Anda di halaman 1dari 3

MENGGAGAS EKONOMI YANG PRO RAKYAT

Sistem perekonomian di Indonesia perlu diubah dari neoliberalisme menjadi ekonomi kerakyatan, agar mampu menghadapi krisis global. Neoliberalisme adalah suatu fundamentalisme dalam pemikiran ekonomi yang tidak kalah berbahaya dari fundamentalisme agama. Kita tidak boleh menyerahkan semuanya ke pasar bebas. Jangan hanya mengikuti logika kapitalisme yang senantiasa menekankan optimalisasi daripada profit, melainkan kita harus mulai berpikir untuk melakukan optimalisasi dalam nilai tambah. Harus ada strategi industrialisasi untuk menaikkan nilai tambah atas kekayaan bahan mentah kita sehingga mampu menciptaan lapangan kerja massal untuk puluhan juta orang. Kalau kita melulu mengikuti sistem neoliberal ini, maka Indonesia akan terus saja bernasib seperti Philipina yang hanya mampu mengeskpor bahan mentah dan pembantu rumah tangga, selamanya tidak akan sanggup menyusul Malaysia, China, Jepang, maupun Brasil. Salah satu kelemahan yang nyata adalah kekuatan pasar dalam sistem ekonomi neoliberalisme, diserahkan pada kekuatan asing yang besar sehingga merugikan rakyat Indonesia. Indonesia harus belajar dari pengalaman bangsa lain yang mampu bangkit dan menjadi sosial yang berkembang pesat karena tidak menerapkan sosial ekonomi neoliberalisme. Selain mengubah sosial ekonomi, perubahan struktur kelas juga perlu diubah menjadi struktur piramida yang didalamnya tidak ada perbedaan yang sangat besar antara kelas atas, kelas menengah dengan kelas bawah atau rakyat, yang terpenting saat ini bukan optimalisasi profit atau keuntungan, melainkan adanya peningkatan nilai tambah seperti upah kerja bagi pekerja sosial dalam negeri. Kenyataan yang terjadi di Indonesia adalah ekonomi masih bergantung pada bantuan luar negeri, utang semakin bertambah, dan yang terakhir maraknya serbuan produk China di pasaran dalam negeri. Melihat kenyataan yang ada, maka perlu dilakukan kebijakan ekonomi yang dapat mendukung perekonomian rakyat karena jika menoleh ke sejarah perekonomian Indonesia, sejak zaman Hindu sampai kemerdekaan, belum ada sosial ekonomi yang pro rakyat. Di dalam perjalanan untuk mewujudkan hal ini selalu ada hambatan, di antaranya adanya konflik dan perbedaan paham yang dianut aliran nasionalis, agama, dan sosialis-komunis. Selanjutnya dikatakan pula, Indonesia perlu berkaca dari pengalaman sosial Brasil yang dapat bangkit dan berhasil memajukan agribisnisnya hanya dalam kurun waktu 8 tahun dapat setelah menerapkan ekonomi kerakyatan. Sebenarnya selalu ada strategi untuk mengubah nasib bangsa Indonesia yang lebih baik yakni dengan memberdayakan ekonomi kerakyatan.

Ekonomi kerakyatan sangat berbeda dari neoliberalisme. Neoliberalisme, sebagaimana dikemas oleh ordoliberalisme, adalah sebuah sosial perekonomian yang dibangun di atas tiga prinsip sebagai berikut: (1) tujuan utama ekonomi neoliberal adalah pengembangan kebebasan individu untuk bersaing secara bebas-sempurna di pasar; (2) kepemilikan pribadi terhadap sosial -faktor produksi diakui; dan (3) pembentukan harga pasar bukanlah sesuatu yang alami, melainkan hasil dari penertiban pasar yang dilakukan oleh sosial melalui penerbitan undang-undang (Giersch, 1961). Berdasarkan ketiga prinsip tersebut maka peranan Sosial dalam neoliberalisme dibatasi hanya sebagai pengatur dan penjaga bekerjanya mekanisme pasar. Dalam perkembangannya, sebagaimana dikemas dalam paket Konsensus Washington, peran Sosial dalam neoliberalisme ditekankan untuk melakukan empat hal sebagai berikut: (1) pelaksanaan kebijakan anggaran ketat, termasuk penghapusan subsidi; (2) liberalisasi Sosial keuangan; (3) liberalisasi perdagangan; dan (4) pelaksanaan privatisasi BUMN (Stiglitz, 2002). Sedangkan ekonomi kerakyatan, sebagaimana dikemukakan dalam Pasal 33 UUD 1945, adalah sebuah 2ocial perekonomian yang ditujukan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam bidang ekonomi. Tiga prinsip dasar ekonomi kerakyatan adalah sebagai berikut: (1) perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan; (2) cabang-cabang produksi yang penting bagi 2ocial dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh sosial; dan (3) bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh sosial dan dipergunakan bagi sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. Berdasarkan ketiga prinsip tersebut dapat disaksikan betapa sangat besarnya peran 2ocial dalam 2ocial ekonomi kerakyatan. Sebagaimana dilengkapi oleh Pasal 27 ayat 2 dan Pasal 34, peran sosial dalam sosial ekonomi kerakyatan antara lain meliputi lima hal sebagai berikut: (1) mengembangkan koperasi (2) mengembangkan BUMN; (3) memastikan pemanfaatan bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung didalamnya bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; (4) memenuhi hak setiap warga sosial untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak; (5) memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Mencermati perbedaan mencolok antara ekonomi kerakyatan dengan neoliberalisme tersebut, tidak terlalu berlebihan bila disimpulkan bahwa ekonomi kerakyatan pada dasarnya adalah dari neoliberalisme. Sebab itu, sebagai saudara kandung neoliberalisme, ekonomi Sosial kesejahteraan (keynesianisme), juga tidak dapat disamakan dengan ekonomi kerakyatan. Keynesianisme memang menaruh perhatian yang sangat besar terhadap penciptaan kesempatan kerja penuh, namun demikian ia tetap dibangun berdasarkan prinsip persaingan bebas dan pemilikan alat-alat produksi secara pribadi. Perlu saya tambahkan, ekonomi kerakyatan tidak dapat pula disamakan dengan ekonomi pasar Sosial. Sebagaimana dikemukakan Giersch (1961), ekonomi pasar Sosial adalah salah satu varian awal dari neoliberalisme yang digagas oleh Alfred Muller-Armack.

Peran Negara Dalam Ekonomi : Kapitalisme Negara Kesejahteraan Ekonomi Neoliberal

Ekonomi Kerakyatan

1.

Menyusun perekonomian sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan; mengembangkan koperasi (Pasal 33 ayat 1). Menguasai cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak; mengembangkan BUMN (Pasal 33 ayat 2).

1.

Mengintervensi pasar untuk menciptanya kondisi kesempatan kerja penuh.

1.

Mengatur dan menjaga bekerjanya mekanisme pasar; mencegah monopoli.

2.

2.

Menyelenggarakan BUMN pada cabang-cabang produksi yang tidak dapat diselenggarakan oleh perusahaan swasta.

2.

Mengembangkan sektor swasta dan melakukan privatisasi BUMN.

3.

3.

Menguasai dan memastikan 3. Menjaga keseimbangan pemanfaatan bumi, air, dan antara pertumbuhan segala kekayaan yang ekonomi dengan terkandung di dalamnya bagi pemerataan pembangunan. sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (Pasal 33 ayat 3). 4. Mengelola anggaran negara untuk kesejahteraan rakyat; memberlakukan pajak progresif dan memberikan subsidi. Menjaga stabilitas moneter. 4. Mengelola anggaran negara untuk kesejahteraan rakyat; memberlakukan pajak progresif dan memberikan subsidi. Menjaga stabilitas moneter. 5.

Memacu laju pertumbuhan ekonomi, termasuk dengan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi masuknya investasi asing.

4.

Melaksanakan kebijakan anggaran ketat, termasuk menghapuskan subsidi.

5. 6.

5.

Menjaga stabilitas moneter.

6. Memastikan setiap warga Memastikan setiap warga negara memperoleh haknya negara memperoleh haknya untuk mendapatkan untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan pekerjaan dan penghidupan yang layak. yang layak bagi kemanusiaan (Pasal 27 ayat 2). 7. Memelihara fakir miskin dan anak terlantar. 7. Memelihara fakir miskin dan anak terlantar (Pasal 34).

6.

Melindungi pekerja perempuan, pekerja anak, dan bila perlu menetapkan upah minimum. -

7.