Anda di halaman 1dari 14

TUGAS MANAJEMEN AGRIBISNIS PERIKANAN Usaha Budidaya Rumput Laut (Seaweed Culture) Metoda Rakit Apung

Disusun Oleh : Christopher Yulian Yudhistira (12199) / BDP Muhammad Khudori Alhasani (12123) / BDP

JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013

BAB I PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG Potensi sumberdaya kelautan dan perikanan kita sangat kaya dan beragam. Laut Indonesia memiliki luas lebih kurang 5,8 juta km2 dengan panjang garis pantai 81.000 km yang diyakini memiliki potensi rumput laut yang sangat tinggi. Selain potensi alami sumberdaya hayati terdapat pula potensi produksi, berupa lahan untuk pengembangan budidaya laut. Terdapat potensi lahan untuk budidaya rumput laut seluas 2 juta ha (20% dari total potensi lahan perairan laut berjarak 5 km dari garis pantai); dengan volume 46,73 juta ton pertahun. Sampai saat ini baru dimanfaatkan sekitar 0,7 juta ton pertahun Rumput laut merupakan salah satu komoditi kelautan dan perikanan yang telah dimanfaatkan sejak lama sebagai komoditi ekspor. Rumput laut ( seaweed ) merupakan bagian terbesar dari tanaman laut. Tercatat sedikitnya ada 555 jenis rumput laut di perairan Indonesia, diantaranya ada 55 jenis yang diketahui mempunyai nilai ekonomis tinggi, diantaranya Eucheuma sp., Gracilaria sp. dan Gelidium sp. Sejak zaman dulu rumput laut telah digunakan manusia sebagai makanan dan obat-obatan. Rumput laut kadang disebut juga ganggang laut tumbuh subur di wilayah Biak (Irian Jaya), Takalar, Sulawesi Selatan, Lampung, Semarang, Sumenep, Maluku, Aceh, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, serta di pantai Bali antar lain di Pulau Nusa Penida, Nusa Dua, Canggu Kabupaten Badung dan Buleleng. Rumput laut merupakan salah satu sumberdaya yang berbasis keunggulan komparatif untuk menggerakkan ekonomi dengan dukungan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Prospek pasar produk olahan rumput laut dimasa mendatang menunjukkan adanya peningkatan; hal ini disebabkan oleh perkembangan yang cukup pesat jumlah penduduk Negara kita dan berkembangnya diversifikasi produk olahan rumput laut. Jumlah penduduk yang cukup besar ini merupakan pasar potensial bagi produk olahan rumput laut; baik sebagai sumber bahan pangan, farmasi, kosmetika maupun industri industri lainnya.

BAB II PEMBAHASAN

I. Aspek produksi A. Proses budidaya Teknik pemeliharaan selama masa budidayanya meliputi kegiatan-kegiatan: penyiapan lahan, masa pemeliharaan dan pemanenan serta pengeringan. Berikut ini perhitungan waktu hari orang kerja (HOK) untuk masing-masing tahapan budidaya. 1. Proses Penyiapan Lahan dan Mengikat Bibit Jenis pekerjaan yang dilakukan pada tahap proses penyiapan lahan meliputi kegiatan (Anggadireja, et.al, 2007, dan data primer) a. Membersihkan hamparan dari tanaman / benda-benda yangmengganggu berupa gulma laut, bulu babi dan bekas pasak kayu yang lapuk. Rumput laut membutuhkan lingkungan yang bersih untuk memperlancar fotosintesis dan penyerapan nutrient. b. Memasang/memancangkan pasak kayu pada dasar pantai. Jarak antara kedua pasak (sisi panjang) masing-masing 20 cm. Ketinggian pasak dari dasar pantai kurang lebih 40 - 60 cm. c. Mengikat bibit rumput laut pada tali ris dengan jarak antara ikatan masing-masing 20 cm. Masing-masing ikatan berisi bibit rumput lautkurang lebih sebanyak 1 ons. d. Mengikatkan tali ris yang berisi ikatan bibit rumpur laut pada pasak-pasak kayu yang sudah ditancapkan. Tali diikatkan pada pasak dengan ketinggian tali dari dasar pantai antara 30 40 cm. 2. Proses Pemeliharaan Setelah tali ris yang berisi ikatan rumput laut diikatkan pada pasak kayu, maka dimulailah tahap proses pemeliharaan. Proses pemeliharaan ini dilakukan setiap hari selama 45 hari. Pada periode tahap pemeliharaan ini, berbagai macam kegiatan yang dilakukan adalah: a. Mengontrol kondisi lahan. Memasang kembali pasak yang roboh dan tali yang lepas karena terkena arus. b. Mengambil dan mengganti rumput laut yang rusak dengan ikatan bibit yang baru.

c. Membersihkan rumput laut dari kotoran yang melekat. Kotoran yang melekat mengganggu fotosintesis yang mengurangi produktivitas rumput laut. Menyingkirkan bulu babi, dan gulma laut yang ada di dekat rumput laut. Beberapa tanaman laut tidak memakan atau predator rumput laut tetapi mereka menjadi pesaing dalam menyerap nutrisi. 3. Proses Pemanenan Proses pemanenan ada dua cara yaitu pemanenan langsung untuk tujuan produksi produks, dan pemanenan untuk pembibitan (Jaya Suastika, IBM, et.al, 2006). Pemanenan untuk tujuan produksi biasanya dilakukan oleh petani pembudidaya, sedangkan untuk tujuan pembibitan dilakukan oleh kebun pembibitan (broodstock centre). Pemanenan dilakukan paling cepat 45 hari setelah rumput laut disemaikan. Pemanenan dilakukan dengan dengan cara melepas tali ris dari ikatannya dari pasak kayu, kemudian membawanya ke pantai dengan media angkut terbuat dari ban. Setelah sampai di pantai rumput laut dilepas dari tali ris dengan cara memotong tali rafia pengikat rumput laut. Selanjutnya rumput laut dijemur selama 2 3 hari kemudian dijual dalam bentuk kering. Bersamaan dengan pelaksanaan proses pemanenan sekaligus dilakukan kegiatan : a. Pemeriksaan dan perbaikan lahan, agar sesegera mungkin dapatdilakukan budidaya. b. Kegiatan mengikat bibit rumput laut pada tali ris dan segera menyemaikannya pada lahan.

4. Proses Pengeringan Setelah pemanenan, perlu dilakukan penanganan hasil panen yang meliputi pengeringan, sortasi, pengepakan , dan penyimpanan. Proses pengeringan ada dua cara, yaitu : pengeringan secara buatan dengan memakai alat tertentu seperti oven dan pengeringan alami dibawah sinar matahari. Selama penjemuran rumput laut tidak boleh terkena air hujan karena akan menimbulkan kerusakan. Proses pengeringan dengan sinar matahari sebagai berikut : 1) Proses pengeringan I ( oleh petani nelayan ). Rumput laut basah dicuci dengan air laut kemudian dijemur dibawah terik matahari sampai menjadi kering hitam selama 3 hari, terjadi penyusutan 70%.

2)

Proses pengeringan II ( oleh eksportir ) Rumput laut kering dari petani direndam semalam dalam bak air tawar dan dibersihkan dari kotoran, kemudian dijemur kembali sampai kering ekspor (warna pucat) terjadi penyusutan 8% lagi atau 88% dari berat basah. Umumnya dalam praktek digunakan rendeman basah : kering = 8 : 1 . Dengan demikian, dari produksi / ha/th tersebut diatas ( Berat panen basah 32.400 kg ) akan diperoleh 4.050 ton kering / ha/th. Setelah kering dan bersih rumput laut tersebut dipak, biasanya dalam proses pengepakam, rumput laut dimasukan ke dalam karung atau plastik, kemudian dipress atau di tindih dengan beban pemberat sehinggga tercapai kepadatan maksimal. Selama penyimpanan digudang rumput laut harus disimpan pada tempat yang kering yaitu dengan cara lantai gudang diberi alas papan atau balok kayu. Rumput laut yang akan diekspor dibagian luar karungnya dituliskan nama jenis barang, nama kode perusahaan, nomor karung, berat bersih dan hasil Indonesia dengan jelas. Pemberian nama tersebut untuk memudahkan dalam pengiriman.

II. Aspek Pemasaran A. Permintaan dan Penawaran Permintaan rumput laut dipengaruhi oleh permintaan pengguna rumput laut, yaitu industri-industri makanan, obat-obatan dan bahan polimer. Perkembangan ekspor rumput laut menurut jumlah dan nilainya dapat disajikan seperti berikut ini (Anang Nugroho, 2006) Tabel 1. Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor Rumput Laut, 2001 2005 Nilai Tahun volume 1000) (US$ Harga Perkembangan US$ / kg. 0,618139 -8,39% 29,94% 23,33% 58,01% 0,552696 0,510707 0,495893 0,634243

Jumlah ( ton )Perkembangan jumlah 2001 2002 2003 2004 2005 27.874 28.560 40.162 51.011 63.020 2,46% 40,62% 27,01% 23,54% 17.230 15.785 20.511 25.296 39.970

Sumber : Ditjen Perikanan Tangkap DKP RI,2006

Dari data dalam tabel diatas diketahui bahwa dalam kurun waktu 4 tahun perkembangan volume ekspor rumput laut di Indonesia yang terjadi ialah: 27.874 ton pada tahun 2001 menjadi 63.020 ton pada tahun 2005. Dari tabel tersebut diketahui pula bahwa selama 4 tahun rata-rata perkembangan nilai ekspor yang dicapai sebesar $22,749,000 (dari 15,785,000 US$ menjadi 39,970,000 US$). Perkembangan volume dan nilai ekspor rumput laut yang demikian tinggi mencerminkan adanya peluang besar di pasar internasional.

Tabel 2. Prediksi Jumlah dan Tingkat Perkembangan Kebutuhan, Produksi dan Peluang Pasar Rumput Laut Eucheuma Cottonii, 2006-2010 Tahun Prediksi Dunia Jumlah (ton 1000) 2006 2007 2008 2009 2010 202 218 235 254 274 7,92% 7,80% 8,09% 7,87% Kebutuhan Prediksi Diproduksi Jumlah Perkembangan 1000) 135 140 145 155 165 3,70% 3,57% 6,90% 6,45% (ton Jumlah luar negeri Prediksi Peluang Jumlah Perkembangan 1000) 67.300 78.100 90.300 98.900 109.000 16.05% 15.62% 9.52% 10.21% (ton Perkembangan Jumlah Pasar

Sumber : DKP,2007 Dari tabel tersebut terlihat bahwa masih terdapat kekurangan pasokan rumput laut di pasaran dunia yang semakin besar yaitu dari 67.300.000 ton pada tahun 2006 menjadi 109.000.000 ton pada tahun 2010. Kekurangan pasokan ini merupakan peluang yang perlu dimanfaatkan oleh Indonesia yang memiliki potensi lahan budidaya rumput laut yang luas dan belum termanfaatkan secara optimal. Penawaran produk rumput laut di tingkat dunia tidak mampu memenuhi permintaan yang ada, begitupun yang terjadi di Indonesia, kemampuan produksi yang ada masih kecil dibanding permintaan. Pada tahun 2005 permintaan rumput laut dunia mencapai 260.571.050 ton berat kering sementara Indonesia hanya mampu memenuhi sejumlah 300.000 ton berat kering. Jadi penawaran rumput laut masih jauh dari kebutuhan atau permintaan. Hal ini menunjukkan bahwa potensi budidaya rumput laut belum dimanfaatkan

secara optimal. Ekspor rumput laut Indonesia dalam posisi belum menggembirakan, karena mayoritas masih dilakukan dalam bentuk raw seaweed atau rumput laut kering atau raw seaweed, sedangkan ekspor hasil olahan rumput laut (ekstrak) masih kecil porsinya. Dengan berpedoman data produksi dan ekspor maka dapat dinyatakan bahwa : 1. Peluang pasar dan perluasan usaha budidaya rumput laut masih sangat terbuka karena realisasi produksi jauh berada di bawah kapasitas produksi dan permintaan rumput laut kering. 2. Ekspor rumput laut Indonesia sebagian besar adalah raw seaweed, dengan demikian terdapat peluang yang cukup besar untuk membuka investasi industri pengolahan ekstrakt rumput laut yang memiliki nilai tambah (value added).

III. Analisis Persaingan dan Peluang Pasar Analisis Posisi daya saing rumput laut Indonesia 1. Posisi Indonesia sebagai pengekspor rumput laut berada pada posisi ke 4, namun nilai dan jumlah ekspor relative kecil dibanding China di posisi pertama. Ekspor Indonesia baik nilai maupun jumlahnya kurang dari 25% ekspor China. 2. Harga rumput laut di Indonesia berada pada urutan terbawah. Berdasarkan dua point penting diatas dapat disimpulkan bahwa nilai ekspor atau harga ekspor yang rendah dari rumput laut disebabkan karena Indonesia mayoritas mengekspor raw seaweed ( rumput laut kering ). Posisi daya saing Indonesia dapat ditingkatkan melalui peningkatan mutu produk. Mutu produk dapat ditingkatkan melalui penggunaan strain bibit yang baik, dan pemrosesan paska panen lebih yang baik. Indonesia sudah saatnya meningkatkan posisi dari pengekspor raw seaweed menjadi ekpsortir produk rumput laut, baik dalam bentuk makanan siap saji atau hasil olahan

A. Harga Harga rumput laut setiap kilonya adalah Rp.6000. Sedangkan total rumput laut yang diproduksi adalah 4050 kg. Jadi total pendapatan kotor yang didapat adalah 4050 x Rp 6000 = 24.300.000

B. Kendala Pemasaran Kendala utama pemasaran utama dan pertama-tama harus ditangani adalah masalah kepercayaan pada produk yang ditawarkan. Kepercayaan akan terbentuk melalui terpenuhinya standard mutu produk rumput laut (Neish, 2006). Aspek kualitas ini banyak dipengaruhi aspek teknologi dan pengolahan pasca panen (DKP, 2006). Dengan melihat pernyataan Neish dan DKP tersebut, maka kendala yang ada sebenarnya adalah tantangan pasar dan tuntutan persaingan untuk selalu meningkatkan mutu. Untuk merebut posisi dan kepercayaan pasar, standard mutu produk rumput laut yang diekspor harus memenuhi berbagai criteria (Neish, 2006): a. Aspek Produk. 1. Kadar air atau tingkat kelembaban max 38% 2. Prosentasi kotoran pada rumput laut maksimum 2% 3. Umur pemanenan minimum 45 hari. 4. Kadar garam rumput laut.

b. Aspek standarisasi produk. 1. Standarisasi produk sesuai dengan kebutuhan pasar. 2. Prosedur standar menggunakan uji laboratorium 3. Diterapkan dan dipatuhinya manual mutu dan produksi 4. Sertifikasi sebagai penjaminan mutu. IV. Aspek keuangan ( Analisa usaha ) Usaha perikanan yang akan dilakukan oleh seseorang pengusaha harus menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis usaha. Analisis usaha merupakan suatu cara untuk mengetahui tingkat kelayakan dari suatu jenis usaha. Tujuan analisa usaha adalah untuk mengetahui tingkat keuntungan pengembalian investasi maupun titik impas suatu usaha. Berbagai antisipasi untuk memperbaiki dan meningkatkan keuntungan perusahaan juga dapat dilakukan apabila dilakukan analisis usaha. Analisis usaha pada usaha perikanan umumnya dihitung untuk periode 1 tahun, seperti pada usaha budidaya pembesaran atau usaha penangkapan.

A. Biaya investasi dan biaya operasional Biaya Investasi Biaya investasi merupakan modal kerja permanen atau biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan barang investasi. Modal investasi umumnya merupakan modal yang biasanya dipakai dalam jangka panjang. Nilai modal investasi akan mengalami penyusutan dari tahun ke tahun bahkan bisa dari bulan ke bulan. Untuk lebih jelas modal investasi usaha budidaya rumput laut dapat dilihat pada tabel di bawah ini Tabel 3. Biaya Investasi Budidaya Rumput Laut No Jenis Peralatan Banyak Harga Satuan (Rp) 1. Tali polietilien 122 rol mm 2. Tali polietilien 84 rol mm 3. Tali polietilien 410 rol mm 4. Pelampung (bola hitam) 5. Pelampung aqua 6 Jangkar tancap) 7. 8. 9. 10. 11. 12. Total Sampan Katinting Mesin Tarpal Waring Tempat jemuran 1 unit 1 unit 1 unit 1 rol 20 meter 1 blok 500.000 2.000.000 3.000.000 120.000 10.000 125.000 500.000 2.000.000 3.000.000 120.000 200.000 125.000 10.345.000 4 5 4 2 2 4 125.000 400.000 750.000 60.000 100.000 31.250 3.466.250 (tiang8 buah 50.000 450.000 2 200.000 botol1750 buah 200 350.000 2 175.000 utama26 buah 50.000 1.300.000 4 325.000 35.000 350.000 2 175.000 250.000 1.000.000 2 500.000 500.000 1.000.000 Jumlah (Rp) Umur Ekonomis (Tahun) 2 500.000 Penyusutan (Rp)

Biaya Operasional Atau Modal Kerja Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan untuk membiayai seluruh kegiatan produksi. Biaya produksi yang dihitung dalam kegiatan pembudidayaan dibagi atas dua yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variabel cost). a. Biaya Tetap Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi tetapi sifatnya tidak terpengaruh oleh besarnya jumlah suatu produk yang dihasilkan. Komponen biaya tetap budidaya rumput laut terdiri dari biaya penyusutan dan biaya perawatan. Total biaya tetap dalam kegiatan budidaya rumput laut adalah sebagai berikut

Tabel 4. Komponen Biaya Dan Total Biaya Pembudidayaan Rumput Laut No 1. 2. Total Biaya Tetap Biaya Penyusutan Biaya Perawatan Jumlah (Rp) 3.466.250 1.500.000 4.966.000

b. Biaya variabel Biaya variabel merupakan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk membiayai seluruh kegiatan produksi sesuai jumlah produksi yang dihasilkan. Komponen biaya variabel untuk budidaya rumput laut adalah sebagai berikut: Tabel 5. Rincian Biaya Variabel Pembudidayaan Rumput Laut No. 1. 2. 3. 4. 5. Total B. Produksi dan Pendapatan Produksi : Lama pemeliharaan 1,5 2 bulan Berat panen basah 32.400 kg Biaya Variabel Bibit Karung Tali raffia BBM Upah Tenaga Kerja Jumlah (Rp) 3.750.000 210.000 15.000 1.170.000 2.400.00 7.545.000

Berat kering 4.050 kg ( basah : kering = 8: 1 ) Harga jual = Rp 6.000,-/ kg x 4.050 kg = Rp 24.300.000 Pendapatan : Penerimaan ( Rp 6.000,-/ kg x 4.050 kg ) = Rp 24.300.000 C. Analisa Laba atau Rugi Laba atau rugi merupakan keuntungan atau kerugian yang diperoleh dari suatu kegiatan usaha. Penghitungan laba atau rugi dapat diketahui dengan cara hasil yang diperoleh dikurangi dengan total biaya yang dikeluarkan. Dari hasil budidaya rumput laut ini diperoleh LABA/RUGI = Penerimaan ( total biaya tetap + total biaya variabel ) = Rp 24.300.000 - ( Rp 4.966.000 + Rp 7.545.000 ) = Rp 24.300.000 - Rp 12.511.000 = Rp 11.789.000 Berarti dalam 1x panen pembudidaya mendapatkan keuntungan sebesar Rp 11.789.000. Dalam 1tahun terdapat 4x panen jadi total pendapatan bersih atau keuntungan yang diperoleh adalah Rp 11.789.000 x 4 = Rp 47.156.000 D. Revenue Cost Ratio (R/C) Revenue Cost Ratio (R/C) dapat dihitung dengan menggunakan rumus hasil yang diperoleh dibagi dengan total biaya yang dikeluarkan.

R/C

= Pendapatan : (Total biaya tetap + Total biaya variable) = Rp 47.156.000 : (Rp 4.966.000 + Rp 7.545.000) = Rp 47.156.000 : Rp 12.511.000 = 3,77

Keuntungan relatif usaha budidaya rumput laut ini dalam satu tahun terhadap biaya yang dipakai dalam kegiatan tersebut adalah 3,77. Hal ini menunjukkan bahwa usaha budidaya rumput laut ini layak karena R/C > 1. E. PayBack Period (PP) PP = Total biaya investasi : Keuntungan x 1 tahun = Rp 10.345.000 : Rp 47.156.000 x 1 tahun = 0,22 Tahun

Jadi, pembudidaya dapat mengembalikan biaya investasi yang telah ditanam sekitar 2 3 bulan dalam sekali panen saja. F. Break Even Point ( BEP ) Analisis Break Even point (BEP) merupakan alat analisis untuk mengetahui batas nilai produksi suatu usaha mencapai titik impas (tidak untung dan tidak rugi). Usaha dinyatakan layak apabila nilai BEP produksi lebih besar dari jumlah unit yang sedang di produksi saat ini. Sementara nilai BEP harus lebih rendah daripada harga yang berlaku saat ini. BEP dapat dibedakan menjadi dua yaitu BEP harga dan BEP produksi. BEP produksi merupakan total biaya dibagi dengan hasil penjualan, sedangkan BEP harga merupakan total biaya dibagi dengan total produksi. BEP produksi dan BEP harga untuk budidaya rumput laut adalah sebagai berikut : Tabel 6. Rincian perhitungan penerimaan usaha Budi daya Rumput laut Penerimaan Produksi (Kg) Harga jual (Rp/Kg) Jumlah (Rp) BEP Produksi 1x Produksi 4.050 6.000 24.300.000 1 tahun 16.200 6.000 97.200.000

= Total biaya operasional : Harga penjualan = Rp 12.511.000 : Rp 6.000 = 2085 kg

Hal ini menunjukkan bahwa titik impas atau kondisi dimana perusahaan tidak memperoleh keuntungan dan tidak memperoleh kerugian akan dicapai pada saat hasil pemanenan mencapai 2085 Kg. BEP Harga = Total biaya operasional : Total Produksi = Rp 12.511.000 : 16.200 = Rp 772,3 Dari perhitungan di atas menunjukkan bahwa pembudidaya akan memperoleh titik impas pada saat harga jual rumput laut sebesar Rp. 772,3/Kg. G. Return On Investment (ROI) ROI adalah nilai keuntungan yang diperoleh dari sejumlah modal. Nilai dapat digunakan untuk mengetahui efisiensi penggunaan modal. Ada beberapa factor yang mempengaruhi nilai ROI, dua diantaranya yang penting yaitu kemampuan pengusaha untuk menghasilkan

laba dan kemampuan pengusaha mengembalikan modal atau cepat tidaknya perputaran modal (penjualan/modal produksi). Dengan analisis ROI, perusahaan dapat mengukur sampai seberapa besar kemampuannya dalam mengembalikan modal yang ditanamkan (Rahardi, 2005). ROI = = = = = Laba Usaha : Modal Produks Laba Usaha : (Total biaya investasi + total biaya operasional) Rp 11.789.000 : (Rp 4.966.000 + Rp 7.545.000) Rp 11.789.000 : Rp 12.511.000 0,94 %

Angka tersebut berarti bahwa dari Rp. 100,00 modal yang diinvestasikan akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 94,00 dalam satu kali panen. H. Benefit Cost Ratio (B/C) Merupakan alat analisis yang lebih ditekankan pada kriteria-kriteria investasi yang pengukurannya diarahkan pada usaha untuk membandingkan, mengukur, serta menghitung tingkat keuntungan usaha perikanan. Semakin kecil nilai rasio ini, semakin besar kemungkinan perusahaan menderita kerugian (Rahardi dkk, 2005). B/C = Hasil Penjualan : Modal Produksi = Hasil Penjualan : (Total biaya investasi + total biaya operasional) = Rp 24.300.000 : (Rp 4.966.000 + Rp 7.545.000) = Rp 24.300.000 : Rp 12.511.000 = 1,94 Nilai tersebut berarti dengan modal Rp. 12.511.000 diperoleh hasil penjualan sebesar 1,94 kali jumlah modal.

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan Usaha budidaya rumput laut menggunakan metode rakit apung ini layak untuk dilaksanakan dan menguntungkan.