran udara adequate 1
Apnea dan Obstruksi 0
TD < 20% dari nilai pre anestesi 2
SIRKULASI TD 20% - 50% dari nilai pre anestesi 1
TD > 50% dari nilai pre anestesi 0
Sadar, siaga, dan orientasi 2
KESADARAN Bangun namun cepat tertidur kembali 1
Tidak berespon 0
Merah muda 2
WARNA KULIT Pucat 1
Sianosis 0
TOTAL SKOR 9

 Skor Pemulihan Pasca Anesthesia J.A Aldrette


PEMBAHASAN

 Pasien, An. N, 10 tahun datang ke ruang operasi untuk menjalani operasi ORIF pada
tanggal 31 Januari 2019 dengan diagnosis pre operatif Tibia-Fibula Sinistra pro ORIF.
 Pada anamnesis didapatkan riwayat fraktur tibia-fibula sinistra, dan pasien tidak memiliki
riwayat menjalani operasi dan anestesi sebelumnya. Sebelumnya telah dilakukan
informed consent terhadap orang tua pasien terkait tindakan yang diberikan beserta
konsekuensinya.
 Pemeriksaan lain yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan hematologi rutin untuk
mengetahui ada tidaknya gangguan perdarahan serta dilakukan juga pemeriksaan uji
imunoserologi HbsAg.
 Pemeriksaan fisik dari tanda vital didapatkan tekanan darah 90/70 mmHg; nadi
96x/menit; respirasi 24x/menit; suhu 36OC. Dari pemeriksaan laboratorium hematologi,
WBC 13 g/dL, RGB 3,9 g/dL, HGB 11,3 g/dL, HCT 32 %, GDS 110 mg/dL, dan HbsAg (non
reaktif).
 Pasien juga tidak memiliki riwayat penyakit berat, alergi, dan dapat berkomunikasi serta
beraktivitas dengan normal.
PEMBAHASAN
I. Pasien normal dan sehat fisik dan mental
II. Pasien dengan penyakit sistemik ringan dan tidak ada keterbatasan
fungsional.
III. Pasien dengan penyakit sistemik sedang hingga berat yang menyebabkan
keterbatasan fungsi.
IV. Pasien dengan penyakit sistemik berat yang mengancam hidup dan
menyebabkan ketidakmampuan fungsi.
V. Pasien yang tidak dapat hidup/bertahan dalam 24 jam dengan atau tanpa
operasi.
VI. Pasien mati otak yang organ tubuhnya dapat diambil.
PEMBAHASAN

 Pada pasien ini, pemeriksaan fisik ataupun laboratorium tidak menunjukkan adanya
gangguan yang dapat menjadi kontraindikasi dilakukannya tindakan.
 Indikasi dilakukan general anestesi adalah karena pada kasus ini diperlukan hilangnya
kesadaran, rasa sakit, amnesia dan mencegah resiko aspirasi dengan menggunakan
premedikasi. Teknik anestesinya dengan pemasangan LMA nomor 2,5.
 Selama operasi juga perlu dimonitoring kebutuhan cairan, dimana perkiraan berat badan
pasien adalah 21kg, maka estimated blood volume = 21kg x 65cc = 1.365 cc (estimated
blood volume pada perempuan 65cc/kgBB).
 Pada pasien ini didapatkan EBV sekitar 14,65% sehingga tidak dilakukan pemberian
transfusi darah.
 Total kebutuhan cairan durante operasi adalah 809 ml.
 Selama operasi pasien diberikan obat golongan analgetik narkotik berupa petidin 1 mg,
propofol 30 mg, dan analgetik ketorolac 30 mg.
KESIMPULAN

 Pasien An. N umur 10 tahun dengan diagnosis fraktur tibia-fibula sinistra pro ORIF
menjalani tindakan open reduction internal fixation (ORIF) dengan status fisik ASA I dan
skor mallampati 1.
 Teknik anestesi yang dipilih adalah anestesi general (umum) dengan LMA, respirasi
spontan.
 Anestesi general tindakan anestesi yang dilakukan dengan cara menghilangkan nyeri
secara sentral, disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau reversibel.
 Laryngeal Mask Airway (LMA) atau sungkup laring adalah alat bantu pernapasan
(penanganan jalan nafas) yang dimasukkan kedalam laring.
 Selama operasi berlangsung tidak ada hambatan yang berarti baik dari segi anestesi
maupun dari tindakan operasinya. Selama di ruang pemulihan juga tidak terjadi hal yang
memerlukan penanganan serius.
 Secara umum pelaksanaan operasi dan penanganan anestesi berlangsung dengan baik.