Anda di halaman 1dari 7

Data yang digunakan dalam analisis ini adalah data APBD untuk fungsi ekonomi, PDRB, dan data

pengangguran Propinsi Lampung tahun 2006-2010. Propinsi lampung sendiri terdiri dari beberapa kabupaten, yaitu: Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Tanggamus, Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Way Kanan, Kabupaten Tulang Bawang, Kota Bandar Lampung, dan Kota Metro. Secara umum, Pendapatan terdiri Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan yang Sah. PAD terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan yang dipisahkan dan lain-lain PAD yang sah. Sementara itu, Dana Transfer terdiri dari Dana Bagi Hasil Pajak dan SDA, Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) serta Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian. Sedangkan lain-lain pendapatan terdiri dari hibah, dana darurat dan lain-lain yang meliputi bagi hasil pajak/non pajak dari provinsi dan bantuan keuangan dari provinsi. Berikut ini adalah grafik yang menggambarkan besaran anggaran yang diterima Propinsi dan Kabupaten di Lampung.

200 180 160 140 dalam jutacrupiah 120 100 80 60 40 20 0

Pendapatan Daerah Menurut Fungsi Ekonomi Per-Propinsi dan Kabupaten

Provinsi Lampung Kab. Lampung Barat Kab. Tanggamus Kab. Lampung Selatan Kab. Lampung Timur Kab. Lampung Tengah Kab. Lampung Utara Kab. Way Kanan Kab. Tulang Bawang Kota Bandar Lampung Kota Metro

2006

2007

2008

2009

2010

Untuk melihat perkembangan ekonomi yang terjadi di Propinsi Lampung, kita dapat melihat dari total pendapatan dan pengeluaran dari tahun 2001-2010, baik pada perencanaan anggaran maupun pada realisasi anggarannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. rencana anggaran tahun anggaran 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 pendapatan Rp 412,546,591 Rp 587,481,785 Rp 518,039,240 Rp 671,553,125 Rp 745,860,831 Rp1,122,027,862 Rp1,262,181,464 Rp1,505,309,759 Rp1,623,366,047 Rp1,691,665,653 pengeluaran Rp 412,546,591 Rp 587,481,785 Rp 518,039,240 Rp 839,196,066 Rp 937,810,831 Rp1,518,761,075 Rp1,518,761,075 Rp1,730,309,759 Rp1,803,685,785 Rp1,839,829,137 realisasi anggaran pendapatan Rp 453,333,596 Rp 663,984,775 Rp 834,139,854 Rp 822,725,454 Rp1,045,734,784 Rp1,122,027,862 Rp1,374,096,049 Rp1,723,036,643 Rp1,742,386,841 Rp2,091,684,130 pengeluaran Rp 356,788,502 Rp 541,622,061 Rp 659,231,914 Rp 751,108,751 Rp 865,266,187 Rp1,294,948,833 Rp1,532,401,692 Rp1,711,015,164 Rp1,847,107,847 Rp2,004,899,187

Sumber : Data APBD Propinsi Lampung Data diatas menunjukkan perubahan dari APBD, baik penambahan ataupun pengurangan dalam anggaran pendapatan dan pengeluaran. Dilihat pada saat perencanaan anggaran dalam sisi pendapatan dan pengeluaran rata-rata terus mengalami peningkatan. Ada yang sesuai dengan pengeluarannya dan ada juga yang pengeluarannya lebih tinggi dari pendapatan. Akan tetapi, pada saat realisasi anggaran rata-rata menjadi lebih besar dari besaran yang direncanakan baik dari segi pendapatan dan pengeluarannya. Besaran persentase perubahan pada saat perencanaan penganggaran di pendapatan berturut-turut : 2001 ke 2002 naik sebesar 42.40% , tahun 2002 ke 2003 turun 11.82%, tahun 2003 ke 2004 naik 29.63%, tahun 2004 ke 2005 naik 11.07%, tahun 2005 ke 2006 naik 50.43%, tahun 2006 ke 2007 naik 12.49%, tahun 2007 ke 2008 naik 19.26%, tahun 2008 ke 2009 naik 7.84%, dan tahun 2009 ke 2010 naik 4.21%. untuk perbedaan atau selisih dalam pendapatan dan pengeluaran nya sendiri untuk tahun 2001 sampai 2003 besaran pengeluaran dan pendapatan nya balance. Dari tahun 2004 pengeluaran lebih besar Rp 167,642,941 dari pendapatan , tahun 2005 pengeluaran lebih besar Rp 191,950,000 dari pendapatan, tahun 2006 pengeluaran lebih besar Rp 396,733,213 dari pendapatan, tahun 2007 pengeluaran lebih

besar Rp 256,579,611 dari pendapatan, tahun 2008 pengeluaran lebih besar Rp 225,000,000 dari pendapatan, tahun 2009 pengeluaran lebih besar Rp 180,319,738 dari pendapatan, tahun 2010 pengeluaran lebih besar Rp 148,163,484 dari pendapatan. Untuk besaran persentase perubahan pada saat perencanaan penganggaran di pendapatan berturut-turut : 2001 ke 2002 naik sebesar 46.47% , tahun 2002 ke 2003 naik 25.63%, tahun 2003 ke 2004 turun 1.37%, tahun 2004 ke 2005 naik 27.11%, tahun 2005 ke 2006 naik 7.30%, tahun 2006 ke 2007 naik 22.47%, tahun 2007 ke 2008 naik 25.39%, tahun 2008 ke 2009 naik 1.12%, dan tahun 2009 ke 2010 naik 20.05%. Dalam realisasi anggaran nya sendiri untuk pengeluaran tahun 2001-2010 rata-rata lebih rendah dari pada pendapatan nya, yaitu: di tahun 2001 pengeluaran lebih rendah Rp96,545,094 dari pendapatannya. Tahun 2002 pengeluarannya lebih rendah Rp122,362,714 dari pendapatannya, tahun 2003 pengeluaran lebih rendah Rp174,907,940 dari pendapatan, tahun 2004 pengeluaran lebih rendah Rp71,616,703 dari pendapatan, tahun 2005 pengeluaran lebih rendah Rp180,468,579 dari pendapatan, untuk tahun 2006, 2007, dan 2009 pengeluarannya lebih besar dari pendapatan masing-masing sebesar Rp172,920,971 , Rp158,305,643 , dan Rp104,721,006 , tahun 2008 dan 2010 pengeluaran kembali lebih rendah dari pada pendapatannya masingmasing sebesar Rp12,021,479 dan Rp86,784,943. Persentase perubahan pada rencana dan realisasi anggaran tahun 2001-2010 rencana anggaran realisasi anggaran pendapatan pengeluaran pendapatan pengeluaran 42.40% 42.40% 46.47% 51.80% -11.82% -11.82% 25.63% 21.71% 29.63% 61.99% -1.37% 13.94% 11.07% 11.75% 27.11% 15.20% 50.43% 61.95% 7.30% 49.66% 12.49% 0.00% 22.47% 18.34% 19.26% 13.93% 25.39% 11.66% 7.84% 4.24% 1.12% 7.95% 4.21% 2.00% 20.05% 8.54%

Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Salah satu indikator ekonomi yang sangat diperlukan untuk mengukur kinerja pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Dilihat dari sisi pengeluaran PDRB adalah jumlah seluruh pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta yang tidak mencari untung, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap domestik bruto, perubahan stok dan ekspor netto di suatu wilayah. Dan dilihat dari sisi produksi, PDRB adalah jumlah nilai produk barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di suatu region pada suatu jangka waktu tertentu. PDRB merupakan indikator penting di suatu wilayah yang dapat mengindikasikan totalitas produksi netto barang/jasa yang selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi pembangunan wilayah. Untuk melihat seberapa besar APBD menurut fungsi ekonomi dan pengangguran mempengaruhi PDRB di Propinsi Lampung, dilakukan analisa regresi. Hasil dari analisa regresi ditampilkan pada tabel dibawah ini :

Dependent Variable: Y? Method: Pooled Least Squares Date: 11/06/12 Time: 13:14 Sample: 2006 2010 Included observations: 5 Cross-sections included: 10 Total pool (balanced) observations: 50 Variable C PENGANGGURAN? EKONOMI? Fixed Effects (Cross) _KAB1--C _KAB2--C _KAB3--C _KAB4--C _KAB5--C _KAB6--C _KAB7--C _KAB8--C _KAB9--C _KAB10--C Coefficient 8303825. -191.6982 57438.65 -6257626. -3158330. 4023312. 918381.4 5090651. -493858.2 -6919638. -409076.5 14074090 -6867906. Effects Specification Cross-section fixed (dummy variables) R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.895436 0.865168 1643234. 1.03E+14 -779.6948 29.58312 0.000000 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter. Durbin-Watson stat 6385710. 4475096. 31.66779 32.12668 31.84254 1.143286 Std. Error 1648329. 38.43673 25862.91 t-Statistic 5.037722 -4.987369 2.220889 Prob. 0.0000 0.0000 0.0324

Hasil estimasi model utama persamaan linear berganda diperoleh hasil adalah sebagai berikut:

Interpretasi ekonomi dari persamaan yang diperoleh adalah: 1. Tanpa dipengaruhi variable apapun dalam model besarnya PDRB Provinsi Lampung adalah sebesar Rp rupiah. Cateris Paribus. dan nilai ini adalah

2. Koefisien variabel dari Pengeluaran Ekonomi adalah

positif, maka Pengeluaran Ekonomi bernilai positif terhadap pertumbuhan PDRB Provinsi Lampung secara signifikan. Jika Pengeluaran Pendidikan naik 1 satuan maka pertumbuhan PDRB Provinsi Lampung naik menjadi 3. Koefisien variabel dari Pengangguran adalah
rupiah. Cateris Paribus.

dan bernilai negatif, maka

Pengeluaran Ekonomi bernilai negatif terhadap pertumbuhan PDRB Provinsi Lampung secara signifikan.. Jika Pengangguran naik 1 satuan maka pertumbuhan PDRB Provinsi Bangka Belitung turun sebesar ( R2 ) Koefisien determinasi digunakan untuk menguji goodness-fit dari model regresi yang salah satunya dapat lihat dari nilai R Square. Untuk mengetahui tingkat PDRB di Provinsi Lampung yang disebabkan beberapa oleh beberapa faktor antara lain yaitu Pengeluaran Ekonomi dan Pengangguran sebagai variable control dapat dilihat melalui besarnya koefisien determinasi. Dari perhitungan nilai R Square adalah 0.895436 . Hal ini berarti 89.5436% perekonomian Provinsi Bangka Belitung dapat dijelaskan oleh kedua variabel independen di atas, sedangkan sisanya yaitu sebesar 10.4564% dijelaskan oleh variabel lain di luar model.
rupiah. Cateris Paribus.

Pada analisa regresi, PDRB adalah variabel dependent dan APBD menurut fungsi ekonomi dan pengangguran merupakan variabel independent. Bila dilihat dari hasil regresan, pada saat terjadi kenaikan pada kedua variabel independent maka PDRB juga ikut meningkat. Hal ini ditandai dengan nilai positif pada variabel independent (ceteris paribus). Salah satu aspek untuk melihat kinerja perekonomian adalah seberapa efektif penggunaan sumber-sumber daya yang ada sehingga lapangan pekerjaan merupakan concern dari pembuat kebijakan. Angkatan kerja merupakan jumlah total dari pekerja dan pengangguran, sedangkan pengangguran merupakan persentase angkatan kerja yang menganggur. Pertumbuhan ekonomi dan pengangguran memiliki hubungan yang erat karena penduduk yang bekerja berkontribusi dalam menghasilkan barang dan jasa. Pengangguran memberikan kontribusi dalam sektor Ekonomi. Studi yang dilakukan oleh ekonom Arthur Okun mengindikasikan hubungan negatif antara pertumbuhan ekonomi dengan

pengangguran, sehingga semakin tinggi tingkat pengangguran, semakin rendah tingkat pertumbuhan ekonomi. Untuk ekonomi sesuai, ketika anggaran untuk fungsi ekonomi bertambah arti nya pertumbuhan ekonomi di Propinsi Lampung semakin bekembang dan hal tersebut akan berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan PDRB. Dari hasil regressi tersebut menunjukkan hubungan negatif antara tingkat pertumbuhan ekonomi dan pengangguran yang ditunjukkan dari slope yang negatif. Hal itu mencerminkan bahwa semakin tinggi tingkat pertumbuhan maka semakin rendah tingkat pengangguran yang sesuai dengan teori Okuns law. Persentase belanja per fungsi terhadap total belanja daerah Provinsi yang masuk kategori tinggi pada fungsi pelayanan umum dengan kecenderungan yang berfluktuatif dari tahun ke tahun. Berdasarkan Gambar di bawah terlihat bahwa belanja ini memakan porsi yang sangat tinggi bahkan melampaui 50% di Tahun 2007. Komposisi belanja ini berada pada rentang 28% (2009) s.d 53% (2007). Tren yang terlihat cukup fluktuatif dengan pola yang menurun dari Tahun 2007 s.d 2009 lalu naik kembali dari Tahun 2010 s.d 2011. Bahkan di Tahun 2009 belanja pendidikan sedikit di bawah belanja kesehatan. Persentase belanja per fungsi terhadap total belanja daerah Provinsi yang masuk kategori sedang dialokasikan pada fungsi pendidikan kesehatan, perumahan dan fasilitas umum, dan ekonomi. Alokasi fungsi pendidikan dan ekonomi memiliki pola yang naik secara gradual dan fungsi lainnya berpola fluktuatif dari tahun ke tahun. Belanja kesehatan dan perumahan & fasilitas umum berfluktuatif pada rentang 6% s.d 17%. Bahkan pola belanja untuk kedua fungsi ini memiliki

arah yang saling berlawanan (trade off). Sedangkan belanja pendidikan dan ekonomi memiliki tren yang naik secara landai dengan arah yang sama namun masing-masing tidak pernah menyentuh porsi 20% dari total belanja.

Gambar 2

Persentase belanja per fungsi terhadap total belanja daerah Provinsi yang masuk kategori rendah dialokasikan pada fungsi perlindungan sosial, ketertiban dan ketentraman, lingkungan hidup, dan pariwisata dan budaya dengan pola relatif konstan dari tahun ke tahun. Porsi belanja ini sangat kecil dimana nilainya tidak pernah menyentuh angka 3%. Kecilnya belanjabelanja fungsi ini menyebabkan tren ini sekilas terlihat cenderung konstan dari tahun ke tahun.