Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KIMIA FISIK KI-2241

Percobaan C-1 PENENTUAN TETAPAN PENGIONAN SECARA SPEKTROFOTOMETRI

Nama NIM Kelompok Tanggal Percobaan Tanggal Laporan Asisten Praktikum

: Nisrina Rizkia : 10510002 :1 : 09 Maret 2012 : 16 Maret 2012 : Suci Romayanti

LABORATORIUM KIMIA FISIK PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2012 PENENTUAN TETAPAN PENGIONAN SECARA SPEKTROFOTOMETRI

I.

Tujuan Percobaan

Menentukan tetapan pengionan indikator metil merah secara spektrofotometri

II.

Teori Dasar Dalam larutan air, metal merah ditemukan sebagai suatu zwitter ion. Dalam suasana asam, akan berwarna merah dan punya dua bentuk resonansi. Sedangkan metal merah bentuk basa MR (Kuning).

HMR (merah)

H + MR
+

Ka = pKa = pH - log [MR-]/[HMR]

(kuning)

Karena kedua bentuk metil merah mengadsorpsi kuat di daerah cahaya tampak (400-

800 nm ), maka perbandingan

dapat ditentukan secara spektrofotometri.

Absorbansi dapat didefinisikan oleh hukum Lambert-Beer IO A= -log A= a b c

a = Indeks absorbansi zat terlarut b = panjang / tebal larutan yang dilewati cahaya c = konsentrasi zat terlarut Jika dalam larutan terdapat lebih dari satu zat terlarut dan masing-masing zat dapat mengabsorpsi cahaya secara bebas, maka absorbansi campuran ini bersifat aditif,

yaitu jumlah total serapan dari spesi-spesi zat terlarut A= A1 = a1 b1 c1 . Berdasarkan hasil pengukuran absorbansi larutan A1 dan A2 berturut-turut pada dan dengan

tebal 1 cm (b = 1 cm) , sehingga dapat dihitung campuran HMR dan MR- . A1 = a1HMR [HMR] + a1MR [MR-] A2 = a2HMR [HMR] + a2MR [MR-]

III.

Data Pengamatan 1. Spesi Asam [HMR] (nm) 500 505 510 515 520 525 530 535 540 545 550
maks

%T 7.2 6.2 5.8 5.6 5.8 6.2 7.2 8.2 10 12.6 17.4

= 515 nm

2. Spesi Basa [MR-]

(nm) 400 405 410 415 420 425 430 435 440 445

A 0.393 0.402 0.414 0.422 0.425 0.426 0.427 0.426 0.423 0.413

maks

= 430 nm

3. Spesi Asam [HMR] Pada saat


maks

= 515 nm dan

= 430 nm

ppm

%T =515 nm =430 nm 93 95 92 88

2 3 4 5

61.6 51 37.6 27.8

4. Spesi Basa [MR-] Pada saat


maks

= 515 nm dan

= 430 nm A

C (ppm) 2 3 4 5

=515 nm 0.011 0.016 0.021 0.026

=430 nm 0.089 0.134 0.177 0.211

5. Uji %T tiga larutan (0.01 M, 0.05 M, 0.1 M) Pada Kuvet HMR dan MR

Larutan

pH =515 nm

A =430 nm 0.058 0.066 0.114

A B C

3.81 3.92 4.6

0.465 0.457 0.322

IV.

Pengolahan Data A = -log 1. Spesi HMR (larutan berwarna merah) (nm) 500 505 510 515 520 525 530 535 540 545 550 %T 7.2 6.2 5.8 5.6 5.8 6.2 7.2 8.2 10 12.6 17.4 A 1.142667504 1.207608311 1.236572006 1.251811973 1.236572006 1.207608311 1.142667504 1.086186148 1 0.899629455 0.759450752

2. Spesi MR (larutan berwarna kuning) (nm) 400 405 410 415 420 425 430 435 440 445 A 0.393 0.402 0.414 0.422 0.425 0.426 0.427 0.426 0.423 0.413

3. Penentuan Indeks Absorbansi

C (ppm) 2 3 4 5 %T 61.6 51 37.6 27.8

Spesi HMR =515 nm A 0.210419288 0.292429824 0.424812155 0.555955204 %T 93 95 92 88 =430 nm A 0.031517051 0.022276395 0.036212173 0.055517328

Spesi MR=515 nm =430 nm A A 0.011 0.089 0.016 0.134 0.021 0.177 0.026 0.211

Dari kurva-kurva tersebut akan didapat:

y=abc b=1 Dari grafik hubungan [HMR] dengan A diperoleh: Pada 1= 515 nm y1= b1x + a1 y1= 0,116x - 0,038 Pada 2= 430 nm y2= b2x + a2 y2= 0,008x + 0,06 b2 HMR = b2 = 0,008 b1 HMR = b1 = 0,116

Dari grafik hubungan [MR-] dengan A diperoleh: Pada 1= 515 nm y3 = b3x + a3 y3 = 0,005x + 0,001 Pada 2 = 430 nm y4= b4x + a4 y4 = 0,040x + 0,009 4. Penentuan Ka b2 MR = b4 = 0,04 b1 MR = b3 = 0,005

Larutan

pH =515 nm

A =430 nm 0.058 0.066 0.114

A B C

3.81 3.92 4.6

0.465 0.457 0.322

Pada = 515 nm, A1 = b1[HMR] + b3[MR-] = 0,116[HMR] + 0,005 [MR-] Pada = 430 nm, A2 = b2[HMR] + b4[MR-] = 0,008[HMR] + 0,04 [MR-]

Pada pH = 3.81 0,465 =0,116[HMR] + 0,005 [MR-]| 0,058 =0,008[HMR] + 0,04 [MR-]| x8 x1 3,662 [HMR] 3,72 0,058 = 0,928[HMR] + 0,04 [MR-] = 0,008[HMR] + 0,04 [MR-]

= 0,92 [HMR] = 3,980434783 ppm

0,465 =0,116 [HMR] + 0,005 [MR-] = 0,116[3,980434783] + 0,005 [MR-] 0,465 = 0,4617304348 + 0,005 [MR-] [MR-]= 0,65391304 ppm

Pada pH = 3,92 0,457 =0,116[HMR] + 0,005 [MR-]| 0,066 =0,008[HMR] + 0,04 [MR-]| x8 x1 3,59 [HMR] 3,656 = 0,928[HMR] + 0,04 [MR-] 0,066 = 0,008[HMR] + 0,04 [MR-] = 0,923 [HMR] = 3,902173913 ppm

0,457 =0,116 [HMR] + 0,005 [MR-] = 0,116[3,902173913] + 0,005 [MR-] 0,457 = 0,4526521739 + 0,005 [MR-] [MR-]= 0,86956522 ppm

Pada pH = 4.6 0,322 =0,116[HMR] + 0,005 [MR-]| 0,114 =0,008[HMR] + 0,04 [MR-]| x8 x1 2,576 0,114 2,462 [HMR] = 0,928[HMR] + 0,04 [MR-] = 0,008[HMR] + 0,04 [MR-] = 0,92 [HMR]

= 2,676086957 ppm

0,322 =0,116 [HMR] + 0,005 [MR-] = 0,116[2,676086957] + 0,005 [MR-] 0,322 = 0,310426087+ 0,005 [MR-] [MR-]= 2,3147826 ppm

pH 3.81 3.92 4.6

[HMR] 3,98043478 3 3,90217391 3 2,67608695 7

[MR-] 0,65391304 0,86956522 2,3147826 -0.784410515 -0.65200446 -0.062990012

Dari kurva akan didapatkan: y = 0,896x 4,184 Log ([MR]/[HMR]) = pH pKa -pKa = - 4,184 pKa = 4,184 Ka = 6,546 x 10-5

V.

Pembahasan Spektrofotometri adalah suatu instrumen yang mengukur transmitan atau absorbansi

sebagai fungsi panjang gelombang. Spektrofotometer terdiri dari spketometer dan fotometer, spketrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorpsi Dalam percobaan kali ini digunakan indikator metil merah sebagi sampel untuk ditentukan tetapan pengionannya dari data absorbandi atau persen transmitan. Metil merah sering digunakan untuk indikator titrasi asam basa, akan berwarna merah pada pH di bawah

4,4 dan akan berwarna kuning di atas 6,2 . Beikut adalah struktur metil merah bentuk asam dan bentuk basa.

Pada suasana asam metil merah berwarna merah dan pada suasana basa akan berwarna kuning hal itu dikarenakan pada bentuk basa ion hidrogen lepas dari ikatan N=Nsehingga memberikan bentuk yang berbeda dengan bentuk asamnya. Struktur asam dari metil merah dapat melakukan resonansi, perbedaan struktur bentuk asam dan basa inilah yang akan mempengaruhi penjang gelombang nantinya, dan panjang gelombang berhubungan dengan spektrum warna yang dihasilkan. Selain itu juga bisa dijelaskan dengan prinsip kesetimbangan HMR
H + MR
+ -

maka apabila ditambahkan asam

maka reaksi akan bergeser ke kiri dan spesi asam akan banyak terbentuk (berwarna merah), apabila ditambahkan basa maka reaksi akan bergeser ke kanan , maka spesi MR terbentuk (berwarna kuning) banyak

Dari data hasil percobaan pengukuran %T atau absorbansi tethadap larutan metil merah bentuk asam dari panjang gelombang 500 nm sampai 550 nm maka didapat panjang gelombang maksimum yaitu 515 nm di mana %T paling kecil yaitu 5,6 dan pada panjang gelombang tersebut mencapai absorbansi maksimum. Untuk larutan metil merah basa dilakukan pengukuran dari panjang gelombang 400 nm sampai 445 nm maka di dapat pnjang gelombang maksimum yaitu 430 nm karena pada panjang gelombang tersebut tercapai absorbansi makasimu yaitu 0,427. Secara teori apabila konsentrasi makin besar maka abasorbansi akan semakin besar dan nilai %T akan semakin kecil, namun dari data hasil percobaan yang diperoleh pada

pengukuran spesi HMR pada panjang gelombang 430 nm dari konsentrasi 2 ppm ke 3 ppm menglami kenaikan nilai %T yaitu dari 93 % menjadi 95 %. Berdasarkan grafik diperoleh bahwa hubungan pH larutan dengan konsentrasi berbanding lurus, di mana makin besar pH maka makin besar harga perbandingan logaritm asam basanya. Dari hasil percobaan diperoleh harga pKa metil merah adalah 4,184 , sedangkan menurut literatur harga pKa metal merah adalah 5,0 pada range 4,2-6,3. Dari hasil praktikum menunjukkan perbedaan dengan literature, perbedaan itu bias saja disebabkan karena larutan metal merah mudah teroksidasi, penyiapan bahan yang kurang akurat, pengukuran pH yang kurang akurat. Karena itulah dalam percobaan ini diperoleh galat sebesar 16,32% .

VI. Kesimpulan Tetapan pengionan metil merah secara spektrofotometri dari data hasil percobaan yaitu 6,546 x 10-5

VII. Daftar Pustaka R. Lide, David.2003. CRC Handbook of Chemistry and Physics, 85 th Ed.. New York: CRC PRESS (section 8) http://www.scribd.com/doc/32704635/BAB-Iass2 (diakses tanggal 16 Maret 2012 pkl 08.45) http://www.chem-istry.org/materi_kimia/kimia_fisika1/kesetimbangan_asam_basa/indikator_asam_ basa/ (diakses tanggal 16 Maret 2012 pkl 09.53)

VIII. Lampiran 1. Gambarkan secara skematik: spektrofotometer sinar tampak, UV, dan IR. Apakah sumber cahaya pada ketiga spektrofotometer tersebut? 2. Selain cara spektrofotometri, cara apalagi yang dapat digunakan untuk menentukan tetapan kesetimbangan reaksi kimia? 3. Turunkan hubungan tetapan kesetimbangan dengan suhu!

Jawab: 1. Skema spketrofotometer sinar tampak

- Lampu uap (lampu Natrium, Lampu Raksa) - Lampu katoda cekung/lampu katoda berongga - Lampu pembawa muatan dan elektroda (elektrodeless dhischarge lamp) - Laser Skema Spektrofotometer Sinar Tampak dan Ultraviolet

- lampu wolfram (lampu pijar) menghasilkan spectrum kontinu pada gelombang 3202500nm - lampu hydrogen atau deuterium (160-375 nm) - Lampu gas xenon (250-600 nm)

Spektrofotometer IR

- Lampu Nerst,dibuat dari campuran zirkonium oxida (38%) Itrium oxida (38%) dan erbiumoxida (3%) - Lampu globar dibuat dari silisium Carbida (SiC). - Lampu Nkrom terdiri dari pita nikel krom dengan panjang gelombang 0,4 20 nm

2. Selain dengan menggunakan cara spektrofotometri , penentuan tetapan kesetimbangan dapat dilakukan dengan melakukan titrasi potensiometri. 3. a A + b B {C}c {D}d ----------- = Q {A}a {B}b Pada kondisi setimbang Q = K G0 = H0 - T S0 G = Go + RT ln K Pada saat kesetimbangan G =0 Go = - R T ln K ln K = -G0/ RT = -H0/ RT + S0/R cC+dD