Anda di halaman 1dari 23

“PIL FAVORIT”

Blok Kesehatan Anak dan Remaja


SKENARIO
Seorang laki-laki berusia 17 tahun dating ke praktik
dokter bersama teman kosnya dengan perilaku agresif, cemas,
bicara dengan nada cepat dan keras serta tampak bingung.
Teman yang mengantarkan mengatakan bahwa pasien memiliki
nafsu makan yang kurang, sering tampak kelelahan, sulit tidur,
tangan gemetar. Di tempat praktik dokter, pasien sering meminta
“Pil Favoritnya”. Dari pemeriksaan dokter didapatkan tekanan
darah 100/60mmhg, frekuensi nadi 100x/menit, pernapasan
28x/menit, dan suhu 36,8 oC. Bagi pasien tersebut kebutuhan
utamanya pada saat itu tidak ada yang lain, selain mendapat “Pil
Favoritnya”. Kondisi seperti ini menurut teman pasien sudah
sering terjadi selama beberapa bulan sebelumnya.
Brain Storming
1. Mekanisme munculnya keluhan di scenario !
2. Apa saja factor yang mempengaruhi
penggunaan NAPZA ?
3. Sebutkan jenis-jenis NAPZA !
4. Pembagian lainnya NAPZA menurut efek bagi
tubuh !
5. Apa saja tingkat pemakaian NAPZA ?
6. Penerapan penggunaan NAPZA di bidang medis !
7. Interpretasi pemeriksaan fisik pada scenario !
1. Mekanisme munculnya keluhan di scenario !
2. Apa saja factor yang mempengaruhi
penggunaan NAPZA ?

Penyebab penyalahgunaan NAPZA sangat


kompleks Tidak terdapat adanya penyebab tunggal
(single cause) dalam hal penyalahgunaan napza.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya
penyalagunaan NAPZA adalah sebagian berikut :
a) Faktor individu,
b) faktor lingkungan dan
c) faktor tersedianya zat (NAPZA).
3. Sebutkan jenis-jenis NAPZA
narkotika dibagi menjadi 3 golongan,
yaitu :
NARKOTIKA
• Narkotika Golongan I : hanya
• Adalah zat atau obat
digunakan untuk ilmu pengetahuan
yang dapat
menyebabkan , tidak untuk terapi, potesi sangat
penurunan atau tinggi untuk menyebabkan
perubahan kesadaran ketergantungan (contohnya :
dan dapat heroin, kokain, ganja)
menyebabkan hilangnya • Narkotika golongan II : digunakan
rasa atau mengurangi untuk terapi pilihan terakhir dan
nyeri dan dapat IPTEK, berpotensi tinggi untuk
menimbulkan rasa menyebabkan ketergantungan
ketergantungan. (contohnya : morfin, petidin)
Berdasarkan Undang- • Narkotika golongan III : digunakan
Undang Narkotika No. untuk terapi dan IPTEK, berpotensi
22/1997, ringan untuk menyebabkan
ketergantungan (contohnya :
kodein).
Terdiri dari 4 golongan :
• Golongan I : Psikotropika yang hanya
dapat digunakan untuk tujuan ilmu
PSIKOTROPIKA pengetahuan dan tidak digunakan dalam
• Adalah zat atau obat terapi, serta mempunyai potensi kuat
yang berkhasiat mengakibatkan sindroma
psikoaktif ketergantungan. Contoh : Ekstasi. Zat
(menimbulkan psikotropika golongan I terdiri dari 26
perubahan khas pada macam
aktivitas mental dan • Golongan II : Psikotropika yang berkhasiat
prilaku) melalui pengobatan dan dapat digunakan dalan
pengaruh selektif pada terapi dan / atau untuk tujuan ilmu
susunan saraf pusat, zat pengetahuan serta mempunyai potensi
ini digunakan untuk kuat mengakibatkan sindroma
mengobati gangguan ketergantungan. Contoh :
jiwa yang peraturannya Amphetamine. Zat psikotropika golongan
terdapat didalam II terdiri dari 14 macam.
Undang-Undang
Republik Indonesia
Nomor 5 tahun 1997.
• Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat
pengobatan dan banyak digunakan dalam
terapi dan / atau untuk tujuan ilmu
pengetahuan serta mempunyai potensi sedang
mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh : Phenobarbital. . Zat psikotropika
golongan III terdiri dari 9 macam.
• Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat
pengobatan dan sangat luas digunakan dalam
terapi dan / atau untuk tujuan ilmu
pengetahuan serta mempunyai potensi ringan
mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh : Diazepam, Nitrazepam ( BK, DUM).
Zat psikotropika golongan IV terdiri dari 60
macam.
Alkohol
• Golongan A : kadar etanol 1 – 5
% ( Bir ).
• Golongan B : kadar etanol 5 – 20
% ( Berbagai minuman anggur )
ZAT ADIKTIF LAINNYA • Golongan C : kadar etanol 20 –
• Adalah zat atau obat 45 % ( Whisky, Vodca, Manson
House, Johny Walker ).
yang berpotensi
menimbulkan rasa Inhalasi ( gas yang dihirup ) dan solven (
zat pelarut ) mudah menguap berupa
ketergantungan. Yang senyawa organik, yang terdapat pada
termasuk Zat Adiktif berbagai barang keperluan rumah
lainnya adalah : bahan tangga, kantor, dan sebagai pelumas
mesin. Yang sering disalahgunakan
/ zat yang berpengaruh adalah :
psikoaktif diluar • Lem, Tiner,
Narkotika dan • Penghapus Cat Kuku,
• Bensin.
Psikotropika, meliputi :
Tembakau
• pemakaian tembakau yang
mengandung nikotin
4. Pembagian lainnya NAPZA menurut efek
bagi tubuh !

• Golongan depresan (depressant)


• Berfungsi menekan sistem saraf pusat dengan mengurangi aktifitas
fungsional tubuh. Contohnya : alkohol, barbiturat, opiate
• Golongan stimulan
• Berfungsi meningkatkan kerja sistem saraf pusat dengan membuat
tubuh lebih aktif, segar, dan besemangat. Contohnya : kafeiin,
nikotin, Amphetahamine, kokain.
• Golongan Halusinogen
• menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan dan
pikiran. Contohnya : ganja, LCD, berbagai jenis jamur kecubung.
5. Apa saja tingkat pemakaian NAPZA ?

1. Pemakaian coba-coba (experimental use),


2. Pemakaian sosial/rekreasi (social/recreational
use)
3. Pemakaian Situasional (situasional use)
4. Penyalahgunaan (abuse)
5. Ketergantungan (dependence use)
6. Penggunaan NAPZA dibidang
medis
1) Morfin : menghilangkan rasa nyeri hebat dan mengurangi
rasa tenang pasien yang dibius sebelum operasi.
2) Heroin : digunakan untuk mengurangi reflek batuk.
3) Barbiturate : digunakan untuk menghilangkan rasa cemas
sebelum operasi.
4) Amfetamin : digunakan untuk mengurangi depresi
disebabkan penghambatan system saraf pusat.
5) Metadon : digunakan sebagai analgetik bagi pension nyeri
untuk terapi kepada pengguna narkoba.
7. Interpretasi pemeriksaan fisik pada
scenario !

• Tekanan darah : 100/60 mmHg (Normal 120/60 mmHg)


• Frekuensi nadi : 100x/menit (Normal 60-100 kali/menit)
• Respirasi : 28x/menit (Normal 14-20 kali permenit dalam
keadaan istirahat)
• Suhu : 36,8 oC (36,5 – 37.0)
Rangkuman Permasalahan
Laki-laki berusia 17
tahun

Datang dengan keluhan


perilaku agresif, cemas, bicara
dengan nada cepat, dank eras
serta tampak bingung, napsu
makan kurang, sering tampak
kelelahan , sulit tidur, dan
tangan gemetar.

Pemeriksaan fisik :
Meminta pil favoritnya
 TD 100/60 mmHg agar diberikan karena
 Nadi 100 kali/menit merupakan kebutuhan
 Respirasi : 28 kali/menit utamanya
 Suhu 36,8 oC

Kondisinya sudah sering


terjadi selama beberapa
bulan sebelumnya.

Diagnosis Kasus
Keadaan putus zat
Learning Issues
8. Pengertian dari NAPZA !
9. Penggolongan NAPZA !
10.Dampak positif dan Negatif dari NAPZA !
11.Terapi medika mentosa dan non-medikamentosa
dan efeknya terhadap tubuh
12.Diagnosis banding pada scenario
13.KIE yang di berikan berdasarkan skenario
8. Pengertian dari NAPZA !

• NAPZA yang merupakan singkatan dari


Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat adiktif
lainnya adalah zat-zat kimiawi (obat-obat
berbahaya) yang mampu merubah fungsi mental
dan perilaku seseorang, yang dimasukkan
kedalam tubuh manusia, baik melalui mulut,
dihirup maupun disuntikkan.
9. Dampak positif dan Negatif dari NAPZA !
10. Diagnosis banding pada scenario
11. Terapi medikamentosa dan non-
medikamentosa dan efeknya terhadap tubuh
12. KIE yang di berikan untuk mencegah
penyalagunaan zat berdasarkan scenario
Kesimpulan
Dari hasil pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa
anak tersebut (17 tahun) mengalami ketergantungan zat
terlarang dan mulai muncul gejala putus zat. Hal ini dapat
dibuktikan dengan adanya gejala-gejala yang sesuai dengan
kriteria diagnostic DSM V (Diagnostic and Statistical of Mental
Disorders). Anak tersebut mengalami ketergantungan pada obat
sedative, hipnotik atau anticemas. Penggunaannya hanya untuk
keperluan ilmu pengetahuan dan digunakan untuk pengobatan.
Rehabilitasi merupakan salah satu penatalaksanaan yang
dilakukan dalam kasus-kasus ketergantungan zat terlarang.
Penurunan dosis secara perlahan dan adanya dukungan dari
keluarga serta terapi psikososial sangat berperan penting dalam
proses penyembuhan.
Referensi
1. Elvira, S. D. Hadisukanto, G. (2010). Buku Ajar Psikiatri FK UI. Badan Penerbit FK UI,
Jakarta.
2. Hawari, Dadang. (2012). Penyalahgunaan & Ketergantungan NAPZA, Edisi II. FK UI
(hlm : 37-64), Jakarta.
3. Kaplan, Sadock. (1997). Sinopsis Psikiatri, Edisi Ketujuh, Jilid 1. Bina rupa aksara,
Jakarta.
4. Kaplan, Sadock. (1997). Sinopsis Psikiatri, Edisi Ketujuh, Jilid 2. Bina rupa aksara,
Jakarta.
5. Maramis, Willy F. (2009). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Edisi II. Airlangga
University Press (hlm :369-383), Surabaya.
6. Maslim, Rusdi. (2013). Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas PPDGJ – III dan
DSM 5. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya (hlm : 34), Jakarta.
7. McKeow, N.J. (2010). Withdrawal Syndromes.
http://emedicine.medscape.com/article/819502-overview . Diakses pada 10 Maret
2015.
8. Sadock, Benjamin J. (2010). Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis, Edisi II. EGC
(hlm : 86-146), Jakarta.
9. Suryono siswanto. (2001). Penanggulangan bahaya Narkoba : Media informasi dan
edukasi penyalahgunaan Narkoba. Kemitraan Peduli Penanggulangan Bahaya
TERIMAKASIH 