Anda di halaman 1dari 18

MENCETAK TENAGA PROFESIONAL DIBIDANG

TRANSFUSI DARAH

Oleh :

Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H.,M.Hum.


Inspektur Jenderal Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi

Disampaikan dalam Seminar Nasional dengan tema Perjuangan PMI untuk Indonesia Raya
“Peningkatan Pelayanan Unit Transfusi Darah & Markas Untuk Kemajuan PMI”
Hotel Lor In, 16-18 Septembar 2016
CURICULUM VITAE
Nama : Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum
Tempat/Tgl. Lahir : Magelang, 8 November 1962
Tempat Tinggal : Jl. Manunggal 1/43, Solo, Jawa Tengah
Pendidikan : S1 FH UNS, S2 Hukum Ekm & Tek Undip, S3 PDIH Undip
Status : Berkeluarga, 1 Istri , 3 Anak
Hp. : 08122601681
E-mail : jamal@jamalwiwoho.com atau jamalwiwoho@yahoo.com
Website : www.jamalwiwoho.com
Pekerjaan : Inspektur Jenderal Kemenristek Dikti
Pengalaman : 1. Plh. Rektor Universitas Negeri Manado
2. Wakil Rektor II UNS Surakarta
3. Ketua forum PR II / WR II Se – Indonesia
4. Sekretaris Prodi S3 Ilmu Hukum FH UNS
5. Dosen S1/S2/S3 FH UNS Solo
Lain-lain :
 Reviewer Nasional DP2M Dikti, Tim PAK Dikti, Instruktur Brevet, Konsultan
DPRD Ngawi- Jatim, DPRD Karanganyar-Jateng, DPRD Surakarta, DPRD
Balikpapan, Konsultan IAPI, Konsultan Pemda Ngawi, Pemda Magetan Jatim,
Pemkot Gorontalo, Saksi Ahli di beberapa Pengadilan, dll.
 Dosen S2/S3 tidak tetap di Univ Diponegoro, Univ Trisakti Jkt, Univ Taruma
Negara Jkt, Univ Djuanda Bogor, Univ Swadaya Gunung Jati Cirebon, Univ
Slamet Riyadi dan UNSA Solo, Univ Brawijaya Malang (disertasi) dll.
Pelayanan Kesehatan
Undang-Undang No. 35/2009 tentang Kesehatan maupun
Peraturan Peraturan No. 7/2011 tentang Pelayanan Darah,
dinyatakan bahwa Pemerintah bertanggungjawab atas
pelaksanaan darah yang aman, mudah diakses, dan sesuai
dengan kebutuhan masyarakat.
Tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah (Pemda)
meliputi pengaturan, pembinaan, pengawasan dan pendanaan
pelayanan darah untuk kepentingan pelayanan kesehatan.
Pelayanan Darah
Pelayanan darah adalah upaya pelayanan kesehatan yang
memanfaatkan darah manusia sebagai bahan dasar dengan tujuan
kemanusian dan tidak untuk tujuan komersial.
Peraturan Pemerintah No. 7/ 2011 tentang Pelayanan Darah
menyebutkan donor darah dan pengelolaan darah dilakukan oleh Unit
Donor Darah (UDD) yang diselenggarakan oleh organisasi sosial
dengan tugas pokok dan fungsinya dibidang kepalangmerahan atau
dalam hal ini Palang Merah Indonesia (PMI).
Jumlah Donasi Darah di Indonesia Tahun 2005-2014
3500000

3000000

2500000

2000000

1500000

1000000

500000

0
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

Total Donasi Donasi Sukarela Donasi Keluarga Donasi Bayaran

Sumber : Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar


Jumlah Donasi, Kebutuhan Darah dan
Ketersediannya
Dalam 10 tahun terakhir terjadi peningkatan jumlah donasi darah,
namun masih belum dapat memenuhi kebutuhan. Pada tahun 2014,
darah yang dihasilkan oleh seluruh UTD sudah mencapai 3.054.747
juta kantong lengkap. Produksi darah (Whole Blood dan komponen
darah) secara nasional tahun 2014 sebanyak 4.644.863 juta
kantong.
Sesuai dengan panduan WHO bahwa produksi darah minimal 2% dari
jumlah penduduk. Jika jumlah penduduk di Indonesia pada tahun
2014 sebanyak 252.124.458 jiwa, maka idealnya dibutuhkan darah
sebanyak 5.042.489 kantong darah, sehingga masih kurang 397.626
kantong.
Distribusi Donasi Darah Menurut Jenis Kelamin di
Indonesia Tahun 2014

Perempuan
31,32%

Laki-Laki
68,68%

Sumber : Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar


Distribusi Donasi Darah Menurut Kelompok Umur
di Indonesia Tahun 2014
>60 Tahun
<18 Thn 2,07%
4,21%
>60 Tahun
1,05%
51-60 Tahun
45-59 Tahun 41-50 Tahun 14,71%
15,34% 28,38%
25-44 Tahun
48,71 % 17-30 Tahun
25,39%
18-24 Tahun 31-40 Tahun
29,66% 30,46%

Sumber : Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar Sumber : Palang Merah Indonesia
Distribusi Donasi Darah Menurut Golongan
Darah di Indonesia Tahun 2014

AB
7,50%

A o
23,89% 39,57%

B
29,04%

Sumber : Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar


Transfusi Darah

Transfusi darah merupakan tindakan medik


yang bertujuan untuk menyelamatkan hidup
pasien. Transfusi darah sering dilakukan dalam
keadaan darurat. Rumah sakit sering mengalami
kekurangan persediaan darah, atau persediaan
darah ada tetapi tidak sesuai dengan golongan
darah pasien yang membutuhkan.
Kebutuhan Tenaga Ahli Transfusi
Darah di Indonesia

Akademi di Akademi di
Semarang 50 Surakarta 50
lulusan/tahun lulusan/tahun

Akademi di Akademi di
Jakarta 50 Yogyakarta 50
lulusan/tahun 4.000 lulusan/tahun
tenaga
terdidik
transfusi
darah
Jumlah lembaga pendidikan di Indonesia belum maksimal mencetak
tenaga terdidik dibidang transfusi darah. Indonesia mempunyai
empat akademi di Jakarta, Solo, Yogyakarta dan Semarang. Masing-
masing diperkirakan menghasilkan 50 lulusan setiap tahun, berarti
ada 200 lulusan dalam satu tahun di empat akademi. Sedangkan
kebutuhan Indonesia akan tenaga transfusi darah sekitar 4.000
tenaga transfusi darah.
Tenaga Profesional Bidang Transfusi Darah

Lulusan akademi (D3) bidang Transfusi Darah


Dengan sistem 70% praktek 30% teori
Sarana dan prasarana memadai
Dibimbing oleh dosen-dosen profesional
Terstandarisasi dengan baik
Terakreditasi
Kewenangan Melakukan
Transfusi Darah
Transfusi darah hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu (Pasal 35 ayat (1)
UU Kesehatan). Orang yang berwenang untuk melakukan transfusi
darah adalah petugas teknologi transfusi darah dan asisten transfusi
darah dibawah pengawasan dokter. Dengan demikian orang yang
tidak mempunyai keahlian dan kewenangan melanggar Undang-
undang sebagaimana Pasal 80 ayat (3) UU Kesehatan.
Sanksi Terhadap Pelanggaran Kewenangan

Barangsiapa dengan sengaja melakukan perbuatan dengan tujuan


komersial dalam pelaksanaan transplantasi organ tubuh atau
jaringan tubuh atau transfusi darah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 33 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15
(lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak
Rp.300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
Profesional =
Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai