Anda di halaman 1dari 39

HUKUM PIDANA

Disajikan untuk Pendidikan dan Pelatihan Dasar Hukum (Diklatsarkum) X I Pusat Studi dan Konsultasi Hukum (PSKH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

Oleh Wiji Pramajati,SH.MHum

HUKUM PIDANA
Ketentuan yang mengatur : 1. tingkah laku yang diharuskan/dilarang. 2. adanya ancaman pidana. 3. jenis dan macam pidana 4. cara menyidik,menuntut,pemeriksaan persidangan dan melaksanakan pidana.

HUKUM PIDANA

Hukum Pidana Materiil. Yaitu hukum yang mengatur perbuatanperbuatan apa yang dilarang dan memberikan pidana kepada siapa saja yang melanggarnya. Hukum Formil = Hukum Acara Pidana.
Yaitu peraturan-peraturan hukum yang mengatur bagaimana cara memelihara dan mempertahankan hukum materiil atau peraturan-peraturan yang mengatur bagaimana cara-caranya mengajukan sesuatu perkara pidana ke muka pengadilan pidana dan bagaimana caranya hakim pidana memberikan putusan.
3

Dasar Hukum
UUD 1945, khususnya yang menyangkut kekuasaan kehakiman. UU No.48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman UU No.49 Tahun 2009 tentang Peradilan Umum UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana yang lebih dikenal dengan KUHAP Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) / UU No.1 Tahun 1946 Peraturan perundang-undangan lain yang terkait serta peraturan pelaksananya.

TUJUAN HUKUM PIDANA


Van Hamel : Mencegah penjahat untuk tidak melaksana kan niat buruknya. Memperbaiki terpidana. Membinasakan penjahat yg tdk mungkin diperbaiki. Mempertahankan tata tertib hukum. Di Indonesia : Melindungi kepentingan individu atau hak asasi manusia dan melindungi kepentingan masyarakat dan negara dari kejahatan/ tindakan tercela atau tindakan sewenang-wenang dari tindakan penguasa. Mengayomi semua kepentingan secara berimbang.

Tujuan Pemidanaan
Teori Absolut (Vergeldingstheorie) Hukuman dijatuhkan sebagai pembalasan terhadap para pelaku karena telah melakukan kejahatan yang mengakibatkan kesengsaraan terhadap orang lain atau anggota masyarakat. Teori Relatif - Menjerakan, diharapkan si pelaku tindak pidana menjadi jera dan tidak mengulangi perbuatannya. -Memperbaiki pribadi terpidana, diharapkan terpidana merasa menyesal sehingga tidak mengulangi perbuatannya dan kembali kepada masyarakat sebagai orang yang baik dan berguna

JENIS-JENIS PIDANA
Pasal 10 KUHP : a. Pidana Pokok. 1. Pidana mati. 2. Pidana penjara. 3. Pidana kurungan. 4. Pidana denda 5. Pidana Tutupan. b. Pidana Tambahan. 1. Pencabutan hak-hak tertentu. 2. Perampasan barang-barang tertentu. 3. Pengumuman putusan hakim.

ALASAN-ALASAN PENGHAPUSAN PIDANA.


Hapusnya pelaksanaan pidana karena : 1. Terpidana meninggal (ps 83 KUHP) 2. Daluwarsa . 3. Amnesti. 4. Grasi

Pengadilan Yang Menangani Perkara Pidana

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Pengadilan Negeri Pengadilan Anak Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pengadilan Hak Asasi Manusia Pengadilan Perikanan Pengadilan Militer

Apa yang dimaksud dengan Sistem Peradilan Pidana ?


Sistem Peradilan Pidana adalah alat kontrol sosial di mana seluruh komponen yang terlibat di dalam proses peradilan pidana berfungsi untuk mengontrol berbagai macam bentuk kejahatan melalui peradilan pidana sebagai suatu institusi sosial yang secara formal dirancang untuk merespon akan kebutuhan tersebut. Komponen sistem peradilan pidana adalah Polisi, Jaksa, Hakim, Pegawai Lembaga Pemasyarakatan dan Advokat. Integrated criminal justice system:
Penyidikan oleh kepolisian Penuntutan oleh Kejaksaan Pemeriksaan sidang dan putusan oleh Kehakiman/pengadilan Pemasyarakatan oleh Lembaga Pemasyarakatan.

Proses bekerjanya sistem peradilan pidana: sederhana, cepat, dan mudah.

Tujuan Sistem Peradilan Pidana (Mardjono Reksodipuro)


1.

2.

3.

Mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan Menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi sehingga masyarakat puas bahwa keadilan telah ditegakkan dan yang bersalah dipidana Mengusahakan agar mereka yang pernah melakukan kejahatan tidak mengulangi lagi kejahatannya.

Azas Sistem Peradilan Pidana


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Azas Equality before the law Azas Legalitas dalam upaya paksa Azas Presumption of innocence Azas Remedy and rehabilitation Azas Fair, impartial, impersonal and objective Azas Legal assistance Azas Miranda Rule Azas Presentasi Azas Keterbukaan Azas Pengawasan

Azas Sistem Peradilan Pidana


asas equality before the law perlakuan yang sama atas diri setiap orang dimuka hukum dengan tidak mengadakan pembedaan perlakuan.
asas legalitas dalam upaya paksa penangkapan, penahanan, pengeledahan, dan penyitaan hanya dilakukan berdasarkan perintah tertulis oleh pejabat yang diberi wewenang oleh undang-undang dan hanya dalam hal dan dengan cara yang diatur dengan undang-undang. asas presumption of innocence kepada seorang yang ditangkap, ditahan, dituntut, dan/atau dihadapkan dimuka sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang mengatakan kesalahannya asas remedy and rehabilitation kepada seorang yang di tangkap, ditahan, dituntut ataupun diadili tanpa alasan yang berdasarkan undang-undang dan/atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan wajib diberi ganti kerugian dan rehabilitasi sejak tingkat penyidikan dan para pejabat penegak hukum yang sengaja atau karena kelalaiannya asas hukum tersebut dilanggar, dituntut, dipidana, dan atau dikenakan hukuman administrasi.

asas fair, impartial, impersonal dan objective peradilan harus dilakukan dengan cepat, sedrhana dan biaya ringan serta bebas, jujur dan tidak memihak harus diterapkan secara konsekuen dalam seluruh tingkat peradilan. asas legal assistance setiap orang yang tersangkut perkara wajib diberi kesempatan memperoleh bantuan hukum yang semata-mata diberikan untuk melaksanakan kepentingan pembelaan atas dirinya. miranda rule kepada seorang tersangka, sejak saat dilakukan penangkapan dan atau penahanan selain wajib diberitahu dakwaan dan dasar hukum apa yang didakwakan kepadanya, juga wajib diberitahu haknya itu termasuk hak untuk menghubungi dan meminta bantuan penasehat hukum. asas presentasi pengadilan memaksa perkara pidana dengan hadirnya terdakwa. asas keterbukaan sidang pemeriksaan pengadilan adalah terbuka untuk umum kecuali dalam hal yang diatur dalam undang-undang. asas pengawasan pengawasan pelaksanaan putusan pengadilan dalam perkara pidana dilakukan oleh ketua pengadilan negeri yang bersangkutan.

Komponen Integrated Criminal Justice


1.

2.

3.

Komponen yang bersifat struktural yaitu kepolisian, kejaksaan, pengadilan, lembaga pemasyarakatan. Komponen substansial yaitu hukum pidana harus dilihat dalam konteks sosial untuk keadilan Komponen kultural yaitu ideologi, pandangan, sikap dan bahkan falsafah yang mendasari sistem peradilan pidana yang pada akhirnya disebut dengan model.

Asas Legalitas (Principle of Legality)


Asas legalitas (principle of legality) adalah bahwa setiap perbuatan yang

dilakukan bisa dinyatakan sebagai tindak pidana atau perbuatan pidana apabila sudah ada ketentuan yang mengatur sebelumnya bahwa perbuatan tersebut adalah dilarang (tindak pidana). Artinya ada alat (hukum) yang bisa dijadikan dasar legalisasi untuk menentukan suatu perbuatan merupakan tindak pidana. Dalam beberapa literatur dikenal pula asas nullum delictum nulla poena sine preavialege poenali (tidak ada satu perbuatan yang bisa dipidana tanpa ada undang-undang yang mengaturnya sebagai tindak pidana) atau nullum crimen sine lege stricta.

Sebagai konsekuensi logis dari asas legalitas ini, maka: Peraturan perundang-undangan pidana harus tertulis Peraturan perundang-undangan pidana tidak boleh berlaku surut

(asas non-retroactive), Dalam menafsirkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan pidana tidak boleh menggunakan penafsiran analogi,

Sedangkan bagi mereka yang menganut asas legalitas dalam arti formil dan materiil, tidak hanya menyandarkan pada ketentuan tertulis belaka. Artinya, hukum tidak tertulis pun dapat dijadikan dasar untuk menyatakan suatu perbuatan bisa disebut tindak pidana (dan karenanya harus dipidana), yang kemudian dikenal dengan istilah kriminalisasi. Bahkan suatu perbuatan yang oleh hukum tertulis disebut sebagai tindak pidana bisa didekriminalisasikan dengan dasar hukum tidak tertulis sebagai perbuatan bukan tindak pidana. Prinsip yang dipegang oleh penganut asas legalitas dalam arti materiil ini adalah demi kepentingan umum dan keadilan dalam melindungi hak-hak kemanusiaan serta doktrin hukum alam yang menyatakan bahwa tidak seorang pun yang boleh lepas dari jerat hukum, apabila dirinya melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum/publik.

Dalam pandangan kedua ini (legalitas materiil), Barda Nawawi Arief kemudian mengemukakan pengertian Sifat Melawan Hukum (SMH) materiel yang biasanya dibedakan dalam fungsinya yang negatif dari dalam fungsinya yang positif. Menurut ajaran SMH Materiel dalam fungsinya dan negatif, sumber hukum materiel (hal-hal/ kriteria/norma diluar UU) dapat digunakan sebagai alasan mengadakan/menghapuskan,(me-negatifkan) sifat melawan hukumnya perbuatan. Jadi tidak adanya SMH Materiel dapat digunakan sebagai alasan pembenar.

PERSONIL YANG TERLIBAT DALAM PERSIDANGAN PIDANA

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Hakim / Majelis Hakim Jaksa Penuntut Umum Penasihat Hukum Panitera / Paniter Pengganti (PP) Terdakwa Saksi / Saksi Ahli Para Petugas yang Mendukung Kelancaran Jalannya Persidangan:
1. 2. 3. 4.

Juru Sumpah Juru Panggil Petugas Pengawalan Petugas Keamanan

Personel yang Terlibat dalam Persidangan Pidana


Hakim / Majelis Hakim Hakim adalah pejabat peradilan negara yang diberi wewenang oleh undangundang untuk mengadili (Pasal 1 butir 8 KUHP). Pada prinsipnya persidangan dilaksanakan dengan Hakim Majelis yang terdiri dari seorang Hakim Ketua dan dua orang Hakim Anggota,namun dengan pertimbangan terbatasnya tenaga Hakim yang ada di suatu pengadilan, untuk perkara-perkara tertentu seperti perkara singkat/ sumir atau cepat dimungkinkan diperiksa dengan Hakim Tunggal.
Jaksa Penuntut Umum Dalam Pasal 1 butir 6 KUHP ditentukan bahwa jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk bertindak sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah mempunyai hukum tetap, sedangkan penuntut umum adalah jaksa yang diberikan wewenang oleh undang-undang untuk melaksanakan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim. Penasehat hukum/ advokat Dalam Pasal 1 butir 13 KUHP disebutkan bahwa penasehat hukum adalah seseorang yang memenuhi syarat yang ditentukan oleh atau berdasarkan undangundang untuk memberikan bantuan hukum

Panitera / Panitera Pengganti Panitera Pengganti adalah penjabat pengadilan yang salah satu tugasnya adalah membantu hakim membuat berita acara pemeriksaan dalam proses persidangan. Sebagai notulen , panitera pengganti bertugas mencatat setiap kejadian dalam proses persidangan termasuk pokok-pokok dialog antara pihak-pihak yang terlibat dalam proses persidangan, misalnya tanya jawab antara hakim, Penuntut Umum, dan penasehat hukum dengan saksi atau terdakwa. Terdakwa Terdakwa adalah seorang tersangka (seseorang karena perbuatannya atau keadaannya , berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana) yang dituntut, diperiksa, dan diadili di sidang pengadilan. Saksi/ Saksi Ahli Saksi adalah orang yang mengetahui tentang suatu peristiwa pidana berdasarkan apa yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri. Saksi Ahli adalah seseorang yang memiliki keahlian tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan.

Faktor yang mempengaruhi jalannya penyelesaian perkara di Pengadilan


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Faktor substansi perkara Faktor pencari keadilan Faktor kuasa hukum Faktor substansi hukum Faktor kesiapan alat-alat bukti Faktor sarana prasarana Faktor budaya hukum Faktor komunikasi dalam persidangan Faktor pengaruh dari luar Faktor aparat pengadilan Faktor hakim Faktor manajemen.

Prinsip Pelaksanaan Peradilan Pidana


Sederhana, maknanya bahwa proses yang tidak bertele-

tele, tidak berbelit, tidak berliku-liku, tidak rumit, jelas, lugas, tidak interpretable, mudah dipahami, mudah dilakukan, mudah dilaksanakan, mudah diterapkan, sistematis, konkrit. Cepat, harus dipahami sebagai upaya strategis untuk menjadikan sistem peradilan sebagai institusi yang dapat menjamin terwujudnya/tercapainya keadilan dalam penegakan hukum secara cepat. Murah, artinya harus ada jaminan bahwa keadilan tidak mahal, keadilan tidak dapat dimaterialisasikan.

Azas Hukum Acara Pidana


Azas Umum

Perlakuan yang sama di muka hukum tanpa diskriminasi apapun Praduga tak bersalah Hak untuk memperoleh kompensasi (ganti rugi) dan rehabilitasi Hak untuk mendapatkan bantuan hukum Hak untuk kehadiran terdakwa di muka pengadilan Peradilan yang bebas dan dilakukan dengan cepat dan sederhana Peradilan yang terbuka untuk umum

Azas Khusus
Pelanggaran atas hak-hak individu (penangkapan, penahanan,

penggeledahan, dan penyitaan) harus didasarkan pada undang-undang dan dilakukan dengan surat perintah (tertulis) Hak seorang tersangka untuk diberitahu tentang persangkaan dan pendakwaan terhadapnya, dan Kewajiban pengadilan untuk mengendalian pelaksanaan putusanputusannya.

Proses Pemeriksaan Perkara Pidana


1. 2.

Pemeriksaan perkara pidana berawal dari terjadinya tindak pidana (delict) atau perbuatan pidana atau peristiwa pidana yang berupa kejahatan atau pelanggaran. Peristiwa atau perbuatan tersebut diterima oleh aparat penyelidik (Polri) melalui:
1. 2. 3.

Laporan dari masyarakat Pengaduan dari pihak yang berkepentingan Diketahui oleh aparat sendiri dalam hal tertangkap tangan (heterdaad)

3. 4.

Penyelidik menentukan apakah suatu peristiwa atau perbuatan (feit) merupakan peristiwa atau perbuatan pidana atau bukan. Jika dalam penyelidikan diketahui atau terdapat dugaan bahwa peristiwa atau perbuatan tersebut merupakan tindak pidana maka dapat dilanjutkan pada proses selanjutnya yaitu Penyidikan.

5. 6.

7. 8.

Penyidikan dilakukan untuk mengusut, mencari, dan mengumpulkan bukti-bukti agar terang tindak pidananya dan untuk menemukan tersangkanya. Polri pada dasarnya merupakan penyidik tunggal, namun dalam kasus-kasus tertentu (tindak pidana bidang perbankan, bea cukai, keimigrasian, dll) dapat dilibatkan penyidik Pegawai Negeri Sipil, selain itu kewenangan penyidikan ada pada jaksa apabila menyangkut kasus tindak pidana ekonomi, korupsi atau subversi. Penyidikan merupakan pemeriksaan pendahuluan (vooronderzoek) yang dititikberatkan pada upaya pencarian atau pengumpulan bukti faktual atau bukti konkret. Proses penyidikan sering diikuti dengan tindakan penangkapan dan penggeledahan, bahkan jika perlu dapat diikuti dengan tindakan penahanan terhadap tersangka dan penyitaan terhadap barang atau bahan yang diduga erat kaitannya dengan tindak pidana yang terjadi.

Pemeriksaan terhadap saksi pada tingkat penyidikan tidak perlu disumpah, kecuali jika saksi dengan tegas menyatakan tidak dapat hadir dalam pemeriksaan di sidang pengadilan maka saksi harus disumpah agar keterangannya mempunyai kekuatan yang sama jika diajukan di pengadilan. 10. Hasil pemeriksaan terhadap tersangka dan saksi dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan dijadikan satu berkas dengan surat-surat lainnya. 11. Apabila dalam pemeriksaan awal tidak terdapat cukup bukti adanya tindak pidana, maka penyidik dapat menghentikan penyidikan dengan mengeluarkan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan. Namun apabila bukti telah cukup maka penyidik dapat segera melimpahkan berkas perkara ke kejaksaan untuk proses penuntutan. 12. Jika BAP telah diterima Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan dinyatakan telah sempurna, maka JPU segera melakukan proses Penuntutan, namun apabila BAP dinyatakan oleh JPU kurang sempurna akan dikembalikan kepada penyidik dengan disertai catatan atau petunjuk tentang hal yang harus dilakukan penyidik.
9.

13. Hasil konkret dari proses penuntutan adalah surat dakwaan

yang didalamnya memuat:


1.
2. 3. 4.

Unsur-unsur perbuatan terdakwa Waktu terjadinya tindak pidana (Locus) Tempat terjadinya tindak pidana (Tempus delicti) Cara-cara terdakwa melakukan tindak pidana

14. Proses penuntutan merupakan transformasi oleh JPU dari

peristiwa dan faktual yang disampaikan penyidik menjadi peristiwa dan bukti yuridis. 15. Dalam proses penuntutan, penuntut umum menetapkan bahanbahan bukti dari penyidik untuk meyakinkan hakim dan membuktikan dakwaannya dalam persidangan. 16. Terhadap tindak pidana penyertaan (deelneming) atau concursus (samenloop) penuntut umum dapat menentukan apakah perkara tersebut pemeriksaannya digabung menjadi satu atau akan dipecah menjadi beberapa perkara. 17. Penuntut umum juga menentukan apakah perkara tersebut akan diajukan ke pengadilan dengan acara singkat (sumir) atau dengan acara biasa, hal ini biasanya tergantung dari kualitas perkaranya.

18. Pengadilan dengan acara singkat yaitu pada hari yang

ditentukan oleh pengadilan akan langsung menghadapkan terdakwa beserta bukti-bukti ke sidang pengadilan. 19. Pengadilan dengan acara biasa, yaitu penuntut umum melimpahkan perkara ke pengadilan disertai dengan surat dakwaan dan surat pelimpahan perkara yang isinya permintaan agar perkara tersebut segera diadili. 20. Sebelum ke pengadilan, ada proses praperadilan yaitu wewenang pengadilan untuk negeri untuk memeriksa dan memutus tentang:
1.

2.

3.

Sah atau tidaknya suatu penangkapan dan/atau penahanan atas permintaan tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasa tersangka. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan Permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan.

21. Apabila berkas perkara, terdakwa, dan bukti-bukti telah

diajukan ke pengadilan berarti proses pemeriksaan perkara telah sampai pada tahap Peradilan. Tahap ini merupakan tahap yang menentukan nasib terdakwa karena dalam tahap ini semua argumentasi para pihak (penuntut umum dan terdakwa/penasihat hukum) diadu secara terbuka dan dikuatkan dengan bukti-bukti yang ada. 22. Asas yang berlaku adalah Pemeriksaan di sidang pengadilan dilakukan oleh Majelis Hakim yang jumlahnya gasal, namun dalam keadaan tertentu dapat dilakukan oleh Hakim Tunggal atas izin dari Ketua Mahkamah Agung. 23. Yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum:
1. 2. 3.

Dakwaan Tuntutan Replik, dll

24. Yang diajukan oleh Terdakwa/Penasihat Hukum: 1. Eksepsi 2. Pembelaan 3. Duplik, dll

25. Terhadap putusan yang telah diambil oleh Majelis Hakim

semua pihak (Jaksa Penuntut Umum dan Terdakwa/Penasihat Hukum) diberi kesempatan untuk menyatakan sikap:
1. 2. 3. 4.

Menerima Pikir-pikir Mengajukan upaya hukum Mengajukan grasi

26. Jika putusan telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap

(inkracht van gewijsde), maka putusan tersebut dapat segera dilaksanakan (dieksekusi). Pelaksana eksekusi putusan pengadilan dalam perkara pidana adalah jaksa. 27. Jika dalam amar putusan dinyatakan terdakwa bebas, maka terdakwa harus dilepaskan dari tahanan dan dipulihkan hakhaknya kembali seperti sebelum diadili. 28. Jika dalam amar putusan dinyatakan terdakwa dipidana badan (penjara/kurungan), maka jaksa segera menyerahkan terdakwa ke Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) untuk menjalani hukuman dan pembinaan.

Hak-Hak Tersangka dan Terdakwa.


Pasal 50 68 KUHAP antara lain : 1. Hak untuk mendapatkan penyelesaian perkara dengan cepat. 2. Hak untuk memberi keterangan secara bebas. 3. Hak mendapatkan bantuan hukum. 4. Hak untuk menerima kunjungan. 5. Hak untuk diadili pada sidang terbuka untuk umum. 6. Hak untuk mendapat ganti rugi dan rehabilitasi. 7. Hak untuk banding dan kasasi. 8. Hak mengajukan peninjauan kembali.

Tahap-tahap Persidangan Pidana


1.

Sidang Pertama
1. 2. 3. 4. 5.

Hakim/Majelis Hakim Memasuki Ruang Sidang Pemanggilan Terdakwa supaya Masuk ke Ruang Sidang Pembacaan Surat Dakwaan Pengajuan Eksepsi (keberatan) Pembacaan/Pengucapan Putusan Sela Pembuktian oleh Jaksa Penuntut Umum Pembuktian oleh Terdakwa/Penasihat Hukum Pemeriksaan pada Terdakwa

2.

Sidang Pembuktian
1. 2. 3.

3.

Sidang Pembacaan Tuntutan Pidana, Pembelaan, dan Tanggapan-tanggapan


1. 2. 3.

Pembacaan Tuntutan Pidana (Requisitoir) Pengajuan/Pembacaan Nota Pembelaan (Pleidooi) Pengajuan/Pembacaan Tanggapan-tanggapan (Replik Duplik)

dan

4.

Sidang Pembacaan Putusan

Tata Cara Persidangan


Perkara Biasa Perkara Singkat
1.

2.

3. 4.

Surat dakwaan dibuat secara tertulis dan diajukan ke persidangan dengan cara dibacakan oleh Penuntut Umum Pada umumnya eksepsi dan pembelaan dibuat secara sistematis tertulis dan diajukan ke persidangan dengan cara dibacakan oleh terdakwa dan atau penasihat hukum Putusan dibuat secara khusus dalam surat putusan Keseluruhan tahap persidangan biasanya harus diselesaikan dalam beberapa hari sidang

1. Dakwaan disampaikan secara lisan berdasarkan catatan yang dibuat oleh Penuntut Umum 2. Pada umumnya Eksepsi dan Pembelaan disampaikan secara sederhana/lisan oleh terdakwa dan atau penasihat hukum 3. Putusan tidak dibuat secara khusus, tetapi dicatat dalam Berita Acara

Persidangan 4. Diupayakan seluruh tahap persidangan dapat diselesaikan dalam satu hari sidang

Tata Cara Persidangan Perkara Cepat secara Singkat


1.
2. 3. 4.

5. 6. 7. 8. 9.

Hakim membuka sidang dan memerintahkan pada panitera untuk membuka buku register yang memuat catatan semua perkara yang diterimanya. Hakim memerintahkan penyidik/petugas untuk memanggil para terdakwa yang akan diperiksa agar masuk ke ruang sidang sesuai dengan urutan yang terdapat dalam buku register. Terdakwa pertama diperintahkan untuk duduk di kursi pemeriksaan, selanjutnya hakim memerintahkan agar panitera membacakan identitas terdakwa dan apa yang didakwakan padanya. Acara dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi dan barang bukti atau alat bukti lainnya. Tata cara pemeriksaan saksi dan alat bukti lainnya sama dengan tata cara pemeriksaan dalam perkara biasa/singkat, keculai dalam hal penyumpahan, biasanya saksi dalam pemeriksaan perkara cepat tidak perlu disumpah. Hakim memberi kesempatan pada terdakwa untuk menggapi hasil pemeriksaan atau mengajukan pembelaan. Hakim menjatuhkan putusan dengan memperhatikan hasil pemeriksaan dan selanjutnya hakim memberitahukan hak-hak terdakwa untuk menentukan sikap. Terdakwa selanjutnya dipanggil dan diperiksa, diadili, dan dijatuhi putusan sebagaimana terdakwa sebelumnya, demikian seterusnya sampai semua terdakwa yang diajukan pada pemeriksaan cepat pada hari sidang tersebut habis. Putusan-putusan tersebut dicatat oleh hakim dalam daftar catatan perkara dan selanjutnya dicatat oleh panitera dalam buku register serta ditandantangani oleh hakim dan panitera yang bersangkutan. Sidang ditutup

Tindak Pidana (delict) Pengaduan (klacht)


Ps. 1 Butir 4 5 jo Ps. 4 5 jo Ps. 102 105 KUHAP

Ps. 1 Butir 25 KUHAP

Tertangkap Tangan (ambtshalve)

Laporan (aangifte)

Ps. 1 Butir 24 KUHAP

Vooronderzoek

Penyelidikan
Ps. 1 Butir 1 3 jo Ps. 6 12 jo Ps. 106 136 KUHAP Ps. 1 Butir 6 7 jo Ps. 13 15 jo Ps. 137 144 KUHAP

Penyidikan
Ps. 14 b jo Ps. 110 Ay (3) (4) jo. Ps. 138 KUHAP

Prapenuntutan

Penuntutan
Ps. 1 Butir 10 jo Ps. 77 83 KUHAP

Ps. 1 Butir 8 9 jo Ps. 145 232 KUHAP

Eindonderzoek

Praperadilan

Peradilan
(Sidang Pengadilan)

Eksekusi

Jaksa Penuntut Umum

Hakim/ Majelis Hakim Sidang Dibuka

Terdakwa / Penasihat Hukum

Tahap I

Dakwaan Tanggapan (Replik)


Putusan Sela Pemeriksaan Bukti

Eksepsi
Tanggapan (Duplik)

Sidang Pertama

Pemeriksaan Bukti Sidang Pembuktian Saksi A Decharge Ahli Surat Barang Bukti Pleidooi (Pembelaan) Duplik

Tahap II

Saksi A Charge Ahli Surat Barang Bukti Requisitor (Tuntutan Pidana) Replik

Pemeriksaan Terdakwa

Sidang Tuntutan & Pembelaan

Tahap III

(Musyawarah hakim, penilaian fakta, penerapan hukum, dan penerapan sanksi)

Tahap IV

Sidang Putusan

Pernyataan Sikap: - Menerima - Pikir-pikir - Upaya Hukum

Putusan

Pernyataan Sikap: - Menerima - Pikir-pikir - Upaya Hukum

Sidang Ditutup

KEPUTUSAN HAKIM.
1.Pemidanaan. Jk pengadilan berpendapat bhw terdakwa bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya. 2. Putusan bebas (vrijspraak). Jk pengadilan berpendapat kesalahan terdakwa atas perbu atan yg didakwakan kepadanya tdk terbukti scr syah dan meyakinkan. 3. Putusan lepas sari segala tuntutan hukum. Jk pengadilan berpendapat bhw perbuatan yg didakwakan kpdnya terbukti, ttp perbuatan itu bukan merupakan suatu tindak pidana.

UPAYA HUKUM.
1. Upaya hukum biasa. -banding -kasasi. 2. Upaya hukum luar biasa. - pemeriksaan tingkat kasasi demi kepenting an hukum. - Peninjauan kembali.