Anda di halaman 1dari 17

ANALISIS KETIMPANGAN WILAYAH DAN DISPARITAS SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN DI KABUPATEN TANGERANG, PROVINSI BANTEN

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Ekonomi (TKP 254)

Dosen Pembimbing : Dr. Drs. PM. Brotosunaryo, MSP

Disusun Oleh:

Inas Nadia Hanifah 21040112130081 Kelas A

PROGRAM STUDI SARJANA I JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Perencanaan adalah suatu proses mempersiapkan seperangkat keputusan yang

diproyeksikan untuk melakukan tindakan di masa depan (Dror, 1963). Menurut Wilson, perencanaan meliputi analisis, kebijakan dan rancangan yang berhubungan dengan empat tahapan dasar, yaitu menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan, merumuskan keadaan saat ini, mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan, dan mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan. Dalam merencanakan suatu wilayah atau kota banyak hal yang harus menjadi pertimbangan, seperti kondisi fisik dan non fisik di wilayah tersebut. Tujuan dari perencanaan wilayah dan kota itu sendiri adalah merancang pembangunan yang menjadi indikator utama kemajuan suatu wilayah atau kota. Dinamika pembangunan suatu wilayah dipengaruhi oleh laju pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Oleh karena itu semua wilayah mencanangkan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi untuk kemajuan pembangunan wilayahnya. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor internal (kemampuan wilayah dalam menggerakkan sektor-sektor andalannya dalam menopang kegiatan perekonomian) dan faktor eksternal (perdagangan antar wilayah atau luar negeri, pertumbuhan ekonomi sekitarnya, dan kebijakan pemerintah pusat). Dalam pelaksanaan pembangunan, timbul masalah baru yaitu terjadinya ketimpangan wilayah. Ketimpangan wilayah menjadi signifikan ketika wilayah dalam suatu negara terdiri atas beragam potensi sumber daya alam, letak geografis, kualitas sumber daya manusia, ikatan etnis atau politik sehingga sangat berpotensi menggoncang stabilitas sosial dan politik nasional. Salah satu jalan untuk mengurangi ketimpangan wilayah ialah menyelenggarakan pembangunan dengan mengedepankan konsep pemerataan di berbagai wilayah di Indonesia. Pada saat ini ketimpangan antar wilayah di Indonesia yang terlihat mencolok adalah ketimpangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Namun di luar itu ketimpangan antar kabupaten atau kota juga sering terjadi, sebagai contoh ketimpangan wilayah di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten yang akan menjadi topik pembahasan dalam makalah ini. Dalam makalah ini dibahas analisis ketimpangan wilayah dan ketimpangan sektoral lapangan usaha khususnya sektor

industry pengolahan di Kabupaten Tangerang berdasarkan data time series dalam kurun waktu lima tahun (tahun 2005-2009).

1.2.

Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam makalah yaitu sebagai berikut: 1. Bagaimana analisis ketimpangan wilayah yang terjadi di Kabupaten Tangerang berdasarkan indeks Williamson? 2. Bagaimana pengaruh peranan sektor industri pengolahan terhadap perkembangan PDRB di Kabupaten Tangerang?

1.3.

Tujuan dan Sasaran 1.3.1. Tujuan 1. Untuk mengetahui dan menganalisis ketimpangan wilayah yang terjadi di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten 2. Untuk mengetahui peranan sektor industri pengolahan dan pengaruhnya terhadap perkembangan PDRB di Kabupaten Tangerang. 1.3.2. Sasaran Sasaran dalam makalah ini yaitu menyajikan, melakukan perhitungan, menganalisis dan menginterpretasikan ketimpangan wilayah dan pengaruh sektor industri terhadap PDRB Kabupaten Tangerang. Sasaran dalam makalah ini yaitu sebagai berikut : Menentukan wilayah studi yang akan dikaji yaitu Kabupaten Tangerang Mencari data PDRB perkapita, PDRB ADHB berdasarkan lapangan usaha, serta jumlah penduduk Kabupaten Tangerang dan Provinsi Banten melalui sumber data sekunder seperti data dari internet (website BPS), maupun dari penelitian sebelumnya Melakukan perhitungan dengan metode Indeks Williamson dan melakukan identifikasi dan analisis untuk memperoleh nilai ketimpangan (baik

ketimpangan wilayah maupun ketimpangan secara sektoral dengan adanya sektor industry pengolahan) secara time series (tahun 2005-2009) Melakukan penyimpulan dan memberikan rekomendasi sebagai hasil akhir dari makalah ini.

1.4.

Ruang Lingkup Ruang lingkup dalam makalah ini terbagi menjadi dua, yaitu ruang lingkup wilayah dan ruang

lingkup materi. 1.4.1. Ruang Lingkup Wilayah Ruang lingkup wilayah dalam makalah ini berupa letak geografis Kabupaten Tangerang yang terbagi sebagai berikut: 1.4.2. Sebelah Utara Sebelah Barat Sebelah Selatan Sebelah Timur : Laut Jawa : Kabupaten Serang dan Lebak : Kabupaten Bogor dan Kota Depok : Provinsi DKI Jakarta dan Kota Tangerang

Ruang Lingkup Materi Ruang lingkup materi dalam makalah ini yaitu menyajikan data, melakukan perhitungan, mengidentifikasi, mendeskripsikan dan menganalisis ketimpangan wilayah di Kabupaten Tangerang berdasarkan data PDRB perkapita kabupaten dan Provinsi serta menganalisis pengaruh sektor industri pengolahan terhadap terjadinya ketimpangan di Kabupaten Tangerang melalui hasil perhitungan indeks Williamson dari tahun 2005-2009.

1.5.

Sistematika Penulisan Makalah ini terdiri dari lima bab yaitu pendahuluan, pendekatan dan metode perhitungan,

analisis data, dan terakhir adalah penutup berupa kesimpulan dan saran. Berikut penjelasan lebih detailnya. BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini terdiri dari beberapa subbab yaitu latar belakang, perumusan masalah, tujuan dan sasaran, ruang lingkup, dan sistematika penulisan. BAB II PENDEKATAN DAN METODE PERHITUNGAN Dalam bab ini berisi kajian teori yang terdiri dari definisi ketimpangan wilayah beserta faktor yang mempengaruhi, definisi PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), dan definisi metode perhitungan indeks Williamson.

BAB III

ANALISIS DATA Dalam bab ini mendeskripsikan hasil analisis perhitungan indeks Williamson yang menggambarkan tingkat ketimpangan wilayah dan tingkat ketimpangan secara sektoral akibat adanya industri pengolahan di Kabupaten Tangerang.

BAB V

PENUTUP Dalam bab ini terdiri dari dua subbab yang berupa kesimpulan dan saran yang merupakan hasil akhir dari makalh ini.

BAB 2 PENDEKATAN DAN METODE PERHITUNGAN

2.1.

Pendekatan dan Metode Perhitungan 2.1.1. Definisi Disparitas Regional Disparitas Regional atau Ketimpangan antar wilayah adalah suatu proses yang akan terjadi dan tidak dapat dihindari seiring dengan kemajuan dalam pembangunan sosial ekonomi negara, sampai kemudian menurun kembali dengan sendirinya setelah mencapai titik balik (polarization reversal). Ekonomi 1. Konsentrasi Kegiatan Ekonomi wilayah Faktor-faktor Penyebab Ketimpangan Pembangunan

2. Alokasi Investasi 3. Tingkat mobilitas faktor produksi yang rendah antar daerah 4. Perbedaan Sumber Daya Alam antar wilayah 5. Perbedaan Kondisi demografis antar wilayah 6. Kurang Lancarnya Perdagangan antar wilayah.

1.

Konsentrasi Kegiatan Ekonomi Wilayah Konsentrasi kegiatan ekonomi yang tinggi di daerah tertentu merupakan

salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya ketimpangan pembangunan antar daerah. Ekonomi dari daerah dengan konsentrasi tinggi cenderung tumbuh pesat dibandingkan, sedangkan daerah yang tingkat konsentrasi ekonomi rendah cenderung mempunyai tingkat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah. Seperti ketimpangan pembangunan sektor industri manufaktur atau tingkat industrialisasi antar propinsi (wilayah) sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya ketimpangan ekonomi antar wilayah. Industri manufaktur merupakan sektor ekonomi yang secara potensial sangat produktif dilihat dari sumbangan terhadap pembentukan PDB atau PDRB. Contohnya industri manufaktur Jawa dan luar Jawa. Karena di luar Jawa terdapat keterbatasan: - Pasar lokal kecil - Infrastruktur terbatas - Kurang Sumber Daya Manusia

2.

Alokasi Investasi Berdasarkan teori Pertumbuhan Ekonomi dari Harrod Domar menerangkan

bahwa adanya korelasi positip antara tingkat investasi dan laju pertumbuhan ekonomi. Artinya rendahnya investasi disuatu wilayah membuat pertumbuhan ekonomi dan tingkat pendapatan masyarakat per kapita di wilayah tersebut rendah karena tidak ada kegiatan kegiatan ekonomi yang produktif. 3. Tingkat Mobilitas Faktor Produksi Yang Rendah Antar Wilayah Kurang lancarnya mobilitas faktor produksi seperti tenaga kerja dan kapital antar propinsi merupakan penyebab terjadinya ketimpangan ekonomi regional. Hubungan antara faktor produksi dan kesenjangan pembangunan atau pertumbuhan antar propinsi dapat delaskan dengan pendekatan mekanisme pasar.Perbedaan laju pertumbuhan ekonomi akan menyebabkan perbedaan pendapatan perkapita antar wilayah dengan asumsi bahwa mekanisme pasar output atau input bebas. ( tanpa distorsi atau rekayasa ). Menurut teori Arthur Lewis Unlimited Supply OF Labour Jika perpindahan faktor produksi antar daerah tidak ada hambatan, maka pada akhirnya pembangunan ekonomi yang optimal antar daerah akan tercapai dan semua daerah akan lebih baik (Pareto Optimum atau better off ). Mobilitas tenaga kerja cenderung bergerak dari daerah yang tingkat upahnya rendah ke daerah yang tingkat upahnya lebih tinggi. Dengan asumsi ada lowongan kerja. Begitu juga dengan kapital yang cenderung berpindah dari daerah yang tingkat kapital rendah ke daerah yang kapitalnya tinggi. 4. Perbedaan Sumber Daya Alam ( SDA ) Antar Wilayah Menurut Kaum Klassik Pembangunan ekonomi di daerah yang kaya SDA akan lebih maju dan masyarakatnya lebih makmur dibandingkan di daerah yang miskin SDA. Dalam arti SDA dilihat sebagai modal awal untuk pembangunan yang selanjutnya harus dikembangkan selain itu diperlukan fakor-faktor lain yang sangat penting yaitu tehnologi dan SDM. Semakin pentingnya penguasaan tehnologi dan peningkatan SDM, faktor endowment lambat laun akan tidak relevan. 5. Perbedaan Kondisi Domografi antar wilayah Ketimpangan Ekonomi Regional di Indonesia juga disebabkan oleh perbedaan kondisi geografis antar wilayah. Terutama dalam hal jumlah dan pertumbuhan

penduduk, tingkat kepadatan penduduk, pendidikan, kesehatan, disiplin masyarakat dan etos kerja. Dilihat dari sisi permintaan, jumlah penduduk yang besar merupakan potensi besar bagi pertumbuhan pasar, yang berarti faktor pendorong bagi pertuimbuhan kegiatan ekonomi.. Dari sisi penawaran jumlah populasi yang besar dengan pendidikan dan kesehatan yang baik, disiplin yang tinggi, etos kerja tinggi merupakan aset penting bagi produksi. 6. Kurang Lancarnya Perdagangan antar Wilayah Kurang lancarnya perdagangan antar daerah (intra-trade) merupakan unsur menciptakan ketimpangan ekonomi regional. Tidak lancarnya Intra-trade disebabkan: Keterbatasan transportasi dan komunikasi. Tidak lancarnya arus barang dan jasa antar daerah mempengaruhi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah melalui sisi permintaan dan sisi penawaran. Sisi permintaan: kelangkaan akan barang dan jasa untuk konsumen mempengaruhi permintaan pasar terhadap kegiatan ekonomi lokal yang sifatnya komplementer dengan barang jasa tersebut. Sisi penawaran: sulitnya mendapat barang modal, input antara, bahan baku atau material lain yang dapat menyebabkan kegiatan ekonomi suatu wilayah akan lumpuh dan tidak beroperasi optimal.

2.1.2.

Definisi PDRB PDRB adalah jumlah nilai tambah bruto yang dihasilkan seluruh unit dalam wilayah

tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga pada setiap tahun, sedangkan PDRB atas harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar perhitungannya. PDRB atas dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran struktur ekonomi dari tahun ke tahun. Dengan demikian, PDRB merupakan indikator untuk mengatur sampai sejauh mana keberhasilan pemerintah dalam memanfaatkan sumber daya yang ada, dan dapat digunakan sebagai perencanaan dalam pengambilan keputusan. Ada beberapa konsep definisi yang perlu diketahui :

1.

Produk Domestik Regional Bruto atas Dasar Harga Pasar PDRB atas dasar harga pasar merupakan penjumlahan nilai tambah bruto dari

seluruh sektor perekonomian didalam suatu wilayah dalam periode tertentu, biasanya satu tahun, yang dimaksud dengan nilai tambah adalah selisih nilai produksi dengan biaya antara. 2. Produk Domestik Regional Neto atas Dasar harga Pasar PDRN atas dasar harga pasar merupakan PDRB yang dikurangi dengan penyusutan. Penyusutan dikeluarkan dari PDRB oleh karena susutnya barang modal selama berproduksi. 3. Produk Domestik Regional Neto atas Dasar Biaya Faktor PDRN atas dasar biaya faktor adalah PDRN atas dasar harga pas dikurangi pajak tak langsung ditambah dengan subsidi dari pemerintah. 4. Pendapatan Regional PDRN atas dasar biaya faktor merupakan jumlah balas jasa faktor-faktor produksi dalam proses produksi, dan tidak seluruhnya menjadi milik suatu daerah/wilayah karena termasuk pula didalamnya pendapatan penduduk wilayah lain. Demikian sebaliknya, PDRN tersebut harus pula ditambah dengan pendapatan yang diperoleh daerah lain. Bila pendapatan penduduk yang masuk dan keluar dapat dicatat dengan pendapatan neto antar wilayah/daerah didapatkan pendapatan regional (Produk Regional Bruto). Karena sulitnya memperoleh data pendapatan masuk dan keluar suatu wilayah maka PDRN atas dasar biaya faktor diasumsikan sama dengan pendapatan regional atau pendapatan neto 5. Pendapatan Regional Perkapita Pendapatan perkapita merupakan pendapatan yang diterima oleh masingmasing perkepala penduduk. Pendapatan perkapita tersebut dihasilkan dengan membagi pendapatan regional/produk regional neto dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. 6. Produk Domestik dan Produk Regional Ada perbedaan pengertian dalam literatur ekonomi mengenai produk domestic dengan produk regional. Kenyataan menunjukan bahwa sebagian kegiatan produksi yang dilakukan disuatu daerah, beberapa faktor produksinya berasal dari wilayah/ daerah lain seperti tenaga kerja, mesin dan modal. Sehingga nilai produksi di

wilayah atau domestic tidak sama dengan pendapatan yang diterima oleh penduduk tersebut, yang pada akhirnya menimbulkan perbedaan antara produk domestik dan produk regional. Produk regional merupakan produk domestik yang ditambahkan pendapatan yang mengalir kedalam wilayah tersebut, kemudian dikurangi pendapatan yang mengalir keluar wilayah. Sehingga dapat dikatakan produk regional pada dasarnya merupakan produk yang betul-betul dihasilkan oleh faktor-faktor produksi yang dimiliki penduduk dalam wilayah yang bersangkutan. 7. Pendapatan Regional Atas Dasar Harga Barlaku dan Harga Konstan Pendapatan regional atas dasar harga konstan.didapat melalui operasi pengurangan Pendapatan regional atas dasar harga berlaku dengan perkembangan inflasi. PDRB juga merupakan salah satu faktor yang dapat digunakan untuk mengetahui ketimpangan di suatu wilayah dengan melakukan perhitungan, salah satunya dengan cara perhitungan Indeks Wiliamson.

2.1.3.

Definisi Indeks Williamson Indeks Williamson merupakan salah satu indeks yang paling sering digunakan untuk

melihat disparitas antar wilayah. Williamson (1975) mengembangkan indeks ketimpangan wilayah yang diformulasikan sebagai berikut :

Keterangan : Vw Yi fi n = Indeks ketimpangan Williamson Kabupaten Tangerang = PDRB per kapita Tahun 2005-2009 Kabupaten Tangerang = Rata-rata PDRB perkapita Tahun 2005-2009 Provinsi Banten = Jumlah penduduk Kabupaten Tangerang = Total penduduk Provinsi Banten

Indeks ketimpangan Williamson akan menghasilkan indeks yang lebih besar atau sama dengan nol. Jika semua Yi= Y maka akan dihasilkan indeks = 0, yang berarti tidak adanya ketimpangan ekonomi antar daerah. Indeks lebih besar dari 0 (nol) menunjukkan adanya

ketimpangan ekonomi antar wilayah. Semakin besar indeks yang dihasilkan semakin besar tingkat ketimpangan antar provinsi di suatu Negara. Penjelasan lebih detailnya sebagai berikut Untuk mengukur ketimpangan Ekonomi ( pendapatan ) antar wilayah Indeks Williamson Jika besarnya Vw berkisar antara 0 1: o o o Bila Vw = <0,3 artinya : ketimpangan ekonomi wilayah rendah Bila Vw = 0,3 - 0,4 artinya ketimpangan ekonomi wilayah sedang Bila Vw = >0,4 artinya ketimpangan ekonomi wilayah tinggi.

Jika besarnya Vw adalah 0 < Vw < 1: o o o o Vw = 0, berarti pembangunan wilayah sangat merata Vw = 1, berarti pembangunan wilayah sangat tidak merata (kesenjangan sempurna) Vw~0, berarti pembangunan wilayah semakin mendekati merata Vw~1, berarti pembangunan wilayah semakin mendekati tidak merata.

BAB 3 ANALISIS

3.1.

Analisis Ketimpangan Wilayah Ukuran ketimpangan pendapatan diperlukan untuk menganalisis besarnya tingkat

kesenjangan antarwilayah/daerah melalui perhitungan Indeks Williamson. Dasar perhitungannya adalah dengan menggunakan PDRB per kapita dalam kaitannya dengan jumlah penduduk per daerah. Kesenjangan pendapatan antar kabupaten/kota di Kabupaten Tangerang dilakukan dengan menggunakan Indeks Williamson. Berikut tabel data terkait beserta hasil perhitungan Indeks Williamson.

Keterangan PDRB perkapita Kab. Tangerang

2005 6.482.109

2006 8.329.950

2007 8.915.643

2008 9.826.884

2009 11.285.650

PDRB Provinsi Banten

9.372.525

10.610.241

11.407.775

12.131.533,91

14.706.861

Jumlah penduduk Kab. Tangerang

2.331.860

2.456.190

2.450.852

2.508.967

3.676.684

Jumlah penduduk Provinsi Banten

9.312.318

9.571.264

9.835.719

10.106.576

10.383.949

Indeks Williamson

0,22

0,14

0,14

0,12

0,18

Sumber: Data BPS dan Tangerang dalam Angka (sudah diedit)

Berdasarkan hasil perhitungan Indeks Williamson diperoleh hasil seperti yang tertera pada tabel, terlihat adanya ketimpangan pendapatan di kabupaten Tangerang dari tahun 2005 hingga tahun 2009. Terlihat pada tahun 2005 hasil perhitungan indeks Williamson menunjukkan angka yang

paling tinggi dari tahun lainnya yaitu sebesar 0,22. Karena hasil tersebut kurang dari 0,3 berarti ketimpangan ekonomi di wilayah tersebut cukup rendah, dan karena hasil tersebut mendekati nol artinya pembangunan wilayah di Kabupaten Tangerang mendekati merata. Hal ini juga berlaku untuk tahun 2006-2009 yang hasil Indeks Williamsonnya menunjukkan angka kurang dari 0,3 dan mendekati nol. Secara keseluruhan dapat disimpulkan, dalam kurun waktu lima tahun (2005-2009) ketimpangan ekonomi (pendapatan) antar wilayah di Kabupaten Tangerang termasuk kategori rendah yang berimplikasi terhadap pembangunan di wilayah tersebut yang semakin mendekati merata. Perkembangan Indeks Williamson dari tahun ke tahun untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

Indeks Williamson
0.25 0.20 0.15 0.10 0.05 0.00 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Sumber: Hasil Analisis Inas Nadia Hanifah, Kelas A Indeks Williamson

3.2.

Analisis Disparitas Sektoral Identifikasi dan analisis disparitas sektoral dilakukan untuk mengetahui pengaruh dan

sumbangan sektor tertentu dalam kaitannya dengan terjadinya kesenjangan di suatu wilayah. Dalam makalah ini difokuskan terhadap pengaruh dan sumbangan sektor industri pengolahan terhadap ketimpangan wilayah di Kabupaten Tangerang. Disparitas sektoral dihitung menggunakan metode Indeks Williamson dengan data utama yaitu PDRB ADHB berdasarkan lapangan usaha dalam kurun waktu lima tahun (2005-2009). Berikut ini disajikan data-data terkait yang berhubungan dengan perhitungan Indeks Williamson seperti data PDRB ADHB dengan dan non industry, serta jumlah penduduk Kabupaten Tangerang dan Provinsi Banten.

Tahun

2005 2006 2007 2008

PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (juta) Dengan Industri Non Industri Pengolahan Pengolahan Kab. Provinsi Kab. Provinsi Tangerang Banten Tangerang Banten 20.770.564 84.622.803,32 9.757.996 42.524.123,06 24.415.940 25.305.221 28.437.349 97.867.273,39 107.499.652,42 122.490.654,25 12.161.840 10.503.847 11.854.601 49.224.936,65 56.113.307.47 67.063.691,37

Jumlah Penduduk Kab. Tangerang 2.331.860 2.456.190 2.450.852 2.508.967 Provinsi Banten 9.312.318 9.571.264 9.835.719 10.106.576

2009

30.884.648

133.048.007,12

13.494.320

75.607.328,75

3.676.684

10.383.949

Sumber: Data BPS dan Tangerang dalam Angka (sudah diedit)

Setelah dilakukan perhitungan dengan metode Indeks Williamson berdasarkan data-data diatas diperoleh hasil Indeks Williamson tiap tahun sebagai berikut:

Tahun 2005 2006 2007 2008 2009

Indeks Williamson Dengan Industri Non Industri Pengolahan Pengolahan 0,378 0,386 0,380 0,382 0,383 0,457 0,381 0,406 0,410 0,489

Sumber: Analisis Inas Nadia Hanifah, Kelas A

0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Sumber: Analisis Inas Nadia Hanifah, Kelas A dengan industri pengolahan nonindustri pengolahan

Berdasarkan data pada tabel dan grafik diatas, nilai indeks Williamson dengan industri pengolahan dan nonindustri pengolahan dalam kurun waktu lima tahun (2005-2009) mengalami peningkatan di tiap tahunnya dan menunjukkan angka yang berkisar 0,3-0,4 yang artinya sektor industry pengolahan memiliki pengaruh sedang terhadap ketimpangan wilayah Kabupaten Tangerang. Tingkat ketimpangan terbesar terjadi pada tahun 2009 yang terlihat pada hasil perhitungan indeks Williamson yang bernilai 0,489.

BAB 4 PENUTUP

4.1.

Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis pada bab sebelumnya diperoleh kesimpulan bahwa Kabupaten

Tangerang memiliki tingkat ketimpangan antar wilayah yang kecil, yang artinya distribusi pendapatan dan pembangunan di wilayah tersebut sudah cukup merata. Selain itu adanya sektor industri pengolahan di Kabupaten Tangerang memiliki pengaruh kecil terhadap ketimpangan distribusi pendapatan (ekonomi) yang berimplikasi pada semakin kecilnya ketimpangan antar wilayah di kabupaten tersebut.

4.2.

Saran Untuk mengurangi ketimpangan pendapatan antar wilayah di Kabupaten Tangerang maka

pemerintah daerah harus lebih memperhatikan daerah-daerah yang kaya akan sumberdaya ekonomi, selain itu potensi tersebut juga harus didukung dengan perbaikan infrastruktur yang ada, sehingga dengan sarana dan prasarana yang tersedia diharapkan dapat meningkatkan kualitas SDM di wilayah tersebut. Hal ini dilakukan agar dapat meningkatkan kegiatan perekonomian di daerah yang yang kurang diberdayakan agar dapat berjalan lebih baik. Secara tidak langsung dengan membaiknya infrastruktur akan memberikan dampak terhadap perbaikan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/52396/BAB%20III%20Metode%20Penelitian.pdf ?sequence=5. Tanpa angka tahun. Metode Penelitian. Diunduh Rabu, 12 Juni 2013. Dewangga, Linggar. 2011. Analisis Pengaruh Ketimpangan Distribusi Pendapatan Terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Provinsi Jawa Tengah Periode 2000-2007.

http://eprints.undip.ac.id/27371 /1/Skripsi%28r%29.pdf. Diunduh Rabu, 12 Juni 2013. Irawan, Wendi, dkk. 2010. Analisis Ketimpangan Wilayah Kabupaten Pemalang.

http://www.scribd.com/doc/66614642/Analisis-Ketimpangan. Diunduh Rabu, 12 Juni 2013. Undulifolia, Crossandra. 2012. Analisis Pertumbuhan Ekonomi dan Tingkat Ketimpangan Antar Kecamatan di Kabupaten Kudus tahun 2005-2009 /1/UNDULIFOLIA.pdf. Diunduh Rabu, 12 Juni 2013. Wahyuindra. 2012. Ketimpangan Antar Wilayah dan Pendapatan, dalam Blogspot. http://myworldwahyuindra.blogspot.com/2012/03/ketimpangan-antar-wilyah-dan-pendapatan.html. Diunduh Rabu, 12 Juni 2013. http://banten.bps.go.id/dda2012_html/. Tanpa angka tahun. Banten dalam Angka 2012. Diunduh Rabu, 12 Juni 2013. http://www.scribd.com/doc/25114724/Definisi-PDRB. Tanpa angka tahun. Definisi PDRB. Diunduh Rabu, 12 Juni 2013. Imelia, Emilia. 2006. Modul Ekonomi Regional. http://blog.umy.ac.id/ghea/files/2011/12 /ekonomiregional.pdf. Diunduh Rabu, 12 Juni 2013. http://eprints.undip.ac.id/35995