Anda di halaman 1dari 19

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA

MODUL
METODOLOGI PENELITIAN (3

SKS)
POKOK BAHASAN : PENENTUAN VARIABEL DAN HUBUNGAN ANTAR VARIABEL *) Oleh : Nurprapti Wahyu Widyastuti
Deskripsi :
Penentuan varibel penelitian yang dapat diukur dan perumusan hubungan antara varibel adalah dua langkah yang sangat penting dalam penelitian sosial. Namun demikian, dua langkah ini sering kurang diperhatikan dengan akibat peneliti tidak dapat menguji hipotesa - hipotesa ilmu sosial dengan cermat. Dalam suatu korelasi yang erat antara dua variabel yang ditemukan di usatu daerah atau negara tidak tentu berlaku untuk daerah atau negara lain. Korelasi tersebut juga tidak selalu terlihat pada waktu yang berlainan pada tempat yang sama, lebih-lebih pada masyarakat dimana keadaan sosial ekonomi berubah dengan pesat. Umpamanya hubungan yang negatif antara tingkat sosial ekonomi masyarakat dan vertilitas (orang kaya mempunyai anak yang lebih sedikit) yang terjadi dibanyak negara barat tidak tentu berlak7u di negara sedang berkembang. Bahkan penelitian-penelitian dinegara barat pun menunjukkan bahwa hubungan negatif itu hanya terjadi pada beberapa negara dan waktu-waktu tertentu. Apabila hubungan antara variabel merupakan inti dari penelitian ilmiah, maka perlu diketahui berbagai macam hubungan antara variabel lainnya. Berikut ini akan diuraikan dengan cukup terperinci tiga jenis hubungan: hubungan simetris, hubungan timbal balik

PENELITIAN SOSIAL

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

(reciprocal), dan hubungan simetris

TUJUAN INSTRUKSIONAL : Setelah mempelajari mata kuliah ini diharapkan mahasiswa dapat : 1. Memahami dan mampu menjelaskan pengertian hubungan antar variabel. 2. Memahami dan mampu menjelaskan kembali hubungan antar variabel. 3. Memahami dan mampu menjelaskan kembali jenis-jenis hubungan antar variabel.

PENELITIAN SOSIAL

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

7
PENENTUAN VARIABEL DAN HUBUNGAN ANTAR VARIABEL *)

Setelah mengemukakan bebera proposisi berdasarkan konsep dan teori tertentu, peneliti perlu menentukan varibel-varibel penelitian dan selanjutnya merumuskan hipotesa berdasarkan hubungan antara varibel. Disamping berfungsi sebagai pembeda, varibel-varibel juga berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Fenomena sosial dapat dijelaskan dan diramalkan apabila hubungan berhubungan dari sekian banyak kemungkinan antara varibel tertentu telah yang tersedia? Seperti telah diketahui. Tetapi apakah yang dapatdijadikan pedoman untuk memilih varibel yang saling diuraikanpada bab yang terdahulu pedoman itu adalah teori, proposisi dan hipotesa. Penentuan varibel penelitian yang dapat diukur dan perumusan hubungan antara varibel adalah dua langkah yang sangat penting dalam penelitian sosial. Namun demikian, dua langkah ini sering kurang diperhatikan dengan akibat peneliti tidak dapat menguji hipotesa- hipotesa dengan cermat. Karena varibel mempunyaikaitan yang sangat erat dengan teori, maka terasa perlu untuk mengemukakan secara singkat apa yang disebut teori. Teori adalah serangkaian konsep, definisi dan proposisi yang saling berkaitan dan bertujuan untuk memberikan gambaran yang sistematis ten tang suatu fenomena. Gambaran yang sistematis itu dijabarkan dengan menghubungkan variabel yang satu dengan yang lainnya dengan tujuan untuk menjelaskan fenomena tersebut. Contoh konsep-konsep pokok dalam penelitian sosial adalah: pendidikan, status sosial-ekonomi, agama, mobilitas, fertilitas, mortalitas, aliensi, partisipasi, kriminalitas dan status gizi. Konsep-konsep ini dijabarkan dalam bentuk variabel seperti tingkat pendidikan (tahun sekolah), tinkat migrasi, jumlah anak lahir hidup, dan sebagainya. Pengertian variabel dapat dijelaskan dengan contoh berikut. Misalnya kita menampilkan dua tokoh dan memperhatikan ciri mereka. Satun diantaranya buruh lakilaki yang sudah tua, bertubuh pendek dan berpenghasilan rendah. Tokoh yang lainnya seorang wanita muda; ia seorang majikan, penghasilannya tinggi dan bertubuh jangkung.

PENELITIAN SOSIAL

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

Semua yang menandai semua tokoh ini (laki-laki, wanita, buruh, majikan, tua, muda, penghasilan rendah, penghasilan tinggi) kita sebut atribut. Variabel tiada lain dari pengelompokanyang logis dari dua atau lebih atribut.atribut laki-laki dan wanita dikelompokkan menjadi variabel seks, atribut tua dan muda dikelompokkan menjadi variabel usia. Menurut salah satu ciri pokoknya, variabel dapat berbentuk variabel diskrit (discrate) atau variabel bersambungan (continuous). Secara harviah, diskrit berarti tidak mempunyai pecahan (utuh). Jumlah anak dalam suatu keluarga adalah variabel diskrit: dua, tiga, atau empat anak dan tidak pernah 2,5 atau 2,6. demikian juga jumlah negara, gedung, sepeda motor dan lain-lainnya. Sebaliknya variabel bersambungan dqapat dinyatakan dalam angka pecahan;seorang anak dapat mempunyai berat 22,56 kg dan tingginya 1,23 meter. Contoh yang dikemukakan diatas kiranya membantu menjelaskan perbedaan prinsip antara kedua jenis variabel tersebut;variabel diskrit hanya dapat dinyatakan dalam satuan-satuan (satu,dua,lima) dan satuan-satuan itu tidak mungkin dibagi lagi dalam unit yang lebih kecil. Dalam variabel bersambungan, diantara dua unit ukuran, terdapat unitunit ukuran lain yang secara teoritis tak terhingga jumlahnya. Sehingga contoh diantara 1,5 meter dan 1,6 meter terdapat 1,53; 1,54 dan seterusnya. Perbedaan antara dua jenis variabel ini dapat pula dinyatakan sebagai berikut: variabel diskrit adalh hasil perhitungan, sedangkan variabel bersambungan adalah hasil pengukuran. Kita menghitung jumlah anak, negara, atau perusahaan tetapi kita mengukur berat, tinggi dan luas. Agar dapat dikelompokkan menjadi satu variabel, dua atau lebih tersebut tidak boleh tumpang tindih (mutually exclusive). Dalam variabel tipe kendaraan yang atributnya terdiri dari beroda dua, beroda tiga danberoda empat tidak dapat dimasukkan atribut beroda besi atau beroda kayu. Dalam variabel tingkat pendidikan yang terdiri dari beberapa atribut (tidak sekolah, tidak tamat SD, SD, dan seterusnya) tidak boleh dimasukkan atribut sekolah negeri atau swasta (Sdswasta), sekolah umum atau kejuruan yang dua-duanya menggambarkan jenis sekolah. Atribut-atribut dalam suatu variabel harus mencakup semua kemunghkinan yang ada dalam variabel (exhaustive). merah danputih adalah dua dari jumlah atribut dalm suatu warna. Usia 7 atau 10 tahun adlah sebagian kecil atribut dalm suatu variabel usia.

PENELITIAN SOSIAL

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

Variabel status perkawinan di Jawa tidak hanya meliputi atribut belum kawin, kawin, dan janda/duda tapi beberapa kemungkinan lain seperti pisah kebo, kumpul kebo (kawin saksi atau kawin teplok) dan kawin gantung. Dalm penyusunan kuesioner, atribut suatu variabel perlu diketahui secara lengkap. Semua cabang ilmu pengetahuan mencari hubungan yang sistematis antara variabel. Dalam hal ini yang membedakan ilmu sosial dan ilmu eksakta adlah variasi dalam hubungan-hubungan tersebut menurut tempat atau lokasi dan urutan waktu. Dalam ilmu sosial suatu korelasi yang erat antara dua variabel yang ditemukan di usatu daerah atau negara tidak tentu berlaku untuk daerah atau negara lain. Korelasi tersebut juga tidak selalu terlihat pada waktu yang berlainan pada tempat yang sama, lebih-lebih pada masyarakat dimana keadaan sosial ekonomi berubah dengan pesat. Umpamanya hubungan yang negatif antara tingkat sosial ekonomi masyarakat dan vertilitas (orang kaya mempunyai anak yang lebih sedikit) yang terjadi dibanyak negara barat tidak tentu berlak7u di negara sedang berkembang. Bahkan penelitian-penelitian dinegara barat pun menunjukkan bahwa hubungan negatif itu hanya terjadi pada beberapa negara dan waktu-waktu tertentu.

JENIS-JENIS HUBUNGAN ANTARA VARIABEL Telah beberapa kali dikemukakan bahwa inti penelitian ilmiah adalah mencari hubungan antara variabel. Hubungan yang paling dasar adalah hubungan antara variabel :variabel pengaruh(independent variable) dengan variabel terpengaruh (dependent variabel). Dalam buku-buku tes metodologi yang lainnya dipakai istilah variable bebas dan variable terikat atau tergantung. Dalam analisa ilmu sosial, istilah pengaruhbiasanya dikaitkan dengan analisa hubungan kausal (hubungan sebab akibat), padahal hubungan antara independent dan dependentvariabel tidak selalun merupakan hubungan kausal. Lebih tegas lagi dapat dikatakan bahwa terdapat variabel yang saling berhubungan, tetapi variabel yangsatu tidak mempengaruhi variabel yang lainnya. Walaupun terdapat kemungkinan bahwa pengertian hubungan di campuradukkan dengan pengaruh, istilah variable pengaruh dan varuable terpengaruhlebih mencerminkan kecenderungan dan arah dalam penelitian sosial. Usaha untuk mencari hubungan antara variable sesungguhnya mempunyai tujuan akhir untuk melihat kaitan pengaruh antara variabel.

PENELITIAN SOSIAL

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

Apabila hubungan antara variabel merupakan inti dari penelitian ilmiah, maka perlu diketahui berbagai macam hubungan antara variabel lainnya. Berikut ini akan diuraikan dengan cukup terperinci tiga jenis hubungan: hubungan simetris, hubungan timbal balik (reciprocal), dan hubungan simetris. Berbagai jenis hibungan variabel dapat dilihat dalam tabel 3.1.

A. Hubungan Simetris. Variabel- variabel dikatakan simetris mempunyai hubungan simetris apabila variabel yang satu tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh yang lainnya. Terdapat empat kelompok hubungan simetris: 1. Kedua varibel merupakan indikato sebuah konsep yang sama. Jantung

yang berdenyut semakin cepat sering dibarengi keluarnya keringat tanda kecemasan, tetapi tidak dapat dikatakan jantung yang berdebat cepat menyebabkan tangan berkeringat. Jumlah anak lahir hidup dan tingkat kelahiran kasar [crude birth rate ] adalah dua indikator dari konsep fertilitas 2. Kedua varibel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. Pada suatu negara meningkastnya pelayanan kesehatan dibarengi pula dengan bertambahnya mempengaruhi, pendapatan. 3. Kedua variabel saling berkaitan secara fungsional, di mana satu berada jumlah tetapi pesawat udara. Kedua variabel akibat dari tidak salimg

keduanya

merupakan

peningkatan

yang lainnya pun pasti disana. Di mana ada guru disitu ada murid, di mana ada majikan disana ada buruh. 4. Hubungan yang kebetulan semata-mata, seorang bayi ditimbang lalu

menunggal keesokan harinya. Berdasarkan kepercayaan, kedua peristiwa dapat dianggap berkaitan dalam penelitian empiris tidak dapat disimpulkan bahwa bayi tersebut meninggal karena ditimbang.

TABEL 3.1. TIPE HUBUNGAN ANTARA VARIABEL I. Hubungan Simetris

PENELITIAN SOSIAL

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

1. kedua variabel merupakan indikator untuk konsep yang sama. 2. kedua variabel merupakan akibat dari faktor yang sama . 3. kedua fariabel berkaitan secara fungsional. 4. hubungan yang kebetulan semata-mata. II. Hubungan Timbal Balik III.Hubungan Asimetris 1. hubungan antara simulus dan respons. 2. hubungan antara deposisi dan respons. 3. hubungan antara ciri individu dan diposisi atau tingkah laku. 4. hubungan antara perkondisi dan akibat tertentu. 5. hubungan yang imanen. 6. hubungan antara tinjauan dan cara.

B. Hubungan Timbal-Balik Hubungan timbal-balik adalah hubungan dimana suatu variabel dapat menjadi sebab dan juga akibat dari variabel lainnya. Perlu diketahui bahwa hubungan timbal-balik bukanlah hubungan, dimana tidak dapat ditentukan variabel yang menjadi sebab dan variabel yang menjadi akibat. Yang dimaksudkan ialah apabila pada suatu waktu, variabel X mempengaruhi variabel Y, pada waktu lainnya variabel Y mempengaruhi X. Sebagai contoh, penanaman modal mendatangkan keuntungan dan pada gilirannya keuntungan akan memungkinkan penanaman modal. Dengan demukian, variabel terpengaruh dapat pula menjadi variabel pengaruh pada waktu lain.

C. Hubungan Asimetris Inti pokok analisa sosial terdapat dalam hubungan asimetris, dimana satu variabel mempengaruhi variabel yang lainnya. Berikut ini dijelaskan enam tipe hubungan asimetris: 1. Hubungan antara stimulus dan respons. Hubungan seperti ini merupakan salah satu tipe hubungan kausal dan umumnya ditelitidalam ilmu-ilmu eksakta, psikologi dan pendidikan. Seorang insinyur pertanian melihat pengaruh pupuk terhadap buah yang di hasilkan, seorang psikologi meneliti pengaruh kerasnya musik terhadap tingkat konsentrasi, seorang pendidik meneliti pengaruh metode mengajar tertentu terhadap

PENELITIAN SOSIAL

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

prestasi pelajar para siswa dan seorang ahli ekonomi meneliti hubungan antara devaluasi nilai uang ddengan peningkatan ekspor. Para peneliti yang ingin mempelajari hubungan sseperti ini kadang-kadanhg di hadapkan pada apa yang disebut prinsip selektifitas. Contoh yang sederhana misalnya kelompok yang suka mendengarkan radio ternyata lebih terbuka terhadap pengaruhb luar dibanding dengan kelompok yang tidak mendengarkan. Yang dipersoalkan oleh kelompok selektifitas adalah: apakah kelompok itu terbuka karena mendengarkan radio, ataukah justru karena bersikap terbuka itulah mereka mendengarkan radio. Masalah ini dapat diatasi apabila terdapat data dasar yangb memperlihatkan bahwa kedua keompok tadi sesungguhnya sama dalam keterbukaan terhadap pengaruh luar sebelum mendapat stimulus. 2. hubungan antara disposisi dan respons. Yang dimaksudkan dengan diposisi adalah kecenderungan untuk menunjukkan respontertentu dalam situasin tertentu. Berbeda dengan stimulasi yang datang dari luar, disposisi berbeda dalam diri seseorang mislnya sikap kebiasaan, nilai, dorongan, kemampuan dan sebagainya. Suatu respon sering diukur dengan mengamati tingkah laku seseorang, misalnya pemakaian kontrasepsi, migrasi, perilaku inivasi dan perilaku politik. Dalam ilmu sosial contohcontoh penelitian hubungan disposisi dan respons terdapat pada studi sikap dan tingkah laku. Misalkan hubungan antara kepercayaan seseorang dengan kecenderungan memakai obat tradisional, sikap terhadap pemerintah dan perilaku atau keinginan bekerja dan frekuensi mencapai pekerjaan.

3. hubungan antara ciri individu dan disposisi atau tingkah laku. Yang dikmaksudkan dengan ciri adalah sifat indifidu yang relatif tidak berubah dan tidak dipengaruhi lingkungan seperti seks, suku bangsa, kebangsaan, pendidikan dan lain-lain. 4. hubungan antara perkondisi yang perlu dengan akibat tertentu. Agar warga negara dapat menyatakan perasaan hatinya dengan jujur diperlukan jaminan pemerintah untuk melindungi kebebasan pers. Agar pedagang kecil dapat memperluas usahanya diperlukan antara lain persyaratan pinjam bank yang lunak. Agar penyebarluasan kontrasepsi lewat saluran komersial bertambah luas, pajak impor kontrasepsi dibebaskan.

PENELITIAN SOSIAL

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

5. hubungan yang imanen antara dua variabel. Dalam hubungan tersebut, kedua variabel terjalin satu sama lain; apabila variabel yang satu berubah maka variabel yang lain ikut berubah. Misalnya hubungan antara semakin besarnya suatu organisasi dengan ssemakin rumitnya peraturan yang ada. Administrasi yang rumit tidak disebabkan besarnya organisasi melainkan ciri dasar suatu organisasi besar adalah administrasi yang rumit.

6. Hubungan antara tujuan (ends) dan cara (means). Dalam ilmu sosial yang berminat meneliti hubungan seperti ini cukup banyak jumlahnya. Sebagai contoh dapat dikemukakan disini studi yang meneliti hubungan antara kerja keras dan keberhasilan, jumlah jam belajar dan nilai ujian yang diperoleh, atau besarnya penanaman modal dan keuntungan. Dalam tabel 3.2 digambarkan berbagai contoh hubungan antara konsep dan variabel menurut kategori-kategori diatas. Dalam ilmu-ilmu sosial yang paling penting adalah nomor 2 dan 3 di tabel 3.2 sedangkan ilmu kependudukan nomor 3 (hubungan antara ciri individu dengan dengan tingkah laku atau disposisi) banyak disoroti.

BERBAGAI HUBUNGAN ASIMETRIS A. Hubungan Asimetris Dua Variabel Sebagai mana diuraikan dalam bab 2, penelitian survai dan penelitian sosial umumnya lebih banyak diarahkan kepada hubungan asimetris: hubungan antara variabel pengaruh dan variabel terpengaruh. Kedua variabel ini dalam uraian selanjutnya akan disebut variabel pokok. Hubungan antara dua jenis variabel itu merupakan titik pangkal analisa dalam ilmu sosial. Hubungan itu dapat berupas hubungan antara dua variabel saja(hubungan bivariat) atau antara lebih dari dua variabel, biasanya antara satu variabel terpengaruh danbeberapa variabel pengaruh (hubungan multivariat).

Variabel pengaruh

variabel terpengaruh

XY
Hubungan bivariat

PENELITIAN SOSIAL

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

X4 X1 X2 X3 Y
Variabel terpengaruh

Variabel pengaruh Hubungan Multivariat Berbeda dengan ilmu eksakta, dalam ilmu sosial hubungan tunggal antara satu variabel dengan variabel lainnya tidak pernah ada dalam realita. Oleh karena itu kesimpukan yang diperoleh dari hubungan antara dua variabel harus dianggap sebagai kesimpulan sementara dan harus diinterprestasikan dengan hati-hati. Dalam penelitian kependudukan variabel terpengaruh yang pokok adalahtingkat vertilitas (misalnya jumlah anak lahir hidup), sikap terhadap keluarga berencana, tingkat mortalitas (tingkat kematian kasar), tingkat migrasi (lifetime migration), tingkat partisipasi angkatan kerja, dan sebagainya. Sedangkan variabel-variabel pengaruh yang penting adalahciriciri individu (umur, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, pendapatan dan sebagainya), lokasi geografis (terutama kota tau desa)dan sifat atau macam organisasi (tipe keluarga, macam organisasi keluarga berencana, dan sebagainya). Beberapa variabel terpengaruh dan variabel pengaruh dalam ilmu sosial dapat dilihat dalam lampiran 3.1. Ada beberapa cara untuk menguji hubungan antara dua variabel diantaranya tabulasi islang, rumus Kai kiadrat, korelasi dan regresi. Sebagai contoh, tabel 3.3 melukiskan hubungan yang negatif antara tingkat pendidikan wanita dan mortalitas bayi: semakin tinggi tingkat pendidikan semakin rendah tingkat kematian bayi.

TABEL 3.3. tingkat kematian bayi dan pendidikan wanita (umur 20-24 tahun), Indonesia, 1971.

PENELITIAN SOSIAL

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

Pendidikan

kematian bayi (per 1000 kelahiran hidup)

Tidak sekolah SD tidak tamat SD tamat SMP tamat SMA tamat

157 135 98 71 56

SUMBER: T.H. Hull dan V.J. Hull, hubungan antara status ekonomi dan vertilitas: sebuah analisa data dari indonesia, 1976.

B. Hubungan Asimetris Tiga Variabel Dalam realita suatu hubungan sebab akibat yang terbatas pada dua variabel jarang terjadi. Kecuali analisa multivariat antara beberapa variabel pengaruh dan variabel terpengaruh, ada cara lain untuk memasukkan kedalam analisa variabel tambahan yang mempengaruhi variabel terpengaruh dan variabel pengaruh. Pengaruh variabel ketiga atau keempat tersebut dapat dikontrol baik melalui sistem analisa maupun cara penentuan sampel. Dengan demikian penelitian dapat mengamati hubungan antara dua variabel yang diteliti tanpa gangguan dari variabel-variabel tersebut. Penelitian dapat menetralisasi pengaruh varibel luar dengan memasukkannya sebagai variabel kontrol atau variabel penguji kedalam analisa. Variabel umur adalah satu variabel kontrol yang penting dalam analisa kependudukan karena umur seseorang besar pengaruhnya terhadap vertilitas, mortalitas dan migrasi dan juga terhadap variabelvariabel pengaruh seperti pendidikan, status ekonomi, umur perkawinan dan tingkat perceraian. Menurut Rosenberg seorang peneliti hanya perlu memperhatikan variabel kontrol dalam penelitiannya jika dari perhitungan statistikternyata varibel tersebut mempunyai kaitan baik dengan variabel terpengaruh maupun dengan variabel pengaruh. Bagai manakah penelitian dapat memilih variabel-variabel kontrol dari begitu banyak

PENELITIAN SOSIAL

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

variabel yang mungkin mempengaruhi hubungan yang diamatinya? Dalam hal ini akal sehat, teori dan hasil empiris dari penelitian lain merupakan pedoman pokok untuk menentukan variabel kontrol dalam penelitian. Hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkat mortalitas dapat diambil lagi sebagai contoh, tetap[i variabel latar belakang (desa-kota) sekarang diambil sebagai variabel; kontrol. Pada tabel 3.4 misalnya hubungan yang negatif antara tingkat pendidikan dan tingkat mortalitas bayi berlaku baik untuk daerah perkotaan maupuun daerah pedesaan. Dengan kata lain masuknya latar belakang sebagai variabel kontrol tidak merubah hubungan negatif antara tingkat pendidikan dan tingkat mortalitas. Sselain dengan memasukkan variabel ketiga kedalam analisa, penelitian dapatt juga mengontrol pengaruh variabel luar melalui penentuan sampel. Dalam hubungan antara pendidikan dan mortalitas, peneliti dapat memilih suatu sampel yang termasuk suatu sampel yang termasuk dalam satu kelompok umur. Dalm contoh yang dikutip dalam tabel 3.3 dan 3.4, yang diasnalisa hanya wanita yang berusia 20-24 tahun saja. Denan demikian variabel umur dapat dikontrol. Yang perlu diketahui, dengan pengontrolan variabel seperti ini generalisasi dari penemuan terhadap hubungan antara pendidikan dan moralitas hanya berlaku untuk wanita yang berusia 20-24 tahun saja. 1. Varibel penekanan dan variabel pengganggu Dalam contoh diatas, hubungan negatif yang terlihat dalam hubungan antara dua variabel tetap negatif setelah variabel ketiga dimasukkan. Dalam analisa fenomenafenomena sosial, hasilnya tidak akan selalu demikian. Dari hasil analisa awal, dapat saja disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara dua variabel tetapi ketika variabel kontrol dimasukkan, hubungan itu menjadi nampak. Dalm kasus seperti ini variabel kontrol disebut sebagai variabel penekanan (suppressor variable). Contoh hipotetis berikut ini akan menjelaskan pengertian variabel penekanan. Dalam suatu penelitisn terdapat hipotesa bahwa semakin dekat rumah ssseorang penduduk dengan puskesmas semakin besar kemungkinan ia mengunjungi puskesmas tersebut. Dari data yang diperoleh (lihat tabel 3.5 kolomV) nampak bahwa tidak ada hubungan antara jarak dan kunjungan kepuskesmas tersebut. Presentasi penduduk desa A yang mengunjungi puskesmas memang lebih tinggi dari desa B dan C. Tetapi presentase

PENELITIAN SOSIAL

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

penduduk desa B mengunjungi puskesmas lebih rendah dari desa C, padahal desa C lebih jauh dari desa B. Tabel 3.5 persentase penduduk yang pernah berkunjung ke puskesmas menurut jarak dan pendidikan Jarak desa dari klinik I II 0 < 1 KM 1- < 3 km (Desa A) (Desa B) 56 47 34 pendidikan III 1-6 64 51 47 IV 7+ 66 55 75 62 51 52 jumlah V

3 km + (Desa C)

Untuk menguji apakh jarak memang tidak mempunyai hubungan dengan kunjungan, dimasukkanlah variabel pendidikan sebagai kontrol.dari tabel 3.5 (kolom II, III ) ternyata bahwa apabila pendidikan dikontrol, jarak jelas mempunyai hubungan dangan kunjungan ke puskesmas: makin jauh letak suatu desa dari puskismas makin rendah presentase penduduknya yang berkunjung ke puskesmas tersebut. Yang mengaburkan hubungan antara kedua varibel tersebut adalah presentase yang sangat tinggi dan kelompok yang berpendidikan 7 tahun keatas didesa c yang jauh yang sudah mengunjungi puskesmas (lihat kolom IV). Oleh karena itu dapatlah diambil kesimpulan bahwa variabel pendidikan mengaburkan hubungan antara jarak dan kunjungan kepuskesmas; dengan kata lain variabel pendidikan menekan hubungan tersebut sehingga tidak nampak.

PENELITIAN SOSIAL

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

Jarak rumah responden

Kunjungan kepuskesmas

Pendidikan responden
Variabel pengaruh Variabel terpengaruh

Contoh diatas memperlihatkan bahwa pendidikan telah mengaburkan hubungan antara jarak dan jumlah kunjunan kepuskesmas. Dengan memasukkan pendidikan sebagai variabel kontrol, yang dalam konteks ini disebut variabel penekanan, hubungan tersebut menjadi jelas. Masuknya variabel ketiga dalam analisa dua variabel dapat pula memberikan hasil yang berlawanan dengan hasil analisa dua variabel saja. Dalam kasus seperti ini variabel ketiga dissebut variabel pengganggu (distorter variable). Sebagai contoh dapat diambil suatu hubungan hipotesa antara tingkat sosial ekonomi dan sikap program terhaadap keluarga berencana (KB) di sebuah kota di jawa. Peneliti mempunyai hipotesa bahwa masyarakat kelas sosial ekonomi tinggi, umumnya lebih kritis dari pada kelas ekonomi rendah, dan lebih banyak diantaranya kurang setuju dengan program KB pemerintah.tapi analisa awal data yang dikumpulkan menuujukkan sebaliknya: justru lebih besar presentase (62 %) kelas sosial ekonomi tinggi yang setuju dengan program KB pemerintah (lihat tabel 3.6).

TABEL 3.6. status sosial ekonomi dan sikap terhadap program keluarga berencana

Kelas tinggi

Kelas rendah

PENELITIAN SOSIAL

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

Setuju Tidak setuju

62% 38% 100% (120)

50% 50% 100% (120

Contoh hepotesa Penelitian yang kritis mungkin kurang puas demgam kesimpulan yang di luar dugaan itu. Dia mengira bahwa ada variabel pengganggu yang menyebabkan hubungan prinsip antara kelas ekonomi dan sikap terhadap program KB. Dalam hal ini variabel pengganggu yang diuji pengaruhnya adalah statuss pekerjaan responden.ternyata setelah dikontrol dengan variabel ini, hipotesa semula hanya dapat diterima untuk status pekerjaan tertentu. Penelitian pembagi sampel ke dalam dua golongan: pegawai negri dan bukan pegawai negeri. Nampak bahwa sebagian besar pegawai negeri termasuk status sosial ekonomi tinggi dan justru paling banyak golongan ini setuju dengan program KB pemerintah (lihat tabel 3.7). tapi dikalangan pendudukbukan pegawai negeri ternyata hipotesa semula dapat diterima. Hanya sebagian kecil golongan sosial ekonomi tinggi (20 %) setuju dengan dengan program KB sedangkan 50% golongan sosial ekonomi rendah menunjukkan sikap positif terhadap program tersebut.

PENELITIAN SOSIAL

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

TABEL 3.6. status sosial ekonomi dan sikap terhadap program keluarga berencana dengan pekerjaan

Bukan pegawai negeri Setuju Tidak setuju Kelas tinggi Kelas rendah 20% 50% 80% 100% (20) Contoh hipotesis 50% 100% (100)

pegawai negeri Kelas tinggi Kelas rendah 70% 50% 30% 100% (100) 50% 100% (20)

Variabel kontrol diperhatikan para peneliti sosial agar tidak menarik kesimpulan yang salah dari data yang di analisa. Variabel lain juga diamati peneliti agar dia dapat lebih mengenal proses sebab-akibat antara dua variabel dengan lebih mendalam. Selain variabel kontrol,terdapat dua kelompok variabel yang sering dipakai dalem analisa sosial,yakni variabel antara (intervening variabel) dan variabel anteseden (antecedent variabel).

Variabel pengaruh

Variabel terpengaruh

Status sosial ekonomi

Sikap terhadap program KB

Status kepegawaian
Variabel pengganggu 2. Variabel-antara Salah satu asumsi dasar dalam ilmu pengetahuan adalah segala sesuatu harus ada sebab musabab nza. Khusus dalam ilmu sosial, ssetiap fenomena dipengaruhi oleh seragkai sebab musabab. Oleh karena itu setiao kali menentukan sebab dari suatu

PENELITIAN SOSIAL

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

fenomena, selalu akan di timbulkan pertanyaan, apakah sebab yang lain? Apakah sebab yang pertama berpengaruh langsung pada fenomena tersebut, ataukah tidak langsung dan melalui sebab lainnya? Pertanyaan yang terakhir ini mengantar kita ke suatu faktor penguji yang penting yakni variabel antara. Untuk mengatur ragkakaian sebab-musabab suatu fenomena,pegamatan serta akal sehatlah di samping teori yang menjadi pedoman.tetapi dalam ragkaian sebab-akibat itu,suatu variabel akan disesebut variabel antara apabila,dengan masuknya variabel tersebut,hubungan statistik yang semula nampak antara dua variabelmenjadi lemah atau bahkan lenyap.hal itu disebabkan karena hubungan yang semula nampak antara kedua variabel pokok bukanlah suatu hubungan zang langsung tetapi memulai variabel yang lain (liat gambar).

B Variabel Antara

A Variabel Pengaru h

C Variabel Terpengaruh

Keterangan : Garis putus berarti mungkin berhubungan langsung, mungkin tidak. Untuk dapat menentukan bahwa di antara tiga (kelompok) variabel terdapat variabel antara diperlukan tiga hubungan asimetris : A dan B. B dan C, A dan C.(lihat gambar diatas). Berikut ini terdapat beberapa contoh variabel antara:

Variabel pengaruh

variabel antara

variabel terpengaruh

Agama

integritas dalam Masyarakat

Bunuh diri

PENELITIAN SOSIAL

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

Umur Jenis perusahaan

Pendidikan Karakteristik buruh

Kebiasan membaca Upah

Menurut para ahli sosiologi, agama hanya mempengaruhi frekuensi bunuh diri karena agama erat hubungannya dengan intregrasi seseorang dalam masyarakat. Kebiasaan membaca menunjukkan hubungan yang positif dengan umur tetapi hanya melalui suatu variabel antara, yaitu pendidikan : seorang lanjut usia yang tidak sekolah, tidak akn lebih banyak membaca dibandingkan dari seseorang pemuda. Sebuah teori sumber daya manusia membuat hepotesa bahwa perusahaan asing dan perusahaan besar membayar upah lebih tinggi karena mempekerjakan buruh dengan karakteristik yang menjamin produktifitas perusahaan (misalnya berpendidikan tinggi, trampil dan berpengalaman).

4. Variabel Anteseden Variabel anteseden mempunyai kesamaan dengan variabel antara yaini merupakan hasil yang lebih mendalam dari penelusuran hubungan kausal antara variabel. Perbedaannya, variabel antara menyusup diantara variabel pokok, sedangkan cariabel anteseden mendahului variabel pengaruh.

A Variabel Anteseden

B Variabel Anteseden

C Variabel Anteseden

Dalam realita hubungan antara dua variabel sebenarnya merupakan penggalan dari sebuah jalinan sebab akibat yang cukup panjang. Oleh karena itu setiap usaha untuk mencari jalinan yang lebih jauh seperti halnya dengan variabel anteseden- akan memperkaya pengertian kita tentang fenomena yang diteliti. Variabel anteseden dapat diamati dari contoh di bawah ini. Misalnya kita memiliki data yang menunjukkan bahwa apabila pendidikan seseorang rendah, pengetahuan politiknya pun rendah. Jadi yang hendak diterangkan adalah hubungan antara pendidikan dan pengetahuan politik. Secara skematis hubungan ini adalah sebagai berikut :

PENELITIAN SOSIAL

*) Disadur dari buku Metodologi Penelitian Survey ; Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, 1985

Pendidikan

Pengetahuan Politik

Dalam usaha memperjelas hubungan ini kadang-kadang perlu ditelusuri variabel apa yang mempengaruhi pendidikan. Status soaial ekonomi orang tua, dalam teori, sering dipandang sebagai variabel yang mempengaruhi pendidikan seseorang. Dengan demikian, sekarang kita dapat mempostulatkan bahwa :

Status Sosial Ekonomi Orang tua

Pendidikan

Pengetahuan Politik

Adanya variabel anteseden ini, menambah pengertian kita tentang hubungan antara pendidikan dan pengetahuan politik. Kita sekarang dapat mengatakan : latar belakang keluarga seseorang (status sosial ekonomi orang tua) menentukan tingkat pendidikannya dan pendidikannya menentukan tingkat pengetahuan politiknya.

PENELITIAN SOSIAL