Anda di halaman 1dari 7

A.

Pendahuluan Uji hedonik merupakan salah satu metode pengujian mutu hasil perikanan yang prinsip dan teknis pelaksanannya sangat sederhana. Metode pengujian hedonik didasarkan atas kesukaan konsumen terhadap suatu produk. Metode penilaiannya yang mudah dan sederhana karena didasarkan atas rasa suka atau tidaknya panelis terhadap suatu produk yang diujikan ini membuat metode pengujian hedonik banyak digunakan di masyarakat terutama ketika ingin memperkenalkan produk baru.(Kartika, 1988). Uji hedonik merupakan suatu kegiatan pengujian yang dilakukan oleh seorang atau beberapa orang panelis yang mana memiliki tujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan atau ketidaksukaan konsumen tersebut terhadap suatu produk tertentu. Panelis diminta tanggapan pribadinya tentang kesukaan atau ketidaksukaan. Tingkat kesukaan ini disebut skala hedonik contoh tingkat tersebut adalah seperti sangat suka, suka, agak suka, netral, agak tidak suka, tidak suka, dan sangat tidak suka. Uji hedonik paling sering digunakan untuk menilai komoditi sejenis atau produk pengembangan secara organoleptik. Jenis panelis yang bisa digunakan untuk melakukan uji hedonik ini adalah panelis yang tidak terlatih (Hastuti, 1988) Uji organoleptik atau uji indera atau uji sensori merupakan cara pengujian dengan menggunakan indera manusia sebagai alat utama untuk pengukuran daya penerimaan terhadapproduk. Pengujian organoleptik mempunyai peranan penting dalam penerapan mutu. Pengujian organoleptik dapat memberikan indikasi kebusukan, kemunduran mutu dan kerusakan lainnya dari produk. Syarat agar dapat disebut uji organoleptik adalah (Kartika et al, 1988)

ada contoh yang diuji yaitu benda perangsang ada panelis sebagai pemroses respon ada pernyataan respon yang jujur, yaitu respon yang spontan, tanpa

penalaran, imaginasi, asosiasi, ilusi, atau meniru orang lain. Skala hedonik dapat direntangkan menurut rentangan skala yang ikehendakinya. Skala hedonik dapat juga diubah menjadi skala numerik dengan angka mutu menurut tingkat kesukaan. Dengan data numeric ini dapat dilakukan analisis secara statistik. Penggunaan skala hedonik pada prakteknya dapat digunakan untuk mengetahui perbedaan. Sehingga uji hedonic sering digunakan untuk menilai secara organoleptik terhadap komoditas sejenis atau produk pengembangan. Uji hedonik banyak digunakan untuk menilai produk akhir. Penilaian dalam uji hedonik ini bersifat spontan.Ini berarti panelis diminta untuk menilai suatu produk

secara langsung saat itu juga pada saat mencoba tanpa membandingkannya dengan produk sebelum atau sesudahnya. Prinsip pengujian hedonik ini adalah panelis diminta untuk mencoba suatu produk tertentu, kemudian setelah itu panelis diminta untuk memberikan tanggapan dan penilaian atas produk yang baru dicoba tersebut tanpa membandingkannya dengan yang lain (Soekarto, 1985). B. Alat dan Bahan 1. Alat 2. Bahan C. Cara Kerja 1. Petugas menyiapkan sampel yang akan diuji (terdiri dari 4 sampel dengan nomer sampel 258, 581, 835 dan 925) 2. Petugas melakukan pengujian hedonik ke beberapa lokasi yaitu TK, SD, mahasiswa dan umum. 3. Mekanismenya pengujiannya dilakukan dengan membuat beberapa persebaran berdasarkan usia sehingga pengujian dilakukan di TK, SD, kampus Perikanan UGM dan umum untuk mengetahui penerimaan masyarakat yang didasarkan atas usaianya. 4. Petugas langsung mencari panelis dan langsung memberi tahu cara pengujiannya dengan cara panelis mencicipi langsung sampel cake yang disediakan dan petugas menenyakan langsung mengenai pendapat dari panelis terkait komentarnya terhadap masing-masing sampel dan sampel mana yang lebih disukai oleh panelis. Setiap mencicipi satu sampel, panelis diwajibkan minum air mineral yang telah disediakan petugas untuk menetralisir rasa yang dihasilkan. 5. Lakukan analisis data. Sampel cake Spirulina sp. dengan beberapa perlakuan penambahan Spirulina sp. (0%, 5%, 10%, dan 15%) ke dalam cake Air mineral Alat tulis Lembar penilaian (scoresheet) Plastik pembungkus sampel

D. Pembahasan Uji kesukaan pada dasarnya merupakan pengujian yang panelisnya mengemukakan respon berupa senang atau tidaknya terhadap sifat bahan yang diuji. Pengujian hedonik ini menggunakan panelis yang belum terlatih yang diminta untuk mengemukakan pendapatnya secara spontan, tanpa membandingkan dengan sample standar atau sampel-sampel yang diuji sebelumnya. Pengujian ini dipakai untuk menguji reaksi konsumen terhadap suatu bahan atau mengetahui reaksi konsumen terhadap sampel yang diujikan. Dalam duniaekonomi, konsumen adalah semua yang membeli dan menggunakan produk sesuai kebutuhan mereka. Seringkali seorang konsumen dapat menjadi sebuah organisasi atau intuisi daripada seseorang. Sehingga kenyamanan dan kesukaannya sangat perlu diperhatikan (Rahardjo, 1998). Prinsip pengujian hedonik sangatlah sederhana dikarenakan metode pengujian hedonik didasarkan atas rasa suka atau tidaknya konsumen terhadap suatu produk. Pengujian hedonik bertujuan untuk mengetahui tanggapan konsumen terhadap suatu produk apakah mereka suka atau tidak dengan produk tersebut. Layaknya teknik pengujian mutu yang lain, pengujian secara hedonik juga memiliki atribut-atribut yang dinilai seperti kenampakan, aroma, rasa, tekstur dan sebagainya. Hanya saja di dalam pengujian hedonik panelis hanya menilai apakah mereka suka terhadap atribut-atribut tersebut dari masing-masing sampel atau tidak. Pengujian hedonik dilakukan dengan cara mencicipi langsung sampel yang diujikan oleh panelis dan langsung mengisi scoresheet untuk mengetahui tingkat kesukaan dari para konsumen (Rahardjo, 1998). Skala hedonik merupakan skala yang digunakan sebagai parameter uji di dalam pengujian hedonik. Skala hedonik merupakan tingkatan parameter yang menjadi acuan sebagai tingkat kesukaan dari panelis yang melakukan pengujian. Skala hedonik yang paling sering digunakan adalah tingkat kesukaan seperti amat suka, suka, sedikit suka, tidak suka, dan sangat tidak suka. Masing-masing skala tersebut memiliki nilai (poin) sebagai contoh tingkat kesukaan amat suka memiliki poin 5 dan akan semakin menurun hingga tingkatan terakhir yaitu sangat tidak suka (Wagiyono. 2003). Praktikum pengujian hedonik ini memiliki beberapa tahapan kerja. Tahapan pertama yang dilakukan adalah praktikan sebagai petugas mempersiapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan di dalam kegiatan pengujian hedonik. Setelah semua alat dan bahan telah dipersiapkan, tahapan selanjutnya yang dilakukan adalah langsung menuju lokasi pengujian. Lokasi pengujian yang diberikan adalah didasarkan atas umur yaitu praktikan dibagi menjadi 4 kelompok yang akan melakukan uji hedonik di 4 lokasi yang berbeda yaitu TK, SD,

Kampus Perikanan UGM, dan umum (Pasar Beringharjo). Setelah sampai di lokasi pengujian petugas langsung lahan garapan dan mencari panelis secara random (acak) untuk mencicipi sampel yang disediakan dan kemudian melakukan penilaian suka atau tidaknya terhadap sampel tersebut. Ketika panelis mencicipi sampel yang diberikan, petugas mencatat pendapat dari para panelis terkait suka atau tidaknya panelis terhadap sampel yang diberikan. Setiap pergantian sampel uji petugas memberikan aie mineral hal ini bertujuan untuk menetralisir rasa dari tiap sampel yang dicicipi sehingga rasa dari satu sampel tidak mempengaruhi rasa dari sampel lain sehingga data yang dihasilkan lebih valid. Dalam uji hedonik, sampel yang digunakan ada 4 macam yaitu 3 cake dengan konsentrasi Spirulina yang berbeda dan 1 cake tanpa penambahan Spirulina. Cake yang akan diujikan dimasukkan ke dalam plastik kue, yang mana plastik tersebut diberi kode pada label kertas dengan 3 angka yang berbeda. Kode yang digunakan yaitu 258, 581, 835 dan 925. Tanggapan yang diberikan oleh panelis adalah tanggapan yang bersifat sangat pribadi. Setiap tanggapan yang diberikan oleh panelis diberi kode berupa angka sesuai dengan tingkatannya. Jika panelis memberikan tanggapan sangat suka terhadap cake, maka diberi nilai 5 dan jika panelis memberi tanggapan amat tidak suka terhadap cake tersebut maka diberi nilai 1. Begitu juga dengan tekstur, kenampakan, dan aroma jika panelis memberikan tanggapan berupa sangat suka, maka diberi nilai 5, tetapi jika panelis memberikan tanggapan amat tidak suka maka diberi nilai 1. Analisis data menggunakan uji Anova diperoleh hasil F hitung selalu lebih besar dari F tabel sehingga dapat disimpulkan bahwa ada beda nyata antar perlakuan yaitu kesukaan panelis berdasarkan tingkat umur terhadap aroma. Untuk mengetahui perlakuan mana yang berbeda antar masing-masing perlakukan maka diperlukan uji lanjut, salah satunya dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Berdasarkan uji BNT yang telah dilakukan, diperoleh semua perlakuan berbeda nyata kecuali, sampel 258 dan 581 pada umur TK, sampel 258 TK dan 925 angkatan 2012, sampel 581 TK dan 925 SD Kelas 3, sampel 925 dan 258 pada umur TK dan seterusnya. Berdasarkan tingkat umur, diperoleh aroma yang paling disukai pada tingkat umur masyarakat umum adalah sampel 581 (3,452), pada tingkat umur SD kelas 1 adalah sampel 925 (2,622) dan aroma yang paling disukai pada tingkat umur SD kelas 3 adalah 258 (3), mahasiswa adalah sampel 581 (3,679) dan TK adalah sampel 835 (1,509).

E. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan 1. Uji hedonik merupakan suatu kegiatan pengujian yang dilakukan oleh seorang atau beberapa orang panelis yang mana memiliki tujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan atau ketidaksukaan konsumen tersebut terhadap suatu produk tertentu. 2. Pengujian hedonik bertujuan untuk mengetahui tanggapan konsumen terhadap suatu produk apakah mereka suka atau tidak dengan produk tersebut. 3. Aroma yang paling disukai pada tingkat umur masyarakat umum adalah sampel 581 (3,452), pada tingkat umur SD kelas 1 adalah sampel 925 (2,622) dan aroma yang paling disukai pada tingkat umur SD kelas 3 adalah 258 (3), mahasiswa adalah sampel 581 (3,679) dan TK adalah sampel 835 (1,509). Saran Sebaiknya pengujian hedonik lebih diperbaiki secara teknisnya seperti pembagian lokasi pengujian, anggota dan persiapan sampel sehingga kegiatan pengujian dapat berjalan lebih baik. F. Daftar Pustaka Kartika, B., B. Hastuti., W. Supartono. 1988. Pedoman Uji Inderawi Bahan Pangan. PAU Pangan dan Gizi UGM. Yogyakarta Soekarto, Soewarno. 1985. penilaian organoleptik. PT. Bhratara Karya Aksara :Jakarta. Hastuti., W. Supartono. 1988. Pedoman Uji Inderawi Bahan Pangan. PAU Pangan dan Gizi UGM. Yogyakarta. Rahardjo, J. T. M. 1998. Uji Inderawi. Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Wagiyono. 2003. Menguji Kesukaan Secara Organoleptik. Bagian Proyek Pengembangan Kurikulum Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. G. Lampiran