Anda di halaman 1dari 7

ETIKA BISNIS VI: Etika Utilitarianisme dalam Bisnis

Nov23 Utilitarianisme pertama kali dikembangkan oleh Jeremy Bentham (1748-1832). Persoalan yang dihadapi oleh Bentham dan orang-orang sezamannya adalah bagaimana menilai baik buruknya suatu kebijaksanaan sosial politik, ekonomi, dan legal secara moral. Singkatnya, bagaimana menilai sebuah kebijaksanaan publik, yaitu kebijaksanaan yang punya dampak bagi kepentingan banyak orang, secara moral. 1. Criteria dan Prinsip Etika Utilitarianisme

Criteria pertama adalah manfaat , yaitu bahwa kebijaksanaan atau tindakan itu mendatangkan manfaat atau kegunaan tertentu. Jadi, kebijaksanaan atau tindakan yang baik adalah yang menghasilkan hal yang baik. Sebaliknya, kebijaksanaan atau tindakan yang tidak baik adalah yang mendatangkan kerugian tertentu. Criteria kedua adalah manfaat terbesar, yaitu bahwa kebijaksanaan atau tindakan itu mendatangkan manfaat terbesar (atau dalam situasi tertentu lebih besar)dibandingkan dengan kebijaksanaan atau tindakan alternative lainnya. Criteria ketiga adalah manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang, yaitu dengan kata lain suatu kebijaksanaan atau tindakan yang baik dan tepat dari segi etis menurut etika utilitarianisme adalah kebijaksanaan atau tindakan yang membawa manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang atau sebaliknya membawa akibat merugikan yang sekecil mungkin bagi sedikit mungkin orang. Secara padat ketiga prinsip itu dapat dirumuskan sebagai berikut: Bertindaklah sedemikian rupa sehingga tindakanmu itu mendatangkan keuntungan sebesar mungkin bagi sebanyak mungkin orang.

2.

Nilai Positif Etika Utilitarianisme

a) Rasionalitas, prinsip moral yang diajukan oleh etika utilitarianisme ini tidak didasarkan pada aturan-aturan kaku yang mungkin tidak kita pahami dan yang tidak bias kita persoalkan keabsahannya. b) Dalam kaitannya dengan itu, utilitarianisme sangant menghargai kebebasan setiap pelaku moral. Setiap orang dibiarkan bebas untuk mengambil keputusan dan bertindak dengan hanya memberinya ketiga criteria objektif dan rasional tadi.

c) Universalitas, yaitu berbeda dengan etika teleologi lainnya yang terutama menekankan manfaat bagi diri sendiri atau kelompok sendiri, utilitarianisme justru mengutamakan manfaat atau akibat baik dari suatu tindakan bagi banyak orang.

3.

Utilitarianisme sebagai Proses dan sebagai Standar Penilaian

a) Etika utilitarianisme dipakai sebagai proses untuk mengambil sebuah keputusan, kebijaksanaan, ataupun untuk bertindak. Dengan kata lain, etika utilitarianisme dipakai sebagai prosedur untuk mengambil keputusan. Ia menjadi sebuah metode untuk bisa mengambil keputusan yang tepat tentang tindakan atau kebijaksanaan yang akan dilakukan. b) Etika utilitarianisme juga dipakai sebagai standar penilaian bai tindakan atau kebijaksanaan yang telah dilakukan. Dalam hal ini, ketiga criteria di atas lalu benar-benar dipakai sebagai criteria untuk menilai apakah suatu tindakan atau kebijaksanaan yang telah dilakukan memang baik atau tidak. Yang paling pokok adalah menilai tindakan atau kebijaksanaan yang telah terjadi berdasarkan akibat atau konsekuensinya yaitu sejauh mana ia mendatangkan hasil terbaik bagi banyak orang.

4.

Analisis Keuntungan dan Kerugian

Pertama, keuntungan dan kerugian (cost and benefits) yang dianalisis jangan semata-mata dipusatkan pada keuntungan dan kerugian bagi perusahaan, kendati benar bahwa ini sasaran akhir. Yang juga perlu mendapat perhatian adalah keuntungan dan kerugian bagi banyak pihak lain yang terkait dan berkepentingan, baik kelompok primer maupun sekunder. Jadi, dalam analisis ini perlu juga diperhatikan bagaimana daan sejauh mana suatu kebijaksanaan dan kegiatan bisnis suatu perusahaan membawa akibat yang menguntungkan dan merugikan bagi kreditor, konsumen, pemosok, penyalur, karyawan, masyarakat luas, dan seterusnya. Ini berarti etika utilitarianisme sangat sejalan dengan apa yang telah kita bahas sebagai pendekatan stakeholder. Kedua, seringkali terjadi bahwa analisis keuntungan dan kerugian ditempatkan dalam kerangka uang (satuan yang sangat mudah dikalkulasi). Yang juga perlu mendapat perhatian serius adalah bahwa keuntungan dan kerugian disini tidak hanya menyangkut aspek financial, melainkan juga aspek-aspek moral; hak dan kepentingan konsimen, hak karyawan, kepuasan konsumen, dsb. Jadi, dalam kerangka klasik etika utilitarianisme, manfaat harus ditafsirkan secara luas dalam kerangka kesejahteraan, kebahagiaan, keamanan sebanyak mungkin pihhak terkait yang berkepentingan. Ketigabagi bisnis yang baik, hal yang juga mendapat perhatian dalam analisis keuntungan dan kerugian adalah keuntungan dan kerugian dalam jangka panjang. Ini penting karena bias saja dalam jangka pendek sebuah kebijaksanaan dan tindakan bisnis tertentu sangat menguntungkan, tapi ternyata dalam jangka panjang merugikan atau paling kurang tidak memungkinkan

perusahaan itu bertahan lama. Karena itu, benefits yang menjadi sasaran utama semua perusahaan adalah long term net benefits. Sehubungan dengan ketiga hal tersebut, langkah konkret yang perlu dilakukan dalam membuat sebuah kebijaksanaan bisnis adalah mengumpulkan dan mempertimbangkan alternative kebijaksanaan bisnis sebanyak-banyaknya. Semua alternative kebijaksanaan dan kegiatan itu terutama dipertimbangkan dan dinilai dalam kaitan dengan manfaat bagi kelompok-kelompok terkait yang berkepentingan atau paling kurang, alternatif yang tidak merugikan kepentingan semua kelompok terkait yang berkepentingan. Kedua, semua alternative pilihan itu perlu dinilai berdasarkan keuntungan yang akan dihasilkannya dalam kerangka luas menyangkut aspek-aspek moral. Ketiga, neraca keuntungan dibandingkan dengan kerugian, dalam aspek itu, perlu dipertimbagkan dalam kerangka jangka panjang. Kalau ini bias dilakukan, pada akhirnya ada kemungkinan besar sekali bahwa kebijaksanaan atau kegiatan yang dilakukan suatu perusahaan tidak hanya menguntungkan secara financial, melainkan juga baik dan etis.

5.

Jalan Keluar

Tanpa ingin memasuki secara lebih mendalam persoalan ini, ada baiknya kita secara khusus mencari beberapa jalan keluar yang mungkin berguna bagi bisnis dalam menggunakan etika utilitarianisme yang memang punya daya tarik istimewa ini. Yang perlu diakui adalah bahwa tidak mungkin mungkin kita memuaskan semua pihak secara sama dengan tingkat manfaat yang sama isi dan bobotnya. Hanya saja, yang pertama-tama harus dipegang adalah bahwa kepentingan dan hak semua orang harus diperhatikan, dihormati, dan diperhitungkan secara sama. Namun, karena kenyataan bahwa kita tidak bisa memuaskan semua pihak secara sama dengan tingkat manfaat yang sama isi dan bobotnya, dalam situasi tertentu kita memang terpaksa harus memilih di antara alternative yang tidak sempurna itu. Dalam hal ini, etika utilitarianisme telah menberi kita criteria paling objektif dan rasional untuk memilih diantara berbagai alternative yang kita hadapi, kendati mungkin bukan paling sempurna. Karena itu, dalam situasi di mana kita terpaksa mengambil kebijaksanaan dan tindakan berdasarkan etika utilitarianisme, yang mengandung beberapa kesulitan dan kelemahhan tersebut di atas, beberapa hal ini kiranya perlu diperhatikan. a) Dalam banyak hal kita perlu menggunakan perasaan atau intuisi moral kita untuk mempertimbangkan secara jujur apakah tindakan yang kita ambil itu, yang memenuhi criteria etika utilitarianisme diatas, memang manusiawi atau tidak. b) Dalam kasus konkret di mana kebijaksanaan atau tindakan bisnis tertentu yang dalam jangka panjang tidak hanya menguntungkan perusahaan tetapi juga banyak pihak terkait, termasuk secara moral, tetapi ternyata ada pihak tertentu yang terpaksa dikorbankan atau dirugikan secara tak terelakkan, kiranya pendekatan dan komunikasi pribadi akan merupakan sebuah langkah yang punya nilai moral tersendiri.

6. Kelemahan Etika Utilitarianisme a. Manfaat merupakan konsep yang begitu luas sehingga dalam kenyataan praktis akan menimbulkan kesulitan yang tidak sedikit. b. Etika utilitarianisme tidak pernah menganggap serius nilai suatu tindakan pada dirinya sendiri dan hanya memperhatikan niali suatu tindakan sejauh berkaitan dengan akibatnya. c. Etika utilitarianisme tidak pernah menganggap serius kemauan baik seseorang. d. Variable yang dinilai tidak semuanya dapat dikualifikasi. e. Seandainya ketiga criteria dari etika utilitarianisme saling bertentangan, maka akan ada kesulitan dalam menentukan prioritas di antara ketiganya. f. Etika utilitarianisme membenarkan hak kelompok minoritas tertentu dikorbankan demi kepentingan mayoritas.

Utilitarianisme berasal dari kata Latin utilis, yang berarti berguna, bermanfaat, berfaedah, atau menguntungkan.[1] Istilah ini juga sering disebut sebagai teori kebahagiaan terbesar (the greatest happiness theory).[2] Utilitarianisme sebagai teori sistematis pertama kali dipaparkan oleh Jeremy Bentham[3] dan muridnya, John Stuart Mill.[2][4] Utilitarianisme merupakan suatu paham etis yang berpendapat bahwa yang baik adalah yang berguna, berfaedah, dan menguntungkan.[1][5] Sebaliknya, yang jahat atau buruk adalah yang tak bermanfaat, tak berfaedah, dan merugikan.[1] Karena itu, baik buruknya perilaku dan perbuatan ditetapkan dari segi berguna, berfaedah, dan menguntungkan atau tidak. Dari prinsip ini, tersusunlah teori tujuan perbuatan.[1]

Daftar isi

1 Teori Tujuan Perbuatan 2 Beberapa Ajaran Pokok 3 Utilitarianisme Peraturan 4 Referensi

Teori Tujuan Perbuatan


Menurut kaum utilitarianisme, tujuan perbuatan sekurang-kurangnya menghindari atau mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh perbuatan yang dilakukan, baik bagi diri sendiri ataupun orang lain.[5] Adapun maksimalnya adalah dengan memperbesar kegunaan, manfaat, dan keuntungan yang dihasilkan oleh perbuatan yang akan dilakukan.[1] Perbuatan harus diusahakan agar mendatangkan kebahagiaan daripada penderitaan, manfaat daripada kesia-siaan, keuntungan daripada kerugian, bagi sebagian besar orang.[1] Dengan demikian, perbuatan manusia baik secara etis dan membawa dampak sebaik-baiknya bagi diri sendiri dan orang lain.[1]

Beberapa Ajaran Pokok

Seseorang hendaknya bertindak sedemikian rupa, sehingga memajukan kebahagiaan (kesenangan) terbesar dari sejumlah besar orang.[2]

Tindakan secara moral dapat dibenarkan jika ia menghasilkan lebih banyak kebaikan daripada kejahatan, dibandingkan tindakan yang mungkin diambil dalam situasi dan kondisi yang sama.[2] Secara umum, harkat atau nilai moral tindakan dinilai menurut kebaikan dan keburukan akibatnya.[2] Ajaran bahwa prinsip kegunaan terbesar hendaknya menjadi kriteria dalam perkara etis.[2] Kriteria itu harus diterapkan pada konsekuensi-konsekuensi yang timbul dari keputusankeputusan etis.[2]

Utilitarianisme Peraturan

Kriteria penilaian moral mendapatkan dasar pada ketaatan terhadap perilaku moral umum.[5][6] Tindakan moral yang dibenarkan adalah tindakan yang didasarkan pada peraturan moral yang menghasilkan akibat-akibat yang lebih baik.[5]

Teori utilitarianisme dikenali sebagai Konsep Utiliti atau Prinsip Kebahagiaan Terbanyak. Teori ini secara lengkap dirumuskan oleh Jeremy Bentham dan dikembangkan luas oleh John Stuart Mill. Secara umum, teori ini menggalakkan manusia mangambil tindakan yang boleh menghasilkan kebaikan, keseronokan, faedah, kebahagiaan, atau kegembiraan yang maksimum ke atas sebanyak mungkin orang yang terlibat. Kegembiraan pihak majoriti adalah diutamakan berbanding dengan kesedihan yang dihadapi oleh minoriti. Kesimpulannya, tindakan yang membawakan kegembiraan atau keseronokan kepada majority orang merupakan tindakan yang bermoral, manakala tindakan yang menghasilkan kesusahan atau kesedihan merupakan tindakan yang tidak bermoral. Pada dasarnya, Teori Utilitarianisme dibahagi kepada dua kategori iaitu Utilitarianisme Tindakan dan Utilitarianisme Peraturan. Utilitarianisme Tindakan bermaksud, sesuatu tindakan itu dianggap baik jika tindakan itu membawa kesan yang menguntung. Manakala, Utilitarianisme Peraturan merupakan perbaikan dari utilitarianisme tindakan. Sesuatu itu dipandang baik kalau ia berguna dan tidak melanggar peraturan yang ada. Pendapat pertama teori Utilitarianisme adalah seseorang mestilah berfikir atau merenung baikbaik tentang akibat-akibat atau kesan-kesan tindakannya supaya tindakannya membawa keseronokan kepada orang ramai. Sebaliknya, jika seseorang melakukan sesuatu tindakan yang membawa keburukan kepada minoriti adalah dibenarkan untuk mengelakkan sesuatu yang tidak baik berlaku ke atas orang majoriti. Bagi utilitarianisme, dalam memutuskan kemoralan melancarkan sesuatu peperangan, seseorang itu mesti menimbangkan kesan-kesan sama ada keburukan atau kebaikan yang mungkin dihasilkan oleh peperangan itu. Jika kedukaan dijangka melebihi akibat-akibat yang berfaedah yang boleh dinikmati negara yang melancarkan peperangan itu, menurut etika utilitarianisme, peperangan itu tidak wajar dijalankan. Sebaliknya, peperangan itu dianggap wajar dari segi moral oleh etika utilitarianisme jika kesannya membawa kebahagiaan dan kebaikan lebih daripada kemudaratan dan kesedihan.

Guru dalam petikan telah membunuhkan diri dengan meminum racun kerana dia berhidup dalam keadaan ketakutan selepas foto-foto tidak senonohnya telah diletak dalam laman web 'facebook' oleh bekas teman lelaki. Sebab utama adalah, dia merupakan seorang guru yang mengajar di sebuah sekolah antarabangsa di Abu Dhabi, Emiriah Arab Bersatu (UAE), dia mungkin akan menghadapi hukuman penjara oleh muslim ketat regim tempatan. Dalam memutuskan kemoralan tindakan guru tersebut dari segi utilitarianisme, kesan-kesan tindakan dia yang menghasilkan kebaikan atau keburukan yang lebih banyak adalah sangat penting. Jikalau perbuatan guru tersebut dicontohi atau ditiru akan mempengaruhi masyarakat membuat sedemikian seperti dia, menamatkan nyawa sendiri untuk mengelakkan sebarang masalah yang akan dihadapinya, apa akan terjadi? Sebagai seorang Ini akan menyedihkan dan menyakit hati ahli-ahli keluarga mereka. Kalau mereka merupakan punca pendapatan keluarga, ahli-ahli keluarganya akan menghadapi masalah kewangan. Kekurangan wang akan mambawa banyak isu-isu masyarakat seperti, perompakan, pencurian, dan penghutangan. Banyak orang yang terbuat sesuatu tindakan yang salah tidak berani menghadapinya, secara alternatif mereka akan membunuhkan diri supaya mengelakkan masalah-masalah pada masa depan. Maka ini bermakna dari segi teori utilitarianisme, perbuatan guru tersebut adalah tidak bermoral atau tidak wajah kerana tindakannya hanya membawa keburukan yang maksimum kepada orang ramai dan pihak-pihak yang terlibat. Doktrin Utilitarianisme menghandaki kita sentiasa bertindak kelakuan yang menghasilkan kebaikan atau kesenorokan yang maksimum kepada bilangan orang sebanyak mungkin atau semua pihak yang terlibat. William Godwin menunjukkan sikap optimistiknya yang berketerlaluan apabila beliau mengatakan bahawa bunuh diri hampir selalu merupakan suatu kesilapan, kerana lebih banyak keseronokan dapat diperoleh daripada pilihan menghidup. Oleh sebab beliau adalah seorang penyokong Utilitarianisme yang mempertimbangkan prinsip moral dari segi keseronakan dan kesakitan yang dihasilkan, beliau menganggap bunuh diri sebagai tidak berakhlak.