Anda di halaman 1dari 3

Penatalaksanaan Ulserasi Stomatitis Aphtousa Rekuren (SAR) adalah lesi mukosa rongga mulut yang paling umum sering

terjadi, ditandai dengan ulser yang timbul berulang di mukosa mulut pasien dengan tanpa adanya gejala dari penyakit lain. Saat ini SAR tidak lagi dianggap sebagai penyakit tunggal tetapi cenderung sebagai keadaan patologis dengan manifestasi klinis yang serupa. Gangguan immunologi, defisiensi nutrisi, alergi, trauma, kebiasaan (habit), hormonal dan keadaan psikologis memiliki keterkaitan dengan SAR. Berdasarkan manifestasi klinis terdapat tiga kategori SAR: Ulser Minor (atau disebut juga dengan nama Mikuliczs aphthae atau mild aphthous ulcers) : 80% dari total kejadian, diameter 1cm, Ulser Mayor (bisa disebut juga dengan istilah periadenitis mucosa necrotica recurrens atau Suttons disease) : 10%-15% dari total kejadian, diameter >1cm, sakit, waktu sembuh lebih lama dan sering meninggalkan jaringan parut, terkadang melibatkan kelenjar ludah minor. Demam, disfagia dan malaise terkadang muncul pada saat awal munculnya penyakit. Sering terdapat pada bibir, palatum lunak Ulser Herpetiform (menyerupai manifestasi herpes simpleks) : 5%-10% dari total kejadian, diameter 1-3mm, berjumlah banyak, berbentuk bulat, sakit, mengenai hampir seluruh mukosa mulut. ETIOLOGI Hematologik defisiensi terutama zat besi, folat, vitamin B12 atau B kompleks Abnormalitas immunologis atau hipersensitif terhadap organisme oral seperti Streptococcus sanguis Trauma Stress psikologis seperti meningkatnya insiden RAS pada populasi mahasiswa menjelang ujian Endokrin, terbentuknya RAS pada fase luteal dari siklus haid pada penderita wanita. Kecemasan (anxiety) Alergi terhadap makanan seperti susu, keju, gandum dan terigu Detergen sodium lauryl sulfat yang terkandung dalam pasta gigi

MANIFESTASI KLINIK Lesi pada mukosa oral didahului dengan timbulnya gejala seperti terbakar (prodormal burning) pada 2-48 jam sebelum ulser muncul. Selama periode initial akan terbentuk daerah

kemerahan pada area lokasi. Setelah beberapa jam, timbul papul, ulserasi, dan berkembang menjadi lebih besar setelah 48-72 jam. Lesi bulat, simetris, dan dangkal, tetapi tidak tampak jaringan yang sobek dari vesikel yang pecah. Mukosa bukal dan labial merupakan tempat yang paling sering terdapat ulser. Namun ulser juga dapat terjadi pada palatum dan ginggiva. Lesi minor : berdiameter 0,3-1 cm, sembuh dalam 1 minggu dan sembuh sempurna dalam 14 hari tanpa meninggalkan jaringan parut. Lesi major : berdiameter 1-5 cm dan berkembang lebih dalam. Lesi biasanya sangat sakit, mengganggu bicara dan makan. Lesi bisa bertahan berbulan-bulan, sembuh dalam waktu yang lama dan meninggalkan jaringan parut. Lesi herpetiform : terjadi pada orang dewasa. Berdiameter 1-3 mm, jumlahnya banyak, bila pecah bersatu ukuran lesi menjadi lebih besar dan melibatkan mukosa oral yang luas. TERAPI (Kasus ringan) dapat diaplikasikan obat topikal seperti orabase. Sebagai pereda rasa sakit dapat diberikan topikal anestesi. (Kasus berat) dapat diaplikasikan preparat kortikosteroid topikal, seperti

triamcinolon atau fluorometholon (2-3 kali sehari setelah makan dan menjelang tidur). Tetrasiklin obat kumur dan gel dapat mempersingkat waktu penyembuhan ulser. Pada pasien ulser major atau multiple ulser minor yang parah yang tidak responsif terhadap terapi topikal, diberikan terapi sistemik. Pemberian vitamin dan mineral, kombinasi vitamin B1 ( Thiamin, 300mg sehari )dan vitamin B6 ( pyridoxine, 50mg setiap 8 jam), asam folat untuk pasien dengan

gangguan nutrisi. Selain itu pemberian vitamin C juga dapat diberikan untuk membantu proses penyembuhan. Penggunaan terapi anxiolytic atau rujukan untuk hipnoterapi dapat membantu bagi penderita yang memiliki faktor presipitasi berupa stres. Pemeriksaan terhadap makanan makanan tertentu yang dapat menimbulkan sensitivitas. Preparat estrogen progesteron diberikan pada menopouse ataupun pada pasien dismenorhea.

Steroid topikal (triasinolon), dapat digunakan oleh karena dapat mengurangi keradangan, shingga ulser tidak begitu sakit. Obat ini di indikasikan pada gangguan imun yang berlebihan karena sifat imunosupresive.