Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN TUTORIAL SKENARIO 2 Blok 5

Disusun oleh :

Devy Isella Lilyani Dian Pratama Putra Diana Zahrawardani Marisa Puji Rahayu Rani Dinarti Yosyana Eka Silvia P. Yudis Diana Liling S.

(H2A008011) (H2A008012) (H2A008013) (H2A008029) (H2A008030) (H2A008031) (H2A008046) (H2A008047)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG 2009


KASUS Seorang ibu 30 tahun datangdengan keluhan dalam beberapa bulan ini haid tidak teratur, beberapa kali haid dalam sebulan. Dari anamnesis ibu tersebut menggunakan alat kontrasepsi kira-kira 1 tahun terakhir ini.

KATA SULIT 1. Haid : perdarahan secara periodik dan siklik disertai pelepasan atau deskuamasi endometrium. 2. Kontrasepsi : suatu cara atau alat untuk mencegah kehamilan.

IDENTIFIKASI dan ANALISIS MASALAH 1. Haid : Definisi Perdarahan secara periodik dan siklik disertai pelepasan atau deskuamasi endometrium. Siklus Ada 3 fase : Proliferasi Sekretorik Deskuamasi endometrium

Factor Hormon (FSH, LH, esterogen, progesteron) Kelelahan Stress/emosi Obat-obatan Kelainan organ reproduksi wanita

Anatomi + fisiologi + histology (sasbel) Gangguan haid (sasbel)

2. Kontrasepsi : Macam Kondom, suntik, susuk, pil, tubektomi/vasektomi, histerectomi, IUD Cara penggunaan (sasbel) Efek samping Haid tidak teratur Gemuk Jerawatan

3. Hubungan haid tidak teratur dan penggunaan alat kontrasepsi

SKEMA

Wanita

Ovulasi

Dibuahi (hamil)

tidak dibuahi (haid)

Normal Teratur

tidak normal tidak teratur

Kontrasepsi

hormon

kelainan organ Reproduksi

SASARAN BELAJAR KELOMPOK

1. Mahasiswa mampu mengetahui tentang anatomi , fisiologi, dan histologi dari organ reproduksi wanita. 2. Mahasiswa mampu mengetahui tentang siklus haid. 3. Mahasiswa mampu mengetahui tentang gangguan menstruasi. 4. Mahasiswa mampu mengetahui tentang kelainan organ reproduksi. 5. Mahasiswa mampu mengetahui tentang macam, cara kerja, dan efek samping dari alat-alat kontrasepsi.

PEMBAHASAN

1. Anatomi fisiologi organ reproduksi wanita : GENITALIA EKSTERNA Vulva Terdiri dari mons pubis, labia mayora, labia minora, clitoris, hymen, vestibulum, orificium urethrae externum, kelenjar-kelenjar pada dinding vagina. Mons pubis / mons veneris Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis. Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi rambut pubis. Labia mayora Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah bawah dan belakang, banyak mengandung pleksus vena. Homolog embriologik dengan skrotum pada pria. Ligamentum rotundum uteri

berakhir pada batas atas labia mayora. Di bagian bawah perineum, labia mayora menyatu (pada commisura posterior). Berfungsi melindungi vagina. Labia minora Lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak mempunyai folikel rambut. Banyak terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut saraf. Berfungsi melindungi vagina. Clitoris Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva, dan corpus clitoridis yang tertanam di dalam dinding anterior vagina. Homolog embriologik dengan penis pada pria. Terdapat juga reseptor androgen pada clitoris. Banyak pembuluh darah dan ujung serabut saraf, sangat sensitif. Vestibulum Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah fourchet, batas lateral labia minora. Berasal dari sinus urogenital. Terdapat 6 lubang/orificium, yaitu orificium urethrae externum, introitus vaginae, ductus glandulae Bartholinii kanan-kiri dan duktus Skene kanan-kiri. Antara fourchet dan vagina terdapat fossa navicularis. Introitus / orificium vagina Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan tipis bermukosa yaitu selaput dara / hymen, utuh tanpa robekan. Hymen normal terdapat lubang kecil untuk aliran darah menstruasi, dapat berbentuk bulan sabit, bulat, oval, cribiformis, septum atau fimbriae Vagina Rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai dari tepi cervix uteri di bagian kranial dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral. Daerah di sekitar cervix disebut fornix, dibagi dalam 4 kuadran : fornix anterior, fornix posterior, dan fornix lateral kanan dan kiri. Fungsi vagina : untuk mengeluarkan ekskresi uterus pada haid, untuk jalan lahir dan untuk kopulasi (persetubuhan). Bagian atas vagina terbentuk dari duktus Mulleri, bawah dari sinus urogenitalis. Batas dalam secara klinis yaitu fornices anterior, posterior dan lateralis di

sekitar cervix uteri. Titik Grayenbergh (G-spot), merupakan titik daerah sensorik di sekitar 1/3 anterior dinding vagina, sangat sensitif terhadap stimulasi orgasmus vaginal. Perineum Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Batas otot-otot diafragma pelvis (m.levator ani, m.coccygeus) dan diafragma urogenitalis (m.perinealis transversus profunda, m.constrictor urethra). Perineal body adalah raphe median m.levator ani, antara anus dan vagina. Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong (episiotomi) untuk memperbesar jalan lahir dan mencegah ruptur.

GENITALIA INTERNA Uterus Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir, dilapisi peritoneum (serosa). Selama kehamilan berfungsi sebagai tempat implatansi, retensi dan nutrisi konseptus. Pada saat persalinan dengan adanya kontraksi dinding uterus dan pembukaan serviks uterus, isi konsepsi dikeluarkan. Terdiri dari corpus, fundus, cornu, isthmus dan serviks uteri. Serviks uteri Bagian terbawah uterus, terdiri dari pars vaginalis (berbatasan / menembus dinding dalam vagina) dan pars supravaginalis. Corpus uteri Terdiri dari : paling luar lapisan serosa/peritoneum yang melekat pada ligamentum latum uteri di intraabdomen, tengah lapisan muskular/miometrium berupa otot polos tiga lapis (dari luar ke dalam arah serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta dalam lapisan endometrium yang melapisi dinding cavum uteri, menebal dan runtuh sesuai siklus haid akibat pengaruh hormon-hormon ovarium. Posisi corpus intraabdomen mendatar dengan

fleksi ke anterior, fundus uteri berada di atas vesica urinaria. Proporsi ukuran corpus terhadap isthmus dan serviks uterus bervariasi selama pertumbuhan dan perkembangan wanita (gambar). Ligamenta penyangga uterus Ligamentum latum uteri, ligamentum rotundum uteri, ligamentum cardinale, ligamentum ovarii, ligamentum sacrouterina propium, ligamentum infundibulopelvicum, ligamentum vesicouterina, ligamentum rectouterina. Vaskularisasi uterus Terutama dari arteri uterina cabang arteri hypogastrica/illiaca interna, serta arteri ovarica cabang aorta abdominalis. Salping / Tuba Falopii Embriologik uterus dan tuba berasal dari ductus Mulleri. Sepasang tuba kiri-kanan, panjang 8-14 cm, berfungsi sebagai jalan transportasi ovum dari ovarium sampai cavum uteri. Dinding tuba terdiri tiga lapisan : serosa, muskular (longitudinal dan sirkular) serta mukosa dengan epitel bersilia. Terdiri dari pars interstitialis, pars isthmica, pars ampularis, serta pars infundibulum dengan fimbria, dengan karakteristik silia dan ketebalan dinding yang berbedabeda pada setiap bagiannya (gambar). Pars isthmica (proksimal/isthmus) Merupakan bagian dengan lumen tersempit, terdapat sfingter uterotuba pengendali transfer gamet. Pars ampularis (medial/ampula) Tempat yang sering terjadi fertilisasi adalah daerah ampula / infundibulum, dan pada hamil ektopik (patologik) sering juga terjadi implantasi di dinding tuba bagian ini. Pars infundibulum (distal)

Dilengkapi dengan fimbriae serta ostium tubae abdominale pada ujungnya, melekat dengan permukaan ovarium. Fimbriae berfungsi "menangkap" ovum yang keluar saat ovulasi dari permukaan ovarium, dan membawanya ke dalam tuba. Mesosalping Jaringan ikat penyangga tuba (seperti halnya mesenterium pada usus). Ovarium Organ endokrin berbentuk oval, terletak di dalam rongga peritoneum, sepasang kiri-kanan. Dilapisi mesovarium, sebagai jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan saraf. Terdiri dari korteks dan medula. Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel menjadi ovum (dari sel epitel germinal primordial di lapisan terluar epital ovarium di korteks), ovulasi (pengeluaran ovum), sintesis dan sekresi hormon-hormon steroid (estrogen oleh teka interna folikel, progesteron oleh korpus luteum pascaovulasi). Berhubungan dengan pars infundibulum tuba Falopii melalui perlekatan fimbriae. Fimbriae "menangkap" ovum yang dilepaskan pada saat ovulasi. Ovarium terfiksasi oleh ligamentum ovarii proprium, ligamentum infundibulopelvicum dan jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari cabang aorta abdominalis inferior terhadap arteri renalis.

Histologi organ reproduksi wanita : Ovarium Permukaan ovarium ditutupi 2 epitel germinal yang menutupi sejenis jaringan ikat padat, yaitu : tunika albuginea dan serat retikulin. Medulla ovarium merupakan bagian vaskuler (jaringan ikat fibroelastis longgar) Korteks dipenuhi folikel ovarium dan terdapat korpus luteum (folikel yang telah ovulasi), korpus albikans (kospus luteum yang telah degenerasi), dan folikel atretis. Tuba uterine Terdiri dari lapis mukosa, lapis otot, dan lapis serosa.

Uterus Terdiri dari 3 lapisan : perimetrium, miometrium,dan endometrium. Endometrium Proliferasi (epitel selapis silindris) Sekresi (epitel transisional)

Vagina Lapis mukosa (epitel berlapis gepeng) Lapis otot Lapis adventitia (jaringan ikat padat)

2. Siklus menstruasi : Siklus menstruasi normal berlangsung selama 21-35 hari, 2-8 hari adalah waktu keluarnya darah haid yang berkisar 20-60 ml per hari. Penelitian menunjukkan wanita dengan siklus mentruasi normal hanya terdapat pada 2/3 wanita dewasa, sedangkan pada usia reproduksi yang ekstrim (setelah menarche <pertama kali terjadinya menstruasi> dan menopause) lebih banyak mengalami siklus yang tidak teratur atau siklus yang tidak mengandung sel telur. Siklus mentruasi ini melibatkan kompleks hipotalamus-hipofisisovarium. Pada setiap siklus menstruasi, FSH yang dikeluarkan oleh hipofisis merangsang perkembangan folikel-folikel di dalam ovarium (indung telur). Pada umumnya hanya 1 folikel yang terangsang namun dapat perkembangan dapat menjadi lebih dari 1, dan folikel tersebut berkembang menjadi folikel de graaf yang membuat estrogen. Estrogen ini menekan produksi FSH, sehingga hipofisis mengeluarkan hormon yang kedua yaitu LH. Produksi hormon LH maupun FSH berada di bawah pengaruh releasing hormones yang disalurkan hipotalamus ke hipofisis. Penyaluran RH dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik estrogen

terhadap hipotalamus. Produksi hormon gonadotropin (FSH dan LH) yang baik akan menyebabkan pematangan dari folikel de graaf yang mengandung estrogen. Estrogen mempengaruhi pertumbuhan dari endometrium. Di bawah pengaruh LH, folikel de graaf menjadi matang sampai terjadi ovulasi. Setelah ovulasi terjadi, dibentuklah korpus rubrum yang akan menjadi korpus luteum, di bawah pengaruh hormon LH dan LTH ( luteotrophic hormones, suatu hormon gonadotropik). Korpus luteum menghasilkan progesteron yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kelenjar endometrium. Bila tidak ada pembuahan maka korpus luteum berdegenerasi dan mengakibatkan penurunan kadar estrogen dan progesteron. Penurunan kadar hormon ini menyebabkan degenerasi, perdarahan, dan pelepasan dari endometrium. Proses ini disebut haid atau menstruasi. Apabila terdapat pembuahan dalam masa ovulasi, maka korpus luteum tersebut dipertahankan.

Pada tiap siklus dikenal 3 masa utama yaitu: 1. Masa menstruasi yang berlangsung selama 2-8 hari. Pada saat itu endometrium (selaput rahim) dilepaskan sehingga timbul perdarahan dan hormon-hormon ovarium berada dalam kadar paling rendah 2. Masa proliferasi dari berhenti darah menstruasi sampai hari ke-14. Setelah menstruasi berakhir, dimulailah fase proliferasi dimana terjadi pertumbuhan dari desidua fungsionalis untuk mempersiapkan rahim untuk perlekatan janin. Pada fase ini endometrium tumbuh kembali. Antara hari ke-12 sampai 14 dapat terjadi pelepasan sel telur dari indung telur (disebut ovulasi) 3. Masa sekresi. Masa sekresi adalah masa sesudah terjadinya ovulasi. Hormon progesteron dikeluarkan dan mempengaruhi pertumbuhan endometrium untuk membuat kondisi rahim siap untuk implantasi (perlekatan janin ke rahim) Siklus ovarium : 1. Fase folikular. Pada fase ini hormon reproduksi bekerja mematangkan sel telur yang berasal dari 1 folikel kemudian matang pada pertengahan siklus dan siap untuk proses

ovulasi (pengeluaran sel telur dari indung telur). Waktu rata-rata fase folikular pada manusia berkisar 10-14 hari, dan variabilitasnya mempengaruhi panjang siklus menstruasi keseluruhan 2. Fase luteal. Fase luteal adalah fase dari ovulasi hingga menstruasi dengan jangka waktu rata-rata 14 hari 3. Gangguan menstruasi :

Kelainan tentang banyak dan lama perdarahan :

a. Hipermenorea (menoragia) : siklus tetap tapi jumlah perdarahan lebih banyak dapat disertai gumpalan darah dan lamanya lebih dari 8 hari. b. Hipomenorea : siklus tetap tapi lama perdarahan memendek kurang dari 3 hari, biasanya karena kesuburan kurang atau gizi yang rendah. Kelainan siklus haid : a. Polimenorea : siklus memendek dari biasa yaitu kurang dari 21 hari, sedangkan volume darah relatif tetap, terjadi karena umur korpus luteum memendek. b. Oligomenorea : siklus memanjang lebih dari 35 hari sedangkan jumlah volume darah relatif sama, terjadi karena gangguan hormonal. c. Amenorea : tidak datang haid selama 3 bulan berturut-turut. Primer : sejak bayi sampai 17 tahun lebih Sekunder : pernah mendapatkan haid tapi berhenti selama 3-6 bulan.

Perdarahan diluar haid : Metroragia : perdarahan yang terjadi diluar haid dengan penyebab kelainan hormonal atau kelainan organ genetalia.

Keadaan lain berkait menstruasi ; a. Ketegangan pra haid : mastasgia (rasa tegang pada payudara karena dominasi hormon esterogen) . b. Dismenorea : rasa nyeri saat menstruasi. Primer : tidak ada kelainan Sekunder : ada kelainan organik

4. Kelainan organ reproduksi : a. Septum vagina : terdapat dalam bentuk septum longitudinal atau vertikal , menghalangi jalannya persalinan. b. Hemotoma : pecahnya pembuluh darah vena yang merupakan pendarahan, terjadi saat kehamilan atau persalinan. c. Kista vagina : dari sisa ductus gartner d. Kanker uterus e. Kanker serviks

5. Alat kontrasepsi : Mekanik : a. Spermisida (Krim, Foam, Supositoria Vagina)

Cara Kerja : mengandung zat kimia yang dapat membunuh sperma, atau membuat sperma menjadi tidak aktif sehingga tidak mampu membuahi sel telur. Efektivitas : 80% Efek Samping : Iritasi pada vagina, dapat menimbulkan reaksi alergi. b. Diafragma & Cervical CAP Cara Kerja : Terbuat dari karet lunak, mencegah sperma mencapai leher rahim. Gel Spermisida digunakan bersama untuk mematikan atau mengganggu gerakan sperma. Efektivitas : 85% c. Kondom Pria Cara Kerja : Mencegah sperma mencapai serviks (leher rahim) Efektivitas : 80-90% (dapat meningkat jika digunakan bersama spermisida) d. Intra - Uterine Device (IUD)/Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKR) Cara Kerja : Mencegah kehamilan dengan mempengaruhi pergerakan sperma atau implantasi sel telur yang telah dibuahi dalam dinding rahim. Ada 2 jenis IUD: berisi progesterone dan berisi tembaga berbentuk T. Efektivitas : IUD bentuk T = 99%, IUD Progesterone = 97% Efek Samping : Kram, sakit punggung, timbul bercak darah, menstruasi berat, meningkatnya resiko radang panggul, kehamilan tuba, dan menjadi tidak subur.

Hormonal :
a. Pil

Cara Kerja : Menghasilkan hormon estrogen dan progesterone buatan, yang cara kerjanya menyerupai hormon alami yang diproduksi oleh tubuh setiap bulan. Estrogen akan

mencegah produksi sel telur (ovum) dari ovarium, sehingga pembuahan tidak terjadi. Mini-pil biasanya hanya mengandung progesterone. Efektifitas : 99% untuk pil kombiniasi dan 86% untuk mini pil Efek Samping : Jarang: gumpalan darah, penyakit hati, tekanan darah tinggi, penyakit kandung empedu, dan migren. Sering: mual, nyeri payudara, perdarahan pada pertengahan siklus menstruasi dalam beberapa bulan pertama, berat badan naik, nafsu makan meningkat, mood yang berubah-ubah, depresi, sakit kepala, dan gangguan kulit.
b. Susuk KB (Implan)

Cara Kerja : Sama dengan pil kecuali susuk ditanamkan di dalam kulit, biasanya di lengan atas. Implan mengandung progesterone yang akan terlepas secara perlahan dalam tubuh. Efektifitas : 99 % Efek Samping : Perdarahan, siklus menstruasi lebih panjang, rambut rontok, gairah seksual turun, jerawat dan depresi.
c. KB Suntik

Cara Kerja: Sama dengan pil Efektifitas : 99% Efek Samping : siklus menstruasi tidak teratur, gairah seksual menurun, berat badan naik, sakit kepala, depresi, kandungan mineral tulang berkurang.

Mantap : a. Tubektomi (Sterilisasi pada wanita) Cara Kerja : Tuba fallopi (pembawa sel telur ke rahim) dipotong dan diikat dengan teknik yang disebut kauter, atau dengan pemasangan klep atau cicin silastik.

Efektivitas : 99%

b. Vasektomi (Sterilisasi Pria) Cara Kerja : Saluran vaas deferens yang berfungsi mengangkut sperma dipotong dan diikat (lihat gambar), sehingga aliran sperma dihambat tanpa mempengaruhi jumlah cairan semen. Jumlah sperma hanya 5% dari cairan ejakulasi. Cairan semen diproduksi dalam vesika seminalis dan prostat sehingga tidak akan terganggu oleh vasektomi. Efektivitas : 99% lebih

DAFTAR PUSTAKA

1. Ganong, 1999, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC : Jakarta. 2. Leeson, C, R. 1990. Buku Ajar Histologi. EGC : Jakarta. 3. R. Putz. Atlas Anatomi Manusia Sobotta. EGC : Jakarta. 4. Richard S. Snell. 2006. Anatomi Klinik. EGC: Jakarta. 5. Silvia Price and Wilson. 2006. Patofisiologi. EGC : Jakarta. 6. www.klikdokter.com/menstruasi 7. www.medicalstore.com/menstruasi
8. www.indosiar.com/ragam-kontrasepsi