Anda di halaman 1dari 4

Upaya pengobatan penyakit yang disebabkan oleh bakteri tersebut, dapat memanfaatkan salah satu organisme penghasil antibiotika

yaitu fungi endofit. Fungi endofit berdasarkan struktur selnya, merupakan mikroorganisme eukariota yang paling dekat dengan tumbuhan. Sementara itu, tumbuhan merupakan sumber bahan makanan pokok bagi kehidupan manusia dan merupakan organisme yang bisa diterima oleh tubuh manusia sebagai bahan pangan (Agusta, 2009), sehingga penelitian ini hanya membatasi pada kelompok jamur endofit. Fungi endofit terdapat dalam sistem jaringan tumbuhan seperti daun, ranting atau akar. Kemampuan fungi endofit memproduksi senyawa metabolit sekunder sesuai dengan tanaman inang sebagai akibat transfer genetik dari 4 tanaman inagnya ke dalam fungi endofit (Radji, 2008). Dengan demikian, fungi Dengan demikian, fungi endofit dapat ditemukan dalam sistem jaringan tumbuhan, seperti pada umbi bawang putih, sehingga tidak perlu mengkonsumsi tanaman bawang putih Penggunaan tanaman bawang putih sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit sudah meluas namun masih bersifat tradisional. Menurut Shalikhah (2009), senyawa kimia yang berperan sebagai senyawa antibakteri di dalam bawang putih berupa alisin. Alisin dapat menekan pertumbuhan bakteri yang merugikan dan memberikan peluang bagi pertumbuhan bakteri yang menguntungkan, sehingga tanaman bawang putih penting dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh senyawa antibakteri yang terkandung dalam umbi tanaman tersebut terhadap bakteri uji. Lingga dan Abubakar (2009), dalam jurnal penelitiannya dapat diketahui bahwa ekstrak umbi bawang putih (Allium sativum) mampu menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus sp. dan Escherichia coli dengan menunjukkan

zona hambat yang dihasilkan oleh kedua bakteri tersebut. Akan tetapi, penelitian tentang mikroba endofit khususnya jamur endofit dari umbi bawang putih (A. sativum) belum banyak dilakukan, oleh karena itu diperlukan penelitian tentang isolasi dan identifikasi jamur endofit yang mempunyai kemampuan penghasil senyawa antibakteri S. mutans dan E. coli. BAWANG MERAH Mekanisme Ekstrak bawang merah mempunyai efek bakterisidal terhadap Staphylococcus aureus dan Shigella dysentriae. Bubuk jahe mempunyai efek bakterisidal terhadap Micrococcus varians, Leuconostoc sp., dan Bacillus subtilis, serta bersifat bakteristatik terhadap Pseudomonas sp. dan Enterobacter aerogenes. Ekstrak bawang putih mentah juga mempunyai aktivitas antimikroba terhadap Escherichia coli, Staphylococcus sp, Proteus vulgaris, Bacillus subtilis, Serratia marcescens, danShigella dysentriae (Astawan, 2005). Dosis Inulin pada bawang merah pada konsentrasi 437,8 ppm dapat meningkatkan pertumbuhan probiotik Lactobacillus casei strain BIO 251 masing-masing sebesar 48,1%. Sinbiotik yang mengandung ekstrak inulin dari bawang merah dengan konsentrasi minimal 434,8 ppm dapat menghambat pertumbuhan Salmonella thypiyang merupakan salah satu bakteri penyebab diare sebesar 91,4% (Kurniasih, 2009).

Jenis mikroorganisme yang dapat dihambat (Astawan 2005 & Ultee, 1998) - Aspergillus flavus - A. Parasiticus - A. Versicolor - A. ochraceus, Candida sp - Crytococcus sp. - Rhodotorulla sp. - Torulopsis sp. - Tricosporon sp

Staphylococcus aureus

- Shigella dysentriae - Leuconostoc sp. Bacillus subtilis Pseudomonas sp. Enterobacter aerogenes

- Escherichia coli - Proteus vulgaris - Serratia marcescens Dalam penelitian ini digunakan umbi bawang merah (Allium cepa Linn.) dan umbi bawang putih (Allium sativum Linn.) yang mengandung senyawa berkhasiat sebagai antibakteri yaitu alisin

Bawang merah merupakan tanaman obat yang banyak digunakan sendiri oleh masyarakat untuk mengobati berbagai macam penyakit misalnya penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri. Penelitian ini sebagai upaya penggunaan obat tradisional kedalam bentuk sediaan yang lebih modern yaitu sediaan salep, karena sediaan ini mudah digunakan sendiri oleh pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan perasan bawang merah dalam basis salep PEG terhadap Staphylococcus aureus. Ekstrak etanol diperoleh dengan cara maserasi dan perasan dengan memeras bawang merah. Ekstrak etanol dan perasan bawang merah dibuat sediaan salep dengan berbagai konsentrasi masing-masing: 7,5% ; 10% ; 12,5% ; 15%. Kemudian diuji aktivitas antibakterinya dengan menggunakan metode difusi dengan teknik sumuran. Ekstrak diformulasi dalam basis salep PEG tidak memberikan zona hambatan, ini berarti salep ekstrak bawang merah tidak mempunyai aktivitas antibakteri. Sedangkan salep perasan bawang merah memberikan diameter zona hambat, ini berarti salep tersebut mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Hasil statistik uji ANAVA satu jalan menunjukkan diameter hambatan salep perasan berbeda signifikan. Perasan bawang merah yang diformulasi dalam basis salep PEG memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan diameter hambatan pada konsentrasi 7,5% = 8,49 mm; 10% = 9,23 mm; 12,5% = 10,50 mm; 15% = 11,08 mm.

Bawang merah (Allium ascalonicum) mengandung senyawa antibakteri bersifat non-polar seperti steroid, senyawa antibakteri semi-polar seperti flavonoid, quersetin, terpenoid, monoterpenoid, seskuiterpenoid dan senyawa antibakteri polar seperti allisin, allin, alkaloid, saponin dan kuinon. Penelitian ini

dilakukan untuk menguji efek antibakteri dari ekstrak bawang merah terhadap pertumbuhan bakteri penyebab penyakit gonore, yaitu Neisseriae gonorrhoeae (gram negatif), menentukan konsentrasi ekstrak bawang merah yang dapat memberikan zona hambat minimum dan maksimum, serta menilai kesetaraan aktivitas antibakteri ekstrak bawang merah dengan antibiotik standar