Anda di halaman 1dari 2

LATAR BELAKANG MASALAH

Siswa adalah seorang peserta sebagai pelaku pencari, penerima dan penyimpan isi pelajaran yang dibutuhkannya untuk mencapai tujuan. (Aminuddin Rasyad, 2000 : 105) Pada umumnya mata pelajaran sejarah diberikan di setiap sekolah-sekolah. Dengan adanya mata pelajaran tersebut siswa diharapkan dapat meneladani sejatah perjuangan bangsanya. Dengan begitu sikap patriotisme dan nasionalisme dapat tumbuh dan diaplikasiakan di kehidupan. Nasionalisme merupakan jiwa bangsa Indonesia yang akan terus melekat selama bangsa Indonesia masih ada. Nasionalisme bukanlah suatu pengertian yang sempit bahkan mungkin masih lebih kaya lagi pada zaman ini. Ciri-ciri nasionalisme di atas dapat ditangkap dalam beberapa definisi nasionalisme sebagai berikut : 1. Nasionalisme ialah cinta pada tanah air, ras, bahasa atau sejarah budaya bersama. 2. Nasionalisme ialah suatu keinginan akan kemerdekaan politik, keselamatan dan prestise bangsa. 3. Nasionalisme ialah suatu kebaktian mistis terhadap organisme sosial yang kabur, kadangkadang bahkan adikodrati yang disebut sebagai bangsa atau Volk yang kesatuannya lebih unggul daripada bagian-bagiannya. 4. Nasionalisme adalah dogma yang mengajarkan bahwa individu hanya hidup untuk bangsa dan bangsa demi bangsa itu sendiri. Nasionalisme tersebut berkembang terus memasuki abad 20 dengan kekuatankekuatan berikut : (1) keinginan untuk bersatu dan berhasil dalam me-nyatukan wilayah dan rakyat; (2) perluasan kekuasan negara kebangsaan; (3) pertumbuhan dan peningkatan kesa-daran kebudayaan nasional dan (4) konflik-konflik kekuasaan antara bangsa-bangsa yang terangsang oleh perasaan nasional. Kini nasionalisme mengacu ke kesatuan, keseragam-an, keserasian, kemandirian dan agresivitas. (Boyd C. Shafer, 1955, hal. 168). Salah satu menurunnya rasa nasionalisme siswa dewasa ini disebabkan karena kurang berkualitasnya mata pelajaran IPS Sejarah yang diterima oleh siswa. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk memujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Agar peserta didik secara aktif mengembangankan potensinya untuk memikul kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadan kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara (UU Sisdiknas RI No. 29/2003 : Pasal 1 )

Menurut Hamalik (2001 : 171) menyatakan bahwa pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri dan aktivitas sendiri, karena peserta didik memiliki beraneka ragam potensi hidup yang sedang berkembang. Di dalam dirinya terdapat prinsip aktif, keinginan untuk berbuat dan bekerja sendiri. Pendidikan perlu mengarahkan tingkah laku dan perbuatan menuju ketingkat perkembannya yang di inginkan. Potensi itu perlu mendapat kesempatan yang luas untuk berkebang, dengan menyediakan kesempatan belajar sendiri dan aktivitas sendiri. Potensi tersebut dapat berkembang dengan baik. Dengan keaktifan peserta didik diharapkan peserta didik dapat menemukan sendiri sehingga bermakna bagi peserta didik. Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, perlu dikembangkan suatu pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada guru, tetapi suatu pembelajaran yang lebih berfokus pada aktivitas siswa yang mengembangkan aspek kognitif, aspek sosial siswa untuk saling bekerja sama dan saling menghargai (lundgren,1994 : 5). Di era globalisasi seperti ini batas-batas antar negara seperti tidak ada lagi. Siswa pada umumnya lebih suka menggunakan produk luar negeri dibandingkan produk dalam negeri sehimgga memudarkan sikap rasa cinta tanah air. Jadi siswa diharapkan mampu menerapakan mata pelajaran IPS khususnya Sejarah agar sikap nasionalisme dapat di aplikasikan dengan baik di kehidupan sehari-hari.