Anda di halaman 1dari 11

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 67/Permentan/OT.

140/12/2010 TANGGAL : 29 Desember 2010

PETUNJUK TEKNIS PEMANFAATAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG PERTANIAN TAHUN 2011 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan secara nasional, maka diperlukan penyediaan prasarana dan sarana lahan dan air, prasarana lumbung pangan, prasarana perbenihan/perbibitan, prasarana penyuluhan pertanian, maupun Puskeswan dan IB. Sebagai bagian integral pembangunan pertanian secara utuh, kegiatan pengelolaan lahan dan air diarahkan untuk mendukung sub sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan dalam mencapai sasaran produksi komoditas unggulan nasional. Kegiatan pengelolaan lahan dan air diprioritaskan guna memenuhi ketersediaan lahan dan air secara berkelanjutan untuk mendukung pemantapan ketahanan pangan, peningkatan nilai tambah dan daya saing produk pertanian serta peningkatan kesejahteraan petani. Peran dan manfaat kegiatan pengelolaan lahan dan air antara lain: (1) mengendalikan laju alih fungsi lahan, (2) memperluas areal pertanian, (3) mendayagunakan lahan pertanian terlantar, (4) melakukan upaya konservasi dan rehabilitasi lahan pertanian, serta reklamasi lahan pertanian, (5) penguatan hak atas tanah, (6) melakukan upaya pengembangan sumber air irigasi, optimasi pemanfaatan air irigasi dan konservasi air. Pengembangan cadangan pangan sebagai salah satu aspek penting dalam ketahanan pangan saat ini menjadi sangat mendesak untuk dikembangkan. Masih cukup besarnya jumlah penduduk yang mengalami rawan pangan, masih banyaknya daerah rawan bencana, adanya pola panen musiman, produksi pangan yang tidak dihasilkan merata sepanjang tahun dan daerah, serta adanya beberapa daerah yang terisolir pada waktu-waktu tertentu (musim kering, musim ombak besar, dan sebagainya) membutuhkan penanganan kerawanan pangan yang serius dan komprehensif. Mengingat kondisi tersebut, upaya meningkatkan ketahanan pangan masyarakat perlu dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui pengembagan cadangan pangan baik yang dikelola oleh pemerintah maupun masyarakat. Untuk itu, pembangunan lumbung pangan masyarakat dan/atau gudang pangan pemerintah sebagai prasarana cadangan pangan guna mengantisipasi masalah pangan perlu dikembangkan. Sesuai Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, sekaligus menindaklanjuti Pasal 8 ayat (2) dan Pasal 31 yang mengamanatkan penataan kelembagaan penyuluhan di 1

tingkat pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan maupun desa dengan menyediakan dukungan kelengkapan prasarana dan sarananya, serta penyediaan tenaga penyuluh yang profesional dan dukungan sarana operasionalnya. Untuk itu, dalam rangka menyebarluaskan informasi, alih teknologi dan pendampingan petani, maka peran penyuluhan dalam pembangunan pertanian sangatlah mutlak diperlukan. Kinerja penyuluhan tidak hanya ditentukan oleh tersedianya Sumberdaya Manusia Penyuluh yang handal, melainkan juga didukung oleh tersedianya prasarana dan sarana penyuluhan yang memadai, dalam hal ini berupa Balai Penyuluh Pertanian di tingkat kecamatan. B. Maksud dan Tujuan 1. Maksud Maksud ditetapkannya Petunjuk Teknis DAK Bidang Pertanian 2011 ini sebagai acuan dalam penyusunan RKA/DPA APBD Kabupaten/Kota, pemanfaatan dan pelaksanaan kegiatan serta pembinaan dan pelaporan DAK Bidang Pertanian. 2. Tujuan Tujuan Pemanfaatan DAK Bidang Pertanian 2011 ini untuk: a. Menyediakan prasarana fisik dasar pembangunan pertanian. b. meningkatkan kinerja pembangunan pertanian di daerah. c. meningkatkan ketahanan pangan. d. memprioritaskan kegiatan DAK pada kabupaten yang memiliki luas areal pertanian yang memadai. C. Ruang Lingkup Ruang lingkup Petunjuk Teknis DAK Bidang Pertanian 2011 ini meliputi pemanfaatan dan Dana Pendampingan DAK, Tata Cara Pelaksanaan DAK, serta Pembinaan dan Pelaporan DAK. Penggunaan DAK bidang pertanian untuk subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan. II. PEMANFAATAN DAK BIDANG PERTANIAN A. Pemanfaatan DAK bidang pertanian 2011 diarahkan untuk : 1. 2. 3. 4. Perluasan areal pertanian. Penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan air. Penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan lahan. Penyediaan lumbung pangan masyarakat dan atau gudang pangan pemerintah. 5. Pembangunan/rehabilitasi Balai Penyuluhan Pertanian/Kecamatan. 6. Penyediaan prasarana dan sarana Balai Perbenihan/Perbibitan Kabupaten/Kota untuk tanaman pangan/hortikultura/perkebunan/ peternakan. 7. Pembangunan/rehabilitasi Pusat Pelayanan Kesehatan Hewan dan Inseminasi Buatan. 2

DAK bidang pertanian tidak boleh digunakan untuk pengadaan benih/bibit (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan maupun ternak), pupuk, pestisida, vaksin, obat ternak, pakan ternak dan barang (bahan) habis pakai lainnya. DAK bidang pertanian juga tidak boleh digunakan untuk pengadaan mobil (termasuk pick up), motor roda-2, mebelair, komputer/laptop. Alat mesin (kecuali traktor dan pompa air serta alat mesin pengolahan pupuk organik). B. DAK bidang pertanian dimanfaatkan untuk kegiatan: 1. Perluasan Areal Pertanian Perluasan Areal Pertanian meliputi cetak sawah, pembukaan lahan kering untuk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan, pengembangan areal hijauan pakan ternak serta pengembangan padang penggembalaan. 1.1. Cetak Sawah Cetak sawah adalah suatu usaha penambahan baku lahan sawah pada berbagai tipologi lahan yang belum diusahakan untuk pertanian menjadi lahan pertanian dengan sistim sawah baik sawah irigasi, pasang surut maupun sawah tadah hujan. 1.2. Pembukaan Lahan Kering Pembukaan lahan kering adalah usaha penambahan baku lahan kering yang belum diusahakan untuk pertanian menjadi lahan pertanian (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan). Lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah tergenang atau digenangi air pada sebagian kecil waktu dalam setahun, yang terdiri dari lahan kering dataran rendah dan lahan kering dataran tinggi. 1.3. Pengembangan Areal Hijauan Pakan Ternak (HPT) Pengembangan areal Hijauan Pakan Ternak (HPT) dilaksanakan untuk mendukung ketersediaan pakan hijauan ternak ruminansia. Pelaksanaan fisik meliputi pembukaan lahan, pembersihan lahan, pengelolaan lahan sampai kondisi siap tanam HPT, perbaikan kesuburan tanah dengan UPPO, pengadaan chopper, perbaikan prasarana dan sarana, pembangunan gudang pakan, pembangunan rumah kompos. 1.4. Pengembangan Padang Penggembalaan Pengembangan padang penggembalaan dilaksanakan untuk mendukung budidaya ternak secara ekstensif. Pelaksanaan fisik meliputi paddock (petak untuk merumput berotasi), UPPO, pembuatan embung, pembuatan saluran air. 2. Penyediaan Prasarana dan Sarana Pengelolaan Air Penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan air meliputi : Jaringan Irigasi Tingkat Usahatani (JITUT), Jaringan Irigasi Desa (JIDES), Irigasi Air Tanah dan Embung.

2.1. Jaringan Irigasi Tingkat Usahatani (JITUT) Jaringan Irigasi Tingkat Usahatani (JITUT) adalah jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana pelayanan air irigasi dalam petak tersier yang terdiri dari saluran tersier, saluran kwarter dan saluran pembuang, boks tersier, boks kwarter serta bangunan pelengkapnya pada jaringan irigasi pemerintah. 2.2. Jaringan Irigasi Desa (JIDES) Jaringan irigasi desa (JIDES) adalah jaringan irigasi berskala kecil yang terdiri dari bangunan penangkap air (bendung, bangunan pengambilan), saluran dan bangunan pelengkap lainnya yang dibangun dan dikelola oleh masyarakat desa atau pemerintah desa baik dengan atau tanpa bantuan pemerintah. 2.3. Irigasi Air Tanah Irigasi air tanah adalah irigasi yang sumber airnya berasal dari permukaan tanah (sungai, danau, mata air, terjunan air) dan dibawah lapisan tanah dengan kedalaman antara 30 sampai dengan 60 meter. Untuk kegiatan ini diperbolehkan pengadaan pompa air dan instalasi penunjangnya. 2.4. Embung Embung adalah bangunan konservasi air berbentuk kolam/cekungan untuk menampung air limpasa (run off) serta sumber air lainnya untuk mendukung usaha pertanian (pangan/hortikultura), perkebunan dan peternakan. Embung dapat juga dibangun dengan membendung parit atau sungai kecil sehingga terbentuk dam parit. 3. Penyediaan Prasarana dan sarana Pengelolaan Lahan Penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan lahan meliputi: jalan usahatani (JUT), jalan produksi, unit pengolahan pupuk organik (UPPO), optimasi lahan pertanian dan reklamasi lahan rawa dan lebak. 3.1. Jalan Usahatani (JUT) Jalan usahatani adalah prasarana transportasi pada kawasan pertanian untuk memperlancar mobiltas alat mesin pertanian, pengangkutan sarana produksi menuju lahan pertanian dan mengangkut hasil produk pertanian dari lahan menuju ke tempat pengumpulan sementara. Dimensi lebar badan jalan usahatani minimal dapat dilalui kendaraan roda 3 dan dapat saling berpapasan atau dibuatkan tempat untuk berpapasan, sedangkan kapasitasnya disesuaikan dengan jenis komoditas yang akan diangkut dan alat angkut yang akan digunakan. 3.2. Jalan Produksi Jalan produksi adalah prasarana transportasi pada kawasan pertanian untuk memperlancar mobilitas alat mesin pertanian, pengangkutan sarana produksi menuju lahan pertanian dan mengangkut hasil produk pertanian dari lahan menuju pemukiman, tempat pengolahan atau pasar. Dimensi lebar badan jalan produksi minimal dapat dialui kendaraan roda 4 dan dapat saling berpapasan atau dibuatkan tempat untuk berpapasan dan disesuaikan dengan jenis komoditas yang akan diangkut dan alat angkut yang akan digunakan. 4

3.3. Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO) Alat Pengolahan Pupuk Organik (UPPO) adalah suatu unit untuk pembuatan pupuk organik dengan bahan kotoran ternak dan sisa hijauan (kompos, sisa potongan gulma) dengan komponen alat angkut roda 3, rumah kompos, bak fermentasi, kandang komunal, alat pengolahan pupuk organik. Pembangunan UPPO dapat diintegrasikan dengan instalasi biodigester tipe beton atau tipe fyberglass beserta peralatan pendukungnya (kompor biogas, slang distribusi gas, pipa penyaluran, kran gas dan klem pipa). 3.4. Optimasi Lahan Pertanian Optimasi lahan pertanian adalah usaha meningkatkan pemanfaatan sumberdaya lahan yang sementara tidak diusahakan atau IP rendah menjadi lahan usahatani yang lebih produktif, melalui perbaikan prasarana dan sarana dalam menunjang peningkatan areal tanam/indeks pertanaman. Pelaksanaan fisik meliputi pembukaan lahan, pembersihan lahan, pengolahan lahan sampai kondisi siap tanam, perbaikan prasarana dan sarana. Apabila untuk mengoptimalisasi lahan terkendala tenaga kerja untuk pengolahan tanah, maka kegiatan optimasi lahan pertanian bisa untuk pengadaan traktor roda 2. 3.5. Reklamasi Lahan Rawa dan Lebak Reklamasi lahan rawa dan lebak adalah suatu upaya pemanfaatan, perbaikan dan peningkatan kesuburan lahan pertanian kurang produktif baik yang rusak secara alami maupun pengaruh manusia melalui penerapan teknologi dan pemberdayaan masyarakat. Pelaksanaan fisik meliputi : penyiapan dan perbaikan kualitas lahan (pengolahan lahan, pembuatan/perbaikan pematang sawah/galengan). Dana DAK hanya boleh untuk infrastruktur sehingga apabila memerlukan kompos/pupuk kandang, zeolit dan sarana produksi lainnya harus disediakan dari sumber dana selain DAK. 4. Penyediaan Lumbung Pangan Masyarakat dan atau Gudang Pangan Pemerintah Penyediaan lumbung pangan masyarakat dan/atau gudang pangan pemerintah sebagai prasarana cadangan pangan pemerintah kabupaten dan/atau lumbung pangan masyarakat sebagai prasarana cadangan pangan dilaksanakan sesuai dengan ketersediaan dana dan kondisi daerah. Anggaran DAK hanya bisa digunakan untuk fisik bangunan (ditambah 10 % dana pendampingan APBD). Biaya untuk disain dan pengawasan dalam pembangunan fisik harus disediakan dari APBD (di luar 10 % dana pendampingan APBD). 5. Pembangunan, Rehablitasi dan Renovasi Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan di Kecamatan (BP3K) 5.1. Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan di Kecamatan (BP3K) 5

Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan di Kecamatan (BP3K) adalah kelembagaan penyuluhan pemerintah pada tingkat kecamatan sebagai tempat pertemuan para penyuluh untuk melaksanakan kegiatan penyuluhan dan proses pembelajaran melalui percontohan serta pengembangan model usahatani bagi pelaku usaha. 5.2. Pembangunan Gedung BP3K Pembangunan Gedung BP3K, adalah pengadaan bangunan baru secara keseluruhan. Pembangunan tersebut dapat termasuk pagar untuk Kantor BP3K (bukan pagar lahan BP3K) yang menjadi satu kesaturan dengan bangunan kantor. Jenis dan luas bangunan gedung BP3K terdiri dari : a) Ruang Kepala b) Ruang Rapat/Pertemuan (4 x 10 meter) c) Ruang Fungsional/Penyuluh (4 x 4,5 meter) d) Ruang Perpustakaan (4,5 x 3 meter) e) Ruang Peragaan/Workshop (5 x 3 meter) f) Ruang Pengolahan Data (2,5 x 3 meter) g) Ruang Dapur dan Kamar Mandi (4 X 3 meter) h) Rumah Jaga (8 x 8 meter) (3 x 3 meter)

Ukuran panjanglebar (luas) ruangan disesuaikan standar dan kondisi setempat. Pembangunan fisik bangunan harus didahului design perencanaan. Dana design perencanaan disediakan dari APBD. Apabila anggaran tidak mencukupi untuk membangun sarana bangunan gedung BP3K maka pada tahun 2011 diprioritaskan membangun ruang yang paling dibutuhkan untuk pelayanan penyuluhan. 5.3. Rehabilitasi dan Renovasi BP3K Rehabilitasi bangunan BP3K adalah memperbaiki/mengganti semua elemen bangunan yang rusak, namun disesuaikan dengan pedoman dalam pembangunan BP3K. Disamping untuk pembangunan dan rehabilitasi, DAK juga dapat digunakan untuk merenovasi bangunan BP3K yaitu merubah/menambah/memperluas bangunan yang ada, untuk disesuaikan dengan pedoman pembangunan BP3K. Anggaran DAK hanya digunakan untuk fisik bangunan (ditambah 10 % dana pendampingan APBD). Biaya untuk disain dan pengawasan dalam pembangunan fisik harus disediakan dari APBD di luar 10 % dana pendampingan. Pembangunan fisik bangunan harus didahului design perencanaan. Dana design perencanaan disediakan dari APBD. 5.4. Persyaratan Alokasi Pembangunan BP3K Letak lahan strategis dan mudah dijangkau oleh pelaku utama dan pelaku usaha khususnya dan masyarakat tani pada umumnya. Lahan tersebut diperuntukkan selain untuk bangunan sekaligus dijadikan sebagai percontohan (demonstrasi plot) sesuai dengan potensi wilayah/komoditas unggulan daerah setempat. 6

6. Penyediaan Prasarana dan Sarana Balai Perbenihan/Pembibitan Penyediaan prasarana dan sarana perbenihan/pembibitan dibangun di atas tanah milik Pemerintah Kabupaten yang tanah tersebut memang sudah diperuntukkan balai perbenihan/perbibitan dalam bentuk legal formal: peraturan daerah, peraturan bupati atau surat keputusan bupati. DAK tidak boleh digunakan untuk membangun Balai Perbenihan/Perbibitan yang status tanahnya belum jelas. Penyediaan prasarana dan sarana perbenihan/pembibitan juga bisa untuk kelembagaan yang sudah dalam bentuk UPTD yang tupoksinya untuk pengembangan perbenihan/pembibitan. Disamping untuk membangunan Balai Perbenihan/Perbibitan, DAK juga bisa digunakan untuk merehabilitasi atau merenovasi UPTD Perbenihan/ Perbibitan yang ada. 6.1. Penyediaan Prasarana dan Sarana Balai Benih Kabupaten/Kota untuk Tanaman Pangan Dalam memenuhi kebutuhan penyediaan prasarana dan sarana Balai Benih sesuai dengan standar Balai Benih Tanaman Pangan (Padi dan Palawija) terdiri dari: 1. Bangunan (antara lain gudang benih, gudang saprodi, kantor, laboratorium, lantai jemur). Pembangunan fisik bangunan harus didahului design perencanaan. Dana design perencanaan disediakan dari APBD. 2. Peralatan Produksi (antara lain mini traktor, hand traktor, mist blower, hand sprayer, power sprayer, cangkul, arit/parang, pompa air, gerobak dorong, light trap, alat pengukur ubinan, landak, pH meter, swing pog, mesing pemotong rumput, emposan tikus, trailer). 3. Peralatan Pengolahan/Penyimpanan Benih (antara lain motor thresher, silo, box dryer, bag closer, timbangan). 4. Peralatan Laboratorium (moisture tester, rak benih, loupe/kaca pembesar, microscope). 6.2. Penyediaan Prasarana dan Sarana Balai Benih Kabupaten/Kota untuk tanaman Hortikultura Penyediaan prasarana dan sarana Balai perbenihan/perbibitan kabupaten untuk tanaman Hortikultura adalah pembangunan/ rehabilitasi kantor, gudang; laboratorium; pagar; rumah lindung (screen house); peralatan produksi benih (termasuk peralatan laboratorium kultur jaringan seperti timbangan analitik, aotuclave, laminair air flow, shaker, botol kultur, magnetic stirrer, blender); pompa air dan jaringan irigasi. Pembangunan fisik bangunan harus didahului design perencanaan. Dana design perencanaan disediakan dari APBD. 6.3. Penyediaan Prasarana Perkebunan dan Sarana Balai Perbenihan/Perbibitan

Penyediaan prasarana dan sarana kelembagaan/perbibitan perkebunan diarahkan untuk pembangunan kebun induk, pembangunan kebun entres, pembangunan kebun bibit, sarana/peralatan pembenihan/ 7

perbibitan; pembangunan/rehabilitasi kantor, gudang; pagar; rumah lindung (screen house); peralatan produksi benih (termasuk kultur jaringan); pompa air irigasi; jaringan irigasi; sprinkel; jalan usahatani. Pembangunan fisik bangunan harus didahului design perencanaan. Dana design perencanaan disediakan dari APBD. DAK hanya boleh untuk infrastruktur. Sehingga kegiatan seperti : pemurnian kebun induk dan kebun entres, pemilihan dan penetapan Blok Penghasil Tinggi (BPT) dan Pohon Terpilih (PT), pengadaan pupuk, pestisida serta pemberdayaan kelompok penangkar harus disediakan dana dari selain DAK (APBD, Tugas Pembantuan atau sumber lainnya). 6.4. Balai Perbibitan Ternak DAK bisa digunakan untuk membangun/merehabilitasi atau meronovasi Bapai Perbibitan Ternak. Yang dimaksud Balai Perbibitan Ternak adalah kelembagaan yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah Kabupaten yaitu UPTD Balai Pembibitan Ternak Daerah. Prasarana dan sarana yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan setempat seperti pembangunan/perbaikan kandang, gudang, pagar dan alat pengolah pakan. 7. Penyediaan Prasarana dan Sarana Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) dan Inseminiasi Buatan (IB) Penyediaan prasarana dan sarana Puskeswan dan IB adalah pembangunan/rehabilitasi gedung dan sarana penunjangnya, termasuk di dalamnya kelengkapan prasarana, sarana, dan peralatan untuk berfungsinya Puskeswan dan IB. Untuk efisiensi, bangunan untuk Puskeswan juga dirancang untuk bangunan IB. Pembangunan fisik bangunan harus didahului design perencanaan. Dana design perencanaan disediakan dari APBD. DAK hanya bisa digunakan untuk prasarana, sarana, dan peralatan yang berumur ekonomis panjang. DAK tidak boleh digunakan untuk pengadaan barang yang habis pakai seperti obat hewan, bahan laboratorium, dan bahan IB. Bangunan Puskeswan dan IB termasuk di dalamnya kelengkapan prasarana, sarana, dan peralatan mengacu sebagaimana terlampir. C. Tata Cara Pelaksanaan Kegiatan DAK Bidang Pertanian 1. Penyusunan RKA DPA DAK Bidang Pertanian Kegiatan yang akan dimasukkan dalam penyusunan RKA DPA harus mengacu kepada Petunjuk Teknis (Juknis) yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian. Hanya kegiatan yang tercantum dalam Juknis yang dikeluarkan Kementerian Pertanian yang bisa dibiayai dari DAK. 2. Pengelolaan Keuangan Pengelolaan keuangan DAK mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2009 tanggal 6 April 2009 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Alokasi Khusus di daerah. 8

3. Pelaksanaan Pengadaan Barang/Konstruksi Pelaksanaan pengadaan barang/konstruksi terhitung sejak tanggal 1 Januari 2011 mengacu kepada Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Dalam Perpres Nomor 54 Tahun 2010, Bab I Bagian Ketiga Paragraf Pertama Pasal 35, ayat (2) Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Lainnya dilakukan dengan: a) Pelelangan yang terdiri atas Pelelangan Umum dan Pelelangan Sederhana; b) Penunjukan Langsung; c) Pengadaan Langsung; atau d) Kontes/Sayembara Ayat (3) Pemilihan Penyedia Pekerjaan Konstruksi dilakukan dengan: a) Pelelangan Umum; b) Pelelangan Terbatas; c) Pemilihan Langsung; d)Penunjukan Langsung; atau e) Pengadaan Langsung. Proses pengadaan yang bersifat konstruksi pada prinsipnya dilakukan melalui metode Pelelangan Umum dengan pascakualifikasi; demikian seterusnya pada ayat (2), (3), dan (4). Pasal 37 ayat (1): Pengadaan pekerjaan yang tidak kompleks dan bernilai paling tinggi Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dapat dilakukan dengan: a) Pelelangan Sederhana untuk pengadaan barang/jasa lainnya atau b) Pemilihan Langsung untuk Pengadaan Pekerjaan Konstruksi; demikian seterusnya pada ayat (2), (3) dan (4) Pasal 39 ayat (1): Pengadaan Langsung dapat dilaksanakan terhadap Pengadaan Barang/Pekerjaaan Konstruksi/Jasa Lainnya yang bernilai paling tinggi Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) dengan ketentuan: a) merupakan kebutuhan operasional Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/Institusi Lainnya (K/L/D/I); b) teknologi sederhana; c) resiko kecil; dan/atau d) dilaksanakan oleh Penyedia Barang/Jasa usaha orang perseorangan dan/atau badan usaha kecil serta koperasi kecil, kecuali untuk paket pekerjaan yang menuntut kompetensi teknis yang tidak dapat dipenuhi oleh usaha mikro, usaha kecil dan koperasi kecil, demikian seterusnya pada ayat (2), (3) dan (4). 4. Penyaluran Dana Penyaluran dana mengacu ke Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 126/PMK.07/2010 tertanggal 12 Juli 2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah. D. Persyaratan Dana Pendamping DAK 1. Sebagai komitmen dan tanggungjawab pemerintah kabupaten dalam pelaksanaan kegiatan, kabupaten penerima DAK Bidang Pertanian wajib menyediakan Dana Pendamping APBD kabupaten tahun 2011 sekurangkurangnya sebesar 10% dari nilai DAK yang diterimanya untuk membiayai kegiatan fisik. 2. Di samping Dana Pendamping dari APBD sebesar 10% dari nilai DAK untuk membiayai kegiatan fisik, masih diperlukan dukungan dana APBD yang besarnya disesuaikan dengan kemampuan daerah untuk kegiatan operasional (non fisik) antara lain: (1) biaya administrasi, (2) biaya 9

perencanaan dan penyiapan fisik, (3) biaya pemeliharaan prasarana, sarana dan peralatan, (4) biaya seleksi Calon Petani/Calon Lokasi (CP/CL) dan Survey Investigasi dan Desain (SID), serta (5) monitoring, evaluasi dan pelaporan, sehingga semestinya pendamping APBD di atas 10 %. 3. Dalam rangka meningkatkan kinerja penyediaan prasarana dan sarana pertanian, maka DAK disinergiskan dengan anggaran Tugas Pembantuan di kabupaten/kota serta sumber-sumber pembiayaan lainnya. III. PEMBINAAN DAN PELAPORAN A. Pembinaan 1. Kementerian Pertanian dan Dinas/Badan lingkup Pertanian Provinsi melakukan pembinaan, monitoring dan evaluasi kegiatan DAK Bidang Pertanian. 2. Kegiatan DAK Bidang Pertanian diarahkan untuk lebih melibatkan partisipasi masyarakat petani dalam melaksanakan pekerjaan fisik di lapangan. 3. Kepala Dinas/Badan/Kantor lingkup pertanian kabupaten melakukan konsultasi dan koordinasi dengan Kepala Dinas/Badan lingkup Pertanian Provinsi dalam menyusun RKA DAK Bidang Pertanian mengenai rencana penyediaan prasarana pertanian termasuk rencana kegiatan, lokasi, dan desainnya. B. Pelaporan 1. Kepala Dinas/Badan/Kantor lingkup pertanian kabupaten/kota pelaksana DAK Bidang Pertanian wajib menyampaikan laporan triwulan tentang realisasi pelaksanaan DAK kepada Menteri Pertanian c.q. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, dengan tembusan Menteri Keuangan, Direktur Jenderal / Kepala Badan lingkup Kementerian Pertanian terkait, Gubernur, dan Kepala Dinas/Badan lingkup Pertanian Provinsi. 2. Format laporan triwulan mengacu pada format yang tertuang pada lampiran dari Surat Edaran Bersama Kepala Bappenas, Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri, Nomor 0239/M.PPN/11/2008, SE-1722/MK.07/2008 dan Nomor 900/3556/SJ tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemantauan Teknis Pelaksanaan dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus, sebagaimana terdapat pada format 3. Laporan triwulanan dan laporan akhir tahun yang ditujukan ke Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian paling lambat diterima 2 minggu setiap triwulan berakhir via pos dan fax (021-7804156) dan atau e-mail ke alamat biroren.kementan@gmail.com - Untuk triwulan I (Januari Maret) paling lambat diterima minggu kedua April berupa laporan perencanaan kegiatan sebagaimana format 3 (kolom 1 s/d 8). - Untuk triwulan II (April Juni) paling lambat diterima minggu kedua Juli. - Untuk triwulan III (Juli September) paling lambat diterima minggu kedua Oktober. - Untuk triwulan IV (Oktober Desember) sekaligus laporan akhir tahun paling lambat diterima pada minggu kedua Januari tahun berikutnya. 10

Laporan akhir tahun anggaran disampaikan kepada Menteri Pertanian c.q. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian dengan tembusan Menteri Keuangan, Direktur Jenderal / Kepala Badan lingkup Kementerian Pertanian terkait, Gubernur, dan Kepala Dinas/Badan lingkup Pertanian Provinsi. Laporan triwulanan II, III, IV (dan sekaligus laporan akhir tahun) sebagaimana format 3 (kolom 1 s/d 15). 3. Laporan akhir tahun anggaran memuat gambaran umum kegiatan DAK, sasaran yang ingin dicapai, uraian pelaksanaan, hasil yang telah dicapai dan realisasi anggaran, hambatan, dan masalah yang dihadapi, serta saran perbaikan di masa mendatang. 4. Pelaporan menjadi salah satu dasar penilaian dalam kriteria alokasi anggaran DAK Bidang Pertanian pada tahun berikutnya. IV. PENUTUP Kegiatan-kegiatan yang bisa didanai dari DAK bidang pertanian 2011 sebagaimana diuraikan di atas sifatnya adalah pilihan. Kepala Daerah bisa memilih satu atau lebih kegiatan sesuai prioritas daerah. Pemilihan kegiatan DAK bidang pertanian seharusnya merupakan bagian program jangka menengah sesuai Renstra Daerah dan Renstra Kementerian Pertanian. Selanjutnya dalam pelaksanaan kegiatannya agar disinergikan dengan kegiatan yang bersumber dari pendanaan lainnya (seperti dana tugas pembantuan, APBD kabupaten/kota dan sumber lainnya) sehingga lebih berdaya guna dan berhasil guna.

MENTERI PERTANIAN,

SUSWONO

11