Anda di halaman 1dari 13

MEKANIKA BATUAN FORMASI

1. Pendahuluan
Mekanika Batuan merupakan ilmu pengetahuan yang secara teori maupun
pada prakteknya membahas tentang perilaku mekanis batuan termasuk di
dalamnya membahas tentang berbagai metoda perancangan perilaku batuan yang
sesuai dengan disiplin ilmu teknik yang diperlukan.
Sebagian besar batuan diklasifikasikan sebagai material rapuh (brittle)
yakni material yang dapat hancur bila diberi suatu beban yang melebihi daya
tahan material tersebut. Penghancuran suatu batuan tidak melalui tahap aliran
plastis (plastic flow) seperti halnya pada material ductile. Dengan kata lain,
dengan pemberian suatu gaya, maka batuan akan berubah bentuk secara elastis
dan kemudian akan hancur tanpa melalui perubahan bentuk secara plastis (plastic
flow).
Sifat batuan yang cukup penting adalah hubungan kerapuhan relatif batuan
terhadap tegangan (tension). Dalam kenyataannya, kuat tekan (compressive
strength) batuan dapat menjadi dua kali lipat dari kuat tarik (tensile strength)
batuan tersebut. Sifat batuan seperti ini akan sangat berguna untuk pelaksanaan
perekahan hidrolik. Pada dasarnya perekahan hidrolik meliputi kekeuatan
penghancuran dinding lubang bor yakni kemampuan menghancurkan dinding
batuan reservoir.
2. Asumsi
Penyelesaian terhadap masalah mekanika batuan di sini akan
menggunakan model penyelesaian secara matematis. Seperti halnya semua ilmu
keteknikan, penyelesaian terhadap masalah-masalah yang ada akan menggunakan
beberapa asumsi. Dalam mekanika batuan, suatu batuan dapat diasumsikan
sebagai suatu material yang bersifat elastis, seragam (homogen), dan isotropis.
2.1. Elastisitas
Bila suatu material mengalami perubahan bentuk (deformasi) akibat beban
yang diberikan dari luar dan material tersebut akan berubah kembali ke bentuk
semula setelah beban tersebut dihilangkan maka material tersebut dikatakan
bersifat elastis.
Sebuah yang material yang kembali sepenuhnya kepada bentuk semula
dinamakan elastis sempurna, sedangkan apabila tidak sepenuhnya kembali kepada
bentuk semula setelah beban dihilangkan disebut elastis parsial. Di dalam hal
benda elastis sempurna, usaha yang dilakukan oleh gaya-gaya luar selama
deformasi sepenuhnya ditransformasikan ke dalam tenaga potensial regangan.
Sedangkan di dalam hal benda elastis parsial, sebagian dari usaha yang dilakukan
oleh gaya-gaya luar selama deformasi diubah dalam bentuk panas yang timbul
dalam benda itu selama berlangsungnya deformasi non-elastis.
Di sini batuan dapat dikategorikan elastis namun tidak semua batuan
bersifat elastis. Biasanya terdapat beberapa jenis batuan akan menampakan sifat
elastisnya untuk harga-harga tertentu tergantung dari besarnya tegangan yang
diberikan. Teori tentang elastisitas telah menghasilkan banyak penyelesaian yang
akurat terhadap masalah-masalah yang timbul dalam ilmu mekanika batuan.
Pada kasus di mana batuan menampakan sifat elastisnya bila diberi beban,
solusi untuk asumsi elastisitas akan benar selama beban yang diberikan tersebut
tidak melebihi batas elastis dari batuan tersebut. Elastisitas merupakan teori yang
sebagian besar dapat diaplikasikan di lapangan namun penyimpangan-
penyimpangan yang terjadi mengakibatkan masalah tersebut sangat susah untuk
dipecahkan.
2.2. Homogenitas.
Suatu material dikatakan homogen bila elemen-elemen terkecil dari
material tersebut memiliki sifat fisik yang sama. Dapat dikatakan bahwa batuan
bukan merupakan material yang homogen karena batuan mengandung mineral dan
kristal dengan jenis yang beraneka ragam, rekahan besar dan kecil, serta
keanekaragaman lainnya. Namun asumsi homogenitas adalah cukup beralasan
untuk dipakai bila dianggap batuan yang direkahkan merupakan suatu bagian
yang amat kecil apabila dibandingkan dengan keseluruhan luas batuan formasi.
2.3. Isotropis
Asumsi isotropis diperlukan untuk penyederhanaan masalah-masalah
perekahan secara matematis. Perlu diketahui bahwa perubahan bentuk (deformasi)
dapat terjadi sebagai akibat dari gaya yang diberikan seperti juga pada
pelaksanaan perekahan hidrolik di mana lebar rekahan adalah akibat dari
perubahan bentuk (deformasi) yang diakibatkan oleh kompresi fluida yang
diinjeksikan. Di sini asumsi isotropis menghasilkan hubungan secara matematis
yang lebih sederhana antara gaya-gaya yang diberikan dengan bagaimana
perubahan bentuk (deformasi) itu terjadi.
Sebagai contoh, karakteristik dari gaya-deformasi seperti isotropis,
homogen, dan elastis dapat dicirikan oleh dua konstanta yang dikenal sebagai
Modulus Young dan Perbandingan Poisson. Bila salah satu konstanta tersebut
dalam pemakaiannya tidak menggunakan asumsi isotropis terhadap suatu
material, maka untuk mengidentifikasi material tersebut akan membutuhkan 21
koefisien yang berdiri sendiri dan ini tentunya akan menyulitkan.
Solusi matematis untuk sebagian besar masalah mekanika batuan nantinya
akan menggunakan persamaan-persamaan tegangan (stress) dan regangan (strain).
Definisi teoritis untuk persamaan tersebut akan dibahas pada bagian-bagian
selanjutnya dari bab ini.
3. Manfaat
Teori-teori dalam mekanika batuan telah digunakan untuk mengevaluasi
berbagai proses kerja pada pelaksanaan perekahan hidrolik. Manfaat dari
memahami tentang ilmu mekanika batuan pada perekahan hidrolik antara lain :
Untuk penentuan distribusi tegangan di tempat (in-situ stress) di sekitar
lubang bor.
Untuk memperkirakan tekanan awal rekahan dan orientasi rekahan.
Untuk menentukan geometri rekahan termasuk hubungan antara tekanan
dalam rekahan, in-situ stress, keadaan batuan, dan dimensi rekahan.
Untuk mengevaluasi ketahanan rekahan melalui studi tentang tegangan pada
lapisan-lapisan yang berbatasan, variasi batuan, dan kondisi permukaan.
4. Besaran-besaran Mekanika Batuan
4.1. Stress dan Strain
Setiap material apabila dikenai beban maka akan mengalami perubahan
bentuk (deformasi). Gaya atau tekanan per satuan luas disebut stress, (o). Selain
stress, perubahan bentuk dalam hal ini perubahan dalam panjang, (o) dibanding
dengan panjang semula, (l) disebut strain, (c). Untuk tingkat tegangan yang lemah
plot antara stress vs strain akan membentuk suatu garis lurus seperti yang terjadi
pada material logam yang merupakan jenis material linear elastis. Gambar 1.
menunjukkan keadaan tersebut.
Gambar 1.
Hubungan Stress-Strain untuk Material Elastis
Tentu saja ada stress maksimum yang dapat diterima oleh suatu bahan
sebelum patah. Material untuk pemipaan seperti baja, peralon, mempunyai sifat
seperti ini, ketika stress dinaikkan sampai tingkat paling tinggi maka patahan akan
terjadi. Pada material rapuh seperti batuan, patahan bisa terjadi tiba-tiba dengan
sedikit tambahan strain. Stress yang dibutuhkan untuk menyebabkan patahan
disebut dengan uniaxial compressive strength, (C
o
).
Closure pressure (stress) adalah harga rata-rata minimum dimana rekahan
dapat terjadi. Harga ini dapat meningkat jika tekanan pori-pori naik (poro-elastic-
effect). Dibawah ini akan dibicarakan mengenai mekanika batuan untuk
meramalkan dimensi rekahan.
In-situ Stress
Pada proyek perakahan, perlu diketahui besaran-besaran yang berlaku
dibatuan yang bisa didapat dari ilmu mekanika batuan yang berhubungan dengan
sifat batuan yang akan direkahkan.
A
F
Stress
lim
0 A
A
A
= o =
A
.............................................. (1)
Gambar 2. menunjukkan skematik dari arah stress dan shear pada batuan.
A
= Normal stresses
= Shear stresses
F1
F2
F3
Gambar 2.
Skematik Shear dan Normal Stress
Rekahan horizontal terjadi bila
v bf
p > , atau bilamana
v o v
T v v > + ) 1 /( 2 .
Dengan anggapan gradien 1 psi/ft, v = 0,25, dan T
o
= 1000 psi, maka kedalaman
maksimum akan 3000 ft.
Strain dapat ditulis sebagai :
L
L L
lim Strain
f
0 L

= c =

.......................................................... (2)
3.2. Perbandingan Poisson
Pemberian kuat tekan (compressive strength) pada suatu bidang material di
sepanjang bidang aksis akan mengakibatkan material tersebut menjadi semakin
pendek dan mengembang ke arah yang tegak lurus dengan bidang aksis seperti
yang terlihat pada Gambar 3. Perbandingan harga strain yang berada tegak lurus
terhadap beban stress pada bidang lateral dengan harga strain yang tegak lurus
terhadap beban stress pada bidang aksis disebut sebagai Perbandingan Poisson
().
v =
Strain Axial
Strain Lateral
=
(
]
1

in / in
in / in
................................................. (3)
Material yang terkena stress dan berubah bentuk ke arah lateral
mempunyai harga v sebesar 0,5 dan bila material tersebut tidak berubah bentuk
secara lateral bila dikenai beban aksial, maka harga v = 0,0. Besi lunak
mempunyai harga v sekitar 0,3. Secara umum, limestone, batupasir, shale, dan
garam mempunyai harga v masing-masing sebesar 0.15,0.25, 0.40, dan 0.50.
L
Undeformed
Y
X
2
Y
X
X
=
Y
Y
=
X
P1
Deformed
Poissons ratio
Lateral strain
Longitudinal strain
=
Gambar 3.
Perhitungan Poisson Ratio
3.3. Modulus Shear
Tegangan geser (shear stress) pada permukaan suatu bidang material akan
mengakibatkan bidang permukaan tersebut berpindah atau bergeser membentuk
suatu bidang baru yang letaknya paralel dengan bidang semula seperti yang
ditunjukkan oleh Gambar 4. Perbandingan antara besar harga shear stress yang
diberikan terhadap sudut yang dibentuk akibat deformasi yang terjadi (kekakuan
suatu material) dikenal sebagai Modulus Shear (G). Secara matematis dapat
dituliskan :
G =

A F /
=
Deformasi Sudut Besar
Stress Shear
=
(
(
]
1

radian
in / lb
2
............ (4)
Untuk fluida, besar harga G sama dengan nol sedangkan untuk padatan, G
merupakan suatu bilangan terbatas.
Gambar 4.
Definisi Shear Modulus
3.4. Modulus Bulk
Beban compressive yang diberikan terhadap semua bagian suatu balok
material pada kondisi hidrostatis, akan mengakibatkan pengurangan volume bulk
total. Perbandingan antara tegangan yang diberikan (gaya per unit luas permukaan
suatu bidang) terhadap perubahan volume untuk setiap satu unit volume awal
suatu material dinamakan Modulus Bulk (K). Secara matematis :
K =
v
A F
/
/

=
Awal Volume / Volume Perubahan
Permukaan Luas / Gaya
=
(
(
]
1

3 3
2
in / in
in / lb
.................................................. ...........(5)
Modulus Bulk berbanding terbalik terhadap harga kompresibilitas
3.5. Modulus Young
Jumlah strain yang disebabkan oleh stress adalah fungsi dari kekakuan
material. Kekakuan atau kekenyalan dapat ditunjukkan dengan lekukan atau
kemiringan pada plot antara axial stress dan strain pada daerah linier seperti pada
Gambar 5., dan inilah yang dinamakan modulus Young (E). Modulus Young (E)
sama dengan tegangan tarik (unit stress) dibagi dengan regangan tarik (unit
strain). Secara sistematis :
E =

=
Strain
Stress
=
(
(
]
1

in / in
in / lb
2
= lb / in
2
............................... (6)
Gambar 5.
Grafik untuk Menunjukkan Modulus Young
Untuk besi lunak, Modulus Young-nya berharga 30 x 10
6
psi sedangkan
untuk batuan harga E berkisar dari 0,5 sampai 12 x 10
6
psi dimana soft rock = 1
dan hard rock = 10. Istilah yang hampir sama dan sering dipakai dalam perekahan
hidraulik adalah plane-strain Modulus (E), ditulis sebagai :
) 1 (
2
'
v
E
E

= .................................................................... (7)
yang mana untuk sandstone, v = 0,25, E = 1,07 E. Variabel lain seperti fracture
thoughness (kekenyalan rekahan) yaitu K
lc
yaitu pengukuran terhadap
kemampuan material untuk menahan berkembangnya suatu rekahan.
Gambar 6. menunjukkan tiga cara untuk pembebanan yang memecahkan,
pertama dengan opening mode (membuka), kedua dengan sliding mode
(menggeser), dan ketiga dengan tearing mode (merobek). Untuk perekahan
hidraulik hanya opening mode yang berlaku, kecuali ada perekahan alamiah.
Gambar 6.
Cara-cara Perekahan
4)
3.6. Tekanan Overburden
Tekanan overburden tidak tergantung pada tektonik, dan harganya sama
dengan berat batuan formasi di atasnya. Dengan integrasi pada density log, bisa
diperkirakan harganya :
}
= o
H
0
v
dz ) z ( g .............................................................. (8)
Dimana rata-rata gradient akan disekitar 0,95 1,1 psi/ft. Harga 1,1 psi/ft didapat
kalau semua formasi rata memiliki densitas sekitar 165 lb/ft3 maka gradien stress
= 165/144 = 1,1 psi/ft.
Karena formasi ada yang tidak rapat atau berpori, maka harganya bisa saja
sampai 0,95. Kalau overburden adalah harga absolut, yang dialami oleh batuan
dan fluida di pori-pori adalah effective stress (
'
v
), yang didefinisikan sebagai :
p
v
'
v
o o = o ................................................................ (9)
dimana adalah Konstanta Poroclastic Biot (1956), yang kebanyakan reservoir
bernilai 0,7.
Stress vertikal memberi efektif akan diterjemahkan ke arah horizontal
dengan perbandingan poisson , dimana :
v
'
H
v 1
v
o

= o .................................................................. (10)
dimana
'
H
adalah stress horizontal efektif dan v = poisson ratio. Variabel ini
adalah sifat batuan. Untuk sandstone sekitar 0,25, yang mana menunjukkan bahwa
stress horizontal efektif adalah sekitar 1/3 dari vertikal stress efektifnya. Absolute
horizontal stress
H
akan sama dengan efektif stress plus p seperti pada
Persamaan (9).
Harga stress minimum efektif adalah :
'
H
'
min H
o = o ................................................................... (11)
Dan harga stress minimum absolut adalah
p
'
min H min H
o + o = o ...................................................... (12)
Stress horizontal absolut berkurang dengan produksi fluida sumurnya. Harga
stress di Persamaan (6) tidak akan sama keseluruh arah horizontal. Stress
tersebut adalah harga stress horizontal minimum absolut, karena harga stress
horizontal maksimum absolut adalah :
tect H H
min max
o + o = o ................................................... (13)
Dimana
tect
adalah suatu kontribusi dari gaya tektonik bumi. Gambar 7.
menunjukkan suatu plot terhadap harga-harga stress diatas.
Dari persamaan-persamaan diatas, maka ketiga stress utama adalah :
max min
, ,
H H v
dan . Arah rekahan akan tegak lurus dengan harga stress terkecil
dari ketiganya. Gambar 8. menunjukkan suatu skematik dari arah rekahan
terhadap ketiga stress diatas.
Gambar 7.
Skematik dari Harga-Harga Stress terhadap Kedalaman
Gambar 8.
Besar Ketiga Stress Utama dan Arah Rekahan
Gambar 9. menunjukkan bahwa bila misalnya suatu permukaan
mengalami erosi, sehingga kedalamannya hilang, maka tekanan overburden akan
mengecil, tetapi stress horizontal minimum absolut dan maksimum absolut akan
tetap, sehingga mungkin saja dapat mengakibatkan rekahan yang seharusnya
vertikal menjadi horizontal.
Gambar 9.
Perubahan Permukaan Akibat Erosi
Pada kedalaman yang dangkal, sering terjadi perekahan horizontal. Untuk
itu Craft, Holden, dan Graves menunjukkan bahwa stress tangensial
(circumferencial) sepanjang tepian sumur adalah dua kali stress horizontal
compressive didekatnya. Untuk membuat rekahan, stress ini dan tensile stress
batuan harus dilawan, sehingga tekanan perekahan adalah :
o v o h bf
T ) v 1 /( v 2 T 2 p + o = + o = ............................... (14)
Rekahan horizontal terjadi bila
v bf
p > , atau bilamana
v o v
T v v > + ) 1 /( 2 .
Dengan anggapan gradien 1 psi/ft, v = 0,25, dan T
o
= 1000 psi, maka kedalaman
maksimum akan 3000 ft.