Anda di halaman 1dari 3

Sampai sekitar 10 tahun yang lalu SGB dianggap sebagai suatu kesatuan gejala klinis berupa poliradikuloneuropati yang

progresif dan akut dengan gejala kelemahan, parastesi dan hiporefleksia yang biasanya terjadi sesudah febris atau penyakit viral . Pada kasus berat,kelemahan otot dapat berlanjut menjadi suatu kegagalan pernafasan. Disfungsi otonom yang sangat labil juga bisa terjadi. Kelumpuhan maksimal biasanya t e r j a d i s e t e l a h 2 m i n g g u setelah permulaan gejala, namun bisa juga terjadi lebih cepat dan mendadak. Pada pasien SGB sering menunjukkan konduksi serabut s a r a f y a n g h i l a n g a t a u melambat. Gangguan pada konduksi saraf ini terjadi karena demielinisasi pada sel akson saraf. Saraf perifer dan radiks saraf merupakan tempat utama terjadinya demielinisasi, namun saraf kranialpun dapat terkena. SGB dianggap terjadi karena suatu respon aotoimun, yangdicetuskan oleh suatu penyakit sebelumnya atau beberapa kondisi medis yang lain. Biasanya sel sistem imun hanya menyerang benda asing d a n o r g a n i s m e y a n g menyerang badan, namun pada SGB, s i s t e m i m u n m u l a i m e n y e r a n g s a r u n g m i e l i n y a n g mengelillingi akson dari banyak saraf perifer, dan kadang-kadang malahan akson juga. Bilasarung mielin terkena, maka saraf tidak bisa mengirim signal secara efisien. Pada SGB yang didahului infeksi virus atau bakteri, virus mungkin telah merubah sifat sel, sehingga sistem imun menganggapnya sebagai benda asing. Mungkin juga virus tersebut telah merubahsistem imun sehingga kurang bisa mendiskriminasi sel yang seharusnya dikenal sebagai milik badan sendiri, sehingga limfosit tertentu dan makrofag justru menyerang mielin. Limfosit-T yang telah disensitasi berkerja sama dengan limfosit-B untuk membentuk antibodi terhadap komponen sarung mielin yang membantu merusak mielin.Pada kebanyakan pasien, gejala terjadi karena kerusakan pada sarung mielin. Padasebagian pasien SGB, juga terjadi kerusakan aksonal, yang disebabkan oleh serangan seluler imun yang langsung pada aksonnya sendiri.

SGB digambarkan sebagai suatu kumpulan sindrom k l i n i k d e n g a n s u a t u poliradikuloneuropati yang akut dengan kelumpuhan dan gangguan pada refleks. SGB masih tetap merupakan suatu diagnosis, yang dibuat berdasarkan riwayat penyakit dan gejala klinis. Walaupun secara klasik dianggap sebagai suatu demyelinating neuropathy , d e n g a n kelumpuhan yang asenden, namun terdapat berbagai varian klinis yang telah dikenal dalamk e p u s t a k a a n . B e r b a g a i v a r i a n i n i m e m p u n y a i Pattern y a n g s a m a d a l a m h a l e v o l u s i , penyembuhan, overlapping gejala dan patogenesis aotoimun Pada pemeriksaan GCS: E4M6V5 : Eye: Mata terbuka spontan Motorik : menurut perintah pemeriksa Verbal : baik, tidak ada orientasi Didapatkan GCS =15 compos mentis Didapatkan pasiendalam kesadaran penuh Pada pemeriksaan motorik ditemukan Tetraparesis : diakibatkan oleh adanya kerusakan otak, kerusakan tulang belakang pada tingkat tertinggi (khususnya pada vertebra cervikalis), kerusakan sistem saraf perifer, kerusakan neuromuscular atau penyakit otot. Kerusakan diketahui karena adanya lesi yang menyebabkan hilangnya fungsi motorik pada keempat anggota gerak, yaitu lengan dan tungkai. Pada tetraparese kadang terjadi kerusakan atau kehilangan kemampuan dalam mengontrol sistem pencernaan, fungsi seksual, pengosongan saluran kemih danrektum, sistem pernafasan atau fungsi otonom. Walaupun pada tetraparese itu terjadikelumpuhan pada keempat anggota gerak tapi terkadang tungkai dan lengan masih dapat digunakan atau jari-jari tangan yang tidak dapat memegang kuat suatu benda tapi jari-jari tersebut masih bisa digerakkan, atau tidak bisa menggerakkan tangan tapi lengannya masih bisa digerakkan. Hal ini semua tergantung dari luas tidaknya kerusakan. Tetraparese berdasarkan tipenya dibagi menjadi dua, yaitu : Tetraparesis spastik yang terjadi karena kerusakan yang mengenai upper motor neuron (UMN), sehingga menyebabkan peningkatan tonus otot atau hipertoni dan tetraparese flaksid yang terjadi karena kerusakan yang mengenai lower motor neuron (LMN), sehingga menyebabkan penurunan tonus atot atau hipotoni. Kerusakan pada lower motorneuron (LMN) dapat mengenai motoneuron, radiks dan saraf perifer, maupun pada otot

itu sendiri . Dalam kasus ini penderita mengalami penurunan tonus otot sehingga dapat disimpulkan adanya kerusakan pada lower motor neuron. Kerusakan pada lower motor neuron dapat disebabkan oleh banyak hal yang memberi gambaran klinis yangsama berupa tetraparese, namun dalam kasus ini penderita didiagnosis dengan tetraparese LMN ec Syndrome guillain Barre. Pada pemeriksaan sensorik di jumpai hipesthesi pada ujung-ujung ekstremitas : Pada GBS, terjadi malfungsi pada sistem imunitas sehingga muncul kerusakan sementara pada saraf perifer, dan timbullah gangguan sensorik, kelemahan yang bersifat progresif, ataupun paralisis akut. Karena itulah GBS dikenal sebagai neuropati perifer. GBS dapat dibedakan berbagai jenis tergantung dari kerusakan yang terjadi. Bila selubung myelin yang menyelubungi akson rusak atau hancur , transmisi sinyal saraf yang melaluinya akan terganggu atau melambat, sehingga timbul sensasi abnormal ataupun kelemahan. Ini adalah tipe demyelinasi; dan prosesnya sendiri dinamai demyelinasi primer. Pada pemeriksaan refleks fisiologis ACR dan KPR menurun : Kerusakan pada lower motorneuron (LMN) dapat mengenai motoneuron, radiks dan saraf perifer, maupun pada otot itu sendiri . Dalam kasus ini penderita mengalami penurunan tonus otot sehingga dapat disimpulkan adanya kerusakan pada lower motor neuron. Sehingga refelks fisiologisnya menurun.