Anda di halaman 1dari 20

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL REFERAT TINJAUAN MEDIKOLEGAL MENGENAI UNDANG-UNDANG PEMBATASAN MEROKOK DENGAN KEBEBASAN MEROKOK

DI INDONESIA

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Dalam Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter

Dokter Pembimbing : dr. Santosa, SpF Residen Pembimbing : dr. M. Ainurrofiq

Penyusun Frederick Daniel Doddy D.Wea Randika Hermanda Noveyla Hardhaning Tyas Pramitya Dewi Ambarwati Frisca Ayu Purmasari

: FK ATMAJAYA FK UPN FK UPN FK UPN FK UPN FK UPN

2010-061-115 111022077 111022024 1110221054 1110221014 1110221042

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO RSUP DR. KARIADI SEMARANG Periode 8 Agustus 27 Agustus 2011

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena rahmat dan hidayah-Nya sehingga referat ini dapat diselesaikan dengan baik. Terima kasih kepada dr. Santoso, SpF selaku dosen penguji referat dan dr. M. Ainurrofiq selaku residen pembimbing yang telah banyak membantu kami dalam penyusunan referat ini. Penulis juga berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan referat ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Referat ini disusun dalam rangka memenuhi sebagian persyaratan dalam menempuh pendidikan kepaniteraan kilinik di Departemen Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro di Rumah sakit Dokter Kariadi Semarang. Referat ini berisi pembahasan mengenai Aspek Medikolegal Rokok dengan harapan agar pembaca khususnya mahasiswa, mempu memahami dan mengerti isi dari referat ini. Akhir kata, semoga referat ini dapat memberi tambahan pengetahuan bagi para pembaca sekaligus dapat menjadi bahan pertimbangan untuk pembahasan maupun penelitian lebih lanjut. Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis mohon maaf apabila banyak kesalahan serta kekurangan serta penulis mengharapkan segala kritik dan saran yang membangun. Semoga referat ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Semarang,

Agustus 2011

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG


Rokok merupakan salah satu zat adiktif yang bila digunakan dapat mengakibatkan bahaya kesehatan bagi individu dan masyarakat baik selaku perokok aktif maupun perokok pasif. Oleh sebab itu diperlukan perlindungan terhadap bahaya rokok bagi kesehatan secara menyeluruh, terpadu, dan bekesinambuangan. Selain itu, udara yang sehat dan bersih adalah hak bagi setiap orang, maka diperlukan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat untuk mencegah dampak penggunaan rokok baik langsung maupun tidak langsung terhadap kesehatan, guna terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Secara nasional, konsumsi rokok di Indonesia pada tahun 2002 berjumlah 182 milyar batang yang merupakan urutan ke-5 diantara 10 negara di dunia dengan konsumsi tertinggi pada tahun yang sama. Secara aggregat, konsumsi rokok di Indonesia meningkat 7 kali lipat selama periode 1970-2000 dari 33 milyar batang pada tahun 1970 menjadi 217 milyar batang pada tahun 2000. Kenaikan konsumsi rokok yang paling tinggi (159%) terjadi antara tahun 1970 dan 1980, yaitu dari 33 milyar batang menjadi 84 milyar batang bersamaan dengan mekanisasi industri rokok kretek pada tahun 1974. Keputusan untuk berhenti merokok dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Faktorfaktor tersebut diantaranya adalah karena menderita penyakit akibat rokok, sakit atau kematian keluarga atau teman, pengaruh media, karena harga rokok, lingkungan bebas asap rokok dan juga adanya dukungan program berhenti merokok serta pengobatan. Saat ini sudah ada beberapa undang-undang maupun peraturan daerah yang dibuat untuk mengatur perihal tersebut seperti tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2003 Tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan dan Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 tahun 2009. Tetapi dalam pelaksanaan pembatasan merokok tersebut terdapat tarik ulur berbagai kepentingan yang menyebabkan kegagalan dalam upaya pengaturan konsumsi rokok. Hal ini terjadi karena para perokok yang merasa hak mereka dikebiri. Di sisi lain, para pemilik dan pengelola fasilitas umum pun banyak yang merasa keberatan dengan kewajiban penyediaan kawasan khusus rokok sebab hal itu sama saja dengan

penambahan jumlah biaya yang harus mereka keluarkan. Para pelaku bisnis merasa keberatan karena rokok merupakan suatu komoditi yang sangat menguntungkan dimana setiap tahunnya menyumbang pendapatan negara sebesar 55 triliun. Di

samping itu, industri rokok sendiri memiliki kontribusi yang besar baik terhadap penerimaan negara maupun menumbuhkan lapangan kerja bagi masyarakat. Bahkan, saat ini sebanyak 6 juta pekerja terserap di sektor industri rokok sehingga muncul anggapan bahwa pembatasan merokok justru menyebabkan kemiskinan. Adanya undang undang larangan dan pembatasan merokok ini sendiri sebenarrnya dibuat tidak hanya untuk sekedar memberatkan saja. Namun ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan pembuatan dan pelaksanaan peraturan tersebut. Beberapa manfaat yang bisa diperoleh dengan adanya undang undang tersebut di antaranya adalah membudayakan ketertiban pada masyarakat, khususnya di kalangan perokok untuk bisa menaati peraturan yang sudah ada, menciptakan lingkungan yang nyaman dan sehat tanpa adanya gangguan asap rokok yang bisa mengganggu mereka yang tidak merokok, mencegah penyebaran penyakit yang diakibatkan oleh asap rokok. Hal ini khususnya untuk melindungi para perokok pasif, mengurangi kebiasaan merokok di kalangan perokok karena dalam satu batang rokok terdapat jutaan racun yang bisa menyebabkan penyakit di dalam tubuh manusia. Dengan pembatasan rokok ini, lambat laun para perokok akan dipaksa untuk mengurangi kebiasannya. Mengingat berbagai kepentingan yang mempengaruhi pelaksanaan undangundang pembatasan merokok. Maka dalam referat ini akan dibahas mengenai aspek medikolegal mengenai hukum yang mengatur rokok dan pengunaannya serta pembatasan merokok dengan kebebasan merokok di Indonesia.

I.2. PERUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah yang kami temukan adalah apakah hukum yang ada sudah cukup mengatur mengenai rokok?

I.3. TUJUAN
I.3.a. Tujuan Umum Mengetahui perundangan dan perda yang mengatur mengenai rokok

I.3.b. Tujuan Khusus Mengetahui zat-zat yang terkandung dalam rokok serta bahaya kesehatannya. Menganalisis mengenai aspek medikolegal yang ada sudah cukup memenuhi pengaturan rokok

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1. ROKOK II.1.a. Definisi Menurut PP No.19 tahun 2003, diketahui bahwa rokok adalah hasil olahan tembakau yang dibungkus, termasuk cerutu ataupun bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana Tabacum, Nicotiana Rustica dan spesies lainnya, atau sintesis lainnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan. II.1.b. Kandungan Setiap rokok atau cerutu mengandung lebih dari 4.000 jenis bahan kimia dan 400 dari bahan-bahan tersebut dapat meracuni tubuh, sedangkan 40 dari bahan tersebut bisa menyebabkan kanker. Kandungan rokok sebagai berikut : 1) Nikotin Nikotin mengganggu sistem saraf simpatis dengan akibat

meningkatnya kebutuhan oksigen miokard. Selain menyebabkan ketagihan merokok, nikotin juga merangsang pelepasan adrenalin, meningkatkan frekuensi denyut jantung, tekanan darah, kebutuhan oksigen jantung, serta menyebabkan gangguan irama jantung. Nikotin juga mengganggu kerja saraf, otak, dan banyak bagian tubuh lainnya. Nikotin mengaktifkan trombosit dengan akibat timbulnya adhesi trombosit (penggumpalan) ke dinding pembuluh darah. 2) Karbon Monoksida Gas berbahaya ini biasanya ditemukan pada asap pembuangan mobil. Karbon monoksida dapat menggantikan jumlah oksigen yang biasanya dibawa oleh sel darah merah sehingga jantung perokok menjadi berkurang suplai oksigennya karena karbon monoksida memiliki daya afinitas yang lebih kuat dibandingkan dengan oksigen. Hal ini sangat berbahaya karena bisa meningkatkan risiko serangan jantung dan sesak napas yang menyebabkan penurunan stamina dan kematian. Selain itu karbon monoksida juga

merusak lapisan pembuluh darah dan meningkatkan kadar lemakdalam pembuluh darah akibatnya bisa menyebabkan penyumbatan. 3) Tar Tar biasa digunakan untuk melapisi jalan atau aspal. Tar adalah zat yang bersifat karsinogenik yang mengandung bahan kimia beracun yang menyebabkan kerusakan sel paru-paru dan kanker. 4) Arsenik Arsenik biasa digunakan untuk membunuh serangga. Dimana arsenic terdiri dari unsur-unsur yaitu : a) Nitrogen oksida yaitu unsur bahkan kimia dapat yang dapat

mengganggu

saluran

pernapasan,

menyebabkan

kerusakan pada kulit. b) Amonium karbonat yaitu zat yang bisa membentuk plak

kuning pada permukaan lidah dan gigi serta dapat mengganggu kelenjar makanan dan perasaan yang terdapat di permukaan lidah. 5) Amoniak Amoniak merupakan gas yang tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen dan hidrogen. Zat ini memiliki bau yang sangat tajam dan mudah masuk ke dalam tubuh. Karena kerasnya racun yang terdapat pada zat ini maka sedikit saja bisa membuat sinkop. 6) Asam Sianida Asam Sianida merupakan sejenis gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak memiliki rasa dan mudah terbakar. Zat ini sangat berbahaya untuk pernapasan bisa menyebabkan kematian. 7) Nitrogen oksida Nitrogen oksida merupakan sejenis gas yang tidak berwarna. Jika terisap bisa menimbulkan rasa sakit. 8) Formaldehid Formaldehid adalah zat yang biasa di gunakan untuk

mengawetkan serangga dan jenazah. 9) Fenol Fenol merupakan campuran yang terdiri dari kristal yang unik yang dihasilkan dari destilasi beberapa zat organik, seperti kayu dan arang. Fenol

dalam tubuh akan berikatan dengan protein sehingga menghalangi aktivitas enzim. 10) Asetol Hasil pemanasan aldehid dan mudah menguap dengan alkohol. 11) Asam sulfida Sejenis gas beracun yang mudah terbakar dengan bau yang khas. Zat ini menghalangi oksidasi enzim. 12) Piridin Cairan yang tidak berwarna dengan bau yang tajam. Zat ini dapat digunakan untuk mengubah sifat alkohol sebagai pelarut. 13) Metil klorida Merupakan campuran dari zat-zat yang memiliki valensi satu, yang unsur-unsur utamanya berupa hidrogen dan karbon.Zat ini sangat beracun. 14) Metanol Sejenis cairan ringan yang mudah menguap dan terbakar. Zat ini bisa menyebabkan kebutaan dan kematian. II.1.c. Bahaya Rokok memiliki bahan yang sangat berbahaya bagi kesehatan orang yang merokok maupun orang yang berada di sekitarnya. Dibawah ini menunjukan berbagai gangguan kesehatan yang disebabkan oleh rokok: 1) Kanker Rokok adalah penyebab kanker yang utama. Kematian akibat kanker yang disebabkan oleh rokok pun meningkat.Tar yang dikandung didalam rokok dapat mengkikis selaput pada organ dan akan mengubah sel-sel normal menjadi sel-sel ganas.Jenis jenis kanker karena rokok antara lain adalah kanker trakea, kanker bronkus, kanker paru-paru, kanker mulut, kanker orofaring, kanker lambung, kanker hati, kanker pankreas, kanker rahim, kanker kandung kemih, kanker esofagus, leukimia mieloid akut, kanker ginjal, kanker ureter dan kanker kolon. 2) Penyakit paru-paru Merokok dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi saluran napas serta jaringan paru-paru. Pada saluran pernapasan besar, sel-sel mukosa membesar dan kelenjar mukus bertambah banyak. Pada saluran pernapasan kecil, terjadi radang ringan dan penyempitan akibat bertambahnya sel dan

penumpukan lendir. Pada jaringan paru-paru, terjadi peningkatan jumlah sel radang dan kerusakan alveoli. Hal-hal tadi bisa menyebabkan Penyakit Obstruksi Paru-paru Menahun (PPOM), termasuk asma, emfisema dan bronkitis kronis. 3) Penyakit jantung koroner Pengaruh utama rokok pada penyakit jantung disebabkan oleh dua bahan kimia dalam rokok yaitu nikotin dan karbon monoksida. Nikotin dapat mengganggu irama jantung dan menyebabkan sumbatan pada pembuluh darah jantung, sedangkan karbon monoksida mengakibatkan suplai oksigen untuk jantung berkurang karena karbon monoksida berikatan dengan haemoglobin (Hb) dengan kuat. Akibatnya bisa menyebabkan hipertensi, penyakit jantung koroner, aterosklerosis pada pembuluh darah dan kadar lemak yang meningkat. 4) Impotensi Nikotin akan beredar keseluruh tubuh termasuk ke organ reproduksi. Zat ini dapat mengganggu proses spermatogenesis sehingga kualitas sperma menjadi buruk. Selain itu menyebabkan disfungsi ereksi. 5) Merusak otak dan indera Nikotin menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan kerusakan pembuluh darah sehingga suplai oksigen ke otak dan indera-indera tubuh berkurang. Hal ini dapat menyebabkan penyakit stroke.

6)

Mengancam kehamilan Wanita hamil yang merokok memiliki risiko melahirkan bayi dengan

berat badan yang rendah, malformasi, abortus bahkan bayi meninggal saat dilahirkan. 7) Sistem imun menurun Merokok dapat menurunkan sistem kekebalan sehingga perokok mudah terserang penyakit, seperti lupus erimatosis yang bisa menyebabkan alopesia, furunkel, ulserasi, stomatitis, ruam di wajah, kepala dan tangan. 8) Katarak Adanya zat kimia beracun dari asap rokok mengiritasi mata atau menghambat aliran oksigen untuk suplai sel-sel mata. Akibatnya menyebabkan buramnya lensa mata yang menghalangi masuknya cahaya.

9)

Keriput Asap rokok dapat membakar protein dan merusak vitamin A yang

memelihara elastisitas kulit, serta menurunkan kelancaran aliran darah. Akibatnya kulit menjadi keriput, kasar, kering dan bergaris-garis. 10) Caries gigi Zat kimia yang ada di rokok bisa menimbulkan plak pada gigi. Akibatnya menyebabkan caries gigi.

II.2. UU No 36 Tahun 2009 II.2.a. Tentang Kesehatan Bagian Ketujuh Belas Pengamanan Zat Adiktif

Pasal 113 (1) Pengamanan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif diarahkan agar tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan perseorangan, keluarga, masyarakat, dan lingkungan. (2) Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau, padat, cairan, dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan/atau masyarakat sekelilingnya. (3) Produksi, peredaran, dan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif harus memenuhi standar dan/atau persyaratan yang ditetapkan.

Pasal 114 Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan rokok ke wilayah Indonesia wajib mencantumkan peringatan kesehatan.

Pasal 115 (1) Kawasan tanpa rokok antara lain: a. fasilitas pelayanan kesehatan; b. tempat proses belajar mengajar; c. tempat anak bermain; d. tempat ibadah; e. angkutan umum; f. tempat kerja; dan g. tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan. (2) Pemerintah daerah wajib menetapkan kawasan tanpa rokok di wilayahnya.

Pasal 116 Ketentuan lebih lanjut mengenai pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. II.2.b. Bagian Ketujuh belas Pasal 113-116 II.2.c. Peraturan Pemerintah RI No 19 Tahun 2003

BAB II PENYELENGGARAAN PENGAMANAN ROKOK Bagian Pertama Umum

Pasal 2 Penyelenggaraan pengamanan rokok bagi kesehatan bertujuan untuk mencegah penyakit akibat penggunaan rokok bagi individu dan masyarakat dengan : a. melindungi kesehatan masyarakat terhadap insidensi penyakit yang fatal dan penyakit yang dapat menurunkan kualitas hidup akibat penggunaan rokok; b. melindungi penduduk usia produktif dan remaja dari dorongan lingkungan dan pengaruh iklan untuk inisiasi penggunaan dan ketergantungan terhadap rokok; c. meningkatkan kesadaran, kewaspadaan, kemampuan dan kegiatan masyarakat terhadap bahaya kesehatan terhadap penggunaan rokok.

Pasal 3 Penyelenggaraan pengamanan rokok bagi kesehatan dilaksanakan dengan pengaturan : a. kandungan kadar nikotin dan tar; b. persyaratan produksi dan penjualan rokok; c. persyaratan iklan dan promosi rokok; d. penetapan kawasan tanpa rokok.

Bagian Kelima Iklan dan Promosi Pasal 16


(1)

Iklan dan promosi rokok hanya dapat dilakukan oleh setiap orang yang memproduksi rokok dan/atau yang memasukkan rokok ke dalam wilayah Indonesia.

(2)

Iklan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan di media elektronik, media cetak atau media luar ruang.

(3)

Iklan pada media elektronik sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) hanya dapat dilakukan pada pukul 21.30 sampai dengan pukul 05.00 waktu setempat.

Pasal 17 Materi iklan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2) dilarang : a. merangsang atau menyarankan orang untuk merokok; b. menggambarkan atau menyarankan bahwa merokok memberikan manfaat bagi kesehatan; c. memperagakan atau menggambarkan dalam bentuk gambar, tulisan atau gabungan keduanya, bungkus rokok, rokok atau orang sedang merokok atau mengarah pada orang yang sedang merokok; d. ditujukan terhadap atau menampilkan dalam bentuk gambar atau tulisan atau gabungan keduanya, anak, remaja, atau wanita hamil; e. mencantumkan nama produk yang bersangkutan adalah rokok; f. bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.

Pasal 18
(1)

Setiap iklan pada media elektronik, media cetak dan media luar ruang harus mencantumkan peringatan bahaya merokok bagi kesehatan.

(2)

Pencantuman peringatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus ditulis dengan huruf yang jelas sehingga mudah dibaca, dan dalam ukuran yang proporsional disesuaikan dengan ukuran iklan tersebut.

Pasal 19 Setiap orang yang memproduksi rokok dan/atau memasukkan rokok kedalam wilayah Indonesia dilarang melakukan promosi dengan memberikan secara cuma-cuma atau hadiah berupa rokok atau produk lainnya dimana dicantumkan bahwa merek dagang tersebut merupakan rokok.

Pasal 20 Kegiatan sponsor dalam rangka iklan dan promosi yang dilakukan oleh setiap orang yang memproduksi rokok dan/atau yang memasukkan rokok ke dalam wilayah Indonesia, hanya dapat dilakukan dengan tetap mengikuti ketentuan periklanan dan promosi sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 21
(1)

Setiap orang yang memproduksi rokok dan/atau memasukkan rokok ke wilayah Indonesia dalam melakukan iklan dan promosi rokok pada suatu kegiatan harus memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 , Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19 dan Pasal 20.

(2)

Pimpinan atau penanggung jawab suatu kegiatan berkewajiban menolak bentuk promosi rokok yang tidak memenuhi Pasal 16, Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19 dan Pasal 20.

Bagian Keenam Kawasan Tanpa Rokok Pasal 22 Tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja dan tempat yang secara spesifik sebagai tempat proses belajar mengajar, arena kegiatan anak, tempat ibadah dan angkutan umum dinyatakan sebagai kawasan tanpa rokok.

Pasal 23 Pimpinan atau penanggungjawab tempat umum dan tempat kerja yang menyediakan tempat khusus untuk merokok harus menyediakan alat penghisap udara sehingga tidak mengganggu kesehatan bagi yang tidak merokok.

Pasal 24 Dalam angkutan umum dapat disediakan tempat khusus untuk merokok dengan ketentuan: a. lokasi tempat khusus untuk merokok terpisah secara fisik/tidak bercampur dengan kawasan tanpa rokok pada angkutan umum yang sama; b. dalam tempat khusus untuk merokok harus dilengkapi alat penghisap udara atau memiliki sistem sirkulasi udara yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang perhubungan.

Pasal 25 Pemerintah Daerah wajib mewujudkan kawasan tanpa rokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22, di wilayahnya.

II.3. HAM dan Kebebasan Merokok II.3.a. Definisi HAM / Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan anugerah-NYA yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang , demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia ( Pasal 1 angka 1 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. 26. Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM) II.3.b. HAM Indonesia

II.3.c. Pelanggaran HAM Adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut Hak Asasi Manusia seseorang atau kelompok yang dijamin oleh Undang-Undang dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak dapat memperoleSh penyelesaian hukum yang adil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku ( Pasal 1 angka 6 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM ) II.3.d. Kebebasan Merokok II.4. Praktik Pelaksanaan UU Pembatasan Merokok Pengendalian tembakau menjadi prioritas utama dalam program WHO. Ide awal tentang perlunya instumen pengendalian tembakau secara global diinisiasi pada Sidang Umum WHO ke 48 pada bulan Mei 1995. WHO FCTC (Framework Convention on Tobacco Control ) berhasil diadopsi dalam Sidang Umum WHO pada tanggal 21 Mei 2003 dan mulai diberlakukan sejak tanggal 27 Februari 2005. FCTC adalah suatu bentuk hukum internasional dalam pengendalian masalah
tembakau, yang mempunyai kekuatan mengikat secara hukum (internationally legally binding instrument) bagi negara-negara yang meratifikasinya. Naskah FCTC dirancang sejak tahun 1999 dan selesai disusun oleh WHO pada bulan Februari 2003 setelah melalui enam kali pertemuan negosiasi internasional dan beberapa kali pertemuan-

pertemuan regional. Naskah FCTC telah disepakati secara aklamasi dalam sidang WHA (World Health Assembly), yaitu forum pengambilan keputusan tertinggi WHO pada bulan Mei 2003. Tujuan dari FCTC adalah untuk melindungi generasi sekarang dan mendatang terhadap kerusakan kesehatan, konsekuensi sosial, lingkungan dan ekonomi karena konsumsi tembakau dan paparan kepada asap tembakau, dengan menyediakan suatu kerangka bagi upaya pengendalian tembakau untuk dilaksanakan oleh pihak-pihak terkait di tingkat nasional, regional dan internasional guna mengurangi secara berkelanjutan dan bermakna prevalensi penggunaan tembakau serta paparan terhadap asap rokok.

Pemerintah Indonesia berperan aktif dalam semua pertemuan internasional yang diselenggarakan oleh Intergovernmental Negotiating Body (INB) di Geneva (sebanyak enam kali), maupun dalam pertemuan regional antara negara-negara anggota WHO Kawasan Asia Tenggara (WHO SEARO) dan ASEAN. Namun, FCTC di Indonesia belum diratifikasikan karena masih menimbang berbagai aspek, sehingga praktek undang-undang pembatasan merokok di Indonesia belum dapat dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

II.5. Hubungan UU Pembatasan Merokok dengan Kebebasan Merokok


PP 19/2003 merupakan peraturan pemerintah pengganti PP 81/1999 dan PP 38/2000 tentang pengendalian tembakau. PP 19/2003 mencakup aspek yang berkaitan dengan ukuran dan jenis pesan peringatan kesehatan, pembatasan waktu bagi iklan rokok di media elektronik, pengujian kadar tar dan nikotin. PP ini tidak memuat pembatasan kadar maksimum tar dan nikotin. FCTC memuat pasal-pasal tentang pengaturan harga dan pajak untuk produk-produk tembakau, sedang PP 19/2003 tidak memuat pasal-pasal semacam itu. Perbedaaan antara PP 19/2003 dan FCTC

Isu
Kebijakan Harga dan Pajak

FCTC
Implementing tax policies and, where appropriate, price policies, on tobacco products so as to contribute to the health objectives aimed at reducing tobacco consumption (6:2a) Prohibiting or restricting, as appropriate, sales to and/or

PP 19/2003
Tidak ada pasal mengenai kebijakan harga dan pajak

Penjualan

Tidak ada pasal mengenai penjualan bebas cukai

bebas cukai

importations by international travelers of tax-and duty-free tobacco products (6:2b) The Parties shall provide rates of taxation for tobacco products and trends in tobacco consumption in their periodic reports to the Conference of the Parties, in accordance with Article 21 (6:3) Tidak ada ketentuan pemantauan besarnya pajak dan tren konsumsi tembakau

Besarnya Pajak

BAB III PENUTUP

III.1. KESIMPULAN III.2. SARAN

DAFTAR PUSTAKA