Anda di halaman 1dari 27

DETEKSI DINI DAN TATA LAKSANA

SUICIDE DI RUMAH SAKIT

Abdullah Sahab
Psikiater
Pendahuluan
Bunuh Diri :

•Merupakan kematian yang ditimbulkan oleh diri sendiri dan disengaja


•Jalan keluar dari masalah atau krisis yang hampir selalu menyebabkan
penderitaan yang kuat
•Tragedi yang mempengaruhi keluarga, masyarakat, dan juga negara dan
memiliki efek jangka panjang pada orang-orang yang ditinggalkan

• Tindakan bunuh diri adalah salah satu kondisi kedaruratan


psikiatrik sehingga diperlukan keterampilan dalam assesment dan
teknik evaluasi untuk membuat diagnosis kerja sebagai bagian
dari pelayanan kedaruratan medik yang terintegrasi
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi :
 Bunuh diri merupakan kematian yang ditimbulkan oleh diri
sendiri dan disengaja dimana bukan tindakan yang acak dan
tidak bertujuan.
 Jalan keluar dari masalah atau krisis yang hampir selalu
menyebabkan penderitaan yang kuat
 Perbuatan memusnahkan diri karena enggan berhadapan
dengan suatu perkara yang dianggap tidak dapat ditangani.
 Bunuh diri merupakan tindakan agresif yang merusak integritas
diri atau mengakhiri kehidupan, dimana keadaan ini didahului
oleh respon maladaptif dan kemungkinan keputusan terakhir
individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi
 Ada perbedaan antara bunuh diri yang asli
(genuine suicide) dengan bunuh diri yang
dimanipulasi (manipulative suicide).
 Bunuh diri asli adalah dilakukan oleh orang yang
benar-benar ingin mati dan tindakan yang
dilakukan untuk merealisasikan bunuh dirinya
tersebut, dilakukan tanpa perhitungan yang
salah (miscalculation).
 Bunuh diri yang dimanipulasi tidak sungguh-
sungguh ingin membunuh dirinya, tindakan
mereka (bunuh diri) adalah percobaan yang
terkontrol, yang dilakukan untuk memanipulasi
orang lain
Epidemiologi
 Setiap tahun lebih dari 30.000 orang mati karena bunuh
diri di Amerika Serikat. Angka percobaan bunuh diri kira-
kira 650.000.
 Kira-kira terdapat 85 bunuh diri dalam sehari di Amerika
Serikat atau sekitar 1 bunuh diri tiap 20 menit.
 Bunuh diri saat ini berada di peringkat sembilan untuk
keseluruhan penyebab kematian di Amerika Serikat,
setelah penyakit jantung, kanker, penyakit
kardiovaskular, penyakit paru obstruktif kronik,
kecelakaan, pneumonia, influenza, dan diabetes melitus.
 Di dunia, angka bunuh diri berkisar lebih dari 25 per
100.000 orang
Faktor Risiko :
 1. Jenis Kelamin.
 Laki-laki melakukan bunuh diri empat kali lebih banyak
dibandingkan perempuan.
 perempuan empat kali lebih besar kemungkinannya untuk
melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan laki-laki.3-5
 2. Usia.
 Di antara laki-laki, puncak bunuh diri setelah usia 45 tahun;
 pada perempuan, angka terbesar bunuh diri yang berhasil dilakukan
terdapat setelah usia 55 tahun.
 Angka 40 per 100.000 populasi terdapat pada laki-laki berusia 65
tahun dan lebih.
 Orang berusia tua melakukan percobaan bunuh diri lebih jarang
dibandingkan orang muda tetapi lebih sering berhasil. Meskipun
mereka hanya 10 persen dari populasi total, 25 persen bunuh diri
dilakukan orang yang lebih tua.
3. Ras.
Dua dari tiap tiga bunuh diri dilakukan oleh laki-laki kulit putih. Angka
bunuh diri di antara kulit putih hampir dua kali lipat dari semua
kelompok lainnya.

4. Agama.
Secara historis, angka bunuh diri di antara populasi Katolik Roma
lebih rendah dibandingkan dengan angka di antara populasi Protestan
dan Yahudi. Derajat keortodoksan dan integrasi mungkin merupakan
ukuran rasio yang lebih akurat di kategori ini daripada persatuan
agama institusional.

5. Status Perkawinan.
Perkawinan yang dilengkapi oleh anak tampaknya mengurangi risiko
bunuh diri secara signifikan.
6. Pekerjaan.
 Semakin tinggi status sosial seseorang, semakin besar
risiko bunuh dirinya, tetapi penurunan status sosial juga
meningkatkan risiko bunuh diri.
 Di antara tingkat pekerjaan, profesional, terutama dokter,
dari dahulu dianggap memiliki risiko bunuh diri paling
tinggi
8. Metode.
 Angka keberhasilan laki-laki yang lebih tinggi untuk
bunuh diri terkait dengan metode yang mereka gunakan:
senjata api, gantung diri, atau lompat dari tempat tinggi.
9. Kesehatan Fisik.
 Hubungan penyakit dan kesehatan fisik dengan bunuh
diri cukup bermakna.
10. Kesehatan Jiwa.
Faktor psikiatri yang sangat bermakna di dalam bunuh diri mencakup
penyalahgunaan zat, gangguan depresi (80%), skizofrenia (10%), dan
gangguan jiwa lainnya.
Hampir 95 persen orang yang melakukan atau mencoba bunuh diri
memiliki diagnosis gangguan jiwa.
Perawatan psikiatri sebelumnya untuk alasan apapun meningkatkan
risiko bunuh diri.

11. Pasien Psikiatri.


Risiko pasien psikiatrik untuk melakukan bunuh diri adalah 3 hingga
12 kali dibandingkan dengan yang bukan pasien psikiatri.
Derajat risikonya bervariasi bergantung pada usia, jenis kelamin,
diagnosis, dan status pasien rawat inap atau rawat jalan.
Faktor Risiko
1. Faktor Sosiologis
a. Teori Durkheim Etiologi
2. Faktor Psikologis
a. Teori Freud
b. Teori Menninger
c. Teori Terkini

3. Faktor Biologis
4. Faktor Genetik
a. Studi Kembar
b. Studi Genetik Molekular
5. Perilaku Parasuicidal
 Durkheim membagi bunuh diri menjadi tiga kategori
sosial : egoistik, altruistik, dan anomik.

 Bunuh diri egoistik :


 Berlaku bagi mereka yang tidak terintegrasi kuat ke
dalam kelompok sosial manapun.
 Tidak adanya integrasi keluarga menjelaskan mengapa
orang yang tidak menikah lebih rentan bunuh diri
dibandingkan orang yang menikah.
 Pasangan yang memiliki anak adalah kelompok yang
baik terlindungi.
 Komunitas pedesaan lebih memiliki integrasi sosial
dibandingkan daerah perkotaan sehingga bunuh diri
lebih sedikit.
 Bunuh diri altruistik :
 Berlaku untuk mereka yang rentan
terhadap bunuh diri karena integrasi
mereka yang berlebihan ke dalam
kelompok.
 Bunuh diri merupakan perkembangan
integrasi – contohnya, serdadu Jepang
yang mengorbankan hidupnya di dalam
peperangan.
 Bunuh diri anomik :
 Berlaku bagi orang yang integrasinya ke dalam
masyarakat terganggu sehingga mereka tidak
dapat mengikuti norma perilaku yang lazim.
 Anomik menjelaskan mengapa perubahan
drastis situasi ekonomi membuat orang lebih
rentan daripada mereka yang sebelumnya
terjadi perubahan kekayaan.
 Di dalam teori Durkheim, anomik juga mengacu
pada ketidakstabilan sosial dan pecahnya
standar dan nilai masyarakat.
a. Teori Freud.
Freud menyatakan keyakinannya bahwa bunuh
diri menunjukkan agresi yang di arahkan untuk
melawan objek cinta yang diintrojeksikan.

b. Teori Menninger.
Di bangun atas gagasan Freud, Karld Meninger,
berpendapat bahwa bunuh diri sebagai
pembunuhan yang dibalik ke dalam diri sendiri
karena kemarahan pasien pada orang lain.
c. Teori Terkini
Adanya faktor psikodinamika pasien yang
bunuh diri seperti keinginan untuk balas
dendam, kekuatan, kendali, atau hukuman :
penebusan kesalahan, pengorbanan, atau
ganti rugi : kabur atau tidur, penyelamatan,
kelahiran kembali, pernyatuan kembali dengan
kematian; atau suatu kehidupan baru.
Tata Laksana
 Bunuh diri pada pasien dapat dicegah.
 Penderitaan semakin berat dan hebat atau sedemikian
kronisnya dan tidak responsif terhadap terapi, sehingga
bunuh dirinya dianggap sebagai hal yang tidak dapat
terelakkan.
 Evaluasi potensi bunuh diri melibatkan anamnesis
riwayat psikiatrik yang lengkap; pemeriksaan
menyeluruh mengenai keadaan mental pasien; dan
pertanyaan mengenai gejala depresif, pikiran, niat,
rencana dan percobaan bunuh diri.
 Keputusan untuk merawat pasien di
rumah sakit bergantung pada diagnosis.
 Keparahan depresi dan gagasan bunuh
diri, kemampuan pasien dan keluarga
untuk mengatasi masalah, situasi hidup
pasien, ketersediaan dukungan sosial, dan
tidak adanya atau adanya faktor risiko
bunuh diri.
Terapi Rawat Inap vs Rawat Jalan :
 Perlu atau tidaknya merawat pasien dengan
gagasan bunuh diri di rumah sakit merupakan
suatu keputusan yang paling penting untuk
dibuat.
 Tidak semua pasien dengan gagasan bunuh diri
perlu perawatan di rumah sakit; beberapa dari
mereka dapat diterapi dengan rawat jalan.
 Tetapi tidak adanya sistem dukungan sosial
yang kuat, riwayat perilaku impulsif, dan
rencana tindakan bunuh diri adalah indikasi
perawatan.
Terapi Rawat Inap vs Rawat Jalan :
 Apakah terapi rawat jalan dapat dilakukan →
harus menggunakan pendekatan klinis
langsung.
 Meminta pasien yang dianggap berpotensi
bunuh diri untuk menghubungi saat merasa
tidak pasti mengenai kemampuan mereka untuk
mengendalikan impuls bunuh diri.
 Membuat perjanjian dengan dokter
 Menguatkan keyakinan bahwa mereka memiliki
kekuatan yang cukup untuk mengendalikan
impuls tersebut dan untuk mencari pertolongan.
 Klinisi harus siap 24 jam bagi pasien.
 Jika pasien yang dianggap secara serius ingin
bunuh diri tidak dapat membuat komitmen,
perawatan rumah sakit diindikasikan.
 Jika pasien akan diterapi secara rawat jalan,
terapis harus mencatat nomor telepon rumah
dan kantor pasien untuk keadaan gawat darurat
 Jika pasien menolak perawatan di rumah sakit,
keluarga harus bertanggung jawab untuk berada
bersama pasien selama 24 jam dalam sehari.
 Pasien yang pernah mencoba bunuh diri,
tanpa memandang letalitasnya, harus
dirawat.
 Di rumah sakit, pasien dapat menerima
obat antidepresan atau antripsikotik sesuai
indikasi.
 Terapi individu, terapi kelompok, dan
terapi keluarga tersedia dan pasien
menerima dukungan sosial rumah sakit
serta rasa aman.
 Untuk menentukan seseorang dengan risiko bunuh diri
dirawat atau tidak, dapat menggunakan SAD
PERSONS Scale yang telah dimodifikasi.
 Skala ini terdiri dari 10 faktor risiko bunuh diri.
 Jika skor >= 6, maka pasien tersebut membutuhkan
perawatan di rumah sakit.
 Tetapi jika skornya <= 5, maka pasien tersebut dapat
dirawat jalan
Sad Person Scale :
Kesimpulan
• Bunuh diri merupakan suatu kegawatdaruratan psikiatri dimana
terdapat kematian yang diniatkan dan dilakukan oleh seseorang
terhadap dirinya sendiri

• Evaluasi potensi bunuh diri melibatkan anamnesis riwayat


psikiatrik yang lengkap; pemeriksaan menyeluruh mengenai
keadaan mental pasien, pertanyaan mengenai gejala depresif,
pikiran, niat, rencana dan percobaan bunuh diri.

• Sebagian besar bunuh diri pada pasien psikiatri dapat dicegah.


Pasien yang mencoba bunuh diri harus dikaji ulang adakah
psikopatologi yang mendasarinya.
• Penanganan dengan terapi psikofarmaka dapat digunakan
secara supportif untuk mengurangi penderitaan pasien
TERIMA KASIH