Anda di halaman 1dari 16

SNAKE BITE

DEFINISI
Gigitan • Dapat disebabkan oleh gigitan
binatang
berbisa ular, laba-laba, kalajengking.

• Suatu zat/substansi yang


berfungsi untuk melumpuhkan
Bisa mangsa dan sekaligus juga
berperan dalam system
pertahanan diri
EPIDEMIOLOGI
Lebih sering terjadi
Sering terjadi di negara pada extrimitas
tropis dan subtropis Anak-anak dan dewasa muda
 puncak usia yang sering
digigit ular

Sering terjadi pada


petani, pekerja Waktu gigitan biasanya
perkebunan sering malam hari
PERBEDAAN ULAR BERBISA DAN TIDAK BERBISA
PERBEDAAN ULAR BERBISA DAN TIDAK BERBISA
Kandungan bisa ular
Neurotoksin Kardiotoksin
• Berakibat pada syaraf perifer • Merusak otot jantung
dan sentral

Haemotoksin Cytotoxin
• Berakibat hemolitik • Melepaskan histamine dan zat
vasoaktif lainnya yang berakibat
terganggunya kardiovaskular

Myotoksin Cytolitik
• Mengakibatkan rhabdomiolitis, • Menyebabkan peradangan
kerusakan sel-sel otot dan nekrose di jaringan
MANIFESTASI KLINIS
Nyeri dan bengkak pada area gigitan, dan dapat
menjalar ke proksimal

Pada kasus berat terdapat gejala sistemik seperti


mual, muntah, kelemahan otot, syok
KLASIFIKASI GIGITAN ULAR BERBISA
DERAJAT GEJALA DAN TANDA
1 (MINOR) Terdapat tanda bekas gigitan/taring, tidak ada edema, tidak nyeri, tidak
ada gejala sistemik, tidak ada koagulopati
2 (MODERATE) Terdapat tanda bekas gigitan/taring, edema lokal, tidak ada gejala
sistemik, tidak ada koagulopati
3 (SEVERE) Terdapat tanda bekas gigitan/taring, edema regional (2 segmen dari
extrimitas), nyeri tidak teratasi dengan analgesic, tidak ada gejala sistemik,
ada tanda koagulopati
4 (MAJOR) Terdapat tanda bekas gigitan/taring, edema yang luas dengan gejala
sistemik (muntah, sakit kepala, nyeri pada perut dan dada, syok),
thrombosis sistemik
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan darah rutin, GDS
Biasanya menunjukkan peningkatan jumlah
neutrophil, limfopenia, koagulopati dengan PT
dan PTT memanjang
Pada pemeriksaan urinalisis, dapat terjadi
proteinuria serta hematuria mikroskopik
PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Kadar Hb dan leukosit normal pada pasien, terkadang


terjadi trombositopenia
Kadar natrium, kalium, klorida, serta glukosa darah
masih dalam batas normal
TATALAKSANA
Memastikan ABCDE pasien dalam kondisi
aman

Wound toilet dan Imobilisasi pada ekstrimitas


yang terkena untuk mencegah penyebaran toksin

Pemantauan ketat terhadap tanda vital, atau adanya


perburukan gejala lokal dan sistemik
TATALAKSANA

Jalur intravena harus segera diaplikasikan pada


extrimitas yang tidak terkena gigitan

Segera dilakukan pemeriksaan laboratorium

Pasien diberikan suntikan toksoid tetanus dan


dipertimbangkan pemberian serum anti bisa ular
TATALAKSANA
Serum anti bisa ular (SABU)  derivat serum binatang,
tersering berasal dari serum kuda, berupa imunoglobulin
yang mengikat secara langsung dan menetralkan protein
dari bisa.

Produk hewan ini bila terpapar pada pasien dalam jumlah


besar dapat menyebabkan reaksi hipersensitifitas tipe
cepat dan tipe III.

Reaksi akut berupa reaksi anafilaktik dapat terjadi pada


20-25% pasien, bahkan dapat terjadi kematian karena
hipotensi dan bronkospasme.
TATALAKSANA
Reaksi tipe lambat dapat terjadi pada 50-75% pasien dengan
gejala serum sickness seperti demam, ruam yang difus,
urtikaria, artralgia, hematuria dan dapat bertahan dalam
beberapa hari.

Reaksi yang paling sering terjadi  urtikaria, namun efek


samping yang serius jarang terjadi. Pemberian anti bisa ular
harus dilakukan di rumah sakit yang tersedia alat-alat
resusitasi.

Penggunaan adrenalin, steroid dan antihistamin dapat


mengurangi reaksi yang terjadi akibat anti bisa antara 12,5-
30%.
TATALAKSANA
Jumlah penggunaan SABU tergantung dari beratnya
kasus, untuk kasus derajat minimal dapat diberikan 1-5
vial, sedangkan untuk derajat berat dapat diberikan lebih
dari 15 vial

Pemberian antibiotik dapat dilakukan karena dapat terjadi


infeksi pada tempat gigitan

Tindakan operasi dapat dilakukan apabila edema yang


semakin meluas dan terjadi sindroma kompartemen
TERIMA KASIH