Anda di halaman 1dari 8

KONSEPSI MANUSIA DALAM PANDANGAN ISLAM

Sebuah Refleksi Filosofis-Religius


Luqman Junaidi Gajah Tunggal, 11-10-2011

Hakikat Manusia
Manusia adalah makhluk terbaik yang diciptakan Allah.
Ia merupakan makhluk termulia dibandingkan makhluk atau
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik, (QS At-Tin [95]: 4)

wujud lain yang ada di jagat raya. Dan sungguh, telah Kami muliakan anak-anak Adam, (QS Al-Isra [17]: 70) Allah mengaruniakan kualitas keutamaan kepada manusia sebagai penmbeda dengan makhluk lain. Sebagai makhluk utama dan ciptaan terbaik, manusia diberi tugas menjadi khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi.

Dialah yang menjadikanmu penguasa-penguasa di bumi,

(QS [6]: 165) Manusia ditumbuhkan dari bumi dan diserahi tugas untuk memakmurkannya. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya. (QS Hud [11]: 61)

Manusia Sebagai Makhluk Teomorfis


Di balik kelemahan dan keterbatasannya, manusia mempunyai

sesuatu dalam dirinya; yakni sifat-sifat ketuhanan. Adamsebagai manusia pertama, merupakan cermin yang memantulkan nama dan sifat-Nya secara sadar. Ada sesuatu yang suci (malakt) dalam diri manusia. Kondisi inilah yang memungkinkan manusia bisa mencapai kedudukan yang lebih tinggi dari malaikat. Namun pada saat yang sama, dengan sifat kemanusiaan yang dipengaruhi oleh hawa nafsu, manusia bisa lebih hina dibanding binatang. Di sinilah letak keagungan dan kengerian manusia. Setiap makhluk di dunia tetap menjadi dirinya sendiri, karena semua telah ditetapkan pada tingkat eksistensi tertentu. Hanya manusia yang dapat naik ke tingkat eksistensi duniawi tertinggi, atau sama sekali jatuh di bawah tingkat makhluk paling rendah. (Seyyed Hosein Nasr) Alternatif surga dan neraka yang diberikan kepada manusia, menunjukkan kondisi manusia yang unik.

6 Dimensi Fungsional Manusia




Dimensi Eksistensial Secara natural, manusia dibekali kecenderungan untuk belajar dan mencari pengetahuan. Aktivitas ini bukan hanya untuk menaklukkan alam dan memperoleh keuntungan materi, tapi berasal dari dorongan naluri untuk menemukan kebenaran. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, (QS Al-Alaq [96]: 1) Dimensi Ruhani: Tingkah laku manusia lebih banyak dipengaruhi oleh sejumlah emosi yang bersifat etis daripada keinginan untuk menangguk keuntungan dan menghindari kerugian. Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (QS Ar-Rahman [55]: 60) Dimensi estetik: Keindahan merupakan bagian integral eksistensi manusia dan memengaruhi seluruh aspek kehidupan mereka. Sungguh, Allah itu Mahaindah dan menyukai keindahan, (Hadits)

Dimensi ritual: Manusia memiliki kecenderungan untuk beribadah. Bahkan, ibadah merupakan manifestasi yang paling elementer dan bersifat terusmenerus.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah, (QS Adz-Dzariyat [51]: 56)

Dimensi spiritual: Manusia dibekali dengan akal yang bisa digunakan sebagai instrumen untuk membedakan kebaikan dan keburukan. Bahkan, seandainya Tuhan tidak mengutus seorang rasul, manusia pasti tetap bisa membedakan antara kebajikan dengan kejahatan dengan nalar pikirannya. Hati tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya, (QS An-Najm [53]: 11) Dimensi kognisi: Manusia memiliki potensi untuk mengenal dirinya. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lain, semisal binatang dan tumbuhan. Kedua makhluk yang disebut terakhir, selamanya takkan pernah bisa mengetahui dirinya sendiri.

Orang yang mengetahui dirinya, pasti mengetahui Tuhannya,


(Hadits)

Manusia dan Aktualisasi Potensinya


Dengan semua dimensi fungsional yang dimiliki, sejauh

mana kemampuan manusia dalam mengembangkan potensinya guna memenuhi tugas sebagai khalifah di muka bumi? Fre act dan free will: Manusia memiliki kebebasan dalam bertindak dan berbuat, sehingga kemudian manusia dibebani tanggung jawab atas perbuatannya di muka bumi. Predestinasi: Manusia terikat dengan kehendak Tuhan. Semua perbuatan dan nasibnya sudah ditentukan. Manusia ibarat wayang yang dimainkan dalang dalam pentas kehidupan. Semua gerak dan peranannya ditentukan oleh dalang.

Manusia di Hadapan Takdir


Selama ini banyak kaum muslimin yang memahami takdir secara
keliru. Takdir diartikan sebagai nasib yang sudah tak dapat diubah. Kesalahan ini membuat manusia terjebak dalam kepasrahan apatis. Dalam Al-Quran, kata takdir disebutkan 3 kali, dan semuanya berkaitan dengan fenomena alam.

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk

beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah takdir ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahatahu. (QS Al-Anam [6]: 96) Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah takdir ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Mahatahui. (QS Yasin

Dia menjadikannya tujuh langit dalam 2 masa dan Dia

[36]: 38)

mewahyukan pada setiap langit urusannya. Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami pelihara dengan baik. Demikianlah takdir ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Mahatahu. (QS Fushshilat [41]: 12)

QADHA, QADAR, DAN IKHTIYAR

Qadha: Ketetapan Tuhan sebagai sesuatu


yang tak dapat disangkal lagi berkenaan dengan penciptaan kejadian-kejadian dan fenomena. Qadar: Pelaksanaan peristiwa-peristiwa dan fenomena tersebut. Ikhtiyar: peran manusia dalam mengaktualisasikan semua potensi fungsional yang ada dalam dirinya.