Anda di halaman 1dari 10

KEGAWAT-DARURATAN PADA ANAK

1. KERACUNAN JENGKOL

Keracunan jengkol sering dilaporkan di Indonesia. Karena jengkol termasuk sayuran yang banyak digemari oleh kalangan tertentu masyarakat Indonesia. Biji jengkol (Pithelobium lobatum) mengandung asam amino (asam jengkolat) dengan rumus bangun sebagai berikut :
S CH3 CHNH2 COOH CH 2 S CH3 CHNH2 COOH

Menurut VAN VEEN dan HYMAN yang dikutib oleh R. WIRATMAJA, dkk. jengkol mengandung 2 % asam jengkolat.
Untuk mendiagnosis keracunan jengkol tidak sulit, biasanya sesudah makan jengkol timbul sakit perut, muntah, kolik, disuria, oliguria, sampai anuria, hematuria, uremia (gagal ginjal akut); serta bau jengkol yang berasal dari mulut, hawa napas dan urine. Kristal asam jengkol dapat menyumbat uretra yang menimbulkan adanya infiltrat dan abses di penis, skrotum, perineum dan sekitarnya.

Terjadinya kristal (hablur) akibat asam jengkolat pada saluran kemih diduga karena pH urin bersifat asam. Rupa-rupanya terjadi kristal-kristal pada saluran kemih inilah yang menjadi sebab sebagian besar gejala tersebut di atas.

Diagnosis Identifikasi faktor risiko sebelum keluhan tersebut terjadi (anamnesis) Nilai keadaan klinis anak Lakukan pemeriksaan lab. segera: darah rutin, kimia darah (fungsi ginjal: ureum, kreatinin, AGDA, elektrolit), urinalisis, kristal jengkol dalam urin. USG abdomen dan salurun kemih, itravena pyelografi

Pengobatan

Gejala peny. ringan (muntah, sakit perut / pinggang saja) pasien tidak perlu dirawat, dan cukup dinasehati untuk banyak minum dengan penambahan air soda atau tablet sodium bikarbonat kira-kira 1 mEq/kgBB/hari atau sebanyak 1-2 g/hari. Gejala peny.berat (oliguria, hematuria, anuria, tidak dapat minum) maka pasien perlu dirawat dengan diberikan infus natrium bikarbonat dalam larutan Glukosa 5 %, tetapi pada kasus anuria diberikan larutan glukosa 5-10% seperti pemberian cairan pada penderita gagal ginjal akut, diuretik dapat diberikan dengan dosis 1-2 mg/kgBB. Bila gagal maka tindakan selanjutnya adalah tindakan bedah.

Pencegahan

Anjuran yang dapat diberikan untuk mencegah timbulnya keracunan jengkol adalah dengan dilarang makan jengkol. Mengusahakan cara pengolahan yang baik (dimasak, digoreng, dibakar, ditanam lebih dahulu sebelum dimakan). Cara ini sukar dilaksanakan mengingat tidak mudahnya mengubah kebiasaan makan seseorang.

Komplikasi

Pembentukan batu saluran kemih Hidronefrosis Gagal ginjal akut Infeksi saluran kemih Sepsis Dehidrasi berat

2. SYOK ANAFILAKSIS
Anafilaksis adalah respons klinis hipersensitivitas akut, berat, menyerang berbagai macam organ, dan dapat mengancam jiwa. Anafilaksis terjadi akibat mediator inflamasi dilepaskan dalam jumlah besar secara bersamaan dari sel mast dan basofil sesudah paparan pada alergen pada individu yang sudah tersensitisasi sebelumnya. Reaksi anafilaktoid mirip dengan reaksi anafilaksis, tetapi tidak diperantarai oleh IgE, mungkin oleh anafilaktosin seperti C3a dan C5a atau bahan yang mampu menginduksi degranulasi sel mast tanpa melalui reaksi imunologis.

Angka kejadian anafilaksis berat berkisar 0,5-1 per 10.000 dan kematian terjadi pada sekitar 0,65-2% kasus anafilaksis berat.
Penyebab terbanyak anafilaksis adalah makanan dan obat. Penyebab lainnya antara lain bahan biologis (latex, insulin, ekstrak alergen, antiserum, produk darah, enzim), dan gigitan serangga.

Tata laksana Evaluasi segera, pemberian adrenalin, pemasangan turniket, pemberian oksigen, cairan intravena, difenhidramin, aminofilin, vasopresor, intubasi dan trakeostomi, kortikosteroid, serta pengobatan suportif.

Pasien dibaringkan dengan tungkai ditinggikan. Oksigen diberikan dengan sungkup atau kanul hidung dengan pemantauan kadar oksigen. Bila penyebabnya adalah suntikan atau gigitan binatang di ekstremitas, dilakukan pemasangan torniket proksimal terhadap lokasi, dan torniket dibuka setiap 10-15 menit.

Obat yang dianjurkan dalam kondisi ini adalah adrenalin dengan konsentrasi 1:1000 dengan dosis 0.01 mL/kg maksimal 0.5 ml per kali disuntikkan subkutan atau intramuskular.
Dosis yang sama dapat diulangi dengan jarak 15-20 menit sampai 23 kali. Antihistamin seperti difenhidramin dapat disuntikkan IM atau IV Hipotensi persisten perlu diatasi dengan perbaikan cairan intravaskular dengan infus kristaloid 20-30 ml/kg dalam 1 jam pertama. Bronkodilator dapat digunakan untuk mengatasi bronkokonstriksi. Sedangkan kortikosteroid diberikan segera setelah kegawatan teratasi untuk mencegah anafilaksis bifasik.

Untuk menghindari serangan berikutnya maka bahan yang menyebabkan anafilaksis wajib dihindari.