Anda di halaman 1dari 13

3.

METODOLOGI PENDEKATAN

3.1. Pendahuluan Indonesia mempunyai perairan laut seluas 5,8 juta km2 yang terdiri dari perairan kepulauan dan teritorial seluas 3,1 juta km2 serta perainan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) seluas 2,7 juta km2 dengan potensi lestari sumber daya ikan sebesar 6.11 juta ton per tahun [Boer, etc, 2001]. Sumber daya ikan ini pada kenyataannya tidak tersebar merata di seluruh perairan Indonesia. Hal tersebut antara lain dikarenakan perbedaan kondisi lingkungan perairan dan perbedaan tingkat pemanfaatan sumber daya ikan di beberapa wilayah. Sumber daya ikan di beberapa wilayah telah mengalami degradasi, seperti di perairan Laut Jawa, Selat Malaka dan bahkan di khawatirkan beberapa perairan lainnya akan mengalami hal yang sama. Dugaan ini terlihat dari gejala yang ditemukan antara lain semakin kecilnya ukuran ikan yang ditangkap, jumlah hasil tangkapan yang semakin berkurang, wilayah penangkapan yang semakin jauh serta mulai menghilangnya beberapa spesies ikan. Penurunan potensi sumber daya ikan di beberapa perairan yang mulai memprihatinkan tersebut dapat dihindari melalui pengaturan pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya ikan yang ada. Untuk menghindari ancaman semakin menipisnya potensi sumber daya ikan di beberapa daerah, perlu adanya petunjuk pelaksanaan peraturan perundangan yang mendukung upaya terjaganya kelestarian sumber daya ikan tersebut. Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) ini adalah petunjuk pelaksanaan pengelolaan sumber daya ikan yang diharapkan dapat menjamin kesinambungan kegiatan perikanan di perairan laut Indonesia Peraturan perundangan-undangan yang menjadi dasar hukum pengelolaan perikanan di perairan Laut Indonesia adalah: 1. UUD RI Tahun 1945. 2. UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. 3. Keputusan Menteri Pertanian No. 392/Kpts/IK.120/4/99 tanggal 5 April 1999 tentang Jalurjalur Penangkapan Ikan. 4. Keputusan Menteri Keuangan No. 654 Tahun 2001 tentang Tatacara Pengenaan dan Penyetoran Pungutan Perikanan. 5. Peraturan-peraturan Daerah terkait perikanan.. 6. Hukum adat dan/atau kearifan lokal yang dijadikan pertimbangan dalam pengelolaan perikanan adalah yang tidak bertentangan dengan Hukum Nasional. 3.2. Pengertian Istilah Sebelum penguraian metodologi pendekatan beberapa pengertian atau pemahaman pada bidang perikanan akan dijelaskan pada sub-bab ini untuk menghindari kesalahan dalam pemahaman konsep pendekatan yang digunakan. 3.2.1. Pengertian berdasarkan UU No 31 Tahun 2004.

Ikan : Segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan. Kapal perikanan : Kapal, perahu, atau alat apung lain yang dipergunakan untuk melakukan penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, pengangkutan ikan, pengolahan ikan, pelatihan perikanan, dan penelitian/eksplorasi

perikanan. Laut teritorial Indonesia : Jalur laut selebar 12 (dua belas) mil laut yang di ukur dari garis pangkal kepulauan Indonesia. Lingkungan sumber daya ikan : Perairan tempat kehidupan sumber daya ikan, termasuk biota dan faktor alamiah sekitarnya. Menteri : Menteri yang bertanggungjawab di bidang perikanan. Nelayan : Orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan. Nelayan kecil : Orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pelabuhan perikanan : Tempat yang terdiri atas daratan dan perairan disekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan sistem bisnis perikanan yang dipergunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh, dan/atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan. Pemerintah : Pemerintah pusat. Pemerintah Daerah : Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. Penangkapan ikan : Kegiatan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, menangani, mengolah, dan/atau mengawetkannya. Pengelolaan perikanan : Semua upaya, termasuk proses yang terintegrasi dalam pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumber daya ikan, dan implementasi serta penegakan hukum dari peraturan perundangundangan di bidang perikanan, yang dilakukan pemerintah atau otoritas lain yang diarahkan untuk mencapai kelangsungan produktivitas sumber daya hayati perairan dan tujuan yang telah di sepakati. Perairan Indonesia : Laut teritorial Indonesia beserta perairan kepulauan dan perairan pedalamannya. Perikanan : Semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan. Sumber daya ikan : Potensi semua jenis ikan. Surat Izin Kapal Pengangkut Ikan (SIKPI) : Izin tertulis yang harus di miliki setiap kapal perikanan un tuk melakukan pengangkutan ikan. Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) : Izin tertulis yang harus di miliki setiap kapal perikanan untuk melakukan penangkapan ikan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari SIUP. Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) : Izin tertulis yang harus di miliki perusahaan perikanan untuk melakukan usaha perikanan dengan menggunakan sarana produksi yang tercantum dalam izin tersebut. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) : Jalur di luar dan berbatasan dengan laut teritorial Indonesia sebagaimana di tetapkan berdasarkan undang-undang yang berlaku tentang perairan Indonesia yang meliputi dasar laut, tanah di bawahnya, dan air di atasnya dengan batas terluar 200 (dua ratus) mil laut yang diukur dari garis pangkal laut teritorial Indonesia.

3.2.2. Pengertian Lainnya


Biomassa (Biomass) : Bobot total dari organisme yang masih hidup dalam suatu sistem, suatu stok, atau sebagian dari suatu stok. Hasil tangkapan (catch) : Semua ikan yang tertangkap oleh suatu alat penangkap ikan. Hasil tangkapan lestari (Sustainable yield) : Jumlah atau bobot ikan maksimum dalam suatu

stok yang dapat di ambil oleh penangkapan tanpa mengganggu kelestarian stok tersebut. Hasil tangkapan per-satuan upaya (Catch per unit of effort, CPUE) : Jumlah atau bobot hasil tangkapan yang diperoleh dari satu satuan alat tangkap dalam kurun waktu tertentu, yang merupakan indeks kelimpahan (abundance) suatu stok ikan. Hasil tangkapan yang didaratkan (Landings) : Bobot hasil tangkapan di tempat pendaratan ikan. Intensitas penangkapan (Fishing intensity) : Upaya efektif per satuan luas yang proporsional penangkapan terhadap mortalitas penangkapan. Mortalitas penangkapan (Fishing mortality) : Koefisien yang menunjukkan ukuran kematian ikan yang disebabkan penangkapan. Pemangku kepentingan (stakeholders) : Sekelompok individu (termasuk pemerintah dan berbagai institusi nonpemerintah, masyarakat tradisional, perguruan tinggi, lembaga penelitian, berbagai agen pembangunan seperti bank, donor, dsb) yang memiliki potensi untuk dipengaruhi oleh atau memiliki pengaruh atas suatu proyek tertentu dan tujuantujuannya. Pemantauan (Monitoring) : Kegiatan pengumpulan informasi untuk pengkajian keber hasilan dari suatu rencana pengelolaan. Pemantauan digunakan untuk tujuan penegakan peraturan dan membuat revisi dari rencana asli, atau pengumpulan informasi untuk rencana yang akan datang. Pembangunan berkelanjutan (Sustainable development) : Pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengganggu kemampuan sumberdaya dalam memenuhi kebutuhan generasi mendatang. Pengkajian stok (Stock assessment) : Meliputi proses pengumpulan dan analisis informasi biolo gi dan statistik untuk menentukan berbagai perubahan dalam kelimpahan berbagai stok ikan dalam merespon terhadap penangkapan, dan sejauh mungkin memprediksi berbagai kecenderungan mendatang atas kelimpahan stok. Pengkajian stok digunakan sebagai dasar untuk mengkaji dan menentukan kondisi suatu perikanan saat ini dan berbagai kemungkinannya di masa mendatang. Perahu atau Kapal Penangkap Ikan : Perahu atau kapal yang langsung dipergunakan dalam operasi penangkapan ikan atau organisme air lainnya. Kapal pengangkut tidak termasuk kapal penangkap. Perikanan yang bertanggungjawab (Responsible fisheries) : Konsep yang meliputi pengunaan sumber daya ikan yang berkelanjutan dalam keseimbangannya dengan lingkungan. Perusahaan Perikanan : Unit ekonomi yang melakukan kegiatan penangkapan ikan atau organisme air lainnya dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual. Rumah Tangga Perikanan : Rumah tangga yang melakukan kegiatan penangkapan ikan atau organisme air lainnya dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual. Stok Ikan (Fish stock) : Bagian dari suatu populasi ikan yang berada dalam suatu wilayah sebar yang kontinyu dan memiliki parameter populasi yang sama. Ton : Ukuran metrik setara 1 000 kilogram. Unit Penangkapan : Satuan teknis dalam suatu operasi penangkapan yang terdiri dari perahu atau kapal penangkap dan alat penangkap yang dipergunakan. Upaya penangkapan (Fishing effort) : Jumlah alat tangkap jenis tertentu yang digunakan di suatu daerah penangkapan selama kurun waktu tertentu. Bila dalam suatu daerah penangkapan terdapat lebih dari satu alat tangkap perlu ditetapkan alat tangkap baku sebagai ukuran satu upaya penangkapan, sedangkan nilai upaya alat tangkap lainnya ditentukan berdasarkan nilai nisbi hasil tangkapan alat tangkap tersebut terhadap alat baku.

3.3. Metodologi Pendekatan Pengembangan Observer dan Log Book

Data dan informasi potensi sumber daya ikan sangat diperlukan sebagai salah satu bahan pertimbangan utama dalam pengelolaan, pemanfaatan dan pengembangan perikanan di perairan laut Indonesia. Data dan informasi potensi ini harus selalu diperbaharui secara periodik agar perubahan stok sumber daya ikan akibat perubahan kebijakan dan kegiatan perikanan serta perubahan lingkungan perairan dapat diketahui. Hanya dengan cara ini kebijakan yang menjamin pemanfaatan maksimum dan kelestarian sumber daya dapat ditetapkan. Pendugaan potensi sumber daya ikan untuk sebagian wilayah perairan Indonesia telah dirintis sejak tahun tujuh puluhan, sedangkan dugaan potensi sumber daya ikan di perairan Indonesia secara keseluruhan diterbitkan pertama kali oleh Direktorat Bina Sumber Hayati, Direktorat Jenderal Perikanan dan Balai Penelitian Perikanan Laut, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian pada tahun 1983, sebesar 6,6 juta ton/tahun [Departemen Pertanian, 1983]. Pada Forum Perikanan I di Sukabumi tanggal 19-20 Juli 1990, Naamin dan Hardjamulia (1990) melaporkan dugaan potensi sumber daya ikan laut Indonesia sebesar 7,7 juta ton/tahun. Kemudian pada tahun 1991 secara resmi Direktorat Jenderal Perikanan menerbitkan buku Potensi dan Penyebaran Sumber Daya Ikan di Perairan Indonesia [Martosubroto et al, 1991] yang mencantumkan dugaan potensi sumber daya ikan laut Indonesia sebesar 5,7 juta ton/tahun. Pada tahun 1995 telah dilakukan suatu lokakarya yang disponsori bersama oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, FAO dan DANIDA dengan agenda utamanya melakukan penghitungan kembali potensi sumber daya ikan berdasarkan data mutakhir yang tersedia. Lokakarya ini menghasilkan dugaan potensi sumber daya ikan laut Indonesia sebesar 3,67 juta ton/tahun [Venema, 1996]. Pada tahun 1996 Direktorat Jenderal Perikanan bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi LIPI dan Fakultas Perikanan IPB melakukan evaluasi buku Potensi dan Penyebaran Sumber Daya Ikan di Perairan Indonesia yang diterbitkan pada tahun 1991. Evaluasi ini menghasilkan dugaan potensi sumber daya ikan laut Indonesia sebesar 6,35 juta ton/tahun. Pada tahun 1997 dilakukan survey potensi perikanan di seluruh perairan laut Indonesia yang dibiayai BAPPENAS. Berdasarkan hasil survey tersebut diterbitkan buku Potensi, Pemanfaatan dan Peluang Pengembangan Sumberdaya Ikan Laut di Perairan Indonesia. Pada buku tersebut dicantumkan potensi sumberdaya ikan laut Indonesia sebesar 6,26 juta ton./tahun [Aziz et al., 1998]. Pada tahun 2000, evaluasi yang dilaksanakan untuk 3 wilayah pengelolaan perikanan (Laut Jawa, Selat Malaka dan Samudera Hindia) menun-jukkan penurunan potensi di 2 wilayah pengelolaan perikanan (Laut Jawa dan Se-lat Malaka) sehingga potensi sumber daya ikan laut Indonesia menurun menjadi 6,11 juta ton/tahun [BOER et al., 2001]. Hasil tangkapan per upaya merupakan indikator perubahan stok ikan di suatu perairan. Evaluasi pengaruh kegiatan perikanan terhadap perubahan ukuran stok ikan di Selat Sunda dilakukan dengan menggunakan data hasil tangkapan per upaya dari alat tangkap purse seine. Penggunaan alat tangkap purse seine berpengaruh nyata terhadap perubahan stok ikan di Selat Sunda. Peningkatan jumlah trip purse seine lebih dari 5 kali dari tahun 2000 ke 2001 telah menyebabkan penurunan hasil tangkapan per upaya lebih dari 50%. Sampai dengan tahun 2003 hasil tangkapan per upaya tidak pernah mencapai setinggi hasil tangkapan per upaya pada tahun 2000. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan penurunan ukuran stok ikan yang tertangkap oleh purse seine. Untuk memulihkan stok ikan yang tertangkap purse seine, jumlah trip purse seine hendaklah tidak melebihi jumlah trip pada tahun 2000. Stockholder yang terlibat dalam pengelolaan perikanan antara lain : Pemerintah Departemen Kelautan dan Perikanan . Memiliki wewenang menetapkan potensi, jumlah tangkapan yang diperbolehkan, dan RPP serta pengawasan pelaksanaan peraturan perundang-undangan. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi . Berkewajiban menyiapkan, melaksanakan,

memantau dan mengevaluasi RPP. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota atau instansi yang menangani bidang perikanan. Berkewajiban membantu dalam menyiapkan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi RPP. Perguruan Tinggi Perikanan dan Lembaga Riset Perikanan . Berwenang melakukan penelitian untuk mengumpulkan data dan informasi yang dapat menunjang penyusunan dan evaluasi RPP. TNI AL. Berkewajiban mempertahankan kedaulatan perairan laut Indonesia. Polairud. Berkewajiban mengamankan dan mengawasi penegakan hukum di wilayah perairan laut. Dinas Perhubungan Provinsi dan Kabupaten/Kota . Berwenang menetapkan kelaikan kapal perikanan dan ijin berlayar.

Non Pemerintah Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI). Berwenang mewakili anggotanya dalam menyusun dan mengevaluasi RPP serta berkewajiban mensosialisasikan RPP ke anggotanya. Ikatan Nelayan Tradisional Indonesia (INTI). Berwenang mewakili anggotanya dalam menyusun dan mengevaluasi RPP serta berkewajiban mensosialisasikan RPP ke anggotanya. Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia (GAPINDO) . Berwenang mewakili anggotanya dalam menyusun dan mengevaluasi RPP serta berkewajiban mensosialisasikan RPP ke anggotanya. Pengendalian pengelolaan yang telah ditetapkan dalam UU 31 tahu 2004 meliputi berbagai hal sebagai berikut : Registrasi nelayan dengan membuat Kartu Tanda Nelayan (KTN) Pengendalian zona penangkapan. Pengendalian kapal penangkapan ikan harus sesuai dengan peraturan dan peruntukannya. Pengendalian alat penangkapan ikan harus sesuai dengan peraturan dan peruntukannya. Pengendalian daerah perlundungan laut (OPL) yang merupakan daerah pemijahan dan atau pembesaran hewan-hwan air yang terancam punah. Data dasar awal untuk perhitungan sumber daya ikan akan meliputi : Wilayah Perairan Laut dan pembagiannya Data pangkalan pendaratan ikan (PPI) dan tempat pelelangan ikan (PPI) Kapal dan perahu penangkapan ikan Jenis kapal yang digunakan Jenis alat tangkap yang digunakan Perkembangan Jumlah Kapal Perkembangan Jumlah Alat Tangkap Jenis ikan dan produksi terhadap musim, puncak musim dan lokasinya Melihat perkembangan sosial ekonomi nelayan / rumah tangga perikanan (RTP) Untuk pemantauan data yang diperlukan dalam pemantauan meliputi : Data kegiatanpenangkapan ikan mencakup jumlah armada pengankapan dan bobot hasil tangkapan. Data parameter biologi ikan yang dapat diperoleh melalui data sebaran frekuensi panjang ikan. Data biologi ikan termasuk hubungan antara panjang dan bobot (untuk konversi data), musim pemijahan, dan ukuran ikan pada saat matang gonad perta-ma kali. Data tentang lingkungan, termasuk data oseanografi dan klimatologi. Data daerah dan musim penangkapan ikan. Data sosial ekonomi mencakup berbagai faktor yang menentukan kelangsungan usaha,

seperti nilai produksi, harga ikan per satuan, jumlah pembeli atau penampung ikan (perorangan ataupun perusahaan), dan jumlah perusahaan pengolah ikan yang menghasilkan nilai tambah. Daerah pengakapan ikan, datanya dapat merupakan informasi tentang lokasi, jenis ikan, musim dan puncak musim. Data kapal dan alat penangkap ikan,datanya menunjukkan beberapa komponen yang meliputi : nama kapal, pemilik kapal, nomor registrasi, kode radio panggil, ukuran tonasi kapal, jenis bahan kapal, kekuatan mesin kapal, jenis alat penangkapan, kemampuan tangkapan per trip, wilayah pengangkapan; ditambah data dinamik yang terdiri dari tanggal mulai penangkapan, tanggal pendaratan, lokasi pendaratan, lokasi pelelangan, jumlah trip, jumlah tangkapan per trip. Data hasil tangkapan memuat data kapal, berat ikan yang didaratkan, metode penangkapan, jumlah trip per hari, tanggal pendaratan, nama tempat pelelangan, dan harga setiap jenis ikan per kilogram di setiap pendaratan.

Secara ringkas metode pendekatan untuk pengembangan observer akan mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut : Data mana yang benar-benar diperlukan untuk di catat, karena jika terlalu banyak yang tidak penting ini akan membebani semua pihak sehingga yang terjadi adalah data bisa tidak diisi, diisi dengan tidak sebenarnya atau bahkan mungkin juga data tidak diolah. Melihat kondisi di lapangan, baik petugas, sumber data , pertimbanganya adalah kesulitan pengambilan data, ketersediaan waktu, ketersediaan pelaksana di lapangan. Mengacu kepada form yang lalu dan melihat kesulitan apa yang ada. Sehingga form yang baru diharapkan dapat mengeliminasi kesulitan tersebut. Sehingga langkah yang dilakukan adalah : Mengevaluasi pelaksanaan observer dan log book yang ada. Melihat kondisi di lapangan terakhir. Mengacu kebutuhan output yang diinginkan kepada Observer dan Log Book. Mendisain penyempurnaan Obsserver dan Log Book Melakukan pembahasan untuk penyempurnaan Penyempurnaan Pelaksanaan oberver dan log book Memasukkan dan mengolah data dengan bantuan aplikasi Membahas kembali untuk melaihat kendala dan pendorong untuk dilakukan penyempurnaan berkesinambungan. 3.4. Metodologi Pendekatan Pengembangan SIPOP dan Website Pada pendekatan pengembangan Sistem Informasi Program Observer Perikana (SIPOP) dan Website akan diuraikan latar belakan sistem informasi dan langkah pada pengembangan sistem informasi. 3.4.1. Sistem Informasi Manajemen biasanya didefinisikan sebagai emapt fungsimanajer, yaitu perencanaan, pengorganisasiaon, kempemimpinan dan pengendalian. Peroses merupakan suatu cara sistematik yang sudah ditetapkan untuk melakukan kegiatan. Dengan melihat ini, maka manajemen berari suatu proses yang menekankan keterlibatan dan aktivitas yang saling terkait untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Untuk mendkung proses manajemen tersebut, dibutuhkan Sistem Informasi (SI) yang menjadi poros untuk mengalirkan informasi dengan lancar agar proses-proses itu dapat

berlangsung secara berkesinambungan dan teratur. Hal ini diperlihatkan pada gambar 3.1.

gambar 3.1. Sistem Informasi sebagai Poros kegiatan manajemen Tidak semua data yang mengalir dapat diolah dan digunakan sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan dalam perusahaan. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu sistem yang dapat mengelola data yang sedang mengalir di dalam dan di luar lingkungan sebuah institusi. sistem harus dirancang agar dapat menentukan validitas data yanb dapat berasal dari berbagai sumber baik dalam format digital ataupun kertas. Sistem informasi (SI) secara umum didefinisikan sebagai kumpulan elemen yang saling berhubugan satu sama lain yang membentuk satu kesatuan untuk mengintegrasikan data, memproses dan menyimpan serta mendistribusikan informasi untuk berbagai keperluan. Secara dasar sistem informasi memiliki siklus dalam berbagai tahap sebagai berikut : 1. Pengumpulan data baik dalam bentuk kertas ataupun digital. Pada digital baik dari keragaman sumber baik yang standard ataupun tidak. 2. Pengolahan data untuk tujuan tertentu sesuai dengan kebutuhan sebuah organisasi. Secara umum kegiatan pengolahan dapat meliputi klasifikasi, kalkulasi, manipulasi, sorting, merging, splitting, summarizing, load balancing, synchronize dan lain-lain. 3. Output adalah hasil dari pengolahan dengan memperhatikan format output apakah ke mesin atau ke manusia. Jika ke manusia maka faktor tampilan sangat penting. Sedangkan ke mesin problem pada pemahaman antar mesin juga hal mutlak, seperti protokol, driver, sistem operasi, back-end database dan lain-lain. Pada output, fasilitas distribusi juga menjadi topik yang hangat dengan semakin baiknya sarana internet atau jaringan komputer. Kerap kali kita lebih memfokuskan kepada pembangunan aplikasi untuk menunang sistem informasi, tapi tidak memperhatikan sistem informasi secara keseluruhan dilihat dari sudut pandang kualitasnya. Kualitas sistem inormasi dapat dilihat pada berbagai faktor sebagai berikut : 1. Keakuratan dan teruji kebenaranya. Artinya informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan, tidak bias dan tidak menyesatkan. Kesalahan-kesalahan itu dapat berupa kesalahan perhitungan maupun akibat gangguan noise yang dapat mengubah dan merusak informasi tersebut. 2. Kesempurnaan informasi. Untuk mendukung faktor pertama di atas, maka kesempuranan infomrasi menjadi faktor penting, dimana informasi disajikan lengkap tanpa pengurangan, penambahan atau pengubahan.

3. Tepat waktu. Informasi harus disajikan secara tepat waktu, mengingat informasi akan menjada dasar dalam pengambilan keputusan. Keterlamatan informasi akan mengakibatkan ketidak tetaptan ataupu kekeliruan dalam pengambilan keputusan. 4. Relevansi. Infomrasi akan memiliki nilai manfaat yang tinggi, jika informasi tersebut diterima oleh mereka yang membutuhkan dan menjadi tidak berguna jika diberikan kepada mereka yang tidak membutuhkan. 5. Mudah. Pemanfaatan sistem informasi seharusnya memberikan dampak kemudahan bagi semua pihak bagi pemakai langsung ataupun tidak. Jika tarnyata dalam operasinya lebih banyak menimbulkan kesulitan dari tahap pengumpulan, pemrosesan, pembuatan output dalam hal ini terjadi ketidak tepata dalam pengembangan sistem informasi. 6. Murah. Biaya untuk memperoleh informasi menjadi bahan pertimbangan tersendiri. Bilamana biaya untuk memproses ataupun memelihara menjadi relatif lebih mahal daripada dengan cara sebelumnya, maka penerapan sistem informasi menjadi kurang tepat. Dimaksud biaya, bukan dilihat dari saja biaya investasi dan operasional, tapi juga biaya kerugian yang ditanggung jika tidak menggunakan sistem informasi. Tingkatan Sistem Informasi akan sangat beragam, bukan ditentukan oleh teknologi yang digunakan tapi lebih melihat kepada tingkat pemanfaatan pada level managerial. Dilihat dari sisi teknologi sistem inormasi dapat dikelompokkan menjadi sistem informasi berbasis tradisional yang kerap kali disebut sistem informasi konvensional. Saat ini berkembang sistem informasi yang semakin baik dengan berbasiskan komputer dan jaringan, pada tingkat ini memang pada awalnya membutuhkan biaya besar, tapi setelah beroperasional biaya per unit akan menjadi lebih murah. Pada sistem informasi berbasis komputer dari level managerial dapat dibagi menjadi berbagai tingkat sebagai berikut : 1. Sistem Pemrosesan Transaksi (Transaction Processing Systems TPS) TPS merupakan hasil perkembangan dari pembentukan kantor berbasis data elektronik, dimana sebagian pekerjaan diotomatiskan terutama menyangkut alur data. Pada TPS, data yang dimasukkan merupakan data-data transaksi yang terjadi. Kemudian data-data tersebut akan diproses untuk menghasilkan informasi yang akan sesuai dengan kebutuhan. 2. Sistem Informsi Manajemen (Management Information System MIS) MIS adalah sebuah tingkat lanjut dari pengelolaan proses transaksi dimana ditujukan untuk ke tingkat manager guna mendukung operasi-operasi dan pembuatan keputusan dalam sebuah organisasi. Pada MIS, masukan diberikan adalah data transakis, beberapa data asi kemudian melalu pengolaha berbasis kepada berbagai model. Hasil outputnya berupa lapora-laporan ringkasan, keputusan-keputusan rutin yang berdasarkan jawaban dari query yang diberikan kepada sistem. 3. Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System DSS) DSS merupakan peningkata dari MIS dengan memberikan prosedur-prosedur khusus dan pemodelan yang akan membantu manager dalam memperoleh alternatif-alternatif keputusan. Pemodelan saat ini mengaju kepada expert system, neural networ, tree decision dan lainlain. 4. Sistem Eksekutiv (Executive Information System EIS) Gabungan MIS dan DSS akan dapat menyajikan bentuk informasi yang lebih padat bagi para jajaran manager tingkat atas. Sehingga kerap merupakan gabungan dari data angka, grafik, GIS, proyeksi dan saran. 3.4.2. Infrastruktur Sistem Informasi

Pendukung infrastruktur adalah hal yang penting pada pengembangan sistem informasi berbasis komputer. Infrastruktur sistem informasi adalah : Perangkat keras seperti komputer. Komputer adalah sebuah mesin berfungsi umum yang dapat memproses data tergatntung dari instruksi-isntruksi yang dapat disimpan secara sementara atau tetap. Komputer dan ala-ata pendukungnya kerap disebut hardware. Sementara instruksi-instruksi disebut sebagai software. Komputer telah mengalami berbagai generasi dikarenakan tahapan perubahan komponen utamana pada central processing unit (CPU). Dimulai dengan teknologi tabug, tansistor, integrated circuit, hingga generasi terakhir dengan VVLSI. Sehingga dimensi dan bobot termasuk harga dari komputer berubah dengan ekstrim dari tahun ke tahun. Software adalah perangkat lunak yang menyimpan instruksi-instruksi pada komputer. Perangkat lunak dimulai dari tingkat sistem operasi, tool, bahasa pemrograman, pengembangan aplikasi, hingga ke aplikasi siap guna. Kecepatan dalam pengembangan dan proses aplikasi juga mengalami peningkatan yang luar biasa. Pada sistem informasi, perangkat lunak untuk database adalah menjadi tulang punggung utama dalam pemasukan, pengolahan dan output dari data menjadi informasi. Jaringan Komputer adalah merupakan sarana untuk menggabugkan berbagai komputer dalam berbagai topologi, model kerja dan tujuan. Salah satu bentuk penerapan jaringan komputer adalah meledaknya penggunaan Internet dalam bertransaksi data antar komputer diseluruh dunia. Pendukung lainya pada sistem informasi adalah organisais, dana pendukung, standard operating procedure (SOP), data, dokumentasi dan sumber daya manusia. Sayangnya pada pengembangan sistem informasi banyak pendukung lainnya ini tidak dikembangkan dengan baik. Sehingga pada implementasi sistem informasi, kegagalan utama banyak terjadi pada faktor dana pendukungnya. Dalam kurun waktu 40 tahu terakhir telah terjadi gelombang-gelombang inofasi dalam infrastruktur pendukung sistem informasi di dalam organisasi. Gelombang inovasi ini terbentuk sesuai dengan kondisi dan kemampuan organisasi untuk mengeksplorasi fasilitas dan keunggulan teknologi. Adapun keuggulan tersebut adalah : 1. Gelombang pertama difokuskan pada pemanfaatan untuk meningkatkan produktivitas dan memperkecil biaya. Bagi organisasi yang mulai menerapkan teknologi ini akan melakukan otoamsi kegiatan rutinnya, seperti surat menyurat, slide presentasi, pembuatan tabel dan neraca. Aplikasi perkantoran yang sering digunakan antara lain aplikasi untuk word processing, spread sheet, presentation dan light database. 2. Gelombang ke-dua difokuskan untuk meningkatkan efektivitas penggunaan peralatan komputer malalui pembangunan jaringan komputer. Jaringan komputer ini dibangun dengan cara menghubungkan komputer mengguakan kabel, sehingga pringer, harddis dapat dipergunakan secara bersama. Dengan ini biaya investasi dan distribusi data dan informasi menjadi lebih baik. 3. Gelombang ke-tiga difokuskan pada pemanfaatan untuk menghasilkan keuntungan lewat pembanguanan program sistem infomrasi. Seperti aplikasi untuk penggajian, penggudangan, customer support dan lain-lain. 4. Gelombang ke-empat difokuskan untuk mendukung pengambilan keputusan. Seperti mpembanguan pendukung keputusan penerimaan pegawai, pemberiak kredit untuk nasabah dan sebagainya. 5. Gelombang ke-lima difokuskan pada pemanfaatan untuk meraih konsumen lewat pengembangan sistem informasi berbasis Internet. Pada masa ini bentuk aplikasi atau solusi berbasis Internet semakin gencar seperti e-Business, e-Government, e-Commerce dan lainlain. 6. Gelombang ke-enam dimulainya pemanfaatan gabungan teknologi antara mobile phone,

mobile device, wireless untuk berbagai aplikasi perkantoran, entertainment, personal dan lain-lain. Database adalah merupakan bagian penting pada pengembangan sistem informasi.. Pada komputer, sebuah database dapat didefinisikan sebagai sebuah struktur yang merupakan kumpulan rekord atau data yang disimpan pada sebuah komputer yang dapat memberikan jawaban terhadap permintaan / query. Rekord yang dihasilkan sebagai jawaban query akan menjadi informasi yang dapat digunakan sebagai pendukug pengambilan keputusan. Program komputer digunakan untuk memanaj dan melakukan query disebut dengan database management system (DBMS). Teknologi database telah mengalami perubahan dari model awal dengan flat model yang diperkaya dengan hirarkikal atau network model yang kemudian bergeser ke Relational Database System (RDBMS) yang sampai saat ini masih digunakan. RDBMS diperkaya dengan menggunakan Object Oriented model dalam mempresentasikan hubungan antar obyek. Untuk memperkaya relasi diperlukan dikembangkannya model untuk pemahaman konsep antar sistem yang menunjang interoperabilitas antar sumber informasi, maka XML database saat ini mulai banyak dikembangkan. Permasalahan utama database pada saat ini adalah terjadinya keragaman pada level informasi. Pada masa sebelumya lebih fokus pada keragaman level teknologi, seperti format bit, sistem operasi, protokol, back-end database. Pada masa kini level teknologi sudah relataf matang dan baik untuk saling bertukar informasi. Tetapi pada level informasi masih cukup sulit untuk di atasi. Pada level informasi permasalahan sintatik, struktur dan semantik merupakan masalah yang penting sekali diatasi dalam keragaman sumber informasi dalam era Internet. Maka W3C (www.w3c.org) secara intensif mengembangkan beberapa teknologi penunjang ke semantic web, ontology dan web services dengan menggunakan teknologi XML, RDF, OWL, SWRL dan lain-lain. 3.4.3. Pendekatan Pengembangan Sistem Informasi Pengembangan Sistem informasi akan memiliki beberapa model. Kami dari pihak konsultan akan menggabungkan model Daur Hidup dan Prototype. Masing-masing model akan dijelaskan secara ringkas di bawah ini, dan pada bagian akhir akan digambarkan bagaimana menggabungkan ketiga model tersebut dengan metod Sprial. Metode Daur Hidup Metode daur hidup akan memiliki berbagai tahap, dan setiap tahapnya akan memiliki sub-tahap yang lebih detail. Secara umum tahap pada Metode Daur Hidup adalah : 1. Tahap Perencanaan, pada tahap ini sebenarnya dilandasi dahulu oleh tahap pemahaman akan keinginan dari user dengan melihat beberapa faktor dibawah ini : Pendifinisian masalah Tujuan dari pengembangan sistem informasi Organisasi pemakai 2. Tahap Analisis, pada tahap ini akan menganalisis permasalahan lebih mendalam untuk melihat dari sisi teknis dan non teknis. Seperti faktor ekonomis, non-ekonomis, hukum, etika, operasional, jadwal, pembiayaan dan sebagainya. 3. Tahap Perancangan, pada tahap ini adalah melakukan perancangan teknis dari hasil dua tahap sebelumnya. Seperti pada pengembangan database maka hal ini akan memberikan output rancangan DFD, ERD, Data Dictionary, Flow Chart dan sebagainya. 4. Tahap Penerapan, hasil pada tahap perancangan akan dituangkan dalam koding pembuatan aplikasi ataupun website. 5. Tahap Evaluasi, hasil dari koding perlu di uji dengan mengikuti berbagai metode pengujian yang talah banyak di anut pada sitem informsi seperti Black-Box ataupun White-Box model. Hasil evaluasi akan dapat memberikan feedback untuk kembali ke tahap penerapan dalam

rangka penyempurnaan koding. Pada tahap evaluasi juga akan dilihat kesesuaian dengan sistem perangkat keras, jaringan komputer, perangkat lunak lainnya dan tentu saja user dari sistem informasi yang terkait. 6. Tahap Penggunaan dan Pemeliharaan, tahap ini adalah tahap yang kerap diabaikan. Pada tahap penggunaan dan pemeliharaan (operational and maintenance) tetap perlu dilakukan dengan serius, terutama untuk menghadapi adanya ketidak sempurnaan produk, perubahan teknologi ataupun keinginan. Sehingga kegiatan pengembangan lanjutan (redeveloping) akan menjadi lebih mudah dan lancar. Metode Prototype Pada mode ini menekankan perlunya prototype dahulu untuk dievaluasi sebelum dilakukan pengembangan sistem secara total. Pada teknologi saat ini prototype bisa dikembangkan dengan tool yang sama atau berbeda dengan sistem utuh sebenarnya. Teknologi Rapid Application Development (RAD) memungkinkan kemudahan untuk mengembangkan prototype sehingga user dengan lebih mudah memahami dan memberikan umpan balik untuk sistem yang akan dibangun. Metode prototype memilik tahapan sebagai berikut 1. Mengidentifikasi kebutuhan pemakai, pada tahap ini akan melakukan analisis sitem terhadap kebutuhan pemakai seperti interface, prosedural ataupun teknologi yang akan digunakan. 2. Mengembangkan prototype, pada tahap ini pemrograman akan mengembangkan prototype untuk dievaluasi oleh user. 3. Evaluasi prototype, apakah user dapat dipenuhi keinginannya, jika tidak maka akan dilihat apakah cukup dilakukan perbaikan-perbaikan ataukah harus di rombak total. 4. Pengembangan sistem secara keseluruahan jika telah diterima oleh user pada tahap prototype. 5. Evaluasi sistem secara keselurahan seperti tahap evaluasi pada Metode Daur Hidup. 6. Implementasi dari sistem yang telah lewat dari tahap evaluasi Metode Spiral Metode ini dikembangkan dari gabungan metode Prototype dan Daur hidup. Metode ini dirancang secara evolusione dengan tahapan yang jelas, tetapi terbuka bagi user untuk ikust serta guna menentukan pemodlean dari sistem yang dirancang tersebut seperti pada gambar 3.2. Pada pemodelan ini terbagai menjadi empat kuadran sebagai berikut : 1. Kuadran 1. Perencanaan, pada kuadran ini kegiatan yang dilakukan adalah menentukan tujuan,sasaran, alternatif-alternatif dan bataasan-batasan sistem. 2. Kuadran 2. Analisis resiko, pada kuadaran ini dilakukan analisis terhadap alternatifalternatif yang ada dan mengidentifikasi resiko-resiko yang mungkin terjadi. 3. Kuadran 3. Teknis, pada kuadran ini dilakukan pembanguan sistem secara teknis dan bertahap. 4. Kuadran 4. Evaluasi, pada kuadran ini dilakukan penilaian terhadap hasil pembanguanan sistem tersebut oleh pemesan, apakah sudah sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.

Gambar 3.2. Metode Spiral Dengan menggunakan metodologi pendekatan diatas, maka SIPOP dan Website Sumber Daya Ikan akan dikembangkan secara optimal sesuai dengan waktu, dana, sumber daya, tujuan dan kebutuhan dari pemerintah ataupun masyarakat luas. Dokumen Acuan

Aziz, K. A., B. Wahyudi, M. H. Amarullah dan M. Boer. 1998. Basis Data Pengkajian Stok, dalam J. Widodo et al (Eds.). Potensi dan Penyebaran Sumber Daya Ikan Laut di Perairan Indonesia. Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumber Daya Ikan Laut, Jakarta: 11-29. Boer, M., K. A. Aziz, J. Widodo, A. Djamali, A. Ghofar dan R. Kurnia. 2001. Potensi, Pemanfaatan dan Peluang Pengembangan Sumberdaya Ikan Laut di Perairan Indonesia. Direktorat Riset dan Eksplorasi Sumberdaya Hayati, Direktorat Jenderal Penyerasian Riset dan Eksplorasi Laut, Departemen Kelautan dan Perikanan Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Perikanan Laut - Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 49p. Departemen Pertanian. 1983. Hasil Evaluasi Potensi Sumber Daya Hayati Perikanan Laut di Perairan Indonesia dan Perairan ZEE Indonesia . Direktorat Bina Sumber Hayati, Direktorat Jenderal Perikanan - Balai Penelitian Perikanan Laut, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Martosubroto, P. 2004. Penyusunan Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) . Makalah Workshop Penyusunan Rencana Pengelolaan Perikanan Laut Jawa, Semarang 2124 September 2004. Martosubroto, P., N. Naamin dan B. B. A. Malik. 1991. Potensi dan Penyebaran Sumber Daya Ikan Laut di Perairan Indonesia . Direktorat Jenderal Perikanan Puslitbang Perikanan Puslitbang Oseanologi, LIPI. Jakarta. 104p. Venema, S. C. 1996. Report on the INDONESIA/FAO/DANIDA Workshop on the

Assessment of the Potential of the Marine Fishery Resources in Indonesia . Denmark Fund in Trust, FI:GCP/INT/575/DEN. Report Activity No. 15, FAOUN, Rome.