Anda di halaman 1dari 58

KEBIJAKAN DIVIDEN

Ilustrasi Kasus
Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan hunian kelas menengah ke
atas bernama PT ISTANA GRAHA pada tahun x1 membayarkan dividen kas kepada para
pemegang sahamnya sebesar Rp 500 per lembar saham. Pada tahun berikutnya yaitu x2,
perusahaan berhasil memperoleh keuntungan dengan kenaikan yang cukup signifikan yaitu
hampir 175% lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Atas dasar keuntungan yang sangat tinggi
yang diperolehnya, pada tahun tersebut perusahaan membayarkan dividen kasnya sebesar
Rp 1.200 per lembar saham, suatu kenaikan dividen sebesar 140% dibanding tahun
sebelumnya. Pada tahun x3, keuntungan perusahaan turun 80% dibanding tahun
sebelumnya. Penurunan keuntungan tersebut membawa konsekuensi kepada penurunan
pembayaran dividen perusahaan. Pada tahun x3 tersebut perusahaan hanya mampu
membayar dividen kasnya per lembar saham sebesar Rp 800 per lembar saham, yaitu turun
kurang lebih 33% dari dividen tahun sebelumnya. Setelah perusahaan mengumumkan
besarnya dividen pada tahun x3, ternyata pasar mereaksi negatif sebagaimana yang
ditunjukkan oleh penurunan harga saham perusahaan menyusul pengumuman dividen dari
perusahaan. Penurunan harga saham juga berarti penurunan nilai perusahaan.
PENGERTIAN DAN JENIS-JENIS DIVIDEN

Dividen
Bagian dari keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam
periode tertentu yang dibagikan kepada pemilik (pemegang
saham).
JENIS-JENIS DIVIDEN
• Dividen yang dibayarkan • Dividen yang dibagikan
dalam bentuk kas (tunai) kepada para pemegang
dan biasanya dibayarkan saham bukan berupa kas
melalui transfer ke masing- melainkan dalam bentuk
masing rekening pemegang lembar saham.
saham.

Dividen Kas Dividen Saham

• Dividen yang dibagikan dalam


bentuk properti atau asset
nonkas.

Dividen Properti
DIVIDEN KAS
Dividen per lembar saham ditentukan sebagai berikut:
CONTOH
DIVIDEN SAHAM
Dividen saham merupakan alternatif dari dividen kas.
Contoh:
Sebelumnya perusahaan akan membagikan dividen sebesar Rp 600 juta, sedangkan
harga pasar yang berlaku atas saham perusahaan tersebut Rp 1.000 per lembar.
Dengan demikian, jumlah lembar saham yang akan dibagikan sebagai dividen sama
dengan 600 ribu lembar yaitu Rp 600 juta dibagi Rp 1.000. Jumlah lembar dividen
saham yang akan diterima oleh per lembar saham yang beredar ditentukan
sebagai berikut.
Jumlah dividen saham yang akan diterima oleh setiap lembar saham yang beredar
adalah:
DAMPAK DIVIDEN SAHAM TERHADAP KEPEMILIKAN
DAMPAK DIVIDEN SAHAM TERHADAP DILUSI SAHAM
Dilusi saham adalah turunnya harga saham sebagai akibat bertambahnya jumlah
saham yang beredar, sementara nilai perusahaan secara keseluruhan tidak bertambah.
Contoh:
Harga pasar saham perusahaan pada contoh sebelumnya Rp 1.000 per lembar.
Dengan saham beredar sebelumnya 10 juta lembar maka secara keseluruhan nilai
pasar dari saham perusahaan tersebut adalah 10 juta x Rp 1.000 sama dengan Rp 10
milyar. Setelah pembagian dividen saham, jumlah saham beredar menjadi 10,1 juta
lembar, sehingga nilai pasar per lembar saham menjadi Rp 10 milyar dibagi 10,1 juta
lembar sama dengan Rp 990,1 per lebar. Dengan demikian terjadi dilusi saham
sebesar Rp 9,9 per lembar. Namun demikian nilai pasar saham perusahaan tersebut
secara keseluruhan tidak berubah yaitu Rp 10 milyar.
ALASAN PEMBAGIAN DIVIDEN SAHAM
a. Tidak tersedia cukup kas di perusahaan untuk membagikan dividen dalam
bentuk kas,
b. Harga pasar saham perusahaan yang berlaku dinilai terlalu tinggi sehingga
mengurangi likuiditas saham yang bersangkutan,
c. Untuk menghindari pajak seandainya dividen dibagikan dalam bentuk kas.
penerimaan dividen saham tidak dikenakan pajak,
d. Ada kalanya pihak otoritas bursa efek mengeluarkan aturan tentang jumlah
minimal lembar saham beredar yang harus dipenuhi oleh perusahaan yang
mencatatkan dirinya sebagai perusahaan go-public,
e. Dividen saham bisa memberikan sinyal positif kepada investor tentang prospek
perusahaan ke depan.
DIVIDEN PROPERTI
Pembagian dividen dalam bentuk asset non kas ini memiliki alasan
yang kurang lebih sama dengan alasan pembagian dividen dalam
bentuk saham.
Jumlah atau nilai asset yang akan dibagikan sebagai dividen
ditentukan dengan cara yang sama seperti dividen saham, yaitu
jumlah dividen yang akan dibagikan dibagi dengan harga pasar
per unit asset yang akan dibagikan.
Dilihat dari sudut pandang pola pembagiannya, dividen bisa
digolongkan ke dalam dua jenis yaitu:

Dividen yang dibagikan secara periodik


kepada pemegang saham dan biasanya
Dividen Reguler dalam bentuk dividen kas.

Jenis dividen yang dibagikan secara


Dividen Ekstra insidental atau pada periode-periode
tertentu saja.
PROSEDUR PEMBAGIAN DIVIDEN
Ilustrasi visualisasi prosedur pembagian dividen dengan menggunakan contoh
tanggal peristiwa.
1. Tanggal Pengumuman (Declaration
Date)
2. Tanggal Pencatatan (Record Date)
• Cum-dividend
• Ex-dividend
3. Tanggal Pembayaran (Payment Date)
TANGGAL PENCATATAN
Ex-dividend merupakan batas waktu atau tanggal, biasanya ditetapkan 3 hari
sebelum tanggal pencatatan. Tanggal ex-dividend pada Gambar 8.1dimisalkan
ditetapkan pada tanggal 28 Mei. Dalam hal ini yang akan dicatat sebagai calon
penerima dividen adalah pemegang saham baru.
Harga saham yang harus dibayar oleh pemegang saham baru sebagai pembeli
adalah termasuk nilai dividen yang akan diterima atau disebut cum-dividend.
Misalkan:
Harga yang disepakati Rp 500 per lembar dan dividen yang diumumkan untuk
dibagikan sebesar Rp 50 per lembar saham, maka harga yang harus dibayarkan
oleh pembeli Rp 550 per lembar saham.
PENGERTIAN DAN PENTINGNYA KEBIJAKAN
DIVIDEN
Kebijakan dividen adalah penetapan berapa besarnya dividen atau bagian
keuntungan yang akan dibagikan sebagai dividen dan berapa yang sebaiknya
ditahan di perusahaan untuk memenuhi kebutuhan dana oleh perusahaan, serta
bagaimana pola pendistribusiannya.

Pola pembagian (pendistribusian)


dividen

Penetapan jenis dividen yang Apakah perusahaan menganut


dipilih (kas, saham, atau asset non kebijakan dividen stabil atau sebaliknya.
kas)
JENIS UKURAN DIVIDEN
Besar kecilnya nilai dividen dilihat dari
beberapa ukuran. Jenis ukuran dividen sangat
pernting artinya karena mereka berfungsi
sebagai indikator kebijakan dividen.

Dividend per Share (Dividen per Lembar


Saham)

Jenis ukuran Dividend Payout Ratio (Rasio Pembagian


dividen Dividen)

Dividend Yield (Tingkat Pendapatan


Dividen)
DIVIDEND PER SHARE (DIVIDEN PER LEMBAR SAHAM)
 ukuran besar kecilnya nilai dividen yang ditentukan untuk per lembar saham.
Contoh:
penentuan besarnya dividen per lembar saham sudah diberikan sebelumnya pada
pembahasan jenis dividen kas. Pada contoh tersebut diketahui dividen per lembar
saham dari perusahaan yang bersangkutan adalah Rp 60. Angka ini berasal dari
jumlah dividen yang akan dibagikan yaitu Rp 600 juta dibagi dengan jumlah saham
yang beredar yaitu 10 juta lembar. Dividen per lembar saham ini mencerminkan
besar kecilnya pendapatan dalam rupiah yang diperoleh oleh setiap lembar saham.
DIVIDEND PAYOUT RATIO (RASIO PEMBAGIAN DIVIDEN)
DIVIDEND YIELD (TINGKAT PENDAPATAN DIVIDEN)
JENIS KEBIJAKAN DIVIDEN

Variasi Kebijakan
Dividen

Kebijakan Kebijakan
Inisiasi Dividen Dividen Reguler
KEBIJAKAN INISIASI DIVIDEN
 kebijakan terkait dengan pembayaran dividen pertama sejak perusahaan berstatus
sebagai perusahaan go-public.
Amerika, Indonesia,
setelah initial setelah go-
public public
offering

Pembayaran
Dividen
Pertama

 Dividen pertama merupakan titik permulaan (starting point) bagi pembayaran


dividen reguler pada periode-periode selanjutnya.
KEBIJAKAN DIVIDEN REGULER
 Dividen pokok atau dividen utama yang dibayarkan secara reguler atau secara
periodik.
 Kebijakan yang terkait dengan penetapan besaran dan pola pendistribusian
dividen reguler.

Kebijakan Dividen Reguler


Kebijakan dividen Kebijakan dividen
stabil residual
A. KEBIJAKAN DIVIDEN STABIL

Jenis kebijakan yang berupaya menjaga


stabilitas pembayaran dividen dari
periode ke periode atau berupaya untuk
menghindari dividen yang fluktuatif.

Stabilitas dividen bisa bermakna:


 stabilitas dividen per lembar saham (dividend per share),
 stabilitas dividend payout ratio,
 stabilitas dividend yield.
Ilustrasi
Sebuah perusahaan memutuskan untuk membayarkan dividen per lembar saham
secara stabil senilai Rp 60 per lembar. Di sisi lain harga saham dan keuntungan
perusahaan selama lima tahun terakhir bervariasi.
Dampak Stabilitas Dividen Per Lembar Saham
Keterangan Periode Pembayaran Dividen
1 2 3 4 5
Harga saham per lembar (Rp) 1.000 1.100 1.000 1.200 1.250
Keuntungan (Rp milyar) 1 1,2 0,9 1 1,3
Dividen per share (Rp) 60 60 60 60 60
Dividend payout ratio 60%*) 50% 67% 60% 46%
Dividend yield 6% 5,5% 6% 5% 4,8%

Jumlah saham beredar 10 juta lembar

*) (10 juta x Rp 60)/ 1 milyar


INTERPRETASI TERHADAP UKURAN STABILITAS DIVIDEN
Stabilitas dividen pada masing-masing ukuran (indikator) memiliki makna yang berbeda
satu sama lain terutama bagi investor sehingga bisa menjadi bahan pertimbangan bagi
pengambilan keputusan investasinya, yaitu:
1. Stabilitas dividend per share mencerminkan stabilitas jumlah rupiah dividen yang
diperoleh per lembar saham. Kebijakan stabilitas ini mengisyaratkan adanya
kepastian dalam hal pendapatan rupiah yang bisa diperoleh setiap lembar saham.
2. Stabilitas dividend payout ratio mencerminkan stabilitas atas persentase atau porsi
dari keuntungan yang disediakan sebagai dividen. Jenis kebijakan stabilitas ini
cenderung menghasilkan fluktuasi jumlah dividen yang proporsional terhadap
perubahan keuntungan yang diperoleh perusahaan dari periode ke periode.
3. Stabilitas dividend yield mencerminkan stabilitas jumlah dividen yang dibagikan
relatif terhadap harga saham yang berlaku. Jenis stabilitas ini mengisyaratkan
adanya kepastian tentang tingkat pendapatan investasi (rate of return).
PENGHALUSAN ALIRAN DIVIDEN (DIVIDEND SMOOTHING)

Tujuannya:
Menghindari fluktuasi aliran dividen dan yang lebih penting lagi adalah
menghindari kemungkinan terjadinya penurunan dividen di masa yang akan
datang.
Salah satu studi awal yang membuktikan preferensi para manajer
perusahaan terhadap stabilitas dividen adalah yang dilakukan John Lintner
pada tahun 1956.
Penentuan kebijakan dividen menggunakan persamaan model Lintner:

ΔD = a + β(DT – Dt-1)
Contoh:
Sebuah perusahaan memiliki kebijakan dividend Rp 300 per lembar saham
dan memperoleh EPS sebesar Rp 1000 pada periode berjalan. Dengan
konstanta sebesar 60 dan koefisien penyesuaian atau beta misalnya
sebesar 0,33, maka kenaikan dividen periode berjalan (ΔD) sebagai
berikut:
ΔD = 15 + 0,33 {(0,5 x 1.000) – 300}
= 81
Ilustrasi lebih lengkap:
Sebuah perusahaan memiliki kebijakan stabilitas dividend payout ratio sebesar 70%.
Di samping itu, perusahaan juga berusaha menjaga stabilitas dividen per lembar
saham dari periode ke periode untuk menghindari penurunan dividen dalam periode
tertentu.
Tabel Penghalusan Aliran Dividen
Keterangan Periode Pembayaran dividen
1 2 3 4 5
Keuntungan (Rp milyar) 100 190 110 120 115
Dividend payout rasio 70% 70% 70% 70% 70%
Keuntungan disediakan untuk dividen (Rp milyar) 70*) 133 77 84 80,5
Jumlah lembar saham beredar 10 jt 10 jt 10 jt 10 jt 10 jt
Dividen kas reguler per lembar saham dengan tanpa 7.000 13.300 7.700 8.400 8.050
penghalusan (Rp)
Dividen kas reguler per lembar saham dengan penghalusan (Rp) 7.000 7.500 7.700 8.000 8.050

Sisa dividen belum terbagi via dividen kas reguler (Rp milyar) - 58**) - 4 -

*)(100 milyar x 70%)

**){133 milyar – (10 juta x Rp 7.500)}


B. KEBIJAKAN DIVIDEN RESIDUAL

Besar kecilnya dividen yang akan dibagikan


bergantung kepada ketersediaan dana yang
berasal dari keuntungan setelah digunakan untuk
mencukupi atau memenuhi kebutuhan perusahaan

Berdasar pada teori “Pecking Order Theory”


Dalam praktik seringkali perusahaan menempuh jenis kebijakan ini terlebih jika
perusahaan dalam pase pertumbuhan. Jika perusahaan menerapkan jenis kebijakan ini
maka nilai dividen menjadi tidak pasti pada setiap periode.
FAKTOR-FAKTOR LAIN YANG MEMPENGARUHI DIVIDEN

Dalam praktik ada beberapa faktor lainnya yang juga menjadi pertimbangan oleh
manajemen dalam menentukan kebijakan dividennya. Di antaranya sebagai berikut:
 Likuiditas Perusahaan
 Kebutuhan Dana
 Kontrol terhadap Perusahaan
 Biaya Modal atas Sumber Dana Eksternal
 Target Struktur Modal
 Perjanjian Kredit
LIKUIDITAS PERUSAHAAN

Tinggi, mampu membayar


dividen kas yang lebih besar

Rendah, tidak mampu membayar


dividen kas yang lebih besar

Pembayaran dividen membutuhkan ketersediaan asset likuid seperti kas dan asset
lancar lainnya setara kas seperti surat berharga, sebagai alat untuk membayar
dividen.
Ilustrasi:
PT XX memutuskan dividend payout ratio periode berjalan sebesar 40%.
Keuntungan perusahan pada periode tersebut Rp 100. Dengan demikian
dividen yang akan dibagikan sebesar Rp 40.
Neraca PT XX sebelum pembagian dividen:

Neraca PT XX setelah pembayaran dividen sebesar Rp 40:


KEBUTUHAN DANA

Penggunaan dana keuntungan untuk membiayai proyek-proyek investasi


sebagaimana dijelaskan, bersifat rasional jika tingkat pengembalian (return
on investment) atas proyek investasi tersebut lebih besar dari biaya modal
atas dana yang berasal dari laba ditahan (cost of retained earning).
KONTROL TERHADAP PERUSAHAAN
Kebutuhan dana
dipenuhi melalui
sumber eksternal

Kebutuhan dana
dipenuhi melalui
sumber internal

Jika perusahaan mendahulukan penggunaan keuntungan untuk pemenuhan


kebutuhan dana dengan alasan menghindari tersebarnya kontrol perusahaan
kepada pemegang saham baru, maka semakin kecil dividen yang bisa
dibagikan, dan sebaliknya.
BIAYA MODAL ATAS SUMBER DANA EKSTERNAL
Sumber
Biaya modal atas Dana
Eksternal
pemanfaatan sumber Sumber
dana internal dan
Dana Biaya
Internal
Modal
eksternal menentukan
pilihan alternatif
pendanaan.

Penggunaan dana internal


lebih menguntungkan
TARGET STRUKTUR MODAL
Struktur modal
Komposisi pendanaan perusahaan dari unsur utang dan ekuitas yang ditunjukkan
oleh rasio utang (debt ratio).

Target struktur modal merupakan rasio struktur modal (rasio utang)


yang menjadi acuan perusahaan atau sebagai rasio struktur modal
maksimal perusahaan.
Contoh:
Jika perusahaan menetapkan bahwa target struktur modalnya adalah 40%, maka
berapapun perusahaan menggunakan sumber dana eksternal baik dari utang
maupun ekuitas dalam rangka pemenuhan kebutuhan dana tidak boleh melampaui
rasio struktur modal target 40%.
Ilustrasi:
PT ABC menetapkan target rasio utang (debt ratio) sebesar 50%.
Posisi neraca periode berjalan dari PT. ABC
Misalkan jumlah dividen yang bisa dibagikan sama dengan x, maka
80/ (200 – x) = 50%
80/ (200 – x) = 50 / 100
80 (100) = 50 (200 – x)
8.000 = 10.000 x 50x
50 x = 2.000
X = 40
Dengan asumsi dividen yang dibagikan sebesar Rp 40 maka neraca PT ABC setelah pembagian
dividen menjadi sebagai berikut.
PERJANJIAN KREDIT

Perjanjian kredit dibuat terutama untuk melindungi kepentingan pihak


kreditur terhadap dana yang dipinjamkan ke perusahaan.
Contoh: Pembatasan terhadap dividend payout ratio maksimal misalnya 60%.
Artinya bagian keuntungan yang bisa disediakan sebagai dividen maksimal
berjumlah 60% dari total keuntungan yang diperoleh.
PEMBELIAN KEMBALI SAHAM PERUSAHAAN
SEBAGAI ALTERNATIF DARI DIVIDEN

Tujuan:
Untuk memberikan pendapatan kepada para pemegang saham
perusahaan.
Pendapatan (return) yang diperoleh pemegang saham atas invetasinya ke dalam
saham perusahaan:
o Pendapatan dividen
o Pendapatan dari selisih harga beli dengan harga jual (harga yang berlaku) atau
disebut capital gain
Contoh:
PT ABC pada tahun berjalan memperoleh laba yg tersedia bagi pemegang saham biasa sebesar Rp
4,4 milyar. Laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa (earning available for common
stockholders) merupakan keuntungan yang diperoleh perusahaan setelah dikurangi dengan dividen
saham preferen (jika ada). Dari jumlah tersebut seanyak 50% atau Rp 2,2 milyar diputuskan untuk
didistribusikan kepada pemegang saham melalui program pembelian kembali saham perusahaan.
Saham yang beredar saat ini sebanyak 110 juta lembar. Harga pasar yang berlaku saat ini atas
saham perusahaan Rp 200 per lembar. Dengan dana yang disediakan sebesar Rp 2,2 milyar,
perusahaan diharapkan mampu membeli kembali sebanyak 10 jt lembar dg harga beli di atas
harga pasar yang berlaku yaitu Rp 220 per lembar. Dengan demikian jumlah lembar saham yang
beredar setelah pembelian kembali saham menjadi 100 juta lembar.
Berdasarkan data tersebut, berapa pendapatan dalam bentuk capital gain yang bisa diperoleh oleh
pemegang saham. Benarkah capital gain yang diperoleh bisa menggantikan pendapatan dividen?
ALASAN PEMBELIAN KEMBALI SAHAM SEBAGAI
ALTERNATIF PEMBAGIAN DIVIDEN
Beberapa alasan yang mendorong manajemen melakukan pembagian keuntungan dalam
bentuk pembelian kembali saham antara lain:
a. Untuk menjaga stabilitas aliran dividen kas per lembar saham. Upaya ini disebut dividend
smoothing (periksa kembali pembahasan sebelumnya), yaitu langkah yang ditempuh oleh
manajemen untuk menghindari adanya dividen kas per lembar saham yang berlebihan
dalam periode tertentu yang bisa memicu terjadinya penurunan dividen per lembar
saham pada periode berikutnya.
b. Untuk memberikan pesan positif (positive signal) kepada investor (pasar) tentang prospek
perusahaan.
c. Saham yang berhasil dibeli kembali disebut sebagai saham perbendaharaan (treasury
stocks).
d. Ada kalanya pajak atas pendapatan dividen lebih tinggi daripada pajak atas capital
gain.
KETERBATASAN PEMBELIAN KEMBALI SAHAM
Beberapa keterbatasan pembagian keuntungan dalam bentuk pembelian kembali saham di
antaranya adalah:
a. Tidak semua pemegang saham menyukai pembelian kembali saham. Sebaliknya mereka
lebih menyukai dividen kas.
b. Pembelian kembali saham merupakan alternatif pembagian keuntungan yang
memberikan pendapatan kepada pemegang saham dalam bentuk capital gain. Namun
demikian, capital gain lebih bersifat tidak pasti karena realisasinya bergantung kepada
kenaikan harga yang diharapkan ke depan. Sedangkan, dividen kas lebih bersifat pasti
begitu diumumkan oleh perusahaan.
c. Ada kalanya pihak otoritas mengeluarkan peraturan yang membatasi pembelian
kembali saham sebagai alternatif pembagian keuntungan kepada pemegang saham.
TEORI DIVIDEN
Perkembangan teori
dividen

Dividen tidak Dividen berpengaruh


berpengaruh terhadap terhadap nilai
nilai perusahaan perusahaan

The irrelevance of dividend-proposition The relevance of dividend-proposition


oleh oleh
Merton Miller & Franco Modigliani Benjamin Graham & David Dodd
(1961) (1951) dan Myron Gordon (1959)
PROPOSISI IRRELEVANSI DIVIDEN

Merton Miller dan Franco Modigliani (1961)


menulis sebuah paper berjudul “Dividend
policy, Growth, and the Valuation of Shares.”

Argumen utama yang dianggap cukup kontroversial dikemukakan dalam paper


tersebut sangat dikenal dengan “M&M Dividend Irrelevance Proposition”.
Argumen ini didasarkan pada asumsi utama yaitu pasar bersifat sempurna atau
efisien, yang ditandai oleh unsur-unsurnya antara lain:
(1)symmetric information,
(2)zero transaction and floatation cost, dan
(3)zero tax
PROPOSISI RELEVANSI DIVIDEN
Dalam realita pasar, informasi yang relevan dengan perusahaan adalah tidak tersebar
merata (asimetris) di antara manajemen dan investor sebagai pelaku pasar, dan
diperlukan biaya untuk memperoleh informasi tersebut.

investor tidak lagi


indifferent

menerima
dividen Menerima
capital gain
1. BIRD IN THE HAND THEORY
Sebuah model yang pertama kali memandang bahwa dividen memiliki
relevansi terhadap nilai perusahaan adalah yang dikemukakan oleh Myron
Gordon pada tahun 1959 lewat artikel yang ditulisnya berjudul Dividend,
Earnings, and Stock Prices

 membandingkan pendapatan dividen dengan pendapatan dalam bentuk


capital gain dari aspek risiko.
Model valuasi dari Gordon
(Investor akan men-discount aliran dividen yang diharapkan di masa yang akan datang
dengan discount rate yang lebih rendah dibanding discount rate yang diterapkan pada
capital gain).
D
𝑃=
k−g
Contoh:
Sebuah perusahaan membayarkan dividen periode berjalan Rp 100 per lembar saham.
Tingkat pendapatan yang diharapkan oleh investor dari investasinya ke dalam saham
perusahaan sebesar 10%. Di samping itu, rata-rata tingkat kenaikan (pertumbuhan)
dividen yang dibayarkan perusahaan tersebut per periode 2%.
2. TAX-DIFFERENTIAL THEORY
Teori yang pertama kali dikemukakan oleh Litzenberger & Ramaswamy (,,,,)
menghadirkan faktor pengaruh pajak (tax effect) yaitu:
pajak atas dividen dan pajak atas capital gain terhadap hubungan antara dividen
dengan harga saham.

Dividen berpengaruh
negatif terhadap harga
saham (nilai perusahaan).

Dividen berpengaruh
positif terhadap harga
saham (nilai perusahaan).
3. SIGNALING THEORY
Dikembangkan oleh (Miller & Modigliani (1961), Bhattacharya (1979), John & Williams
(1985), dan Miller & Rock (1985) berdasarkan asumsi assymmetric information.

Pengumuman
Dividen

Indikasi tentang
prospek kinerja
perusahaan ke depan.
4. AGENCY THEORY
Dikembangkan oleh Michael Jehnsen & Williams Meckling (1976) yang membahas
tentang hubungan antara manajer (agent) dengan pemilik perusahaan (principal)
dan permasalahan yang timbul di dalamnya.

 Biaya keagenan mencakup seluruh biaya atau beban baik riil maupun non riil
yang ditanggung dalam rangka upaya pengawasan dan pengendalian atau
monitoring terhadap manajemen.

Semakin tinggi dividen yang dibagikan semakin tinggi


dampak pengawasan yang ditimbulkan terutama oleh
pihak eksternal terhadap perilaku manajemen.
Contoh:
 Biaya auditing oleh pihak independen.
 Biaya penyelenggaraan sistem pengendalian internal termasuk sistem akuntansi.
 Biaya pembentukan dan biaya gaji para anggota dewan pengawas atau dewan
komisaris perusahaan.
 Kerugian yang ditanggung perusahaan sebagai akibat dari tindakan atau
kebijakan yang tidak produktif dari manajemen.
 Pembatasan-pembatasan yang ditetapkan di dalam perjanjian utang, seperti
pembatasan terhadap pembagian dividen kepada pemegang saham.
 Penetapan struktur insentif/ kompensasi bagi manajemen, dan sejenisnya.
(Easterbrook, 1984).

Dalam konteks teori keagenan, dividen dianggap bisa berperan sebagai


sarana monitoring di dalam rangka menyelaraskan kepentingan manajer dan pemilik perusahaan,
sehigga bisa menekan pengeluaran biaya keagenan.

Spremann & Gantenbein (2001) menyimpulkan tentang kontribusi dari dividen dalam menekan
biaya keagenan, sebagai berikut:
1) Memberikan tekanan kepada manajemen untuk senantiasa menghasilkan cash flow agar
mampu membayar dividen.
2) Memberikan tekanan kepada manajemen untuk mengupayakan dana eksternal guna
membiayai proyek investasi yang direncanakan.
3) Mengurangi jumlah free cash flow (dana menganggur) di perusahaan.
KEBIJAKAN DIVIDEN DAN KEBIJAKAN
PENDANAAN
Kebijakan dividen bukan merupakan kebijakan manajemen keuangan yang berdiri
sendiri, melainkan terkait erat dengan kebijakan manajemen keuangan lainnya
terutama kebijakan pendanaan.
Keuntungan dikategorikan sebagai sumber dana internal dari kelompok ekuitas. Ada
dua penjelasan teoritik yang memperkuat sinyal elemen bahwa kebijakan dividen
merupakan bagian dari kebijakan pendanaan.
 Berdasarkan “pecking order theory,” salah satu teori struktur modal (pendanaan).
 Berdasarkan kebijakan dividen residual.