Anda di halaman 1dari 27

REFERAT

ANTIBIOTIK pada MATA

DISUSUN OLEH:
Imam Adi Nugroho 1 2 2 0 111 0 1 0 7 7
Oessi Salsabila 1 3 2 0 111 0 1 0 7 4

Pembimbing:
dr. Bagas Kumoro, Sp.M

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
KSM ILMU KESEHATAN MATA
RSD dr. SOEBANDI JEMBER
2018
Pendahluluan
2

 Antibiotik memiliki kontribusi yang signifikan dalam


membatasi morbiditas dan mortalitas.
 Antibiotik digunakan secara tidak tepat atau tidak
rasional untuk penyakit yang tidak perlu dan
terdapat kecenderungan antibiotik dibeli bebas atau
tanpa resep dokter, sehingga muncul resistensi
 Infeksi oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik
akan membahayakan nyawa pasien oleh karena
infeksinya menjadi sulit diobati dan berpengaruh
pada biaya pelayanan kesehatan
Anatomi Mata
3
4

 Mata 2 bagian besar yaitu segmen anterior dan


segemen posterior.
 Segmen anterior terdiri atas cornea limbus
trabecullar meshwork canal Schlems iris lensa,
zonula zini, iris lensa badan siliaris.
 Segmen posterior termasuk corpus vitreus (badan
kaca), retina, choroid sclera dan nervus optikus.
Sediaan-sediaan pada obat mata
5

 Larutan dan Suspensi


Larutan mengandung obat aktif terlarut dalam
medium cair. suspensi, obat terbagi menjadi bagian
tidak larut dalam media cair (berisfat sangat halus)
dan cairan pelarut.
 Salep
Merupakan kombinasi obat aktif digabungkan
dengan vehiculum yang meleleh saat obat kontak
dengan mata. Salep kemudian perlahan menyebar,
dan obat aktif dilepaskan sehingga waktu kontak
meningkat
6
Sediaan-sediaan pada obat mata
7

 Gel
Sediaan yang mirip dengan salep hanya dilepaskan
lebih lambat dan vehikulum yang berbeda
 Strip
digunakan untuk sekali pakai meningkatkan
kebersihan dan kenyaman dan mengurangi
pencemaran
8
Sediaan-sediaan pada obat mata
9

 Injeksi lokal pada mata


Injeksi lokal memberikan konsentrasi yang lebih
besar dari obat aktif langsung di lokasi yang
diinginkan. Obat aktif kemudian dibawa melalui
proses difusi sederhana ke jaringan sekitarnya dan
melalui pembuluh darah berdekatan.
10
Farmakokinetik pada Mata
11
Farmakodinamik pada Mata
12

 Pada mata terdapat berbagai enzim esterase,


oksidoreduktase, enzim lisosom, peptidase,
glucuronide dan transferase sulfat, enzim konjugasi
GSH, COMT, MAO, dan 11β-hydroxysteroid
dehidrogenase.
 Enzim-enzim tersebut dapat mengubah obat secara
signifikan
Pemilihan Antibiotik pada Mata
13

 Sifat dari antibiotik


Bakterisidal dan Bakteriostatik. Infeksi berat: maka
antibiotika yang bersifat bakterisidal
 Daerah yang dituju untuk terapi (berdasarkan sifat
obat)
Obat-obat bermolekul besar digunakan pada infeksi
pada segmen anterior
 Konsentrasi obat yang diinginkan
Dosis dan waktu pemakaian obat
 Toksiksitas obat
Aminoglikosida
14

 Amikasin, Gentamisin, Tobramycin


 Indikasi: konjungtivitis, keratitis, blepharitis, infeksi
periorbita, endofltalmitis
 Farmakodinamik: mengikat pada subunit 30S dari
Ribosom maka subunit 70S tidak terbentuk sehingga
terjadi inhibisi sintesis protein.
 Sediaan/Dosis: Amikasin sulfat 0,4 mg, Gentamisin
0,3 % salep dan tetes mata, Tobramycin 0,3% salep
dan tetes mata
15
Cephalosporin
16

 Ceftazidime, cephazolin
 Indikasi: infeksi periorbita atau intraorbita
 Farmakodinamik: mengikat 1 atau lebih protein
penicillin-binding, menghambat sintesis sel-dinding
bakteri dan menghambat pertumbuhan bakteri
 Sediaan: Ceftazidime, 2,25 mg, Ceftazidime 100 mg,
Cephalozin injeksi intravena/subkonjungtiva
Makrolide
17

 Eritomisin, Azitromisin
 Indikasi : Konjungtivitis. Lebih efektif terhadap
bakteri gram negatif dibandingkan dengan gram
positif
 Farmakodinamik: Menghambat sintesis protein
kuman dengan jalan berikatan secara reversibel
dengan Ribosom subunit 50S, dan bersifat
bakteriostatik atau bakterisid
 Sediaan: Azitromisin tetes mata 1%
18
Quinolon
19

 Ciprofloxacin, Levofloxacin
 Indikasi: Konjungtivitis, keratitis dan ulkus kornea
 Farmakodinamik Menghambat aktivitas girase DNA,
yang pada gilirannya meningkatkan kerusakan untai
DNA
 Sediaan: Levofloksasin tetes mata 0,1 %
Tetrasiklin
20

 Indikasi: infeksi bakteri pada permukaan mata


contoh trachoma, profilaksis konjungtivitis neonatal
akibat N. Gonorrhoe atau Chlamydia Trachomatis
 Farmakodinamik menghambat sintesis protein
bakteri dan bersifat bakteriostatik, bersifat
menghambat baik untuk bakteri gram positif
maupun bakteri gram negatif.
 Sediaan: Tetrasiklin Hidroklorida salep mata 1%
21
Sulfonamide
22

 Indikasi: konjungtivitis, uveitis anterior kronis.


 Farmakodinamik: Obat ini memilik kerja
bakteriostatis yang luas terhadap bakteri gram postif
dan gram negatif. Mekanisme kerjanya berdasarkan
pencegahan sintesis (dihidro)folat dalam bakteri
dengan cara antagonisme saingan denga PABA.
 Sediaan: Sulfacetamide.
Polimiksin
23

 Indikasi: konjungtivitis, blepharitis, keratitis


 Farmakodinamik: berikatan dengan membran
fosfolipid dan menghancurkannya
 Sediaan: polimiksin 3,5 mg tetes mata dengan
dexametashon 1mg
24
Vancomysin
25

 Indikasi: Endoftalmitis, selulitis preseptal, selulitis


orbita.
 Farmakodinamik: bekerja dengan cara menghambat
sintesis dinding sel bakteri gram positif.
 Sediaan: Vancomycin HCl 1 mg/ 5 mg
Klorampenikol
26

 Indikasi: Blepharitis, conjungtivitis, keratitis,


trachoma, ulcerative keratitis
 Farmakodinamik: berikatan dengan protein pada
ribosom.
 Sediaan: salep mata klorampenikol 3%
27

TERIMAKASIH