Anda di halaman 1dari 2

Nung tadinya mau nulis soal induksi, tapi kog tiba tiba aku pengen nulis soal rapport

ya. Sekalian sharing pengalamanku dalam rapport deh.

Rapport adalah salah satu aspek penting (jika tidak mau dibilang terpenting) dalam hipnosis. Rapport dibangun dari connectedness klien dan terapis. Dalam bahasa anak muda nyambung. Rapport dibangun dari banyak hal, salah satunya adalah pacing dan leading. Namun kali ini kita tidak akan membahas banyak soal pacing dan leading. Kali ini kita akan lebih banyak membahas soal konseling dan teori abraham maslow. Trik ini adalah hasil workshop psikoanalisis dan praktik di klinik. Sebelum kita membaca dan mempraktikkan rapport model baru ini, saya akan paparkan tiga hal pertama 1. Listening Dalam listening peraturan pertama adalah dengarkan dan perhatikan. Lebih dari sekedar duduk diam dan memikirkan saran/sugesti, perhatikanlah benar benar apa yang SEBENARNYA dia sedang katakan. Misalnya ada seorang ayah berkata: Saya menghukum anak saya demi kebaikannya, ayah saya juga melakukannya dulu untuk kebaikan saya., Dengarkan apa yang ayah ini sedang katakan. Apa ayah ini sedang menghukum demi kebaikan? Yup Anda benar, Ayah ini sebenarnya hanya sedang membalas dendam saja. Listening adalah hal yang sangat penting, karena banyak hal dari kita terbiasa mendengarkan isi pembicaraan, bukan makna dibalik pembicaraan. Dalam bahasan NLP bisa dianalogikan dengan mendengarkan meta program seseorang. Walaupun sebenarnya saya lebih suka menggunakan istilah listening itu sendiri, karena manusia lebih dari sekedar program. Dengarkan apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan. Dengarkan sampai perasaan inti dari masalahnya muncul. Entah takut, kecewa, sedih atau apapun. 2. Empathy Hal kedua yang sama pentingnya adalah empati. Empati lebih bergerak di tataran emosi. Rasakan apa yang orang lain rasakan, yang juga merupakan efek dari pacing. Namun hentikan ketika Anda mulai larut dalam emosi yang intens. Kita adalah terapis, dan harusnya kita yang menjadi leader di dalam cerita klien. Gunakan akal sehat kita ketika kita mulai menjustifikasi beberapa hal seperti klien memandang hal tersebut. Usahakan tetap netral dalam kita empati dengan klien. Empati akan sangat membantu kita berkenalan dengan dunia klien dan menjadikan kita lebih bijak dalam menangani kasus. 3. Acceptance Yang terakhir namun juga yang terpenting, adalah penerimaan. Penerimaan disini maksudnya adalah menerima klien sebagaimana adanya klien. Bukankah banyak dari kita (mungkin yang pacaran) mengharapkan hal yang lebih dari diri orang lain (bagi yang pacaran ya pacar)? Sedikit sekali yang mau menerima apa adanya, dalam arti paling literal kata apa adanya. Berapa banyak di antara kita yang berani menyalami anak sindrom down, dengan liur yang mengalir di pipinya, kemudian dia mengelap liur dari pipinya dengan telapak tangannya dan menyodorkan tanggannya ke Anda? Berapa banyak mau menerima sampah (mereka adalah manusia, kenapa masih dibilang sampah?) masyarakat? Dalam kasus anak yang hamil diluar nikah, berapa banyak keluarga yang menuding, sok suci malah justifikasi dosa, dan berapa banyak yang tetap

memeluk anak tersebut dan MENERIMA kembali anak itu apa adanya? Penerimaan adalah hal yang penting, entah siapapun yang sedang kita temui, dia adalah MANUSIA.