Anda di halaman 1dari 31

I.

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk semua makhluk

hidup dan merupakan bahan yang fungsinya sangat penting bagi kehidupan tanpa pernah dapat tergantikan oleh senyawa lain. Badan Manusia teriri dari 65% air dan setiap harinya 2,5 liter dari jumlah air tersebut harus diganti dengan air yang baru (Winarno, 1986). Menurut Fair et al. (1966) dan Al-Layla et al. (1977) konsumsi air akan berubah sesuai dengan perubahan musim dan aktivitas masyarakat. Pada hari tertentu di setiap minggu, bulan atau tahun akan terdapat pemakai air yang lebih besar daripada kebutuhan rata-rata perhari. Pemakaian air tersebut disebut pemakaian hari maksimum. Demikian pula pada jam-jam tertentu di dalam satu hari, pemakaian air akan meningkat lebih besar daripada kebutuhan air rata-rata perhari (pemakaian jam puncak). Dewasa ini kebutuhan air bersih untuk memenuhi aktivitas penduduk semakin meningkat. Peningkatan itu terjadi bukan hanya karena penduduk yang bertambah, tetapi juga karena aktivitas yang membutuhkan air bersih meningkat sehingga perlu diantisipasi secara baik agar tidak terjadi krisis air dimasa mendatang. Penyediaan air bersih untuk masyarakat mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan kesehatan lingkungan atau masyarakat, yakni mempunyai peranan dalam menurunkan angka penderita penyakit, khususnya yang berhubungan dengan air, dan berperan dalam meningkatkan standar atau taraf/kualitas hidup masyarakat.

Dalam melakukan pelayanan air bersih terhadap konsumen air bersih, sistem produksi merupakan titik tumpu tersedianya air bersih. Karena air bersih yang didistribusikan ke konsumen harus di treatment terlebih dahulu pada instalasi pengolahan air (IPA) sebelum kemudian disalurkan melalui pipa ke reservoir kemudian didistribusikan ke konsumen air bersih. Di PDAM Way Rilau Bandar Lampung menggunakan dua lokasi treatment air bersih yaitu Instalasi Pengolahan Air (IPA) I dan Instalasi Pengolahan Air (IPA) II. IPA I dan IPA II mempunyai output air bersih yang berbeda, tetapi sumber air baku yang digunakan sama yakni Sungai Way Kuripan. Air bersih yang di hasilkan pada IPA I dan IPA II disalurkan melalui pipa ke penampungan air bersih (reservoir) sebelum disalurkann ke konsumen air bersih melalui pipa distribusi. Air bersih yang diproduksi setiap harinya tidak 100 % dapat didistribusikan ke masyarakat. Berdasarkan data produksi pada bulan Januari 2012 di PDAM Way Rilau Bandar Lampung jumlah konsumen terlayani sebesar 34.187 jiwa dengan jumlah produksi air bersih sebesar 1.409.126 m3 dan produksi terlayani sebesar 1.382.850 m3, sehingga terdapat 26.276 m3 air bersih yang tidak didistribusikan tetapi tercatat adanya kehilangan air pada sistem produksi sebesar 1,86%. Dilihat dari data jumlah produksi yang lebih besar dibandingkan denga jumlah produksi terlayani seharusnya tidak muncul adanya nilai kehilangan air pada sistem produksi sebesar 1,86 %. Dilihat dari latar belakang diatas perlu dilakukan pengkajian penggunaan air bersih pada sistem produksi untuk mengetahui penyebab munculnya nilai kehilangan air sebesar 1,86 % guna mengurangi besarnya angka jumlah air yang tidak dapat dipertanggung jawabkan di PDAM Way Rilau Bandar Lampung.

1.2

Tujuan Tugas Akhir Tujuan umum dalam penulisan Tugas Akhir (TA), ini adalah untuk menambah

wawasan dan pengalaman kerja di bidang pengolahan air bersih, serta sebagai salah satu syarat untuk mencapai Ahli Madya (A.Md) atau D3 pada Program Studi Teknik Sumberdaya Lahan Dan Lingkungan, Jurusan Teknologi Pertanian di Politeknik Negeri Lampung. Sedangkan tujuan khususnya adalah untuk megetahui kehilangan air bersih pada tingkat produksi di PDAM Way Rilau Bandar Lampung.

1.3

Tempat dan Waktu Pelaksanaan Tugas Akhir ini disusun berdasarkan data yang diperoleh penulis selama

melakukan Pratek Kerja Lapang ( PKL) di PDAM Way Rilau dari Tanggal 04 Maret 2013- 04 Mei 2013.

1.4

Metode Pelaksanaan Metode yang digunakan selama menyusun tugas akhir ( TA) adalah:

1. Pengumpulan Data Primer Pengumpulan data primer dilakukan di tempat PKL di PDAM Way Rilau dengan melakukan : a) Observasi lapangan yang dibimbing oleh pembimbing lapang.

b) Pengujian di laboratorium untuk menganalisis parameter kualitas air bersih setiap hari.

c)

Wawancara atau diskusi dengan karyawan dan pembimbing lapangan yang bertanggung jawab terhadap pengolahan air bersih pada Instalasi Pengolahan Air (IPA) I dan Instalasi Pengolahan Air (IPA) II yang ada di PDAM Way Rilau Bandar Lampung.

2. Pegumpulan Data Sekunder Pengumpulan data sekunder diambil dari buku laporan hasil analisis di laboratorium Produksi di PDAM Way Rilau Bandar Lampung, modul instalasi pengolahan air (IPA) serta kajian pustaka. Setelah data primer dan sekunder diperoleh, selanjutnya akan dibandingkan dengan teori yang didapat dari bangku kuliah.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Indonesia telah diatur melaui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 16 Tahun 2005. Sistem penyediaan air minum yang selanjutnya disebut SPAM merupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non fisik dari prasarana dan sarana air minum. SPAM dapat dilakukan melalui sistem jaringan perpipaan dan/atau bukan jaringan perpipaan. SPAM dengan jaringan perpipaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat meliputi unit air baku, unit produksi, unit distribusi, unit pelayanan, dan unit pengelolaan. SPAM bukan jaringan perpipaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat meliputi sumur dangkal, sumur pompa tangan, bak penampungan air hujan, terminal air, mobil tangki air, instalasi air kemasan, atau bangunan perlindungan mata air. Dalam penyediaan air bersih Ada 2 (dua) kategori sistem penyediaan air bersih/minum, yaitu : sistem perpipaan dan non perpipaan. 1) Sisitem Perpipaan Sistem ini menggunakan pipa sebagai sarana pendistribusian air. Unit pelayanannya dapat menggunakan Sambungan Rumah (SR), Sambungan Halaman dan Sambungan Umum. Untuk mendistribusikan air bersih dengan perpipaan terdapat beberapa sistem pengaliran, tergantung pada keadaan topografi, lokasi sumber air

baku, beda tinggi daerah pengaliran atau daerah layanan. Sistem pengaliran tersebut antara lain : a) Pengaliran Gravitasi Air bersih didistribusikan ke daerah layanan dengan memanfaatkan tekanan akibat gaya gravitasi pada daerah tersebut. Diperlukan beda elevasi antara sumber dan daerah layanan yang cukup besar supaya tekanan yang diperlukan dapat dipertahankan. a) Pengaliran Pemompaan dengan Elevated Reservoir Sebelum air didistribusikan ke daerah layanan terlebih dahulu dipompa dan ditampung di reservoir kemudian didistribusikan dengan memanfaatkan tekanan akibat elevasi reservoir tersebut. c) Pengaliran Pemompaan Langsung Distribusi air ke daerah layanan dengan mengandalkan tekanan dari pompa, yang disesuaikan dengan tinggi tekanan minimum. Rangkaian pipa dalam distribusi air bersih/minum disebut jaringan pipa. Pada dasarnya ada 2 sistem jaringan distribusi yaitu jaringan terbuka dan tertutup. a) Jaringan Terbuka Karakteristik jaringan ini adalah pipa-pipa distribusi tidak saling berhubungan, air mengalir dalam satu arah dan area layan disuplai melalui satu jalur pipa utama. b. Jaringan Tertutup Karakteristik jaringan ini adalah pipa-pipa distribusi saling berhubungan, air mengalir melalui beberapa jalur pipa utama, sehingga konsumen disupplay dari beberapa jalur. Sistem ini cenderung diterapakan pada daerah yang jalannya saling

berhubungan, perkembangan kota cenderung ke segala arah dan keadaan topografi yang relatif dasar. 2) Sistem Non Perpipaan Sistem distribusi ini tidak menggunakan pipa dan unit pelayanannya adalah Sumur Umum, Hidran Umum (HU), kendaraan tangki air (water tank/TA) serta mata air. Lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2005 Tentang Sistem Pengembangan Air Minum menyebutkan bahwa sistem penyediaan air minum terdiri dari unit air baku, unit produksi, unit distribusi, unit pelayanan, dan unit pengelolaan.
Gambar dibawah ini memperlihatkan Sistem Penyediaan Air Minum.

Gambar skematik Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Sumber : Anonim 1) Unit Air Baku, dapat terdiri dari bangunan penampungan air, bangunan pengambilan/penyadapan, alat pengukuran dan peralatan pemantauan, sistem pemompaan, dan/atau bangunan sarana pembawa serta perlengkapannya. Unit air baku, merupakan sarana pengambilan dan/atau penyediaan air baku. Air baku

wajib memenuhi baku mutu yang ditetapkan untuk penyediaan air minum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 2) Unit Produksi, merupakan prasarana dan sarana yang dapat digunakan untuk mengolah air baku menjadi air minum melalui proses fisik, kimiawi, dan/atau biologi. Unit produksi, dapat terdiri dari bangunan pengolahan dan

perlengkapannya, perangkat operasional, alat pengukuran dan peralatan pemantauan, serta bangunan penampungan air minum. 3) Unit Distribusi, terdiri dari sistem perpompaan, jaringan distribusi, bangunan penampungan, alat ukur dan peralatan pemantauan. Unit distribusi wajib memberikan kepastian kuantitas, kualitas air, dan kontinuitas pengaliran, yang memberikan jaminan pengaliran 24 jam per hari. 4) Unit Pelayanan, terdiri dari sambungan rumah, hidran umum, dan hidran kebakaran. Untuk mengukur besaran pelayanan pada sambungan rumah dan hidran umum harus dipasang alat ukur berupa meter air. Untuk menjamin keakurasiannya, meter air wajib ditera secara berkala oleh instansi yang berwenang. 5) Unit Pengelolaan, terdiri dari pengelolaan teknis dan pengelolaan nonteknis. Pengelolaan teknis terdiri dari kegiatan operasional, pemeliharaan dan pemantauan dari unit air baku, unit produksi dan unit distribusi. Sedangkan pengelolaan nonteknis terdiri dari administrasi dan pelayanan.

2.2 Sumber Air Baku dan Kualitas Air Baku Sumber air merupakan bagian dri suatu daur hidrologi. Secara umum sumber air dikategorikan sebagai berikut:

2.2.1 Air Hujan Presipitasi uap air yang terkumpul menjadi awan dan jatuh ke permukaan bumi sebagai butir butir air yang disebut air hujan atau disebut air atmosfer. Air Hujan jatuh ke bumi tidak selalu berupa zat padat ( hujan es/ salju). Kuantitas/ debit air hujan tergantung dari besar dan lamanya hujan. Kualitas air hujan yaitu pada saat uap air terkondensasi menjadi hujan, maka air hujan merupakan air murni (H2O), oleh karena itu air hujan yang jatuh ke bumi mengandung mineral relatif rendah (bersifat lunak). Gas-gas yang ada di atmosfer umumnya larut dalam butir-butir air hujan. Air hujan yang terkontaminasi dengan gas seperti CO2, menjadi agresif. Air hujan yang bereaksi denga gas SO2 dari daerah vulkanik, atau daerah industri, akan meghasilkan senyawa asam (H2SO4), sehingga dikenal sebagai acid rain bersifat asam/agresif. Kontaminan lainya adalah partikel padat seperti debu, asap, partikel cair (minyak dll), mikroorganisme seperti virus, bakteri. Jika air hujan akan digunakan untuk keperluan air bersih, jangan menampung air hujan pada saat pertama hujan turun, tunggu beberapa saat untuk menghindari kontaminasi yang lebih besar. Fluktuasi debit air hujan dipengaruhi oleh besarnya curah hujan, dimana besarnya curah hujan setiap tahun dan untuk setiap daerah tidak sama. Presipitasi yang lebih besar pada umumnya terjadi disepanjang lereng yang searah dengan arah

angin pada suatu pegunungan, sedangkan tabir hujan pada lereng yang berlawanan dengan arah angin. Dipandang dari segi teknis, variasi waktu dalam presipitasi akan lebih penting dibandingkan dengan variasi daerah. Yang paling penting dalam masalah ini adalah daur hujan tahunan. Variasi curah hujan dari tahun ke taun, menyebabkan dibutuhkanya rancangan waduk/tendon yang cukup untuk tahun-tahun dimana curah hujannya rendah. Waduk harus dirancang untuk menyimpan air untuk jangka waktu beberapa tahun.

2.2.2 Air Pernukaan Pada dasarnya air permukaan terbagi menjadi: 1. Air Sungai Air sungai adalah ai hujan yang jatuh ke permukaan bumi dan mengalir me;ewati daerah aliran sungan (DAS). Suatu DAS adalah daerah yang dianggap sebagai wilayah dari suatu titik tertentu pada suatu sungai dan dipisahkan dari DAS yag sebelumnya oleh suatu pembagi, atau penggung ukit/ gunug yang dapat ditelusuri pada peta topografi.. Semua air permukaan yang berasal dari daerah yang dikelilingi oleh pembagi tersebut dialirkan melalui tittik terendah pembagi, yaitu tempat yang dilalui oleh sungai utama pada DAS yang bersangkutan.. Kuantitas air sungai sangat terpengaruh oleh musim dimana debit sungai pada musim hujan relatif lebih besar daripada debit pada musi kemarau. Variasi lairan sungai sepanjangtahun dipengaruhi oleh distribusi presipitasi. Kuantitas dipengaruhi oleh: (1) Debit sumber air asal (air hujan, mata air, dsb.), (2) Sifat dan luas catchment Area (daerah tangkapan).

Kualitas/ sifat air sungai pada umumnya mengandung zat organik, dimana jenis dan konsentrasinya tergantung dari tingkat pencemaran, jenis tanah yang dilalui sepanjang DAS. Air sungai biasanya membawa zat-zat padat yang berasal dari erosi penyebab kekeruhan pada air, sisa penghancuran zat-zat organik, garamgaram mineral sesuai ddengan jenis tanah yang dilaluinya. Kontaminan berasal dari limbah domestic ( garam-garam Na, K, P; sulfat; klorida; deterjen;dll), maupun limbah pabrik (logam/logam berat, sianida, dll.) Kandungan O2 terlarut (DO) relatif besar, karena penetrasi udara terhadap air dan hasik fotosintesis memproduksi O2. Pada umumnya kandungan organisme patogenik pada air sungai relatif tinggi, baik jenis maupun jumlahnya. Fluktuasi debit air sungai umumnya dipengaruhi oleh musim. Pada musim hujan batas aliran air sungai mencapai bibir dinding sungai bahkan kadang-kadang banjir, hal ini disebabkan oleh curah hujan pada musim penghujan besar dan curah hujan langsung mengalir segera ke sungai setelah mencapai tanah. Sebaliknya pada musim kemarau debit air sungai tersebut terbatas, atau bahkan tidak ada air sama sekali, kecuali pada sungai-sungai yang besar biasanya mempunyai debit minimum, karena tidak sepenuhnya bergantung kepada curah hujan (presipitasi), walaupun variasi aliran air sungai sepanjang tahun dipengaruhi oleh distribusi presipitasi. Perbandingan antara limpasan (runoff) dan presipitasi adalah terendah pada musim panas, kecuali pada Negara yang mempunyai musim dingin dimana mencairnya salju merupakan limpasan selama musim semi dan awal musim panas, walaupun presipitasi selama jangka waktu tersebut hanya sedikit.

2.

Air Danau Air danau adalah air permukaan yang berasal dari air hujan atau air tanah yang

keluar dari permukaan tanah kemudian terkumpul pada suatu tempat yang relatif rendah/ cekung. Termasuk kategori serupa adalah air tendon ( raw water reservoir ), air rawa, air waduk/dam. Kuantitas air danau tergantung pada debit sumber air asal, luas dan sifat daerah tangkapan, dan presipitasi dan infiltrasi air kedalam tanah. Kualitas/ sifat air danau yaitu komposisi zat-zat tergantung dari asal air dan tingkat pencemaran yang terjadi oada air danau/ tendon, dam tsb. Jika danau terletak didekat daerah pemukiman, maka tingkat pencearanya tinggi. Komposisi zat-zat dapat berubah tergantung pada musim, akinat adanya stratifikasi atau lapisan-lapisan yang disebabkan oleh perbedan tenperatur pada kedalaman air Karena air dana relatif diam dan akiibat penampungan air yang cukup lama ( waktu retensi cukup lama), maka memungkinkan pengendapan zat-zat padat, tumbuhtumbuhan mati, sehingga danau/ tandon/ dam relatif tidak keruh dan dapat menghilangkan mikrooorganisme/bakteri. Keadaan air yang relatif diam

memungkinkan proses fotosintesis berjalan dengan baik, sehingga mengakibatkan air pada permkaan banyak ditumbuhi algae/lumut yang menyebabkan adanya kandungan zat organik dan warna dipermukaan yang cukup mengganggu jika air akan diolah. Akibat proses fotosintesis, pada siang hari kandungan oksigen terlarut (DO) akan meningkat, menyebabkan proses pemurnian secara alami ( Self purification), yaitu penguraian zat organik oleh aktifitas mikroorganisme engan bantuan oksigen, akan berjalan dengan baik, terutama pada danau yang besar. Karena danau relatif dalam,

maka bagian bawah terdapat zona anaerob, pada zona ini kenungkinan terjadi proses reduksi, seperti Fe3+ dan Mn4+ tereduksi menjadi bentuk terlarut (Fe2+, Mn2+), dan reduksi sulfat menjadi H2S dan senyawa nitrogen (ammonium) terkonversi menjadi N2 dan terlepaske atmosfer.

2.2.3 Air Tanah Air tanah dan air permukaan sebetulnya salin berkaitan satu dengan lainya, karena banyak sungai danau/ tendon menerima sebagian besar aliranya (airnya) dari air tanah. Sebaliknya air dari aliran permukan merupakan sumber utama untuk imbuhan air tanah. Sumber air tanah yang utama adalah presipitasi yang dapat menembus tanah secara langsung ke air tanah atau mungkin memasuki sungai di permukaan tanah dan merembes ke bawah melalui alur-alur ke dalam tanah. Sumber-sumber lain air tanah meliputi air dari lapisan jauh dibawah tnah yang terbawa keluar dalam batuan intrusive serta air yang terjebak dalam batuan sedimen selama masa pembentukanya, tetapi jumlah air semacam ini kecil. Air tanah terbagi atas beberapa jenis yaitu: 1. Air tanah dangkal Air tanah dangkal adalah apabila air hujan/ air pemmukaan hanya meresap sampai ke muka air tanah yang berada di atas lapisan rapat/ kedap air, maka disebut air tanah dangkal. Air tanah dangkal ini umumya mempunyai kedalaman kurang dari 50 m, dan lokasinya seringkali ditemui berdekatan dengan sumber ai permukaaan.

2.

Air tanah dalam Air tanah dalam adalah air yang menembus lapisan rapat air pertama dan berada

diantara dua lapisan kedap/ rapat air. Biasanya air tanah ini terletak cukup jjauh di bawah permukaan tanah. 3. Mata air Air didalam tanah mengalir pada lapisan tanah berpasir atau berbatuan, aau mengalir melalui celah lapisan batu. Bila aliran ini terhalang oleh suatu lapisan kedap air ( seperti tanah liat, tanah padat, batu/ cadas), maka air akan mengalir dan muncul ke permukaan tanah. Kuantitas air tanah tergantung dari bebrapa faktor diantaranya: 1. Sumber asal air yaitu perolehan air dari presipitasi merupakan yang terendah. Oleh karena prioritas ini maka ada keterbatasan didalam pemanfaatan air tanah. Perolehan dari sadapan, simpanan pada cekungan dan lengas tanah haruslah terpakai sepenuhnya dahulu, sebelum jumlah air yang besar dapat berperkolasi kedlam air tanah. Kecuali bila terdapat tanah berpasir maka hujan besar berkepanjangan saja yang dapat memberikan imbuhan air tanah dalam jumlah yang besar. Akan tetapi imbuhan air tanah dengan cara ini adalah merupakan proses yag terputus-putus tidak teratur. 2. Keadaan geologis Keadaan geologis menentukan jalur perjalanan air dari presipitasi hingga mencapai zona jenuh. Bila permukaan air tanah dekat dengan permukaan tanah, mungkin terjadi banyak perkolasi melalui tanah. Lapisan-lapian yang relatif

kedap air di atas permukaan air tanah dapat mencegah terjadinya perkolasi langsung semacam ini. Alur-alur sungai yang memotong kedalam endapan alluvial ang tembus (lulus) air, memungkinkan adanya jalur bagi air untuk mencapai air tanah, asalkan sngai berada di atas permukaan air tanah. 3. Laju perkolasi Laju perkolasi dari suatu sungai yang tidak lancer, dibatasi oleh penyebaran dan sifat-sifat bahan lapisan tanah dibawahnya, sehingga aliran banjir yang lebih bsar dari batas laju perkolas mungkin menyebbaka air mengalirvterus kelaut atau danau. Kualitas/ sifat air tanah tergantung pada lapisan tanah yang dilaluinya. Pada umumnya air tanah (terutama air tanah dalam dan mata air) cukup ernih dan tidak mengandung zat padat tersuspensi atau tumbuh-tumbuha mati, karena air tanah melalui proses penyaringan alami dimana lapisan tanah/ batuan menjadi media penyaring. Air tanah dangkal karena proses penyaringan yang relatif pendek dan kadangkadang masih terkontaminasi oleh iar permukaan disekitarnya, maka kualitas air tanah dangkal relatif kurang baik. Air tanah dangkal mengandung besi dan mangan ( pada daerah tertentu) relatif lebih besar dibandingkan dengan air tanah dalam dan mata air. Pada air tanah dalam kandungan mineral seperti garam/ senyawa dari kation Na+, K+, Ca2+, Mg2+, dengan anion HCO3-, CO32-, SO42-, yang dinyatakan oleh parameter akalinitas dan kesadahan (Kesadahan Karbonat dan Non Karbonat), adalah relatif besar bila dibandingkan dengan air tanah dangkal dan mata air. Jenis mineral

tergantung daridaerah resapan air, seperti pada daerah pegununga kapur, air tanah anyak mengandung Ca2+ dan Mg2+, sedangka pada daerah dekat denga laut, banyak mengandung kesadahan non karbonat seperti CaSO4, MgSO4, MgCl2 dan garamgaram Na+ dan K+. Senyawa-senyawa tersebut akan mempengaruhi rasa pada air dan masalah pengerakan. Air tanah dapatmencemari air-air lainya yang bermanfaat. Sebagai contoh sejumlah besar boron dari air tanah dalam dapat mencemari air lainya, akibat naiknya air melalui retakan batuan. Semakin dalam kandungan air tanah, kandungan O2 (DO) semakin kecil, sedangkan gas-gas seperti CO2, H2S hasil reaksi reduksi (kondisi anaerobic), akan terlarut pada airtanah ( kecuali mata air). Fluktuasi dbit air tanah dangkal pada musim hujan akan mengandung air yang cukup banyak. Sebaliknya pada musim kemarau yang tidak terlalu panjang, sumur tersebut masih mempunyai air, tetapi pada musim kemarau panjang kemungkinan tidak berair sama sekali. Debit air pada iar tanah dalam biasanya berkurang pada musim kemarau tetapi tidak sampai menyebabkan sumur tidak berair. Debit pada sumber mata air pada waktu musim hujan, debit cukup besar dan debit akan menurun pada musim kemarau. Hal ini terjadi Karen air tanah pada musim hujan lebih banyak dari pada musim kemaru, sehingga permukaan air tanahpada musim hujan lebih tinggi daripada musim kemarau. Mata air yang berasal dari akifer yang kecil atau sangat tembus air, memiliki debit yang sangat berfluktuasi dan kadang-kadang kering pada musim kemarau.

2.3

Pengolahan Air Bersih Proses pengoolahan air bersih tergantung pada kualitas air baku, PDAM Way

Rilau melakukan pengolahan secara terbatas dan pengolahan secara lengkap. Untuk air baku yang diperoleh dari mata air pengolahan yang dilakukakan hanya pemeberian gas khlor sebagai desinfektan yang disuntikkan langsung pada pipa pendistrbusian , karena air dianggap mempunyai kualitas yang baik tanpa dlakukan treatment secara lengkap. Sedangkan sumber air baki yang berasal dari air pemukaan (air sungai) kualitas airnya kurang baik sehingga diperlukan pengolahan lengkap. PDAM way Rilau melakukan pengolahan air secara lengkap di Instalasi pengolahan Air (IPA) I dan Instalasi Penngolahan air (IPA) II dengan tahap=tahap pengolahan air seperti berikut: 2.3.1 Bangunan Penyadap Air Sungai (Intake) Bangunan penyadap air sungai di Indonesia sering dikenal dengan sebutan intake (dari water intake). Secara umum kelengkapan sarana bangunan penyadap air sungai terdiri atas: a. Bendung untuk meninggikan muka air Bendung ini khususnya digunakan untuk sungai yang airnya dangkal. b. Pintu air Pintu air ini digunakan untuk sistem yang menggunakan saluran dimana pintu air ini digunakan sebagai alat untuk mengatur debit air yang masuk/ keluar saluran. Pintu ini juga biasanya dilengkapi dengan pembacaan elevasi air. c. Pompa

Pompa digunakan untuk menaikkan dan mengalirkan air. Pompa yang digunakan adalah jenis pompa benam (pompa submersible) yang dipasang didalam air, atau pompa yang dipasang didaratan (pompa centrifugal). d. Saringan Kasar ( Bar Screen) Saringan kasar ini digunakan untuk mencegah kotoran/ sampah terbawa aliran air dan akan mengganggu bekerjanya pompa. e. Penjebak Pasir (Grit chamber) Penjebak pasir ini berfungsi untuk mengendapkan sedimen berupa fraksi pasir. f. Saluran/ Bak pengumpul Bak pengumpul ini berfungsi untuk menampung air sebelum dipompakan ke IPA. 2.3.2 Pre Khlorinisasi Pre Khlorinisasi adalah tahap pertama desinfeksi yang bertujuan untuk mempertahankan kandungan sisa khlor sebesar 0,2-0,5 mg/lt pada seluruh unit pengolahan dalam suatu sistem (bersama dengan oksidasi). Kebutuhan Khlor dengan waktu ontak yang pasti (tertentu) untuk mendapatkan sisa khlor yang tersedia cukup efektif untuk desinfeksi. BPC (titik retak khlorinisasi) terutama digunakan dalam kasus dimana air mempunyai kualitas yng baik tidak ( mengoksidasi Fe2+ dan Mn2+), menghilangkan rasa, mencegah pertumbuhan bakteri dalam filter, memperpanjang waktu penyarinngan dan mencegah tumbuhnya algae. BPC ( titik retak khlorinasi ) secara tidak langsung menyatakan oksidasi zat organik secara lengkap. Kadar khlor tersedia bebas, naik secara seimbang dengan banyaknya khlor yang dibbutuhkan.

Kadar khlor tersedia bebas, naik secara seimbang dengan banyaknaya khlor yang sudah dibubuhkan sesudah titik retak (break point) tergantung dari: a) Mutu bakteriologis air bersih yang diinginkan (sesudah khlorinasi), jarak yang harus ditempuh air bersih sampai ke konsumen (karena khlor aktif sedikit demi sedikit direduksi) b) pH dan sebagainya. Air baku yang telahterkumpul dibangunan pengumpul air kemudian dipompakan ke instalasipengolahan air dan masuk kedalam bak penampung untuk didesinfeksi sebelum menjalani proses pengolahan atau sering disebut Pre Khlorinisasi. Pre Khlorinisai dilakukan pada air baku dengan tujuan untuk membunuh bakteri, meningkatkan efektifitas proses koagulasi, membantu menghilangkan bau, rasa, dan warna. Mengurangi proses penguraian bahan organic ditangki sedimentasi. Serta menghambat pertumbuhan alga dan mikro organisme (Pandia, 1996). Proses Pre khlorinasi dilakukan dengan cara melarutkan gas khlor kemudian dipompa kedalam bak penampung. Sehingga kontak antara khlor dan air baku terjadi. Alat yang digunakan untuk menentukan konsentrasi gas khlor disebut khlorinator. 2.3.3 Koagulasi Air yang telah melalui tahap Pre khlorinisasi kemudian dialirkan kemudian diakirkan lagi ke bak koagulasi yaitu pembentukan flok dari partikel-partikel koloid. Koagulasi dilakukan dengan metode rafid mixing, dengan cara menyuntikan koagulan kedalam pipa air baku pada saat pengaliran air dari baku dari water intake ke receiving well.

Koagulan adalah bahan kimia yang dibutuhkan pada air untuk mengikat partikel kecil zat pencemar yang tidak dapat mengendap secara gravitasi. Penampungan koagulasi berfungsi untuk mengumpulkan kotoran atau lumpur. Koagulan yang dipakai adalah PAC (Poly alumunium Chloride), dimana ion-ion alumunium merupakan penetral muatan partikel koloid. Banyaknya PAC yang ditambahkan tergantung pada kualitas air baku dan debit air yang masuk untuk dapat menentukan jumlah PAC (Poly Alumunium Chloride) yang ditentukan dalam air baku maka dilakukan jartes di laboratrium. 2.3.4 Flokulasi Flokulasi merupakn tahap lanjutan dari proses koagulasi. Proses flokulasi adaah proses pengumpulan pertikel yang sudah terkoagulasi menjadi gumpalangumpalan yang lebih besar (flok). Flok sendiri merupakan partikel yang lebih besar yang dapat mengendap secara gravitasi. Pada bak Flokulasi dilakukan pengadukan lambat, dimamna air yang telah tercampur dengan PAV dimasukkan kedalam bak flokulator, yang berfungsi untuk membentuk partikel pertikel yang lebih besar sehingga dapat mengendap dengan daya berat sendiri. Setiap unit flokulator terbagi atas tigaa kompertment dengan kecepatan aliran air menurun secara bertahap agar dihasilkan flok berukuran besar dan tidak mudah pecah. Gambar bak flokulasi dapat dilihat pada lampiran gambar. 2.3.5 Sedimentasi Sedimentasi adalah air yang telah melewati bak flokulasi. Sedimentsi berfungsi untuk mengendapkan flok yang terbentuk pada flokulator dengan mengalirkan air yang berasal dari bak flokulator secara lambat kedalam bak

sedimentasi sehingga dihasilkan air jernih di bagian atas dan air keruh dibagian bawah. Bak sedimentasi ini dilengkapi dengan sekat-sekat yang terbentuk dari asbes berbentuk segi enam ( bentuknya menyerupai sarang lebah) yang memiliki ukuran 1,0 m x 0,1 dengan jarak antar sekat 2,5 cm dengan sudut kemiringan 60C. Zat-zat padat atau flok yang terbetuk dari proses flokulasi akan mengendap di dasar bak dan dikumpulkan pada konsetrator beupa saluran berbentuk V yang dilengka[I dengan pipa berlubang. Lumpu yag terkumpul aka dialirkan ke saluran pembuanngan, selanjutnya air yang jernih dialirkan menuju ke bak filtrasi. 2.3.6 Filtrasi Filtrasi merupakan air yang melewati bak sedimentasi yang masih mengandung flok-flok haus. Untuk menghilangkan flok halus ini air kemudian dimasukkan kedalam unit filtrasi. Filtrasi ini menggunakan sistim saringan pasir cepat. Proses penyaringan dengan saringan pasir cepat diarahkan untuk

menghilangkan zat-zat melayang. Setelah air melalui proses pengolahan lengkap, filter dengan saringan pasir cepat ini terdiri dari beberapa lapisan dengan susunan yang disajikan. Untuk membersihkan lapisan filter yang telah kotor, dapat dilakukan dengan dua cara yaitu sisitim suefece wash dan sistim back wash. Pada sistim suefece wash pencucian dilakukan dengan cara menyemprotkan air dengan menggunakan selang kepermukaan bak filter, sedangkan pada sistim back wash pencucian dilakukan dengan cara mengalirkan air bersih dengan kecepatan tinggi melalui lapisan filter.

2.3.7 Post Khlorinasi Langkah terakhir didalam pengolahan air bersih adalah desinfeksi. Air yang sudah siap di distribusikan ke konsumen perlu di desinfeksi sedemikian rupa sehingga masih tetap mengandung desinfektan yag cukup. Air minum yang sampaipada konsumen diharapkan masih mengandung deinfektan sebanya 0,2-0,5 ppm. Persyaratan tersebut dimaksudkan agar air benar-benar bebas dari bakteri. Persyaratan sisa desinfektan pada air minum lebih rendah dari pada desinfektan pada kolam renang, karena apabila terlalu tinggi akan memberikaan dampak negatif bagi kesehatan manusia. Sisa desinfektan lebih kurang 0,2-0,5 ppm diharapkan dapat merupakan jaminan bebasnya air dan bakteri. 2.3.8 Reservoir Reservoir dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan atara produksi air yang dihasilkan oleh Instalasi Pengolahan Air (IPA) /WTP dan kebutuhan harian yang bervariasi,reservoir untuk menyediaan air bersih Way Rilau sangat besar dengan kapasitass 4000m3 yaitu reservoir sumur putri. Air yang sudah melalui filter sudah dapat dipakai untuk air bersih.Air tersebut telah bersihdan bebas dari bakteri,sehingga dapat ditampung pada bak reservoir untuk didistribusikan kekonsumen.Air reservoir ini juga mengalami proses desinfikasi dengan menggunakan gas khlor.Penyaluran gas khlor dilakukan dengan cara melalui pipa yang dihubungkan dengan tangki baja. Penyimpanan gas khlor diatur pada dosis tertentu yang berkisar antara 4-5 ppm menggunakan alat chlorinator. Pemberian desinfektan dalam air sangat penting yang bertujuan untuk membunuh bakteri pathogen dalam bakteri.

3. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 2.1.1 Kondisi Umum Perusahaan Letak Lokasi Peusahaan PDAM Way Rilau terletak dijalan pangeran M. Noer No. II A Kelurahan Pengajaran, Kecamatan Teluk Betung, Kota Bandar Lampung. Secara Geografis terletak pada ketiggian 37 m di atas permukaan laut dan pada azimuth 10511-10520BT dan 519-539 LS. 2.1.2 Sejarah Singkat Berdirinya PDAM Way Rilau Bandar Lampung Perusahaan daerah air minum (PDAM) Way Rilau didirikam berdasarkan peraturan daerah tingkat II TanjungKarang Teluk Betung N0. 2 tahun 1976 tentang berdirinya PDAM Way Rilau yang disahkan oleh SK Gubernur Tingkat I Lampung No g/395/B.III/HK/1976 dan diundangkan dalam Lembaran Daerah Seri D.NO 2 Tanggal 14 Juli 1976. PDAM Way Rilau telah dibangun sejak Zaman Pemerintahan Hindia Belanda, yaitu pada tahun 1917 dengan mengusahakan dan memanfaatkan sumberdaya mata air Way Rilau berkapasitas 25 liter per detik, yang pada saat itu dikenal dengan nama Boss Oder West (BOW). Tujuan utama pembangunanaya untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat Tanjung Karang dan sekitarnya.

Sejak Tanggal 11 Maret 1976 pengelolaan penyediaan air minu atau air bersih tersebut dikelola oleh Dinas Kota Madya Bandar Lampug yang secara structural adalah seksi air minum kemudian menjadi PDAM Way Rilau DaerahTingkat II Tanjung Karang Teluk Betung. Seanjutnya sesuai dengan perubahan Kota Madya Tanjung Karang Teluk Betunng menjadi Kota Madya Bandar Lampung dengan peraturan Daerah No. 24 Tahun 1983 maka PDAM Way rilau daerah daerah Tingkat II tanjung Karang Teluk Betunng, diubah menjadi PDAM Way Rilau daerah Daerah Tingkat II Bandar Lampung. 2.1.3 Tugas Pokok Perusahaan Tugas pokok Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Way Rilau berdasarkan surat keputusan (SK) Mentri Pekerjaan Umum Nomr 269/kpts/1984 tanggal 08 Agustus 1984 adalah melaksanakan pengolahan sarana dan prasarana penyediaan air bagi seluruh masyarakat secara adil dan merata, terus menerus sesuai dengan persyaratan. Tugas pokok Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Way Rilau menurut undang-undang noor 05 tahun 1974 yaitu sebagai alat kelengkapan otonomi daerah yang diharapkan menghaasilkan tambahan penghasilan bagi pemerintah daerah guna menunjang kehidupan dan perkembangan daerah dlam rangka pelaksanaan otonomi daerah yag nyata, dinamis dan bertanggung jawab. 2.1.4 Organisasi Perusahaan

Bagan Organisasi Perusahaan dapat dilihat pada lampiran 1. Tugas dan tanggung jawab masing-masing bagian dalam perusahaan adalah sebagai berikut: A) Badan Pengawas Badan Pengawas mempunyai tugas dan tanggung jawab merumuskan kebijakan dibididang pengeolaan perusahaan ddan melakukan pengawasan sehari hari atas jalanya perusahaan dan direksi seerta meneliti anggaran penerimaan dan pengeluaran untuk diujikan kepada wali kota daerah untuk disahkan. B) Direksi Direksi mempunyai tugas dan tanggung jawab memimpin perusahaan berdasarkan kebijakan umum yang digariskan oleh wali kota kepada daerah atau badan pengawas sesuai dengan peraturan daerah atau badan pengawas sesuai dengan peraturan daerah yang berlaku. Merencanakan dan menetapkan program kerja perusahaan serta mengusulkan tarif air minum pada wali kota kepada daerah, terbagi menjadi 2 yaitu: 1. Direktur Utama Tugas dan tanggung jawab direktur utama adalah membantu wali kota daerah dibidang pelayanan air minum, melaksanakan dan merencanakan program kerja sesuai dengan kebijakan walikota serta memimpin, mengkoordinasi dan

menngendaikan semua kegiatan perusahaan. Direktur bagian utama terbagi atas satuan pengawas intern da bagian litbang dan LAN, yang kemudian terbagi lagi menjadi sub bagian.

2.

Direktur Bidang Umum Direktur bidang umum mempunyai tugas dan tanggung jawab membantu direktu

utama dalam menngendalikan dan mengkoordinasi kegiatan bagian keuangan, bagian umum, bagian personalia dan bagian pelanggan serta melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan direktur utama. Direktur bidang umum terbagi ats bagian keuangan, bagian umum, bagian personalia dan bagian hubunga langganan yang masigmasingnya mempunyai sub bagian. 3. Direktur Teknik Direktur teknik mempunyai tugas da tanggung jawab membantu direktur utama daam bidang kordinasi dan mengendaikan kegiatan bagian produksi dan laboratorium, disitribusi, [erencanaan teknik dan perawatan serta merencanakan dan mengendalikan semua kegiatan jaringan pipa peralatan teknik dan bangunan air. Direktur teknik dibantu oleh: a. Bagian Produksi dan Laboratorium Bagian produksi dan laboratorium mempunyai tugas membantu direktur teknik merencanakan, mengkoordinir dan mengawasi kegiatan sub bagian sumber air dan transmisi serta sub bagian pengendalian kualitas air. Sedangkan tugas yang lainya adalah merencanakan dan mengendalikan kegiatan pemeliharaan sumber air, pencatatan produksi dan jarinngan pemeliharaan jaringan pipa dan bangunan air. b. Bagian Distribusi Bagian distribusi mepunyai tugas membantu direktur teknik dalam

merencanakan , mengkoordinir, dan mengawasi keiatan sub bab bagian distribusi dan

sub bagian meter air, selain itu merencanakan dan mengendalikan pemasangan system jaringan pipa dan tekanan pendistribusian. c. Bagian Perencanaan Teknik Bagian perencanaan teknik mempunyai tugas membantu direktur teknik dalam merencanakan pengadaan persediaan cadangan air minum guna keperluan distribusi dan merencanakan pengadaan teknik bangunan air minum serta mengendalikan kulaitas dan kuantitas air termasuk menjmin rencana kebutuhan. d. Bagian Perawatan dan Peralatan. Bagian perawata mempunyai tugas dan tanggung jawab yaitu merencanakan dan mengendaliakan kegiatan pemeliharaan serta perawatan , perencanakan dan mengendalikan kegiatan perbaikan meter air dan perencanaan meteran air. 2.2 Kegiatan Perusahaan PDAM Way Rilau memiliki garis besar kegiatan yang rutin untuk setiap harinya dikerjakan. 2.2.1 Bagian Produksi Bagian produksi adalah bagian utama dimana pada bagian ini sumber air yang didistribusikan mengalami perlakuan khusus sebelum dikomsumsi oleh

konsumen.Pada bagian ini kinerjanya sangat erat engan laboratorium yang menjadi tempat perlakuan air seperti pengamatan rutinitas pada bak koagulasi , flokulasi , sedimentasi selanjutnya filtrasi dan reservoir sedangkan dalam laboratorium melakukan kegiatan dalam mengamati kualitas air dengan melalui pengukuran akan

aanalisis air yang terdiri dari analisis kekeruhan ,pH,analisis kesadahan total dan Ca,analisis zat organic ion Cl, NaOHnitrit ,ammonia,sulfat,alumunium dan phospat.

2.2.2

Bagian Distribusi Pada bagian ini terbagi tiga kegiatan yang rutinitas untuk dilaksanakan yaitu :

a. Bagian Perbaikan Bagian perbaikan melakukan perbaikan berdasarkan pengaduankonsumen yang ditulis dalam Surat Perbaikan Kerja (SPK) yang dilaksanakan setiap harinya mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai.Penanganan kerjanya adalah meliputi penanganan pipa bocor pada jaringan distribusi, perawatan pada pipa jaringan distribusi serta kegiatan dalam penekanan kebocoran dijaringa pipa. b. Bagian Pemutusa Bagian pemutusan melakukan pemutusan pada jaringan distribusi. Pemutusan dilakukan apabila konsumen tidak lagi berlangganan dengan perusahaan , konsumen tiak lagi sanggup membayar tagihan air dan terjadinya percurian air oleh konsumen ataupun pihak yang merugikan perusahaan sehingga diperlukan pemutusan pada jaringan distribusi. c. Bagian Pemasangan Baru Bagian pemassangan baru dimana terdapat calon konsumen untuk memohon pemasangan baru jaringan distribusi air.Pemasangan akan dilakukan apabila calon konsumen telah mensepakati dua belah pihak ,antara konsumen dan perusahaan. 2.2.3 Bagian Pembayaran

Pembayaran rekening dilakukan tiap hari senin hingga jumat,mulai dari pukul 08.00-03.00 wib. Pada bagian ini terdapat dua kasir yang melayani pembayaran tagihan air.

2.2.4

Kegiatan Perusahaan yang Menunjang Kinerja Perusahaan Seperti : a. Bagian hubungan langganan Melayani keluhan-keluhan dan permasalahan yang dihadapi pelanggan serta

kinerja yang berhubungan dengan pelanggan. b. Bagian perncanaan bagian perencanaan adalah bagian yang merancang apabila pada perusahaan akan merencanakan bagunan baru yang perlu untuk menunjang kinerja perusahan , baik dari perencanaan gedung perkantoran , bak-bak pengolahan , reservoir , rumah penjagaan ataupu yang berkenan dengan tahap-tahap pembagunan yang diperlukan oleh perusahaan . c. Bagian personalia Bagian personalia adalah bagian yang melayani unsur-unsur kegiatan segala pegawaian perusahaan ,pemberian gaji dan segala kegiatan yang menyangkut akan kinerja pegawai perusahaan. d. Bagian gudang Bagian gudang yaitu bagian yang melayani bon alat kebutuhan untuk perbaiki jaringan distribusi ataupun menyimpan suku cadang peralatan perbaikan untuk kinerja perusahaan. Setiap bagian tersebut dibuka setiap hari kerja dan berdasarkan kebutuhan yang diperlukan pada bagian pelayanan konsumen diperusahaan.