Anda di halaman 1dari 21

JUVENILE DIABETES

Nama Anggota Kelompok :

1. AMANDA MELA SABRINA (1710011)


2. DWIKE FEBRIANIKMAH (1710027)
3. ELFANIA INDRIANI (1710029)
4. ERZA ARDIFA SYAFITRI (1710031)
5. EVIN DINDA LESTARI (1710033)
6. NIA RAHMAWATI (1710069)
PENGERTIAN DM
Menurut American Diabetes Association
(ADA) 2002, diabetes melitus merupakan
suatu kelompok penyakit metabolik
dengan karakteristik hiperglikemia yang
terjadi karena kelainan sekresi insulin,
kerja insulin atau kedua-duanya.
Hiperglikemia kronik pada diabetes
berhubungan dengan kerusakan jangka
panjang, disfungsi dan kegagalan
beberapa organ tubuh, terutama mata,
ginjal, syaraf, jantung dan pembuluh
darah.
KLASIFIKASI DIABETES
MELITUS
Menurut ADA (American Diabetes Association)
tahun 2002 diabetes melitus dibagi menjadi
 :
1. Diabetes Melitus Tipe 1
Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke
defisiensi insulin absolut, baik melalui
proses imunologik atau idiopatik.
2. Diabetes Melitus Tipe 2
Bervariasi mulai yang predominan resistensi
insulin disertai defisiensi insulin relatif
sampai yang predominan gangguan sekresi
insulin bersama resistensi insulin.
3. Diabetes Melitus Tipe Lain
a) Defek genetik fungsi sel beta
b) Defek genetik kerja insulin
c) Penyakit Eksokrin Pankreas
d) Endokrinopati
e) Karena Obat/Zat kimia

4.  Diabetes Melitus Gestasional (Kehamilan)


adalah diabetes yang timbul selama
kehamilan. Jenis ini sangat penting
diketahui karena dampaknya pada janin
kurang baik bila tidak ditangani dengan
benar.
ETIOLOGI
Etiologi DM tipe I adalah sebagai
berikut :
1.      Faktor genetic
2.      Faktor lingkungan
3.      Faktor imunologi
PATOFISIOLOGI
 Pankreas terletak melintang dibagian atas abdomen
dibelakang gaster didalam ruang retroperitoneal.
Disebelah kiri ekor pankreas mencapai hilus limpa diarah
kronio – dorsal dan bagian atas kiri kaput pankreas
dihubungkan dengan corpus pankreas oleh leher pankreas
yaitu bagian pankreas yang lebarnya biasanya tidak lebih
dari 4 cm, arteri dan vena mesentrika superior berada
dileher pankreas bagian kiri bawah kaput pankreas ini
disebut processus unsinatis pankreas.
 Kelenjar pankreas dalam mengatur metabolisme glukosa
dalam tubuh berupa hormon-hormon yang disekresikan
oleh sel – sel dipulau langerhans.  Hormon-hormon ini
dapat diklasifikasikan sebagai hormon yang merendahkan
kadar glukosa darah yaitu insulin dan hormon yang dapat
meningkatkan glukosa darah yaitu glukagon.
Pada DM tipe I terjadi suatu
gangguan katabolisme yang
disebabkan karena hampir tidak
terdapat insulin dalam sirkulasi,
glukagon plasma meningkat dan sel-
sel B pankreas gagal merespon
semua stimulus insulinogenik. Oleh
karena itu, diperlukan pemberian
insulin eksogen untuk memperbaiki
katabolisme, mencegah ketosis, dan
menurunkan hiperglukagonemia dan
peningkatan kadar glukosa darah.
MANIFESTASI KLINIS

Mayoritas penyandang DM tipe 1 menunjukan


gambaran klinik yang klasik seperti:
a) Hiperglikemia ( Kadar glukosa darah plasma
>200mg/dl
b) Poliuria
c) Polidipsia
d) Poliphagia
e) Penurunan berat badan , Malaise atau
kelemahan
f) Glikosuria (kehilangan glukosa dalam urine)
g) Ketonemia dan ketonuria
KOMPLIKASI
Komplikasi metabolik akut yang sering terjadi :
a. Hipoglikemia
b. Koma Diabetik

Komplikasi- komplikasi vaskular jangka panjang


(biasanya terjadi setelah tahun ke-5)
berupa :
c. Mikroangiopati : retinopati, nefropati,
neuropati. Nefropati diabetik dijumpai pada 1
diantara 3 penderita DM tipe-1.
d. Makroangiopati : gangren, infark miokardium,
dan angina.
Komplikasi lainnya (FKUI. Ilmu
Kesehatan Anak. 1988 ) :
1. Gangguan pertumbuhan dan
pubertas
2. Katarak
3. Arteriosklerosis (sesudah 10-15
tahun)
4. Hepatomegali
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa
2. Aseton plasma (keton) : positif secara mencolok
3. Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol
meningkat
4. Osmolalitas serum : meningkat tetapi biasanya
kurang dari 330 mOsm/l
5. Elektrolit
6. Gas Darah Arteri
7. Trombosit darah
8. Ureum / kreatinin
9. Insulin darah
10. Pemeriksaan fungsi tiroid
PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan DM tipe 1
menurut Sperling dibagi dalam 3
fase yaitu :
1. Fase akut/ketoasidosis
2. Fase subakut/ transisi
3. Fase pemeliharaan
ASUHAN KEPERAWATAN
A.    PENGKAJIAN
1. Identitas.
2. Riwayat Keperawatan

B. Pemeriksaan fisik
1. Aktivitas / istrahat.
2. Sirkulasi
3. Pernapasan
4. Neurosensori
5. Nyeri / Kenyamanan
6. Keamanan
7. Eliminasi
8. Integritas Ego
9. Makanan / Cairan
10. Psikososial
C.Pemeriksaan Diagnostik
Glukosa darah : meningkat 100 –
200 mg/dl atau lebih.
Aseton plasma : positif secara
menyolok.
 Asam lemak bebas : kadar lipid dan
kolesterol meningkat.
Osmolaritas serum : meningkat
tetapi biasanya kurang dari 330 m
osm/l.
D. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Defisit volume cairan berhubungan
dengan diuresis meningkat,
hiperglikemia, diare, muntah,
poliuria, evaporasi.
2. Kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan adanya luka
( trauma ).
3. Nyeri berhubungan dengan adanya
ulcus (luka diabetes mellitus).
PERENCANAAN

1.Defisit volume cairan berhubungan dengan diuresis meningkat,


hiperglikemia, diare, muntah, poliuria, evaporasi.
Tujuan: kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi
Kriteria Hasil :
Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh tanda vital
stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler
baik, haluaran urin tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam
batas normal.
Intervensi :
Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik
Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul
Kaji frekuensi dan kualitas pernafasan, penggunaan otot bantu nafas
 Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran
mukosa
Pantau masukan dan pengeluaran
 Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari
dalam batas yang dapat ditoleransi jantung
2.Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
adanya luka ( trauma )
Tujuan: gangguan integritas kulit dapat berkurang
atau menunjukkan    penyembuhan.
Kriteria Hasil :
Kondisi luka menunjukkan adanya perbaikan
jaringan dan tidak terinfeksi
Intervensi :
◦ Kaji luka, adanya epitelisasi, perubahan warna, edema,
dan discharge, frekuensi ganti balut.
◦ Kaji tanda vital
◦ Kaji adanya nyeri
◦ Lakukan perawatan luka
◦ Kolaborasi pemberian insulin dan medikasi.
◦ Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
3. Nyeri berhubungan dengan adanya ulcus (luka
diabetes mellitus)
Tujuan          
Klien akan menunjukkan nyeri berkurang /
teratasi
Kriteria  hasil :
Klien tidak mengeluh nyeri
Ekspresi wajah ceria
Intervensi :
◦ Kaji tingkat nyeri
◦ Observasi tanda-tanda vital
◦ Ajarkan klien tekhnik relaksasi
◦ Ajarkan klien tekhnik Gate Control
◦ Pemberian analgetik
IMPLEMENTASI

Merupakan tahap dimana


rencana keperawatan
dilaksanakan sesuai dengan
intervensi. Tujuan dari
implementasi adalah membantu
klien dalam mencapai
peningkatan kesehatan baik yang
dilakukan secara mandiri maupun
kolaborasi dan rujukan.
EVALUASI

1. Kondisi tubuh stabil, tanda-tanda


vital, turgor kulit, normal.
2. Berat badan dapat meningkat
dengan nilai laboratorium normal
dan tidak ada tanda-tanda
malnutrisi.
3. Infeksi tidak terjadi.
4. Rasa lelah berkurang/Penurunan
rasa lelah.