Anda di halaman 1dari 45

MIFTAHUL FAHMI FADHIL SHOMAD 20070310062 FKIK UMY

PRESENTASI KASUS BANGSAL PARAPARESE INFERIOR

BAB I. LAPORAN KASUS


I. IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. S Umur : 52 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Alamat : Kebonsari, Kalicacing, Sidomukti, Pekerjaan : Karyawati (di Rumah Makan) Tgl Masuk :18 Januari 2013

II. ANAMNESIS Keluhan utama Lumpuh, kaki kanan-kiri tidak bisa jalan Riwayat penyakit sekarang Pasien datang ke rumah sakit dengan alasan lumpuh kedua kaki tidak bisa digerakkan sejak 14 november 2012 (2,5 bulan yll). Gangguan BAK/BAB (-). Pada awalnya 1 th yll, pasien sudah mengeluh sering sakit punggung dan boyok, sering kesemutan bagian boyok dan kaki, gampang lemes dan capek, kemudian lama-kelamaan kaki terasa berat dan kemudian lumpuh tidak bisa digerakkan. Riwayat batuk lama (-), riwayat trauma punggung, boyok dan lainnya (-), jatuh / jatuh dengan posisi terduduk (-), pekerjaan dengan angkat junjung yang berat (-), pasien bekerja di sebuah warung makan. Menurutnya dan suami dahulu pasien cukup gemuk kemudian tanpa sebab yang pasti lamalama menjadi kurus walaupun porsi makan dan kegiatan tetap,

Riwayat penyakit dahulu Hipertensi (-), DM (-), penyakit jantung (-), tumor otak (-) trauma kepala (+),trauma punggung (-), trauma ekstremitas dan lainnya (-)

Riwayat penyakit keluarga Hipertensi (-), DM (-), penyakit jantung (-), kejang (-), tumor otak (-) trauma (-) III. PEMERIKSAAN FISIK Data Objektif Tanggal : 18 Januari 2013 (di IGD) KU : Compos mentis, GCS E4M6V5 Tekanan darah : 136/87 mmHg Denyut nadi : 74 x/menit Pernapasan : 24 x/menit Suhu : Afebris

Status Internus
Kepala : Mesosepal, bentuk simetris dan tidak ada bekas luka (jahitan) Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar limpa, kaku kuduk (-) Toraks : Bentuk dinding toraks simetris, ketinggalan gerak (-) Jantung : Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak Palpasi : Ketinggalan gerak (-), massa (-), iktus kordis teraba di SIC 5, Perkusi : Sonor hampir di semua lapang paru Batas jantung : Kiri atas : SIC II Linea parasternalis kiri Kanan atas : SIC II Linea parasternalis kanan Kiri bawah : SIC V 2 cm kaudolateral dari linea midklavicula Kanan bawah : SIC IV linea parasternalis kanan

Paru-paru Inspeksi : Permukaan datar tak tampak retraksi Palpasi : Fokal femitus ka=ki Perkusi : Sonor disemua lapang paru Auskultasi : Suara dasar : Vesikuler (+), Suara tambahan: (-) Abdomen Inspeksi : Permukaan datar, tidak tampak adanya massa. Auskultasi : bising usus (+) normal Palpasi : Nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba Perkusi : Timpani (+)

Saraf kranialis
N. cranialis N. I (Olfaktorius) Daya penghidu N. II ( Optikus ) N N Kanan Kiri

N. V ( Trigeminus ) Menggigit Membuka mulut N. VI ( Abdusens ) N N N N

Daya Penglihatan Pengenalan warna Medan Penglihatan N. III (Okulomotorius) Ptosis Gerak bola mata ke superior Gerak bola mata ke medial Gerak bola mata ke inferior N. IV (Troklearis) Gerak bola mata ke lateral bawah

N N N

N N N

Gerak mata ke lateral N. VII ( Facialis ) Kedipan mata

N N N N N N

N N N N N N

(-) N N N

(-) N N N

Sudut mulut Mengerutkan dahi Mengangkat alis Menutup mata

Menggembungkan pipi

N. VIII ( Akustikus ) Mendengar suara gesekan tangan N. IX ( Glosofaringeus ) Sengau Tersedak (-) Tidak diperiksa (-) Tidak diperiksa N N

N. X ( Vagus ) Denyut Nadi Bersuara Menelan N. XI ( Assesorius ) Memalingkan muka Sikap Bahu Mengangkat Bahu N. XII ( Hipoglossus ) Sikap Lidah Tremor Lidah Menjulurkan Lidah N (-) N N (-) N (-) (-) (-) (-) (-) (-) 84x/menit (-) (-)

Meningeal Sign: kaku kuduk (-) Anggota Gerak : Pemeriksaan Gerakan Sensibilitas Kekuatan Tonus Klonus Trofi Ekstremitas Superior Ekstremitas (D/S) Terbatas/N +/+ 5/1+ N/N +NN Eutrofi Inferior (D/S) Terbatas /N +/+ 5/ 1+ NN N/N Hipotrofi/Atrofi

Refleks Patologis : Refleks Babinski Chaddock Openheim Gordon Ekstremitas Dextra Ekstremitas Sinistra -

Refleks Fisiologis : Refleks Biseps Triseps Patella Achiles Dextra/Sinistra +/+ +/+ +/+ +/+

Schaeffer Gonda

Pemeriksaan Penunjang 1. Laboratorium tanggal 20 Januari 2013:

Pemeriksaan

Nilai Hematologi 6,4 x 103/L 4,6 x,29 10 /L 11,2 gr/dl 35,6 % 76,7 fl 24,1 Pg 31,5 g/dl 278 x 103/L O
6

Nilai Rujukan

Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit MCV MCH MCHC Trombosit Golongan Darah

4,5-10 L: 4,5-5,5 P: 4-5 L: 14-18 P: 12-16 L: 40-54 P: 30-47 85-100 28-31 30-35 150-450

Kimia Klinik (20 Januari 2013) Gula Darah Sewaktu Ureum Creatinin SGOT SGPT 189 mg/dl 39 mg/dl 0,8 mg/dl 16 ue 21 ue 80 144 10 50 1,0 1,3 / 0,6 1,1 < 37 / < 31 < 42 / < 32

V. KESIMPULAN (Assesment) Diagnosis klinis : Paraplegi inferior tipe flacsid grade B Diagnosis topik : Fraktu kompresi vertebra thoracal 10-11 Diagnosis etiologi :? VI. PENATALAKSANAAN Terapi di rumah sakit : a. Farmakoterapi Infus RL 20 tts/mnt + B1 + B2 Metyl prednisolone inj. 3x125mg Ranitidine inj. 2x1 Citicoline inj 2x500mg Neurodex 2x1 1. Fisioterapi Stretching exercise sendi yang kaku untuk mencegah kontraktur Strengthening exercise untuk melatih kekuatan otot dan mencegah atropi otototot ROM exercise aktif dan pasif Positioning dan turning (rubah posisi tiap 2 jam) untuk cegah ulkus decubitus

2. Okupasi Terapi : Latihan ADL melatih kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Sosiomedik : Edukasi keluarga mangenaipenyakit yang diderita pasien serta motivasi untukmembantu dan merawat pasien dan selalu berusahamenjalankan program di RS dan home program Psikologi : psikoterapi suportif kepada pasien,menurunkan kecemasan, meningkatkan kepercayaandiri pasien dan pengawasan status psikologis pasien.Memberikan motivasi agar penderita dan keluargamau menjalankan program rehabilitasi

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Anatomi Fisiologi
Medula spinalis mulai dari akhir medulla oblongata di foramen magnum sampai konus medullaris di level Tulang Belakang L1-L2

a. nervus servikal : (nervus di leher) yang berperan dalam pergerakan dan perabaan pada lengan, leher, dan anggota tubuh bagian atas b. nervus thorak : (nervus di daerah punggung atas) yang mempersarafi tubuh dan perut c. nervus lumbal dan nervus sakral : (nervus didaerah punggung bawah) yang mempersarafi tungkai, kandung kencing, usus dan genitalia.

2.1.2 Fisiologi Sistem Syaraf Upper Motor Neuron (UMN) Traktus kortiko spinalis berfungsi menyalurkan impuls motorik pada sel-sel motorik batang otak dan medula spinalis untuk gerakangerakan otot kepala dan leher. Traktus kortikobulber membentuk traktus piramidalis, mempersarafi sel-sel motorik batang otak secara bilateral, kecuali nervus VII & XII, berfungsi untuk menyalurkan impuls motorik untuk gerak otot tangkas. kelumpuhan tipe UMN berupa parese/paralisis spastis disertai dengan tonus meninggi, hiperrefleksi, klonus, refleks patologis positif, tak ada atrofi. 1

Kelainan traktus piramidalis setinggi : Hemisfer : memberikan gejala-gejala hemiparesi tipika Setinggi batang otak : hemiparese alternans. Setinggi medulla spinalis : tetra/paraparese. Gangguan pada susunan ekstrapiramidal : Kekakuan / rigiditas Pergerakan-pergerakan involunter: Tremor, Atetose, Khorea, Balismus Lower Motor Neuron (LMN) Gangguan pada LMN memberikan kelumpuhan tipe LMN yaitu parese yang sifatnya flaccid, arefleksi, tak ada refleks patologis, atrofi cepat terjadi.

Menentukan tinggi lesi medula spinalis berdasarkan : Gangguan Motorik biasanya timbul kelumpuhan yang sifatnya paraparese / tetraparese Paraparese UMN : lesi terdapat supranuklear terhadap segmen medula spinalis lumbosakral (L2-S2). Paraparese LMN : lesi setinggi segmen medula spinalis L2-S2 atau lesi infra nuklear. Tetraparese UMN : lesi terdapat supranuklear terhadap segmen medula spinalis servikal IV. Tetraparese : ekst.superior LMN, ekst. Inferior UMN

Gangguan Sensibilitas Gangguan sensibilitas segmental : Lipatan paha : lesi Medula spinalis L1 Pusat : lesi med. spinalis thorakal 10 Papila mammae : lesi med. spinalis th. 4 Saddle Anestesia : lesi pada konus Gangguan sensibilitas radikuler : Ggn sensibilitas sesuai dengan radiks posterior. Gangguan sensibilitas perifer : Glove/stocking anestesia

Gangguan Susunan Saraf Otonom Produksi keringat Bladder : berupa inkontinensia urinae atau uninhibited bladder. Autonomic bladder/ spastic bladder lesi medula spinalis supranuklear terhadap segmen sakral. Flaccid bladder/ overflow incontinence lesi pada sakral medula spinalis.

KLASIFIKASI Klasifikasi Trauma Medula Spinalis Inkomplete

Pada lesi komplit, dapat menyebabkan hilangnya control otot dan sensorik secara total dari bagian di bawah lesi, sedangkan lesi inkomplet mungkin hanya terjadi kelumpuhan otot ringan (parese) dan atau mungkin kerusakan sensorik.

Dibawah ini klasifikasi berdasarkan derajat cedera medulla spinalis menurut skala ASIA/ IMSOP (American Spinal Cord Injury Association / International Medical Society of Paraplegia)
Tingkat A B Jenis Komplit Inkomplit Gangguan Medula Spinalis ASIA / IMSOP Tidak ada fungsi motorik dan sensorik sampai S4-S5 Fungsi motorik terganggu sampai segmen S4-S5, fungsi sensorik masih baik C Inkomplit Fungsi motorik terganggu dibawah lesi, kekuatan motorik utama <3 D Inkomplit Fungsi motorik terganggu dibawah lesi, kekuatan motorik utama >3 E Normal Fungsi motorik dan sensorik normal

DIAGNOSIS Pemeriksaan Fisik Menentukan Kekuatan Otot


Nilai 0 1 2 3 4 5 Tidak ada Ada, tanpa gerakan nyata Dapat menggeser/ menggerakkan lengan tanpa beban dan tahanan Dapat mengangkat lengan melawan gaya berat dan tanpa tahanan Dapat mengangkat lengan dengan tahanan ringan Dapat mengangat lengan melawan gaya berat dengan beban tahanan berat Kontraksi

Menentukan Lesi yang terjadi UMN atau LMN Perbedaan UMN dan LMN
UMN Letak lesi Otak dan Medula Spinalis + / Eutrofi/ disuse atrofi LMN Radiks dan motor end plate Reflek Fisiologi Reflek Patologi Tonus/Klonus Trofi otot _ / atrofi

Pemeriksaan Sensibilitas untuk menentukan letak lesi medulla spinalis sesuai dengan dermatom

DEFINISI
Parese adalah kelemahan/kelumpuhan parsial yang ringan/tidak lengkap atau suatu kondisi yang ditandai oleh hilangnya sebagian gerakan atau gerakan terganggu.
Monoparese adalah kelemahan pada satu ekstremitas atas atau ekstremitas bawah. Paraparese adalah kelemahan pada kedua ekstremitas bawah. Hemiparese adalah kelemahan pada satu sisi tubuh yaitu satu ekstremitas atas dan satu ekstremitas bawah pada sisi yang sama. Tetraparese adalah kelemahan pada keempat ekstremitas.

Paraplegi terbagi menjadi tipe spastic (UMN) dan flaksid (LMN). Paraplegi spastik disebabkan oleh spondylitis TB , spinal cord injury, genetic disorder (hereditary spastic paraplegia), autoimmune diseases, syrinx (a spinal chord disorder) tumor medulla spinalis, multiple sclerosis Paraplegi flaksid termasuk polio, lesi pada neuron motorik yang lebih rendah, Guillain Barre sydrome.
ETIOLOGI DAN PATOGENESIS TUMOR MEDULLA SPINALIS Tumor medula spinalis adalah tumor di daerah spinal yang dapat terjadi pada daerah cervical pertama hingga sacral, yang dapat dibedakan atas tumor primer dan sekunder.

A. Tumor primer:
1) Jinak a) Osteoma dan kondroma berasal dari tulang b) Neurinoma (Schwannoma) berasal serabut saraf c) Meningioma berasal dari selaput otak d) Glioma, Ependinoma berasal dari jaringan otak. 2) Ganas a) Astrocytoma, Neuroblastoma, yang berasal dari jaringan saraf. b) sel muda seperti Kordoma.

B. Metastasis Ca. mamae, prostat, Berdasarkan letak : Intradural ekstramedular Intradural - intramedular Ekstradural

Gambar 3. (A) Tumor intradural-intramedular, (B) Tumor intradural-ekstramedular, dan (C) Tumor Ekstradural

MANIFESTASI KLINIS Menurut Cassiere, ada 3 tahapan, yaitu: Ditemukannya sindrom radikuler unilateral dalam jangka waktu yang lama Sindroma Brown Sequard Kompresi total medula spinalis atau paralisis bilateral
Keluhan awal : nyeri radikuler, nyeri vertebrae, atau nyeri funikuler. Secara statistik adanya nyeri radikuler merupakan indikasi pertama adanya space occupying lesion (SOL) pada kanalis spinalis dan disebut pseudo neuralgia pre phase.

Nyeri radikuler dicurigai tumor medula spinalis bila: Nyeri radikuler hebat dan berkepanjangan, disertai gejala traktus piramidalis Lokasi nyeri radikuler diluar daerah predileksi HNP seperti C5-7, L3-4, L5,S1

Tumor Ekstradural Tumor Metastasis Keganasan Ekstradural memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 5 1) >80% tumor spinal, metastasis terutama dari paru-paru, payudara, ginjal, prostat, kolon, tiroid, melanoma, limfoma, atau sarkoma. 2) Pertama kali : korpus vertebra. Predileksi metastasis tumor paru, payudara dan kolon adalah daerah toraks, sedangkan tumor prostat, testis dan ovarium biasanya ke daerah lumbosakral. 3) Gejala kompresi medula spinalis kebanyakan terjadi pada level torakal, karena diameter kanalisnya yang kecil (kira2 hanya 1cm). 4) Gejala akibat metastasis spinal diawali dengan nyeri lokal yang tajam dan kadang menjalar (radikuler) serta menghebat pada penekanan atau palpasi

Tumor Intradural-Ekstramedular Tumor ini tumbuh di radiks dan menyebabkan nyeri radikuler kronik progresif. 1) Neurinoma (Schwannoma) memiliki karakteristik sebagai berikut: Berasal dari radiks dorsalis 30% dari tumor ekstramedular 2/3 kasus keluhan awal nyeri radikuler, biasanya pada satu sisi & dialami dalam beberapa bulan-tahun, gejala lanjut terdapat tanda traktus piramidalis 39% lokasinya di segmen thorakal. 2) Meningioma memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 80% terletak di regio thorakalis dan 60% pada wanita usia pertengahan Pertumbuhan lambat 25% kasus terdapat nyeri radikuler, tetapi lebih sering dengan gejala traktus piramidalis dibawah lesi, dan sifat nyeri radikuler biasanya bilateral dengan jarak waktu timbul gejala lain lebih pendek.

Px Penunjang - Cairan spinal : peningkatan protein dan xantokhrom, dan kadang-kadang


ditemukan sel keganasan.

Ro polos : Perubahan tulang kualitatif (litik, blastik, sklerotik).

Scan tulang : radioisotop, bisa memperlihatkan adanya tumor spinal


metastatic pada tahap lebih awal dibanding foto polos.

Mielografi : MRI sudah menggantikan mielografi sebagai prosedur


diagnostik.

Ct scan : menampilkan distribusi tumor spinal, pergeseran kord spinal dan


akar saraf, derajat destruksi tulang, dan perluasan paraspinal dari lesi dalam dataran horizontal.

MRI : penampilan kolom spinal menyeluruh dalam potongan sagital untuk


memastikan tingkat terbatas yang terkena, penyebaran tumor berdekatan pada tingkat multipel, atau fokus tumor berbeda pada tingkat multipel.

SPINAL CORD INJURY


48% kecelakaan bermotor, jatuh (21%), cedera olahraga rekreasi (13%), kecelakaan industri (12%), tindak kekerasan (16%). Sebagai hasil dari geseran sumsum tulang belakang, ada penghancuran abu-abu dan putih materi dan sejumlah variabel perdarahan, terutama dalam bagian vaskular pusat. Perubahan yang paling awal jaringan terdiri dari hiperemi dan perdarahan kecil dalam materi abu-abu pusat. Pada 1 jam pertama, perdarahan yang mikroskopis menyatu dan terlihat menjadi makroskopik. Dalam waktu 4 jam, bagian tengah membengkak kabel dan edema menyebarkan meliputi materi putih di sekitarnya, namun, nekrosis mungkin tidak jelas hingga 8 jam

Manifestasi Klinis
Ketika sumsum tulang belakang tiba-tiba dan hampir atau sama sekali terputus, tiga gangguan fungsi yang sekaligus jelas : 1) semua gerakan otonom di bagian dari tubuh bawah lesi segera dan hilang secara permanen; 2) semua sensasi dari (aboral) bagian bawah dihapuskan 3) fungsi refleks di semua segmen dari sumsum tulang belakang terisolasi ditangguhkan. Tahap Syok Spinal atau Areflexia
Fungsi motorik hilang, pada saat injury-tetraplegia (lesi C4-C5/di atasnya), paraplegia (lesi T1-10) disertai dengan kelumpuhan atonic langsung kandung kemih dan usus, lambung atonia, hilangnya sensasi di bawah tingkat yang sesuai dengan lesi sumsum tulang belakang, otot keadaan normal

Kontrol fungsi otonom di segmen bawah lesi terganggu. Vasomotor tone, berkeringat, dan piloerection di bagian bawah tubuh sementara dihapuskan. Hipotensi sistemik dapat menjadi parah dan berkontribusi terhadap kerusakan saraf tulang belakang. Kulit menjadi kering dan pucat, dan ulcerations tulang dapat berkembang lebih prominences. Ada juga distensi pasif usus, retensi kotoran, dan tidak adanya peristaltik (ileus paralitik). Genital reflex (Ereksi penis, bulbokavernosus refleks, kontraksi otot dartos) dihapuskan atau mendalam tertekan. Lamanya tahap syok spinal dengan flexia lengkap bervariasi seperti yang disebutkan, permanen, atau hanya fragmentaris aktivitas refleks yang kembali bertahun-tahun setelah cedera.

Tahap peningkatan reflek


Muncul beberapa minggu/bulan setelah cedera tulang belakang. Biasanya, setelah beberapa minggu, respon reflex stimulasi, yang awalnya minim dan unsustained, menjadi lebih kuat

Secara bertahap pola khas refleks fleksi tinggi muncul: refeleks babienzky (+). Retensi urin menjadi kurang lengkap, dan pada interval teratur urin dikeluarkan oleh kontraksi spontan otot detrusor. Reflex Buang air besar juga dimulai. Px : Tingkat lesi sumsum tulang belakang dan vertebral dapat ditentukan dari temuan klinis. Kelumpuhan diafragma terjadi dengan lesi dari 3 segmen atas servikal (transien yang berhubungan penangkapan pernapasan umum cedera kepala berat). Kelumpuhan pada lengan dan kaki biasanya menunjukkan fraktur atau dislokasi di C4-C5. Jika kaki yang lumpuh dan lengan masih bisa diculik dan tertekuk, lesi kemungkinan di C5-C6. Kelumpuhan kaki dan hanya tangan menunjukkan lesi C6-C7

Skala Frankel untuk menetapkan cedera sensori. 1) Lengkap: motor dan sensorik loss di bawah lesi 2) Tidak lengkap: beberapa pelestarian sensorik di bawah zona cedera 3) Tidak lengkap: sensorik motorik dan hemat, namun pasien nonfunctional 4) Tidak lengkap: sparing motor dan sensorik dan pasien fungsional (berdiri dan berjalan) 5) Pemulihan lengkap fungsional: refleks mungkin abnormal Risiko terbesar bagi pasien dengan cedera tulang belakang dalam 10 hari pertama ketika lambung dilatasi, ileus, syok, dan infeksi merupakan ancaman terhadap kehidupan

SPONDILITIS TUBERCULOSA
Spondilitis Tb atau Pott disease ialah suatu osteomielitis kronik tulang belakang yang disebabkan oleh kuman tbc. Infeksi umumnya mulai dari korpus vertebra lalu ke diskus intervertebralis dan ke jaringan sekitarnya. Daerah yang paling sering terkena, berturut-turut ialah daerah torakal terutama bagian bawah, daerah lumbal dan servikal 1 - 4.
Faktor Resiko 1. Usia dan jenis kelamin : Bayi dan anak muda mempunyai kekebalan yang lemah, Puncak usia terjadinya infeksi berkisar antara usia 40-50 tahun untuk wanita, sementara pria bisa mencapai usia 60 tahun. 2. Nutrisi

3. Faktor toksik 4. Penyakit : Adanya penyakit seperti infeksi HIV, diabetes, leprosi, silikosis, leukemia meningkatkan resiko terkena penyakit tuberkulosa. 5. Lingkungan yang buruk (kemiskinan) Patofisiologi
Tuberkulosa pada tulang belakang dapat terjadi karena penyebaran hematogen atau penyebaran langsung nodus limfatikus para aorta atau melalui jalur limfatik ke tulang dari fokus tuberkulosa yang sudah ada sebelumnya di luar tulang belakang. Penyempitan rongga diskus terjadi karena perluasan infeksi paradiskal ke dalam ruang diskus, hilangnya tulang subchondral disertai dengan kolapsnya corpus vertebra karena nekrosis dan lisis ataupun karena dehidrasi diskus, sekunder karena perubahan kapasitas fungsional dari end plate.

Gambaran klinis : Anamnesa dan inspeksi 1. Gambaran adanya penyakit sistemik : kehilangan berat badan, keringat malam, demam yang berlangsung secara intermitten terutama sore dan malam hari serta cachexia. 2. Adanya riwayat batuk lama (lebih dari 3 minggu) berdahak atau berdarah disertai nyeri dada. 3. Nyeri terlokalisir pada satu regio tulang belakang atau berupa nyeri yang menjalar. 4. Pola jalan merefleksikan rigiditas protektif dari tulang belakang. Langkah kaki pendek, karena mencoba menghindari nyeri di punggung. 5. Bila infeksi melibatkan area servikal maka pasien tidak dapat menolehkan kepalanya. 6. Di regio torakal akan menyebabkan punggung tampak menjadi kaku. 7. Di regio lumbar : abses akan tampak sebagai suatu pembengkakan lunak yang terjadi di atas atau di bawah lipat paha.

8. Tampak adanya deformitas, dapat berupa : kifosis (gibbus/angulasi tulang belakang), skoliosis, bayonet deformity, subluksasi, spondilolistesis, dan dislokasi. 9. Adanya gejala dan tanda dari kompresi medula spinalis (defisit neurologis). 10. Pembengkakan di sendi yang berjalan lambat tanpa disertai panas dan nyeri akut seperti pada infeksi septik. 11. Salah satu defisit neurologis yang paling sering terjadi adalah paraplegia yang dikenal dengan nama Potts paraplegia.

Palpasi 1. Bila terdapat abses maka akan teraba massa yang berfluktuasi dan kulit diatasnya terasa sedikit hangat

2. Spasme otot protektif disertai keterbatasan pergerakan di segmen yang terkena Perkusi Pada perkusi secara halus atau pemberian tekanan diatas prosesus spinosus vertebrae yang terkena, sering tampak tenderness. Pemeriksaan Penunjang 1. Laboratorium : Laju endap darah meningkat (tidak spesifik), dari 20 sampai lebih dari 100mm/jam. Tuberculin skin test / Mantoux test / Tuberculine Purified Protein Derivative (PPD) positif. Kultur urin pagi (membantu bila terlihat adanya keterlibatan ginjal), sputum dan bilas lambung (hasil positif bila terdapat keterlibatan paru yang aktif) Apus darah tepi menunjukkan leukositosis dengan limfositosis yang bersifat relatif. Tes darah untuk titer anti-staphylococcal dan anti-streptolysin haemolysins, typhoid, paratyphoid dan brucellosis (DD) Cairan serebrospinal dapat abnormal (pada kasus dengan meningitis tuberkulosa).

BAB III.PEMBAHASAN
Diagnosis didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis ditemukan permasalahan : Keluhan lumpuh kedua kaki tidak bisa digerakkan sejak 2,5 bulan yll).(paraplegia inferior tipe flacsid) Pada awalnya 1 th yll, pasien sudah mengeluh sering sakit punggung dan boyok, sering kesemutan bagian boyok dan kaki. Gampang lemes dan capek, kemudian lama-kelamaan kaki terasa berat dan kemudian lumpuh tidak bisa digerakkan. Menurutnya dan suami, dahulu pasien cukup gemuk kemudian tanpa sebab yang pasti lama-lama menjadi kurus walaupun porsi makan dan kegiatan tetap. Ro : fraktur kompresi thoracal 10-11

Tidak ditemukan tanda TB primer/focus primer, gejala riwayat yang menunjukkan ke arah infeksi TB pulmonal. Tidak ditemukan riwayat trauma punggung/trauma fisik lainnya Tidak terdapat keluhan sensibilitas Selain pada pasien ini telah dapat ditegakkan secara klinis menderita paraplegia inferior, namun disini kesulitan untuk mencari etiologi dari gambaran fraktur kompresi thoracal 10-11. Pada px radiologis tidak dapat dengan jelas menilai sebab kerusakan yang terjadi. Oleh karena itu perlu px penunjang yang lebih tinggi seperti MRI, untuk melihat gambaran yang lebih jelas. Penatalaksanaan pasien ini adalah dengan pemberian steroid intravena, pemulihan keselarasan dan stabilisasi dengan cara operatif dan non-operatif atau tergantung kausal.