Anda di halaman 1dari 16

 A.

Pengertian motorik kasar dan motorik halus :


 
 PENGERTIAN MOTORIK KASAR:
 Motorik kasar adalah kemampuan gerak tubuh yang
menggunakan otot-otot besar, sebagian besar atau seluruh anggota
tubuh dan diperlukan agar anak dapat memfungsikan otot-otot
tubuhnya dengan benar seperti, duduk, berlari, menendang, naik-
turun tangga, berjalan, melompat, merangkak, berguling, manangkap,
melempar dan gerak lainnya (Saputra, Y., 2005:18; Sunardi dan
Sunaryo, 2006:109).
 Gerak itu disebut juga sebagai gerak dasar (Saputra, Y., 2005:18).
Gerak dasar tersebut dikelompokkan menjadi tiga, yaitu lokomotor,
non lokomotor, dan manipulatif (Nurhasan, 2003:28). Gerak dasar ini,
biasanya sudah dapat dikuasai oleh anak-anak normal usia 6 tahun
(Hurlock, 1978) tapi tidak demikian dengan anak berkebutuhan
khusus dengan usia yang sama (Delphie, 1996). Anak berkebutuhan
khusus memiliki masalah dalam keterampilan gerak dasar/motorik
kasar (lokomotor, non lokomotor, manipulatif) (Delphie, 1996;
Saputra, Y., 2005; Sunardi dan Sunaryo, 2006).
(1) Lokomotor adalah keterampilan berpindah tempat, yang termasuk ke
dalam keterampilan ini di antaranya, berjalan, berlari, melompat,
berjingkat, dan memanjat. Pada intinya kesemua keterampilan ini
memungkinkan adanya perpindahan lokasi dari tubuh, terutama didorong
oleh adanya pengerahan daya internal melalui pengkontraksian otot-otot.
(2) Non lokomotor adalah keterampilan yang memanfaatkan ruas-ruas tubuh
sebagai porosnya, dan karenanya tidak menyebabkan tubuh tidak
berpindah tempat. Yang termasuk ke dalam keterampilan ini adalah gerak
menekuk dan meregang tubuh, menggerak-gerakkan anggota tubuh ke
berbagai arah, melenting dan memilin. Keterampilan jenis ini banyak
dipakai dalam gerak-gerak pembentukan dan kelenturan, termasuk pada
pengembangan kekuatan,
(3) Manipulatif adalah gerakan yang mengandalkan kemampuan anggota
tubuh seperti tangan, kaki, kepala, lutut, paha, maupun dada, untuk
memanipulasi objek luar seperti bola dan benda lainnya. Gerak seperti ini
adalah menangkap, melempar, memukul, memukul dengan alat, atau
menendang, menggiring dan memantulkan bola (Nurhasan, 2003:28;
Saputra, Y., 2005:18). Ketika mereka melakukan gerak dasar tertentu,
gerakannya tampak tidak harmonis atau tidak indah dipandang (Amin,
1995) itu diakibatkan oleh adanya gangguan dalam kesimbangan,
koordinasi, konsentrasi, dan persepsi (Delphie, 1996:3).
 Saputra, Y. (2005:49) menjelaskan permasalahan gerak dasar anak berkebutuhan
khusus, sebagai berikut:
 (1) Secara umum menunjukkan ketidakmampuan untuk menampilkan gerak koordinasi
yang efisien, keseimbangan, dan kelincahan. Perilaku ini sebagai hasil dari kurang
mampunya syaraf mengidentifikasi sesuatu.
 (2) Sifat otot yang lebih atau kurang menghasilkan ketidakmampuan untuk melakukan
gerakan secara efisien.
 (3) Ketidakmampuan merencanakan gerakan menghasilkan gerakan yang tidak
terkoordinasi.
 (4) Gerakan yang tidak bertujuan, rintangan ini diwujudkan dengan banyaknya gerakan
atau kurang gerak.
 (5) Ketidakmampuan mengontrol ruang, waktu, dan penghasil tenaga untuk bergerak.
 (6) Gangguan koordinasi gerak otot.
 (7) Ketidakmampuan untuk menghasilkan gerak pada saat diinstruksikan untuk
“berhenti”
 (8) Ketidakmampuan untuk menerima pola gerak keseluruhan setelah dipecah menjadi
bagian-bagian.
 (9) Penampilan yang tidak konsisten pada setiap kesempatan yang berbeda.
 (10) Ketidakmampuan untuk menjaga keseimbangan tubuh dalam posisi diam atau
bergerak. Singkatnya, permasalahan motorik kasar yang paling utama dalam kaitannya
dengan pendidikan jasmani adaptif anak tunagrahita ringan adalah keseimbangan,
koordinasi, gerak badan dan persendiannya, serta kekuatan-kekakuan otot dan tulang.
 Pengertian Motorik Halus
 Sumantri (2005:143), menyatakan bahwa motorik halus adalah
pengorganisasian penggunaan sekelompok otot-otot kecil seperti jari-
jemari dan tangan yang sering membutuhkan kecermatan dan
koordinasi dengan tangan, keterampilan yang mencakup pemanfaatan
menggunakan alat-alat untuk mengerjakan suatu objek.
 Hal yang sama dikemukakan oleh Yudha dan Rudyanto (2005:118),
menyatakan bahwa motorik halus adalah kemampuan anak beraktivitas
dengan menggunakan otot halus (kecil) seperti menulis, meremas,
menggambar, menyusun balok dan memesukkan kelereng.
 Demikian pula menurut Bambang Sujiono (2008:12.5) menyatakan
bahwa motorik halus adalah gerakan yang hanya melibatkan bagian-
bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot-otot kecil, seperti
keterampilan menggunakan jari jemari tangan dan gerakkan
pergelangan tangan yang tepat. Oleh karena itu, gerakkan ini tidak
terlalu  membutuhkan tenaga, namun gerakan ini membutuhkan
koordinasi mata dan tangan yang cermat. Semakin baiknya gerakan
motorik halus anak membuat anak dapat berkreasi, seperti
menggunting kertas, menggambar, mewarnai, serta menganyam.
Namun tidak semua anak memiliki kematangan untuk menguasai
kemampuan ini pada tahap yang sama.
 Perkembangan motorik merupakan salah satu faktor yang sangat penting
dalam perkembangan individu secara keseluruhan. Beberapa pengaruh
perkembangan motorik terhadap konstelasi perkembangan individu
menurut Hurlock (1996) adalah sebagai berikut:
a.Melalui keterampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan
memperoleh perasaan senang. Seperti anak merasa senang dengan
memiliki keterampilan memainkan boneka, melempar dan menangkap bola
atau memainkan alat-alat mainan.
b. Melalui keterampilan motorik, anak dapat beranjak dari kondisi tidak
berdaya pada bulan-bulan pertama dalam kehidupannya, ke kondisi yang
independent. Anak dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya dan
dapat berbuat sendiri untuk dirinya. Kondisi ini akan menunjang
perkembangan rasa percaya diri.
c.Melalui perkembangan motorik, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan
lingkungan sekolah. Pada usia prasekolah atau usia kelas-kelas awal
Sekolah Dasar, anak sudah dapat dilatih menulis, menggambar, melukis,
dan baris-berbaris.
d.Melalui perkembangan motorik yang normal memungkinkan anak
dapatbermain atau bergaul dengan teman sebayannya, sedangkan yang
tidak normal akan menghambat anak untuk dapat bergaul dengan teman
sebayanya bahkan dia akan terkucilkankan atau menjadi anak yang fringer
(terpinggirkan).
B. Tujuan Assesmen Motorik Kasar

Tujuan asesmen motorik kasar ini adalah:


1. Memperoleh gambaran kemampuan motorik kasar anak.
2. Menentukan kelemahan motorik kasar anak.
3. Memperoleh gambaran kebutuhan belajar motorik kasar dan
keterampilan
belajar lainnya yang didasari oleh kemampuan motorik
kasar.
4.Memenuhi kebutuhan alat asesmen khususnya asesmen
motorik kasar bagi
anak.
5.Berpartisipasi aktif dalam menambah kekayaan
intelektual/wawasan yang
berkaitan dengan asesmen motorik kasar.
6. Memberikan panduan
 Tujuan asesmen Motorik Halus adalah:
Kegunaan/Peningkatan Motorik Halus Anak Melalui
Kegiatan  Bermainnnya. Pendidikan anak usia dini adalah suatu
upaya pembinaan yang ditunjukkan kepada anak sejak lahir dan
sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui
pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan
dan perkembangan jasmani dan rohani. Perkembangan motorik
adalah perkembangan dari unsur pengembangan dan pengendalian
gerak tubuh.Perkembangan motorik berkembang dengan
kematangan syaraf dengan otot.
Dalam standar kompetensi kurikulum TK tercantum bahwa tujuan
pendidikan di TK adalah membantu mengembangkan berbagai
potensi anak baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-
nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik,
kemandirian dan seni untuk memasuki pendidikan selanjutnya.
Memperkenalkan dan melatih gerakan motorik halus anak,
meningkatkan kemampuan mengelola,mengontrol gerakan tubuh
dan koordinasi, serta meningkatkan keterampilan tubuh dengan
cara hidup sehat sehingga dapat menunjang pertumbuhan jasmani
yang kuat, sehat dan terampil.
Tujuan motorik halus :
1. Mengembangkan kemandirian, contohnya memakai
baju sendiri, mengancingkan baju, mengikat tali
sepatu, dll.
2.Sosialisasi, contohnya ketika anak menggambar
bersama teman-temannya.
3.Pengembangkan konsep diri, contohnya anak telah
mandiri dalam melakukan aktivitas tertentu.
4.Kebanggaan diri, anak yang mandiri akan merasa
bangga terhadap kemandirian yang dilakukannya.
5.Berguna bagi keterampilan dalam aktivitas sekolah
misalnya memegang pensil atau pulpen
C. Ruang Lingkup Asesmen Motorik Kasar dan motorik
halus:
 
RUANG LINGKUP ASESMEN MOTORIK KASAR:
Ruang lingkup asesmen motorik kasar ini bersifat informal
yang terdiri dari aspek-aspek perkembangan motorik kasar
yang dikutip dari Bandi
Delphie (2003), yaitu:
1. Lokomotor: lari, berjalan, loncat, mengejar bola bergerak,
meluncur,
berguling.
2. Manipulatif: Melempar, menangkap, menendang,
memantulkan bola,
memukul.
3. Non Manipulatif: keseimbangan badan dan mengkerutkan
badan.
 RUANG LINGKUP ASESMEN MOTORIK HALUS:
 Kemampuan motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan
dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi
mata-tangan. Saraf motorik halus ini dapat dilatih dan dikembangkan
melalui kegiatan dan rangsangan yang kontinu secara rutin. Seperti,
bermain puzzle, menyusun balok, memasukan benda ke dalam lubang
sesuai bentuknya, membuat garis, melipat kertas dan sebagainya.
 Kecerdasan motorik halus anak berbeda-beda. Dalam hal kekuatan
maupun ketepatannya. perbedaan ini juga dipengaruhi oleh pembawaan
anak dan stimulai yang didapatkannya. Lingkungan (orang tua)
mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam kecerdasan motorik halus
anak. Lingkungan dapat meningkatkan ataupun menurunkan taraf
kecerdasan anak, terutama pada masa-masa pertama kehidupannya.
 Setiap anak mampu mencapai tahap perkembangan motorik halus
yang optimal asal mendapatkan stimulasi tepat. Di setiap fase, anak
membutuhkan rangsangan untuk mengembangkan kemampuan mental
dan motorik halusnya. Semakin banyak yang dilihat dan didengar anak,
semakin banyak yang ingin diketahuinya. Jika kurang mendapatkan
rangsangan anak akan bosan. Tetapi bukan berarti anda boleh memaksa si
kecil. Tekanan, persaingan, penghargaan, hukuman, atau rasa takut dapat
mengganggu usaha dilakukan si kecil.
Terdapat dua dimensi dalam perkembangan motorik halus
anak yang di uraikan oleh Gesell (1971),yaitu:
1.  Kemampuan memegang dan memanifulasi benda-benda.
2. Kemampuan dalam koordinasi mata dan tangan.
Beberapa dimensi perkembangan motorik halus anak :
a. Melakukan kegiatan dengan satu lengan, seperti
mencorat-coret dengan alat tulis
b. Membuka halaman buku berukuran besar satu persatu.
c. Memakai dan melepas sepatu berperekat/tanpa tali.
d. Memakai dan melepas kaos kaki.
e.  Memutar pegangan pintu.
f.   Memutar tutup botol.
g.  Melepas kancing jepret.
h. Mengancingkan/membuka velcro dan retsleting (misalnya
pada tas).
i.   Melepas celana dan baju sederhana.
j.   Membangun menara dari 4-8 balok.
k.  Memegang pensil/krayon besar.
l.   Men gaduk dengan sendok ke dalam cangkir.
m.Menggunakan sendok dan garpu tanpa menumpahkan
makanan.
n. Menyikat gigi dan menyisir rambut sendiri.
o. Memegang gunting dan mulai memotong kertas.
p. Menggulung, menguleni, menekan, dan menarik
adonan atau tanah liat.
PROSEDUR ASESMEN

A. Identifikasi Siswa
Dalam tahap ini guru/asesor menentukan subyek/anak
yang berada pada rentang usia tertentu. Untuk
memastikan asesor dapat menanyakan kepada guru kelas
dan memerikasa dokumen yang memastikan bahwa
subyek adalah anak berkebutuhan khusus.
B. Instrumen Asesmen Motorik Kasar
Asesor menggunakan instrument yang telah disediakan.
Format lengkap instrument asesmen terlampir.
Dalam pelaksanaanya asesmen komponen kemampuan
motorik kasar boleh dilakukan secara acak. Misalnya
boleh mulai dari loncat atau berguling dahulu atau setelah
asesmen berjalan kemudian mengasesmen kemampuan
memukul.
 C. Alat/media
 Dalam asesmen motorik kasar ini diperlukan ketersediaan alat/media.
 Alat/media tersebut adalah:
 Jalur untuk berjalan dan lari (lurus, zig-zag, melengkung). Jalur dapat
dibuat menggunakan tali sebagai tanda lurus, zig-zag, melengkung.
 Contoh jalur:
 

 Matras untuk berguling dan mengkerutkan badan sambil tiduran


 Pemukul kasti dan raket
 Bola plastic dan bola basket
 Papan titian keseimbangan
D. Tempat
Tempat untuk melakukan asesmen dapat dilakukan di dalam ruangan
dan diluar ruangan.
E. Waktu
Waktu melakukan asesmen sebaiknya dilakukan pagi hari. Setiap
komponen tidak memiliki beban waktu.