Anda di halaman 1dari 7

1. Pendahuluan PT.

Telkom merupakan perusahaan telekomunikasi Indonesia pertama yang bergerak sebagai penyedia jasa telekomunikasi bagi masyarakat Indonesia, baik untuk individu/organisasi, instansi pemerintah, pendidik an, dan bisnis, s udah selayaknyamemberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan salah satunya memperhatikan kenyamanan pelanggan dengan mengontrol konek si jaringan supaya tidak terputus. Topologi ring berbasis MPLS yang kini diterapkan pada backbone jaringan PT. Telkom dapat menunjang komunikasi, transmisi data, manajemen bandwith dan memperkecil terjadinya disconnect antar jaringan. MPLS merupakan teknologi terbaru untuk mem-forward paket pada jaringan backbone kecepatan tinggi tanpa mengubah struktur jaringan yang telah ada sebelumnya. Kinerja jaringan MPLS yang diterapk an di PT. Telkom untuk meningkatk an kualitas jaringannya mampu memberi keuntungan bagi PT. Telkom. 2. Landasan Teori 2.1 Topologi Jaringan Topologi jaringan adalah hal yang menjelask an hubungan geometris antara unsur-unsur dasar penyusun jaringan yaitu node, link , dan station. Arsitektur topologi merupakan bentuk koneksi fisik untuk menghubungkan setiap node pada sebuah jaringan. 2.2 Layer TCP/IP Transmission Control Protocol / Internet Protokol (TCP/IP) berdasarkan informasi buku Cisco Certified Network Associate (CCNA), dibuat oleh Departement of Defence (DoD) untuk memastikan dan menjaga integritas data sama seperti halnya menjaga komunikasi dalam situasi kekacauan perang. Transmission Control Protocol / Internet Protokol (TCP/IP) adalah standar komunikasi data yang digunakan oleh komunitas internet dalam proses tukar menuk ar data dari satu komputer ke komputer lain di dalam jaringan internet. Protocol ini tidak dapat berdiri sendiri, karena protocol berupa kumpulan protocol (protocol suite). 2.3 Layer OSI Open System Interconection (OSI) adalah s uatu panduan untuk pembuat aplikasi agar dapat membuat dan mengimplementasik an aplik asi yang dapat berjalan dijaringan. OSI juga menyediakan sebuah kerangka kerja untuk menciptakan dan mengimplementasikan standar-standar network ing, peralatan, dan skema internetwork ing. Open System Interconection (OSI) terdiri dari tujuh layer yang terbagi menjadi dua group. Tiga layer teratas mendefinisikan bagaimana aplikasi-aplikasi berkomunikasi satu sama lain, sedangk an empat layer di bawahnya mendefinisik an bagaimana data dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.

2.4 Transmisi Data Transmisi data merupak an media yang menghubungkan antara pengirim dan penerima informasi (data), karena jarak yang jauh maka data terlebih dahulu diubah menjadi kode/isyarat, dan isyarat inilah yang akan dimanipulasi dengan berbagai macam cara untuk diubah kembali menjadi data. Transmisi data dapat dilakukan dengan berbagai media transmisi data diantaranya dapat menggunakan kawat terbuka/open wire, kabel jalin ganda/twister pair cable, k abel coaxial, fiber optic, microwave/ gelombang mikro, transmisi satelit, infra red, gelombang radio.

2.5 Multi Protocol label Switching (MPLS) Multi Protocol label Switching (MPLS) merupakan arsitek tur network yang didefinisikan oleh IETF untuk memaduk an mekanisme label swapping di layer 2 dengan routing di layer 3 untuk mempercepat pengiriman paket. MPLS adalah teknologi penyampaian paket pada jaringan backbone kecepatan tinggi. Sebelumnya, paket-paket diteruskan dengan protokol routing seperti OSPF, BGP, atau EGP. Protokol routing berada pada layer 3 sistem OSI, sedangkan MPLS berada di antara layer 2 dan 3.

3. Analisis
3.1 Analisis Topologi Jaringan 3.1.1. Analisis Topologi Jaringan Lama diperoleh informasi bahwa, PT. Telkom sebelumnya menggunakan topologi star berbasis fiber optic (FO) sebagai backbone

jaringannya untuk mengontrol koneksi tiap daerah. Topologi star dirasa kurang mampu menangani kebutuhan transmisi data yang begitu besar, topologi star mempunyai banyak keterbatasan diantaranya dengan adanya beban transmisi data yang besar dan menejemen bandwith yang buruk menyebabkan kemacetan traffic pada jaringan sehingga jaringan sering disconnect. hal ini menjadi penghambat jalanya transmisi data, sehingga k enyamanan pelanggan PT. Telkom menjadi terganggu. 3.1.2. Analisa Topologi Jaringan Baru Topologi jaringan backbone yang k ini digunakan oleh PT. Telkom Yogyakarta yaitu jaringan MPLS. Sebelumnya pengertian jaringan MPLS telah dijelaskan pada bab II, yakni MPLS adalah teknologi penyampaian paket pada jaringan backbone kecepatan tinggi. Sebelumnya, paket-paket diteruskan dengan protokol routing seperti OSPF, BGP, atau EGP. Protokol routing berada pada layer 3 sistem OSI, sedangkan MPLS berada di antara layer 2 dan 3, lebih tepatnya layer 2,5. Jaringan MPLS dikatakan sebagai sebuah bentuk penggabungan antara kelebihan dari ATM (layer 2) dan kelebihan IP(layer 3), yakni ATM memiliki QoS dan security yang tinggi tapi tidak fleksibel dimanajemen bandwith atau pemborosan bandwith, sedangkan IP mempunyai QoS yang sensitif dan security yang rendah tapi flek sibilitas bandwith tinggi. Hasil wawancara dengan bapak Freddy J. Siahaan (officer di Operation & Maintenance Multimedia PT. Telkom Yogyakarta) menyatakan bahwa melihat dari k elebihan ATM dan IP itu mak a PT. Telkom menggunakan jaringan MPLS sebagai jaringan backbonenya. 3.1.2.1. Label Switch Router (LSR) Label Switching Routers (LSR) berfungsi untuk mengaplikasikan label ke dalam pak et-paket yang masuk kedalam jaringan MPLS. Paket yang dilabeli kemudian dihubungk an ke LSR yang juga berfungsi sebagai router, setelah itu paket diterus kan ke IP tujuan, proses ini menjadikan tingkat keamanan transmisi data lebih baik.

3.1.2.2. Topologi Jairangan MPLS

Jaringan MPLS dapat dilakukan tanpa mengubah struktur jaringan yang sudah ada sebelumnya, topologi jaringan MPLS lebih dikenal dengan bentuk Metro Ethernet. LSR yang terdapat pada topologi diatas melabeli pak et data dari router pengirim ke router tujuan, tujuannya yaitu untuk meningkatkan kualitas keamanan paket yang dik irim. LSR terhubung satu sama lain untuk meneruskan paket data.

Gambar MPLS telkom Lampung 3.1.2.3. Arsitektur MPLS Arsitektur MPLS dirancang untuk memenuhi karakteristik yang diharuskan dalam sebuah jaringan kelas carrier (pembawa) berskala besar. IETF membentuk k elompok kerja MPLS pada yahun 1997 untuk mengembangkan metode umum yang distandarkan. Tujuan dari kelompok kerja MPLS ini adalah untuk menstandarkan protokol-protok ol yang menggunakan teknik pengiriman label swapping (pertukaran label).

3.1.2.4. Keuntungan MPLS di PT. Telkom 1. MPLS mempunyai kinerja yang lebih baik, biaya operasi yang rendah bagi para operator. 2. fleksibilitas untuk mengakomodasi teknologi baru dan yang ak an datang. 3. keamanan yang lebih baik. 4. Performansi yang lebih baik dengan menggunaan kelas layanan (Class of Service (CoS) atau Quality of Service (QoS) dan prioritas antrian sehingga jaringan dapat mengetahui traffic yang paling penting dan memastikan bahwa ada prioritas diantara traffic tersebut. 5. Dapat mengurangi biaya operasional hingga 50%, dengan mempertahankan tingkat kehandalan dan layanan yang tinggi. 6. Dapat merespon perubahan teknologi dengan cepat, misalnya untuk layananlayanan baru, traffic yang sensitif terhadap latency, VoIP, dan video. 7. Packet loss yang rendah yang membuat respon lebih cepat untuk berbagai aplikasi 8. Menyederhanakan adminisitrasi jaringan dan management dari network . 9. Perangkaian rute dan tujuan selanjutnya. 10. Integrasi yang lebih baik dari dunia IP dan ATM.

Analisis Kinerja
Banyak hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisis kinerja jaringan seperti packet loss, latency, kualitas media transmisi, monitoring, kompleksitas network, management bandwith, dll. a. Transmisi Data Nilai kecepatan transmisi data (x10GB), yang mempengaruhi transmisi data yaitu : Transport bandwith Media transmisi Kualitas signal yang ditransmisikan b. Media Transmisi Media transmisi yang digunak an yaitu fiber optic. Kualitas media transmisi mempengaruhi kinerja network , media transmisi yang buruk menyebabkan : hambatan transmisi data traffic lambat network padat c. Latency Standar latency yang terjadi di PT. Telk om Yogyak arta sebesar 20 milisecond, apabila = 20 milisecond maka perlu dilakukan koreksi terhadap transport dari node-node. Hal yang mempengaruhi : Kualitas Transmisi Tingkat CPU di router dengan bandwith yang tersedia untuk link jumlah hop router yang dilewati, makin banyak mak in memperlambat jalannya transmisi. Media transmisi yang berbeda mempengaruhi latency yang berbeda-beda. 3.3 Perancangan Topologi Jaringan MPLS Perancangan suatu topology jaringan merupakan hal utama yang dibutuhkan seorang network administrator dalam membangun sebuah simulasi jaringan. Simulasi jaringan dibangun untuk melihat kebutuhan suatu jaringan, dalam hal ini network administrator dapat mengkoordinasi dan management network sebelum jaringan nyata dibangun. Berikut ini merupakan sebuah perancangan topology jaringan MPLS dengan spes ifikasi yang dibutuhk an :

a. Komputer Processor : Intel (R) core(TM)2 Duo CPU T5870 @2.00 GHz RAM : 2.00 GB HDD : 240 GB OS : Windows XP b. Aplikasi Aplikasi yang digunakan dalam merancang simulasi jaringan MPLS yaitu GNS3 0.7.3 IOS Image cisco Router C7200 (pada IOS image cisco)

4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Hasil Simulasi Simulasi MPLS telah berhasil, hal ini dapat dilihat dari adanya protocol LDP saling bertukar MPLS lable table

Gambar 4.1 menunjukk an MPLS sedang bekerja, hal ini terlihat dari adanya ip core2 sebagai ldp neigh di core1, seperti yang terlihat didalam kotak.

Lakuk an pengecekan MPLS dengan perintah seperti berikut :

Gambar 4.2 diatas memperlihatkan adanya ip 125.160.0.2 dan 125.160.0.1 yang teridentifikasi sebagai MPLS, hal ini terjadi karena sebelumnya kedua ip pada mas ingmasing router tersebut telah terdaftarkan mpls ip pada konfigurasi ip sebelumnya. IP 125.160.0.2 pada router PE1 teridentifikasi sebagai ldp neigh di router core1 ini. 5. Kesimpulan Dari hasil analisis dan simulasii pada bab sebelumnya, dapat diambil k esimpulan. Kesimpulan yang dapat diambil dari tugas akhir ini adalah : 1. Jaringan MPLS dapat diterapkan sebagai backbone jaringan tanpa harus mengubah secara besar-besaran jaringan yang sudah ada sebelumnya 2. Dari hasil simulasi MPLS telah berhasil. 3. Manajemen bandwith yang teratur mampu diatasi dengan MPLS, sehingga penambahan bandwith secara tiba-tiba tidak perlu terjadi lagi 4. Penggabungan yang terjadi antara kelebihan ATM & IP dalam MPLS mampu meningkatkan kualitas transmisi data menjadi lebih baik 5. Dengan topology ring berbasis MPLS, disconect yang terjadi pada saat transmisi data mampu diatasi karena paket data dapat melalui jalur atau hop router yang lainnya untuk mengirimkan paket data k e router tujuan

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Konfigurasi MPLS http://www.cisco.com/Configuring a Basic MPLS VPN Cisco Systems, diakses pada tanggal 21 Desember 2010. Anonim. 2008. Simulasi jaringan mpls, http://www.ilmukomputer.com/rafdian rasyidexperiment-mpls-dengan-gns3/archiv/paper.pdf, diakses tanggal 21 Desember 2010. Guichard, Jim. Papelnjak & Apcar,Jeff. 2005. MPLS and VPN Arc hitectures, Penertbit Elex Media Komputindo, Jakarta Lammle, Todd. 2005. CCNA #1 , Penertbit Elex Media Komputindo, Jakarta Syafrizal, Melwin. 2005. Pengantar Jaringan Komputer, Penerbit Andi, Yogyakarta