Anda di halaman 1dari 2

puisi ditinggal kekasihku

Aku Silih Bagi Kekasihku Seperti langit yang terkoyak oleh petir Seperti itulah batinku ketika kau mangkir Manisnya cinta bercampur pahit getir Bayangan dirimu seakan abadi terukir Cintamu semu bagaikan pelangi Begitu indah namun hanya ilusi Jeritan dan rintih tiada arti Kami kau tinggalkan melirih Jiwaku kosong ketika ia pun pergi Aku sekarang sendiri Menatap langit dengan air mata tak henti Langit pun menangis tiada henti Menggantikan aku yang lelah menanti Hampa mendera diriku Dendam marah dan benci meliputi auraku Namun apa dayaku Harus kuterima kenyataan tentang dirimu Masih teringat jelas di benakku Kau serahkan aku sebagai silih dirimu Tanpa rasa iba kau tidak membelaku Sayatan demi sayatan ku terima Seluruh jiwaku terluka Kau melihatku dengan mata terbuka Tanpa mengucap sepatah kata Kini aku hanya bisa mendengar nafasku Yang terengah-engah mengais setitik hidup yang hampir sirna Aku letih ya Tuhan, biarlah aku melepasnya Kini dari tepi sungai belerang Engkau selalu meratapi sebuah batu Batu kusam yang akan hilang oleh waktu

Rasa Itu Tetap Ada Senja Jingga bertengger di kaca jendela Aku duduk termenung terpesona rona warna Ku lihat bayanganmu di kaca Memanggil lembut tanpa kata Air mata mulai menitik Mengingat dirimu yang pergi tanpa kata Cinta luruh menjadi duka Mengiringi setiap langkah kaki tanpa suara

Serpihan Hati Tidak Terganti Ketika cinta mengetuk Cinta menawarkan selubung indah terkutuk Ia melekat lemah lembut dan erat Ia mengeluarkan akar hasrat penuh jerat Ketika cinta pergi Ia mencabik dengn keji Luka dan gurat seakan tak terobati Dan abadi berada di hati