Anda di halaman 1dari 14

APLIKASI JARINGAN BROADBAND UNTUK LAYANAN MULTIMEDIA-ON-DEMAND

KONSEP DASAR Berbagai layanan multimedia diharapkan dapat dikembangkan mengikuti perkembangan teknologi broadband ISDN (B-ISDN), seperti ATM switching dan optical transmission system. Layanan Multimedia-on-Demand (MOD), yang memberikan informasi multimedia pada basis on-demand bagi user, diimplementasikan. Layanan Video-on-Demand (VOD) seperti movie-on-demand merupakan salah satu layanan MOD. Untuk menghasilkan layanan MOD secara cepat dan efisien, dibutuhkan sebuah arsitektur kontrol layanan baru berdasarkan pada B-ISDN karena arsitektur yang sudah ada dikembangkan terutama untuk Plain Old Telephone Service (POTS) dan layanan narrow-band ISDN. Pada tulisan ini akan dibahas arsitektur Intelligent Network berorientasi BISDN untuk layanan Multimedia-on-Demand (MOD). Dalam arsitektur IN, layanan dieksekusi melalui internetworking antara service control node dan switching node. Oleh karena itu, alokasi fungsi dan interface antara node-node ini harus dispesifikasikan untuk membangun arsitektur IN. Makalah ini juga akan membahas hal-hal yang diperlukan dan general model untuk layanan MOD dari sudut pandang service control. Di samping itu juga akan dijelaskan bagaimana arsitektur IN efektif untuk kontrol layanan MOD. Untuk itu diusulkan sebuah call model baru. Call model ini dapat implementasikan tidak hanya pada kontrol layanan MOD, tetapi juga untuk kontrol evolusi layanan B-ISDN multimedia.

Konsep Dasar Layanan Multimedia On Demand Service Control Dibandingkan dengan layanan broadcast konvensional seperti CATV, yang telah men-set jadwal programming, sebuah layanan MOD memampukan user untuk memilih dan menerima informasi multimedia secara independent dimanapun mereka inginkan. Hal ini memerlukan fungsi kontrol layanan untuk menghubungkan user dengan sumber informasi multimedia pada basis on-demand. Untuk mendukung fungsi kontrol layanan untuk layanan MOD network, peralatan/hal-hal yang diperlukan adalah sebagai berikut : Peralatan yang mendukung kemampuan pensinyalan B-ISDN yang evolusioner Arsitektur service control harus dapat membuka kemungkinan perkembangan di masa depan, layanan multimedia yang kompleks. Kemampuan pensinyalan merupakan salah satu elemen penting dari service control. Pensinyalan B-ISDN bersifat evolusioner, oleh karena itu, ITU-T menstandardisasikan pensinyalan B-ISDN dalam tingkatantingkatan. Misalnya, signaling capability set 1 (SCS-1) memberikan spesifikasi untuk sambungan single point-to-point; dan capability set berikutnya adalah SCS-2, yang mendukung multiconnection dan multipoint (atau multiparty) connection. Untuk itu, arsitektur service control harus dapat mengikuti standard desain pensinyalan B-ISDN. Peralatan yang mendukung interoperability dan akses yang sama Dalam lingkungan multicarrier, multivendor, dan multi provider, setiap organisasi menyediakan fungsinya sendiri (misalnya service dan resource). Untuk memampukan user dan penyedia informasi/information provider (IP) untuk mengakses fungsi-fungsi ini dari manapun dalam jaringan, fungsi-fungsi tersebut harus interoperable.Selain itu, dalam lingkungan multiprovider, akses yang

sama sangat diperlukan. Maka, fungsi service control harus memberikan kepada user akses yang sama ke setiap IP. Peralatan yang mendukung customization Customization untuk layanan MOD oleh IP harus dibuat sebagai task yang mudah bagi IP. Misalnya, IP tertentu ingin menyediakan layanan home shopping dengan meningkatkan layanan MOD yang telah ada (seperti layanan movie-on-demand). Hal ini memerlukan sebuah open interface untuk IP dan lokalisasi komponen yang dicustomize dari fungsi service control. Model Multimedia On Demand Service Control Sebelum menggambarkan arsitektur jaringan yang memenuhi persyaratan di atas, akan digambarkan model service control MOD dasar yang mendefinisikan fungsi yang diperlukan untuk menghasilkan layanan MOD. Gambar 1 merupakan diagram model service control MOD. Model ini terdiri dari 3 fungsi, yaitu fungsi user, network, dan information source.

Gambar 1. Model MOD Service Control Fungsi user menerima informasi multimedia dari fungsi information source via fungsi network. Fungsi user memiliki fungsi pensinyalan untuk berkomunikasi dengan fungsi information source dan network untuk meminta dan mengendalikan informasi (misal search dan retrieval). Fungsi decoding diperlukan untuk mendecode informasi yang dikirim dalam bentuk code. Fungsi user juga menyediakan human interface dan tempat penyimpanan temporary information untuk penggunaan personal. Fungsi network mengirimkan data multimedia dari information source ke user dengan menggunakan fungsi switching dan transmission. Untuk menghubungkan user ke information source pada basis user-demand, fungsi call dan connection control diperlukan untuk membangun dan menghentikan sambungan secara dinamis. Fungsi signaling juga diperlukan untuk mendukung call dan connection control. Fungsi information control didistribusikan (misalnya tiap IP memiliki semua fungsi information source dan fungsi ini dihubungkan ke jaringan), sehingga fungsi information source listing dan navigation diperlukan untuk memampukan user memilih information source (seperti IP). Ketika user meminta layanan MOD dari sebuah information source, fungsi user authorization menganalisa apakah user diijinkan untuk menggunakan layanan MOD dan mengakses information source. Fungsi accounting menghitung biaya user berdasarkan pada network accounting data seperti connection holding time dan information rate. Fungsi information source mendukung media penyimpanan informasi dan mengirimkan informasi multimedia yang diminta oleh user. Fungsi storage control mendukung pengontrolan informasi dasar seperti search, retrieval, dan storing. Permintaan user dan sinyal kontrol (via fungsi network) diproses oleh fungsi signaling. Fungsi decoding diperlukan untuk meng-compress informasi video. Fungsi title listing dan navigation memampukan user untuk memilih judul informasi seperti judul film. Ketika user meminta judul informasi tertentu, fungsi user

authorization menganalisa apakah user diijinkan mengakses informasi tersebut. Fungsi accounting menghitung biaya user berdasarkan pada data accounting dari information source, misalnya biaya untuk penyediaan informasi. Arsitektur Jaringan Layanan MOD Konsep Dasar Untuk merancang jaringan untuk layanan MOD berdasarkan pada persyaratan dan model MOD service control seperti yang telah digambarkan sebelumnya, pertama kali yang diperlukan adalah membangun arsitektur jaringan berdasarkan pada model NEXT GENERATION. Kita perlu mempertimbangkan bahwa B-ISDN memberikan kesempatan yang baik untuk memperkenalkan ide-ide bagus. Alternatif Arsitektur Jaringan Gambar 2 menunjukkan ada 4 tipe dasar arsitektur jaringan, yaitu arsitektur PVC, Native SVC, Proxy Signaling, dan IN. Dalam Arsitektur PVC, servicer controller, yang digabung dengan operating system, mengawasi sistem ATM switching dalam cara penyusunan PVC. Control interface antara service controller dan jaringan akses subscriber atau server IP dipisahkan dari ATM UNI dan bertindak sebagai pemilik. Sebagai contoh, interfaceinterface ini akan diimplementasikan dalam LAN atau WAN. Sistem ATM switching dikendalikan via network management system seperti Common Management Information Protocol (CMIP).

Gambar.2

Arsitektur Native SVC dibuat berdasarkan metode call setup yang konvensional; dimana user men-dial sebuah nomor IP. Call processing dalam sistem ATM switching kemudian menganalisa informasi call dan membangun sambungan antara user dan IP. Control interface menggunakan ATM UNI control plane seperti pensinyalan Q.2931.

Arsitektur Proxy Signalling merupakan salah satu jenis arsitektur SVC dan telah dipelajari dalam forum ATM. Proxy signaling digunakan untuk jaringan akses terminal dan subscriber seperti CATV network yang tidak mendukung fungsi pensinyalan UNI. Untuk itu, proxy signaling agent (PSA) bertindak sebagai agen terminal (atau access network) untuk pensinyalan UNI. PSA ditempatkan dalam service controller. Kemampuan ini diberikan pada sistem VOD dalam spesifikasi forum ATM. Interface antara PSA dan terminal (atau access network) dinamakan session control interface; dimana digital storage media-command and control (DSM-CC) secara mendasar dipergunakan untuk interface ini

Dalam arsitektur IN, service control point (SCP) mengendalikan sistem ATM switching melalui IN application protocol (INAP). Interface antara sistem ATM switching dan subscriber access network atau server IP menggunakan ATM control plane, seperti halnya dalam arsitektur Native SVC.

Aplikasi Multimedia On Demand Servis


Multimedia merupakan puncak teknologi jaringan fiber optik, dimana produk yang paling dominant adalah broadband. Broadband tersebut memformulasikan sistem produk yang salah satunya adalah video on demand. Televisi menyajikan konten video kepada pemirsa dengan cara broadcast atau lebih dikenal dengan siaran. Untuk bisa mengikuti acara tersebut pemirsa dengan menggunakan televisinya harus berada di waktu tertentu dan channel tertentu. Cara ini akan menyulitkan bagi pemirsa yang tidak bisa berada di depan televisi pada waktu tersebut karena kesibukannya atau pada waktu tersebut ada acara yang tak kalah menariknya di channel lain. Demikian juga pemirsa tidak bisa mengulang-ulang siaran yang menurutnya penting Bisnis pada konten Video on demand dapat dibandingkan dengan tempat penyewaan video elektronik. Pada penyewaan tradisional (non-elektronik), pengguna dapat memilih salah satu dari sejumlah video dan membawanya pulang ke rumah untuk ditonton. Sedangkan pada video on demand, pemilihan dibuat di rumah dengan menggunakan remote control televisi, dan video dapat dengan segera ditonton. Hal-hal tersebut bisa dihindari jika acara / video tadi disajikan dengan cara/metode video on demand. Video on Demand adalah sebuah istilah penyajian video yang bisa diakses secara online melalui jaringan internet atau intranet, dimana pemirsa bisa melihat kapan pun sepuasnya dan berulang ulang tanpa harus terikat waktu dan tempat. Video bisa disajikan langsung secara streaming atau didownload. Dengan mengubah pola penyajian berita / acara sebagaimana di televisi saat ini dengan metode video on demand, tentu tak salah ungkapan Bill Gates bahwa orang akan berangsur-angsur meninggalkan televisi. Atau, mungkin istilahnya bukan TV broadcast lagi, tetapi TV on Demand Apakah video on demand benar-benar mirip dengan penyewaan video, ataukah lebih menyerupai pemilihan film yang akan ditonton dari sistem kabel 500 atau 5000 saluran ?. Jawabannya mempunyai implikasi teknis yang penting. Bila pendekatan pertama diterapkan, maka setiap pelanggan video sewaan memiliki kemampuan untuk menghentikan video, dapat melihat suatu scene tertentu dengan cepat, dan melanjutkan tontonan dimana video dihentikan. Sehingga penyedia jasa video harus mentransmisikan salinan terpisah kepada setiap pengguna. Akibatnya berpengaruh pada harga sewa yang tidak kompetitif.

Pendekatan yang optimal adalah video on demand sebagai penyempurnaan sistem televisi. Pola ini menawarkan biaya yang jauh lebih murah, karena masukan yang sama dari Server Video dapat diberikan kepada sejumlah pemakai sekaligus.

Komponen Sistem Video On Demand Komponen sistem video on demand terdiri dari :

1) Video/Audio Server 2) Jaringan distribusi Jaringan backbone ber-bandwidth tinggi Jaringan distribusi lokal 3) Local Spooling Server 4) Kotak set-top

Sistem video on demand dapat dilihat pada Gambar-3.

Switch Jaringan
distribusi lokal

Pelanggan

Video Server

Jaringan backbone ATM atau SONET

Local Spooling Server

Jaringan
distribusi lokal

Pelanggan

Audio Server

Gambar-3. Sistem video on demand

Video / Audio Server

Hal yang utama dari video/audio server adalah kemampuan menyimpan dan memberikan output film dalam jumlah besar secara simultan. Sebagai gambaran, tiap film rata-rata memerlukan 4 GB bila dikompresi ke dalam MPEG-2.

Beberapa media penyimpana informasi dalam jumlah besar adalah : a) Pita magnetik, merupakan media penyimpan informasi termurah b) Penyimpnan optis seperti dengan CD-ROM atau optical juke box yang berisi ratusan CDROM sebagai alternatif yang baik bagi penyimpanan film yang sering diputar. c) Disk magnetik, merupakan media dengan waktu akses yang pendek serta laju transfer yang tinggi sehingga cocok untuk menyimpan film yang sedang ditransmisikan. d) RAM, merupakan media yang paling cepat dan mahal dan cocok digunakan untuk film-film yang dikirimkan ke tujuan berbeda dalam waktu yang bersamaan.

Hirarki dari media penyimpan dapat dilihat pada Gambar-4.

RAM

R A ID

O P T IC A L D IS K

T A P E A R C H IV E
Gambar-4. Hirarki penyimpanan Video/Audio Server

Arsitektur perangkat keras video/audio server dapat dilihat pada Gambar-5.

CPU lokal

RAM

CPU lokal

RAM

Main RAM

Cache Film

BUS KECEPATAN TINGGI

Tape Controller

Optical Disk Controller

Magnetic Disk Controller

Network Interface

Ke ATM Switch
Tape archive Optical juke box RAID

Gambar-5. Arsitektur Perangkat Keras Video/Audio Server Video/audio server pada dasarnya merupakan perangkat I/O real time yang besar. Server memiliki sebuah atau lebih CPU RISC yang berunjuk kerja tinggi yang masing-masing memiliki memory lokal, memory utama yang dapat dipakai bersama, cache RAM berukuran besar, beberapa perangkat untuk menyimpan film, berbagai perangkat jaringan yang umumnya berupa interface optik ke suatu jaringan ATM. Masing-masing komponen di atas dihubungkan dengan bus berkecepatan sangat tinggi. Perangkat lunak dari video/audio server secara umum berperan dalam management disk. Perangkat ini mengatur penempatkan film di disk magnetik ketika film harus ditarik dari penyimpan optis atau pita, serta menangani aliran output disk. Terdapat dua cara pengorganisasian dalam penyimpanan disk, yakni disk farm dan disk array. Pada disk farm, masing-masing drive menampung beberapa film secara keseluruhan. Dengan alasan unjuk kerja dan reliabilitas, setiap film harus terdapat sedikitnya di dua drive atau lebih. Sedangkan pada disk array atau RAID (Redundancy Array of Inexpensive Disk) setiap film disebarkan ke sejumlah drive, misalnya blok 0 di drive 0, blok 1 di drive 1 dan seterusnya.

Jaringan Distribusi Jaringan distribusi merupakan sekumpulan switch dan saluran yang terdapat diantara sumber dan tujuan. Jaringan distribusi terdiri dari backbone ATM atau SONET berkecepatan tinggi di pusat sistem serta ribuan jaringan distribusi lokal, seperti TV kabel. Biasanya backbone merupakan switrch-switch dan jaringan distribusi lokal bukan merupakan switch. Persyaratan utama yang diperlukan pada backbone adalah bandwidth yang tinggi dan sentakan-sentakan yang rendah. Untuk backbone SONET yang murni, persyaratan tersebut tidak signifikan bandwidth yang tinggi dijamin dan sentakannya sama dengan nol karena jaringannya sinkron. Sedangkan pada backbone ATM, kualitasa layanan merupakan hal yang sangat penting. Sistem distribusi lokal dihubungkan ke perumahan, dimana sistem ini akan berakhir pada kotak set-top, yang merupakan sebuah komputer pribadi (PC). Sistem distribusi lokal terdiri dari : ADSL (Asymetric Digital Subscriber Line) FTTC (Fiber to the Curb) FTTH (Fiber to the Home) HFC (Hybrid Fiber Coax)

ADSL merupakan industri telepon pertama dalam industri lokal. Idenya adalah bahwa secara virtual setiap rumah di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang telah memiliki kabel tembaga twisted pair. Bila kabel-kabel ini digunakan untuk video on demand, maka perusahaan telepon dapat menggunakannya. Masalahnya kabel ini tidak dapat mendukung MPEG-1 yang dipasang melalui kabel yang panjangnya 10 km, sehingga hanya MPEG-2 yang tertinggal. Solusi ADSL memanfaatkan pengolahan sinyal digital tingkat lanjut untuk mengurangi gema dan noise lainnya pada saluran secara elektronis.

1 .5 3 6 M b p s
A S D L N e tw o rk U n it A S D L S u b s c r ip tio n U n it

16 K bps

V ID E O

4 K H z A n a lo g

TE LP O N
K o n e k s i F ib e r K e E n d O ffic e K oneksi T w is te d P a ir

Gambar-6. ASDL sebagai jaringan local Seperti ditunjukkan pada Gambar-6, setiap pelanggan ADSL diberikan unit inhouse pelanggan yang berisi chip pengolahan signal digital. Telepon dan kotak settop dihubungkan ke unit ADSL, sedangkan pada sisi lain lokal loop unit ADSL

lainnya dihubungkan. Unit ADSL ini dapat ditempatkan di end-office perusahaan telepon, atau bila lokal loop terlalu panjang, ditempatkan pada ujung serat optik di rumah tetangga. Pada FTTC, perusahaan telepon menggunakan serat optik dari end-office ke perumahan, yang berakhir pada peralatan yang disebut ONU (optical network unit). ONU diberi label junction box seperti pada terlihat pada Gambar-7. Dengan FTTC dimungkinkan MPEG-1 dan MPEG-2 ditransmisikan. Saat ini, dengan FTTC dimungkinkan adanya video-conferencing bagi yang bekerja di rumah atau perusahaan kecil.

PELANGGAN SWITCHING OFFICE

JUNCTION BOX

HIGH BANDWIDTH FIBER TRUNCH FIBER COPPER TWISTED PAIR

Gambar-7. FTTC menggunakan jaringan telpon

Solusi ketiga bagi perusahaan telepon adalah dengan memasang serat optik ke setiap rumah. Solusi ini dikenal dengan FTTH. FTTH harganya sangat mahal dan tidak akan dapat dipasang dalam waktu singkat, namun akan sangat banyak kemungkinan bila telah selesai dibuat. ADS, FTTC, dan FTTH merupakan jaringan distribusi lokal point-to-point. Sebuah pendekatan yang berbeda dengan ketiga solusi di atas adalah HFC, yang merupakan solusi yang lebih disenangi yang saat ini sedang dipasang oelh penyedia jasa TV kabel.

Pendekatan ini dijelaskan pada Gambar-8.

SWITCHING OFFICE

JUNCTION BOX

PELANGGAN

HIGH BANDWIDTH FIBER TRUNCH FIBER COPPER CABLE TV WIRE

Gambar-8. HFC menggunakan jaringan TV

Kabel-kabel 300 450 MHz diganti dengan kabel koalsial 750 MHz, sehingga kapasitasnya meningkat dari 50-75 saluran 6 MHz menjadi 125 saluran 6 MHz. Tujuh puluh lima buah dari 123 ini akan digunakan untuk transmisi televisi analog. Ke-50 saluran baru ini akan dimodulasi dengan memakai QAM-256, yang memiliki laju 40 Mbps dalam jaringan tetangga. Sehingga masing-masing kabel akan beroperasi hanya pada 500 rumah saja. Pembagian sederhana menunjukkan bahwa setiap rumah dapat dialokasi sebuah saluran dedikasi 4 Mbps, yang dapat digunakan untuk beberapa kombinasi program-program MPEG-2, upstream data, telepon analog, telepon digital dll nya. Walaupun terlihat menarik, pendekatan ini mengharuskan penyedia jasa menggantikan seluruh kabel yanga da dengan kabel koalsial 750 MHz, memasang head-end baru, dan membuang seluruh amplifier satu arah. Singkatnya sistem TV kabel keseluruhan perlu diganti. Akibatnya jumlah infrastruktur baru disini sebanding dengan apa yang dibutuhkan perusahaan telepon untuk memasang FTTC. Penyedia jaringan lokal harus mengoperasikan serat optik ke perumahan. Disamping itu serat optik akan berakhir di konverter optielektrik. Pada FTTC segmen akhirya berupa lokal hoop point-to-point yang menggunakan twited pair, sedang pada HFC segmen akhirnya berupa kabel koaksial yang diapakai bersama. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan anatara HFC dan FTTC. HFC menggunakan media yang diapakai bersama tanpa menggunakan switching dan routing. Setiap informasi yang disimpan didalam kabel dapat dibuang oleh setiap pelanggan. Operator HFC memerlukan server video untuk mengirimkan aliran yang dienkripsi. Sedang pada FTTC, sepenuhnya menggunakan switching, sehingga operator FTTC tidak memerlukan enkripsi, karena akan menambah kompleksitas, menurunkan unjuk kerja dan tidak memberikan keamanan.

Lokal Spooling Sistem Pada setiap jaringan distribusi lokal perlu dilengkapi dengan server spooling. Server ini merupakan Video/Audio Server berukuran kecil. Keuntungan dengan adanya server ini adalah karena jaringan distribusi lokal umumnya pendek dan tidak diswitch sehingga dapat menimbulkan sentakan seperti halnya pada jaringan backbone ATM. Disamping itu, server ini dapat memberikan penghematan yang cukup berarti. Karena para pelanggan yang ingin meminta jasa tentang film yang ingin dipesan terlebih dahulu, maka film tersebut dapat dikirim ke server ini pada jam sibuk.

Kotak Set-Top Seluruh metode distribusi lokal membawa sebuah aliran MPEG atau lebih ke rumahrumah. Untuk men-decode dan menyaksikan aliran tersebut perlu interface jaringan, decoder MPEG, dan komponen-komponen elektronik lainnya. Untuk melakukan hal tersebut, terdapat dua pendekatan : Menggunakan kotak set-bottom Menggunakan kotak set-top Pada kotak set-bottom, biasanya menggunakn komputer pribadi (PC) untuk melakukan decoding dan menyaksikan film. Pendekatan ini lebih murah (karena hanya memerlukan sebuah papan plug-in dan software), monitor non-interlaced resolusi tinggi, dan mudah diintegrasikan dengan WWW dan sumber informasi serta hiburan yang berorientasi komputer. Pada pendekatan kedua, operator jaringan lokal menyewakan atau menjual sebuah kotak set-top dimana jaringan dan pesawat televisi akan dihubungkan kepada pengguna. Pendekatan ini memiliki keuntungan dibandingkan dengan pendekatan sebelumnya, karena setiap orang memiliki sebuah TV, dan belum tentu memiliki PC. Disamping itu PC cepat ketinggalan jaman dan tidak cocok untuk decoding MPEG. Dengan memperhatikan faktor tersebut, sebagian besar sistem video on demand menggunakan model kotak set-top.

CPU

ROM

ROM

I/O

MPEG

NETWORK

Ke Network
TV Set Remote Control

Gambar-7. Arsitektur Kotak Set-Top

Arsitektut kotak set-top dapat dilihat pada Gambar-7. Perangkat ini terdiri dari CPU, ROM, RAM, pengontro I/O, decoder MPEG, serta interface jaringan. Secara optional, chip keamanan dapat ditambahkan untuk melakukan deskripsi film-film yang datang dan enkripsi pesan-pesan yang keluar. Karena kotak set-top adalah sebuah komputer maka perlu software berupa sistem operasi reeal-time berbasiskan microkernel yang disimpan dalam RAM.

Standarisasi Faktor ekonomi merupakan hal yang tidak dapat diabaikan pada implementasi video on demand, sehingga perlu adanya pasar massal yang menyerap teknologi ini. Pada pasar masal yang akan dibangun, standarisasi peralatan merupakan hal sangat penting. Bila masing-masing penyedia jasa video, operator jaringan, dan pabrik kotak set-top merancang interface-nya sendiri, maka akan sulit untuk melakukan kerja sama antara sistem yang satu dengan sistem yang lainnya. Saat ini satu-satunya standar yang dipakai adalah MPEG-2 untuk encoding video. Satandar-satandar lainnya masih belum ditentukan. Beberapa pertanyaan yang harus dijawab sebelum sistem nasional dapat dibuang adalah sebagai berikut :

TEKNOLOGI YG AKAN DIGUNAKAN BACKBONE KECEPATAN YG AKAN DIGUNAKAN BACKBONE CARA DISTRIBUSI LOKAL YG AKAN DILAKUKAN BANDWIDTH UPSTREAM YG TERSEDIA ENKRIPSI FILM KOREKSI ERROR PEMILIK KOTAK SET-TOP SISTEM TELEPON DUKUNGAN THDP APLIKASI HYPERTEXT

SONET, ATM, SONET+ATM OC-3, OC-12 HFC, FTTC 16 KBPS, 1.5 MBPS YA, TIDAK ADA, OPTI., TDK ADA PENGGUNA, OPR.JRG ANALOG, N-ISDN ADA, TDK. ADA

Bila semua bidang di atas sudah distandarisasi, kita dengan mudah akan membayangkan banyak vendor yang menghasilkan produk yang berisi sebuah kotak dengan jack telepon, monitor, keyboard, dan mouse yang dapat dipakai untuk menonton video, komputasi, atau mungkin melakukan kedua pekerjaan tersebut sekaligus. Sehingga konvergensi industri komputasi, komunikasi dan hiburan yang sering diperbincangkan akan menjadi kenyataan.

Kesimpulan Layanan Broadband adalah layanan masa depan yang akan menjadi primadona dalam layanan konten internet. Dimana salah satu yang akan menjadi trend adalah layanan Video On Demand seperti yang akan dikembangkan oleh PT Telkom yaitu IP-TV. Kedua layanan ini memanfaatkan perkembangan akses broadband yang disupport oleh infrastruktur dari jaringan IP.

Daftar Pustaka : Stallings, W. Data and Computer Communications. Prentice Hall International, Inc., 2004.