Anda di halaman 1dari 4

PEMERIKSAAN DADA DAN BUNYI JANTUNG A. Cara dan Prinsip pemeriksaan dada 1.

Inspeksi Menurut Muttaqin, 2009, Tahap ini bertujuan untuk melihat seberapa jauh kelainan yang terjadi pada klien. Bentuk dada yang biasa didapatkan adalah sebagai berikut: a. Bentuk dada toraks phtisis (panjang dan gepeng) b. Bentuk dada toraks en beteau (toraks dada burung) c. Bentuk dada toraks rakhitis d. Bentuk dada toraks emfisematous e. Bentuk dada toraks pektus ekskavatus (dada cekung kedalam) Posisi pada saat pemeriksaan inspeksi adalah dalam keadaan berbaring ke arah depan, jika diliat dari atas (paling tepat untuk meneliti asimetris toraks, bentuk toraks, dan gerakan pernafasan) 2. Palapasi Menurut Muttaqin, 2009, Tahap ini bertujuan untuk mengetahui kelainan pada dinding toraks. Kelainan yang mungkin didapatkan pada pemeriksaan ini seperti: nyeri tekan, bengkak, menonjol lepas atau dekat dengan dasar. Langkah-langkah pada saat tahap palpasi: a. Letakan kedua tangan pada dada klien, sehingga kedua ibu Letakan kedua tangan pemeriksa pada kedua sisi tulang jari pemeriksa terletak di garis tengah diatas sternum. b. belakang, sehingga kedua ibu jari pemeriksa terletak di garis tengah diatas tulang belakang. c. 3. Auskultasi Menurut Muttaqin, 2009, Tahap ini bertujuan untuk mengetahui suara nafas. Pada tahap ini dibutuhkan stetoskop untuk pemeriksaan. Kelainan yang sering ditemukan pada tahap ini seperti: a. Trakeobronkial Dengan dua cara tersebut , akan terlihat gerakan toraks simetris atau tidak.

b. c. d. e. 4. Perkusi

Bronkovesikular Vesikular Resonan vokal Konotasi seperti hujan rintik-rintik

Pada saat pemeriksaan perkusi diperlukan persiapan yang baik agar dapat mencapai hasil yang optimal. Klien diminta membuka baju dan usahakan klien dalam keadaan tenang , tidak gemetar, serta tidak berkeringat. Langkah pertama yang dilakukan yaitu letakan falangs kedua jari tengah kiri pada tempat yang hendak diperkusi . ujung jari tengah tangan kanan diketukan pada jari kiri tersebut. Lakukan dari bagian lateral ke daerah medial. B. Cara dan prinsip pemeriksaan S1 dan S2 Menurut Erickson, 2007 pemeriksaan bunyi jantung pertama (S1) ataupun (S2) dilakukan dengan auskultasi dengan menggunakan stetoskop. S1 paling baik terdengar di apeks dengan menggunakan diagfragma stetoskop yang ditekan keras. Sedangkan S2 akan terdengar dengan baik ketika kita menggunakan stetoskop di sekitar basis kanan tempat bunyi aorta menjalar paling kuat dengan menggunakan diafragma stetoskop yang di tekan dengan keras. C. Cara dan prinsip pemeriksaan S3, S4, dan Murmur Menurut Erickson, 2007, S3 adalah bunyi berfrekuensi rendah yang terdengar tepat setelah S2. Karena frekuensinya rendah, bunyi ini paling baik didengarkan dengan genta stetoskop yang ditekan ringan. S3 disebabkan'oleh penurunan pengembangan ventrikel atau peningkatan volume diastolik ventrikel. S3 mungkin merupakan tanda adanya distres ventrikel, atau timbulnya gangglran, seperti pada gagal jantung kbngestif. S3 adalah bunyi diastolik yang terjadi selama awal fase pengisian cepat pacla proses pengisiar-r ventrikel. S3 merupakan bLrnyi yang normal terdengar pada anak dan dewasa rnuda karena mereka n-rengalarni peningkatan volume cliastolik. Pria cenclerunl; kehilangan S3 pada usia

20-an; wanita kehilangan S3 pada usia 30-an. S3 setelah usia 40 tahun biasanya disebabkan oleh penyakit jantung, kecuali pada individu yang aktif berolahraga. S3 juga terdengar pada pasien dengan penyakit arteri koroner, kardiomiopati, katup inkompeten, dan shunt kiri-ke-kanan (defek septum ventrikel atau duktus arteriosus persisten) dan merupakan tanda klinis pertama pada gagal jantung kongestif. Berbagai kondisi penyakit di atas dapat menyebabkan periurunan pengembangan ventrikel, peningkatan volume diastolik ventrikel kiri, atau keduanya. S3 dapat berasal dari ventrikel kiri maupun ventrikel kanan (lebih sering terjadi pada ventrikel kanan). S3 kiri paling baik didengarkan di apeks. (Bunyi dari jantung kiri teldengar paling baik di apeks karena merupakan area penjalarannya.) S3 kanan paling baik didengar di batas lateral kiri sternum (LLSB) atau area xifoideus. (Bunyi dari jantung kanan terdengar paling baik di LLSII atau xifoideus karena ini adalah area penjalaram-nya.) S4 merupakan bunyi berfreknensi rendah yang terdengar tepat sebelum S1. Karena bunyi ini frekuensinya rendah, S4 terdengar paling baik dengan genta stetoskop yang ditekan dengan ringan. S4 merupakan hasil dari penurunan pengembangan ventrikel atau peningkatan volume pengisian S4 merupakan tanda adanya beban ventrikel. S4 merupakan bunyi diastolik yang terjadi pada saat pengisian lambat Murmur adalah bunyi yang terdengar terus-menerus selama peliode sistol, diastol, atau keduanya. Penyebab umum murmur adalah regurgitasi balik (kebocoran katup, defek septum atrium atau ventrikel, atau hubungan arteriovenosa); aliran ke depan melalui katup yang sempit atau cacaU aliran darah berkecepatan tinggi yang melalui katup normal atau abnormal; vibrasi struktur longgar di dalam jantung (chordae tendineae); dan aliran kontinu melalui pirau atrium-ventrikel (A-V shunt). Untuk mengenali murmut Anda harus memeriksa enam karakteristik berikut:

1. Lokasi-area katup tempat murmur terdengar paling jelas 2. Keras lemahnya bunyi (intensitas)-gunakan sistem skala satu sarnpai enam 3. Frekuensi (tinggi nada)-yaitu rendah, sedang, tinggi 4. Kualitas-tiupan, parau atau kasar, atau gemuruh/deru 5. Periode-sistolik atau diastolik 6. Penjalaran-tempat lain di mana murmur tetap terdengar D. Referensi Erickson, B., 2008, Bunyi Jantung dan Murmur : Dari Bayi hingga Dewasa, ECG, Jakarta Muttaqin, A., 2009, Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular dan Hematologi : Buku ajar, Salemba Mardika, Jakarta