Anda di halaman 1dari 28

Pengkreditan Pajak

Masukan
Terminologi
Pasal 1
 Pajak Masukan adalah Pajak Pertambahan Nilai yang
seharusnya sudah dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak
karena perolehan Barang Kena Pajak dan/atau perolehan
Jasa Kena Pajak dan/atau pemanfaatan Barang Kena
Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean dan/atau
pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean
dan/atau impor Barang Kena Pajak.
 Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai terutang
yang wajib dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak yang
melakukan penyerahan Barang Kena Pajak, penyerahan
Jasa Kena Pajak, ekspor Barang Kena Pajak Berwujud,
ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau
ekspor Jasa Kena Pajak.
Prinsip Pengkreditan Pajak Masukan
Pasal 9
 Pajak Masukan dalam suatu Masa Pajak dikreditkan dengan Pajak
Keluaran dalam Masa Pajak yang sama.
 Pajak Masukan yang dapat dikreditkan, tetapi belum dikreditkan
dengan Pajak Keluaran pada Masa Pajak yang sama, dapat
dikreditkan pada Masa Pajak berikutnya paling lama 3 (tiga) bulan
setelah berakhirnya Masa Pajak yang bersangkutan sepanjang
belum dibebankan sebagai biaya dan belum dilakukan
pemeriksaan.
 Bagi Pengusaha Kena Pajak yang belum berproduksi sehingga
belum melakukan penyerahan yang terutang pajak, Pajak Masukan
atas perolehan dan/atau impor barang modal dapat dikreditkan.
 Pajak Masukan yang dikreditkan harus menggunakan Faktur Pajak
yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
13 ayat (5) dan ayat (9).
 Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Keluaran lebih besar daripada
Pajak Masukan, selisihnya merupakan Pajak Pertambahan Nilai yang harus
disetor oleh Pengusaha Kena Pajak.
 Penyetoran Pajak Pertambahan Nilai oleh Pengusaha Kena Pajak harus
dilakukan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa
Pajak dan sebelum Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai
disampaikan.
 Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai disampaikan paling
lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak.
 Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Masukan yang dapat dikreditkan
lebih besar daripada Pajak Keluaran, selisihnya merupakan kelebihan pajak
yang dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya.
 Atas kelebihan Pajak Masukan tsb dapat diajukan permohonan
pengembalian pada akhir tahun buku. Termasuk dalam pengertian akhir
tahun buku dalam ketentuan ini adalah Masa Pajak saat Wajib Pajak
melakukan pengakhiran usaha (bubar).
Pajak Masukan Tidak Dapat Dikreditkan
Pasal 9 ayat (8)
 Pengkreditan Pajak Masukan tidak dapat diberlakukan bagi pengeluaran untuk :
a. perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak;
b. perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan
usaha;
c. perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor berupa sedan dan station wagon, kecuali merupakan barang
dagangan atau disewakan;
d. pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean
sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak;
e. dihapus;
f. perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) atau ayat (9) atau tidak mencantumkan nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib
Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak;
g. pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean yang
Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6);
h. perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya ditagih dengan penerbitan ketetapan
pajak;
i. perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya tidak dilaporkan dalam Surat
Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai, yang ditemukan pada waktu dilakukan pemeriksaan; dan
j. perolehan Barang Kena Pajak selain barang modal atau Jasa Kena Pajak sebelum Pengusaha Kena Pajak
berproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2a).
k. Pajak Masukan yang berkenaan dengan penyerahan yang yang tidak terutang PPN atau mendapat fasilitas PPN
dibebaskan (pasal 9 ayat (5))
Pedoman Penghitungan
Pengkreditan Pajak Masukan
 Pengusaha Kena Pajak yang peredaran
usahanya dalam 1 (satu) tahun tidak melebihi
jumlah tertentu
 Pengusaha Kena Pajak yang melakukan
kegiatan usaha tertentu

 (diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan)


PEDOMAN PENGHITUNGAN PENGKREDITAN PAJAK MASUKAN
BAGI PENGUSAHA KENA PAJAK YANG MEMPUNYAI
PEREDARAN USAHA TIDAK MELEBIHI JUMLAH TERTENTU
Permenkeu Nomor 74/PMK.03/2010

 Pengusaha Kena Pajak yang dapat


menggunakan pedoman penghitungan
pengkreditan Pajak Masukan adalah
Pengusaha Kena Pajak yang mempunyai
peredaran usaha dalam 1 (satu) tahun
buku tidak melebihi Rp 1.800.000.000,00
(satu miliar delapan ratus juta rupiah).
Syarat
 Pengusaha Kena Pajak dapat menggunakan
pedoman penghitungan pengkreditan Pajak
Masukan apabila memenuhi syarat :
 mempunyai peredaran usaha dalam 2 (dua) tahun
buku sebelumnya tidak melebihi Rp 1.800.000.000,00
(satu miliar delapan ratus juta rupiah) untuk setiap 1
(satu) tahun buku;
 Wajib Pajak yang baru dikukuhkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak.
 Besarnya Pajak Masukan yang dapat
dikreditkan yang dihitung menggunakan
pedoman penghitungan pengkreditan Pajak
Masukan, yaitu sebesar :
 60% (enam puluh persen) dari Pajak Keluaran untuk
penyerahan Jasa Kena Pajak; atau
 70% (tujuh puluh persen) dari Pajak Keluaran untuk
penyerahan Barang Kena Pajak.
 Pengusaha Kena Pajak yang menggunakan
pedoman penghitungan pengkreditan Pajak
Masukan menurut ketentuan yang diatur dalam
Peraturan Menteri Keuangan ini tidak dapat
membebankan Pajak Pertambahan Nilai atas
perolehan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa
Kena Pajak sebagai biaya untuk penghitungan
Pajak Penghasilan.
PEDOMAN PENGHITUNGAN PENGKREDITAN PAJAK
MASUKAN BAGI PENGUSAHA KENA PAJAK YANG
MELAKUKAN KEGIATAN USAHA TERTENTU
Permenkeu No 79/PMK.03/2010
 Pengusaha Kena Pajak yang melakukan
Kegiatan Usaha Tertentu, dalam
menghitung besarnya Pajak Masukan
yang dapat dikreditkan, wajib
menggunakan pedoman penghitungan
pengkreditan Pajak Masukan
 Kegiatan Usaha Tertentu adalah kegiatan
usaha yang semata-mata melakukan :
 penyerahan kendaraan bermotor bekas
secara eceran; atau
 penyerahan emas perhiasan secara eceran.
 Besarnya Pajak Masukan yang dapat
dikreditkan yang dihitung menggunakan
pedoman penghitungan pengkreditan Pajak
Masukan, yaitu sebesar :
 90% (sembilan puluh persen) dari Pajak Keluaran,
dalam hal Pengusaha Kena Pajak melakukan
penyerahan kendaraan bermotor bekas secara
eceran;
 80% (delapan puluh persen) dari Pajak Keluaran,
dalam hal Pengusaha Kena Pajak melakukan
penyerahan emas perhiasan secara eceran.
 Pengusaha Kena Pajak yang
menggunakan pedoman penghitungan
pengkreditan Pajak Masukan berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan ini tidak
dapat membebankan Pajak Pertambahan
Nilai atas perolehan Barang Kena Pajak
dan/atau Jasa Kena Pajak sebagai biaya
untuk penghitungan Pajak Penghasilan
PEDOMAN PENGHITUNGAN PENGKREDITAN PAJAK MASUKAN
BAGI PENGUSAHA KENA PAJAK YANG MELAKUKAN
PENYERAHAN YANG TERUTANG PAJAK DAN PENYERAHAN
YANG TIDAK TERUTANG PAJAK
Permenkeu No.78/PMK.03/2010
 Pengusaha Kena Pajak yang melakukan kegiatan :
 usaha terpadu (integrated), terdiri dari :
 unit atau kegiatan yang melakukan Penyerahan yang Terutang Pajak; dan
 unit atau kegiatan lain yang melakukan Penyerahan yang Tidak Terutang
Pajak.
 usaha yang atas penyerahannya terutang pajak dan yang tidak terutang pajak;
 usaha untuk menghasilkan, memperdagangkan barang, dan usaha jasa yang
atas penyerahannya terutang pajak dan yang tidak terutang pajak; atau
 usaha yang atas penyerahannya sebagian terutang pajak dan sebagian
lainnya tidak terutang pajak,
 sedangkan Pajak Masukan untuk Penyerahan yang Terutang Pajak tidak dapat
diketahui dengan pasti, jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan untuk
Penyerahan yang Terutang Pajak dihitung dengan menggunakan pedoman
penghitungan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan.
Pedoman penghitungan Pajak
Masukan yang dapat dikreditkan
 P = PM x Z

 dengan ketentuan :
P adalah jumlah Pajak Masukan yang dapat
dikreditkan;
 PM adalah jumlah Pajak Masukan atas perolehan
Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak;
 Z adalah persentase yang sebanding dengan jumlah
Penyerahan yang Terutang Pajak terhadap
penyerahan seluruhnya
 Pengusaha Kena Pajak yang telah
mengkreditkan Pajak Masukan dengan
menggunakan pedoman penghitungan,
harus menghitung kembali besarnya Pajak
Masukan yang dapat dikreditkan.
Penghitungan kembali Pajak
Masukan yang dapat dikreditkan
 untuk Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak yang masa manfaatnya lebih dari 1
(satu) tahun :
PM
P’ = --------------- x Z’
T
 untuk Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak yang masa manfaatnya 1 (satu) tahun
atau kurang :
P’ = PM x Z’
 dengan ketentuan :
 P' adalah jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dalam 1(satu) tahun buku;
 PM adalah jumlah Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena
Pajak.
 T adalah masa manfaat Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang ditentukan
sebagai berikut :
 untuk Barang Kena Pajak berupa tanah dan bangunan adalah 10 (sepuluh) tahun;
 untuk Barang Kena Pajak selain tanah dan bangunan dan Jasa Kena Pajak adalah 4
(empat) tahun;
 Z' adalah persentase yang sebanding dengan jumlah Penyerahan yang Terutang Pajak
terhadap seluruh penyerahan dalam 1 (satu) tahun buku.
 Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dari hasil
penghitungan kembali diperhitungkan dengan
Pajak Masukan yang dapat dikreditkan pada
suatu Masa Pajak, paling lama pada bulan
ketiga setelah berakhirnya tahun buku.
 Penghitungan kembali Pajak Masukan yang
dapat dikreditkan tidak perlu dilakukan dalam
hal masa manfaat Barang Kena Pajak dan/atau
Jasa Kena Pajak telah berakhir.
 Pengusaha Kena Pajak B adalah perusahaan yang bergerak di bidang
industri pembuatan sepatu.
 Pada bulan Januari 2011 membeli generator listrik dengan nilai perolehan
sebesar Rp 100.000.000,00 dan Pajak Pertambahan Nilai Rp 10.000.000,00.
 Generator listrik tersebut dimaksudkan untuk digunakan seluruhnya untuk
kegiatan pabrik.
 Maka Pajak Masukan atas perolehan generator listrik yang dapat dikreditkan
pada Masa Pajak Januari 2011 adalah Rp 10.000.000,00.
 Selama tahun 2011 ternyata generator listrik tersebut digunakan :
 untuk bulan Januari sampai dengan Juni 2011 :
 10% untuk perumahan karyawan dan direksi;
 90% untuk kegiatan pabrik, dan
 untuk bulan Juli sampai dengan Desember 2011 :
 20% untuk perumahan karyawan dan direksi;
 80% untuk kegiatan pabrik.
Contoh
 Pengusaha Kena Pajak C adalah perusahaan integrated (terpadu) yang
bergerak di bidang perkebunan jagung dan pabrik minyak jagung.
 Pada bulan April 2011 membeli truk yang digunakan baik untuk
perkebunan jagung maupun untuk pabrik minyak jagung dengan harga
perolehan sebesar Rp 200.000.000,00 dan Pajak Pertambahan Nilai
sebesar Rp 20.000.000,00.
 Berdasarkan data-data yang dimiliki, diperkirakan persentase rata-rata
jumlah penyerahan yang terutang pajak terhadap penyerahan seluruhnya
adalah sebesar 70%.
 Selanjutnya diketahui bahwa total peredaran usaha selama tahun buku
2011 adalah Rp 100.000.000.000,00, yang berasal dari penjualan jagung
sebesar Rp 40.000.000.000,00 dan penjualan minyak jagung sebesar Rp
60.000.000.000,00.Masa manfaat truk sebenarnya adalah 5 (lima) tahun,
Gagal Berproduksi
 Bagi Pengusaha Kena Pajak yang belum berproduksi
sehingga belum melakukan penyerahan yang terutang pajak,
Pajak Masukan atas perolehan dan/atau impor barang modal
dapat dikreditkan.
 Pajak Masukan yang telah dikreditkan diatas dan telah
diberikan pengembalian wajib dibayar kembali oleh
Pengusaha Kena Pajak dalam hal
 Pengusaha Kena Pajak tersebut mengalami keadaan gagal
berproduksi dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun
sejak Masa Pajak pengkreditan Pajak Masukan dimulai
 Ketentuan mengenai penentuan waktu, penghitungan, dan
tata cara pembayaran kembali tsb diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
Gagal Berproduksi
Sanksi Pasal 14 ayat (5) UU KUP
 Pengusaha Kena Pajak yang gagal berproduksi dan
telah diberikan pengembalian Pajak Masukan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (6a)
Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan
perubahannya
 dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2%
(dua persen) per bulan dari jumlah pajak yang ditagih
kembali, dihitung dari tanggal penerbitan Surat
Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak
sampai dengan tanggal penerbitan Surat Tagihan Pajak,
dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.
Gagal Produksi
 Suatu keadaan dari Pengusaha Kena Pajak dengan
kegiatan usaha utama sebagai produsen yang
menghasilkan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena
Pajak, apabila dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak
pertama kali mengkreditkan Pajak Masukan tidak
melakukan kegiatan:
 penyerahan Barang Kena Pajak;
 penyerahan Jasa Kena Pajak;
 ekspor Barang Kena Pajak; dan/atau
 ekspor Jasa Kena Pajak,
 yang berasal dari hasil produksinya sendiri.
Gagal Produksi
 Suatu keadaan dari Pengusaha Kena Pajak
dengan kegiatan usaha utama Pengusaha Kena
Pajak selain produsen apabila dalam jangka
waktu 1 (satu) tahun sejak pertama kali
mengkreditkan Pajak Masukan tidak melakukan
kegiatan:
 penyerahan Barang Kena Pajak;
 penyerahan Jasa Kena Pajak;
 ekspor Barang Kena Pajak; dan/atau
 ekspor Jasa Kena Pajak,
 Besarnya Pajak Masukan yang wajib dibayar kembali
adalah sebesar Pajak Masukan yang telah dikreditkan
dan telah diberikan pengembalian.
 Pajak Masukan yang wajib dibayar kembali
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disetorkan paling
lama akhir bulan berikutnya setelah saat gagal
berproduksi.
 Saat gagal berproduksi sebagaimana dimaksud pada
ayat (4) berakhir dalam jangka waktu:
 3 (tiga) tahun untuk produsen
 1 (satu) tahun untuk selain produsen
 Pembayaran kembali Pajak Masukan dilakukan
oleh Pengusaha Kena Pajak yang gagal
berproduksi dengan menggunakan Surat
Setoran Pajak dengan mencantumkan
keterangan "Pembayaran kembali Pajak
Masukan atas impor dan/atau perolehan Barang
Modal yang telah dikreditkan dan telah diberikan
pengembalian".
 Pembayaran kembali Pajak Masukan dilaporkan
pada Masa Pajak dilakukan pembayaran
 Dalam hal gagal berproduksi disebabkan
oleh bencana alam atau sebab lain di luar
kekuasaan Pengusaha Kena Pajak (force
majeur), Pengusaha Kena Pajak tidak
wajib membayar kembali Pajak Masukan
atas impor dan/atau perolehan Barang
Modal yang telah dikreditkan dan telah
diberikan pengembalian