Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN PADA KASUS BRONKHITIS

Dosen Pengajar:Kukuh H.S.S Kep.Ners

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 2

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) HUTAMA ABDI HUSADA TULUNGAGUNG TAHUN AKADEMIK 2012 2013

Anggota kelompok
1. Defi Sinta Twinansih 2. Deisy Wulandari 3. Dewi Aristiana 4. Dian Fitriana Ulfa 5. Dinda Wahyuningtyas 6. Efi Kustarini 7. Erlina Kurniawati 8. Eyla Rahajeng MS 9. Farid Maulida Fitriani 10.Niken Ayu Suryani 11.Nita Susiani 12.Okky Ary Pradana 13.Rifatul Husniyah 14.Yuhanes Dwi Andriani

I.

DEFINISI 1.1 Definisi Bronkitis Bronkitis adalah suatu peradangan bronkhioli, bronkhus, dan trakea oleh berbagai sebab. Bronkitis biasanya lebih sering disebabkan oleh virus seperti rhinovirus, respiratory syncitial virus (RSV), virus influenza, virus parainfluenza, dan coxsackie virus. (Muttaqin, arif . 2008 ) 1.2 Definisi Bronkitis Bronkitis adalah suatu penyakit yang ditandai oleh adanya inflamasi bronkus. Secara klinis para ahli mengartikan bronkitis sebagai suatu penyakit atau gangguan respiratorik dengan batuk merupakan gejala yang utama dan dominan. ( Ngastiyah . 1997 ) 1.3 Definisi Bronkitis Bronkitis berarti infeksi bronkus. Bronkitis dapat dikatakan penyakit tersendiri, tetapi biasanya merupakan lanjutan dari infeksi saluran peranpasan atas atau bersamaan dengan penyakit saluran pernapasan atas lain seperti Sinobronkitis, Laringotrakeobronkitis, Bronkitis pada asma dan sebagainya (Gunadi Santoso, 1994).

II.

KLASIFIKASI

2.1 Bronkitis Akut Bronkitis akut adalah radang pada bronkus yang biasanya mengenai trakea dan laring sehingga sering dinamai juga dengan laringotracebronchitis. Radang ini dapat timbul sebagai kelainan jalan napas tersendiri atau sebagai bagian dari penyakit sistemik misalnya pada morbili, pertusis, difteri dan tipus abdominalis. Bronkitis akut pada bayi dan anak biasanya juga bersama dengan trakeitis, merupakan penyakit saluran napas akut (ISNA) bawah yang sering dijumpai. 2.2 Bronkitis Kronik dan atau Batuk Berulang Istilah bronchitis kronis menunjukkan kelainan pada bromkus yang sifatnya menahun(berlangsung lama) dan disebabkan oleh berbagai factor baik yang berasal dari luar bronkus maupun dari dalam bronkus sendiri. Bronkitis Kronik dan atau batuk berulang adalah keadaan klinis yang disebabkan oleh berbagai sebab dengan gejala batuk yang berlangsung sekurang-

kurangnya selama 2 minggu berturut-turut dan atau berulang paling sedikit 3 kali dalam 3 bulan dengan atau tanpa disertai gejala respiratorik dan non respiratorik lainnya. III. ETIOLOGI Terdapat tiga jenis penyebab bronchitis akut, yaitu sebagai berikut a. Infeksi, seperti Staphylococcus, Streptococcus, Pneumococcus, Haemophilus influenzae. b. Alergi c. Rangsangan, seperti asap yang berasal dari pabrik, kendaraan bermotor, rokok, dan lain-lain. Bronkitis kronis bisa menjadi komplikasi kelainan patogolik yang mengenai beberapa organ tubuh, yaitu sebagai berikut. 1. Penyakit jantung menahun, baik pada katup maupun miokardium. Kongesti menahun pada dinding bronkus melemahkan daya tahannya, sehingga infeksi mudah terjadi. 2. Infeksi sinus paranasalis dan rongga mulut, merupakan sumber bakteri yang dapat menyerang dinding bronkus. 3. Dilatasi bronkus (bronkietaksis), menyebabkan gangguan pada susunan dan fungsi dindingbronkus sehingga infeksi bakteri mudah terjadi. 4. Rokok, dapat menyebabkan kelumpuhan bulu getar selaput lendir bronkus sehingga drainase lendir terganggu. Kumpulan lendir tersebut merupakan media yang baik untuk pertumuhan bakteri. IV. MANIFESTASI KLINIS a. Penampilan umum: cenderung overweight, sianosis akibat pengaruh sekunder polisitemia, edema (akibat CHF kanan), dan barrel chest. b. Usia: 45-46 tahun c. Pengkajian: Batuk persisten, produksi sputum seperti kopi, dispnea dalam beberapa keadaan, variabel wheezing pada saat ekspirasi, serta seringnya infeksi pada sistem respirasi. Gejala biasanya tibul pada waktu yang lama.

d. Jantung: pembesaran jantung, cor pulmonal, dan hematokrit > 60%. e. Riwayat merokok positif (+) V. PATOFISIOLOGI Alergen Invasi kuman ke jalan nafas

Aktivasi Ig E

Fenomena infeksi

Peningkatan pelepasan histamin

Iritasi mukosa bronkus

Edema mukosa sel goblet Memproduksi mukus

Penyebaran bakteri/virus ke seluruh tubuh, bakteria / viremia

Batuk produktif , sesak nafas, penurunan kemampuan batuk,efektif

Peningkatan laju metabolisme umum Hipertermi

Ketidak efektifan bersihan jalan nafas kurangnya pemenuhan istirahat dan tidur kecemasan

intake nutrisi tidak adekuat, tubuh makin kurus Perubahan pemenuhan nutrisi ketergantungan aktivitas seharihari gangguan pemenuhan ADL

VI. KOMPLIKASI 1. 2. Bronkitis Akut yang tidak ditangani cenderung menjadi Bronkitis Kronik. Pada anak yang sehat jarang terjadi komplikasi, tetapi pada anak dengan gizi kurang dapat terjadi Othithis Media, Sinusitis dan Pneumonia. 3. 4. Bronkitis Kronik menyebabkan mudah terserang infeksi. Bila sekret tetap tinggal, dapat menyebabkan atelektasis atau Bronkietaksis.

VII.

PENATALAKSANAN a. Perbaikan keadaan umum, istirahat dan jangan merokok. b. Bila ada alergi berikan antihistamin c. Bila ada bronkospasme berikan bronkodilator. d. Bila batuk produktif berikan ekspektoran untuk mempermudah pengeluaran riak. e. Berikan terapi simtomatik bila perlu. f. Obat analgetik diberikan untuk mengurangi rasa nyeri, sakit punggung dan otot. g. Terapi istirahat di tempat tidur diberikan sejak panas badan meninggi. h. Cairan diberikan untuk membantu menurunkan panas dan mencegah dehidrasi. i. Berikan diet lunak atau cair.

VIII. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK a. Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan foto thoraks posterio-anterior dilakukan untuk menilai derajat progresivitas penyakit yang berpengaruh menjadi penyakit paru obstruktif menahun. b. Pemeriksaan Laboratorium Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya perubahan pada

peningkatan eosinofil (berdasarkan pada hasil hitung jenis darah). Sputum diperiksa secara makroskopis untuk diagnosis banding dengan tuberkulosis paru. Pemeriksaan kadar gas dalam arteri untuk menentukan pH darah, tekanan CO2 (Pa CO2), tekanan oksigen (Pa O2) dan prosentase saturasi oksihemoglobin (SaO2).

IX. 1.

DIAGNOSA KEPERAWATAN Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sputum dan broncospasme. 2. Gangguan pertukaran gas dengan perubahan supple oksigen 3. Gangguan nutrisi:kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispnea dan anoreksia. 4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidak seimbangan suplei oksigen.

X.

INTERVENSI DAN RASIONAL Diagnosa 1 bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sputum dan bronkospasme Tujuan: bersihan jalan napas efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam Kriteria Hasil : 1. Sputum tidak ada 2. Bunyi napas vesikuler 3. Batuk berkurang atau hilang 4. Sesak napas berkurang atau hilang 5. Tanda-tanda vital normal Intervensi 1. Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas kecepatan irama, kedalaman dan penggunaan otot bantu pernapasan. Rasional: memantau adanya perubahan pola napas 2. Kaji posisi yang nyaman untuk klien, misalnya posisi kepala lebih tinggi ( semi fowler ). Rasional : posisi semi fowler memperlancar sirkulasi pernapasan dalam tubuh 3. Ajar dan anjurkan klien latihan nafas dalam dan batuk efektif Rasional : mengajarkan batuk efektif agar pasien mandiri

4. Pertahankan hidrasi adekuat, adupan cairan 40-50cc/ kg bb/ 24 jam Rasional : mencegah adanya dehidrasi 5. Lakukan fisioterapi dada jika tidak ada kontrak indikasi. Rasional : fisioterapi dada mempermudah pengeluaran secret 6. Kolaborasi dengan tim medis untuk memberikan mukolitik Rasional : untuk menurunkan spasme jalan napas dan produksi mukosa. Diagnosa 2 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan suplai oksigen. Tujuan: gangguan pertukaran gas teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan Selama 1 x 24 jam Kriteria hasil: 1. Nilai analisa gas darah dalam batas normal. 2. Kesadaran komposmentis. 3. Klien tidak bingung 4. Sputum tidak ada 5. Sianosis tidak ada 6. Tanda fital dalam batas normal Intervensi 1. Pertahankan posisi tidur fowler Rasional : posisi fowler memperlancar sirkulasi pernapasan dalam tubuh 2. Ajarkan klien pernapsan diagframatik dan pernapasan bibir. Rasional : untuk menurunkan kolaps jalan napas, dispnea dan kerja napas 3. Kaji pernapasan, kecepatan dan kedalaman serta penggunaan otot bantu pernapasan 4. Kaji secara rutin warna kulit dan membran mukosa Rasional:indikasi langsung keadekuatan volume cairan,meskipun membrane mukosa mulut mungkin kering karena napas mulut dan oksigen tambahan. 5. Dorong klien untuk mengeluarkan sputum, penghisapan lendir jika diindikasikan Rasional: untuk membantu melancarkan jalannya pernapasan 6. Awasi tingkat kesadaran / status mental klien, catat adanya perubahan Rasional: Dengan mengetahui tingkat kesadaran atau status mental klien, sehingga memudahkan tindakan selanjutnya. 7. Ukur tanda vital setiap 4-5 jam dan awasi irama

Rasional: Takikardia, disritmia dan perubahan tekanan darah dapat menunjukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. 8. Palpasi fremitus Rasional: mengetahui adanya bunyi nafas akibat mukus 9. Berikan oksigen sesuai indikasi Rasional: Dapat memperbaiki/mencegah buruknya hipoksia. Diagnosa 3 Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan produksi sputum Tujuan : nutrisi terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam Kriteria hasil : 1. Menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat 2. Menunjukkan perilaku atau perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau mempertahankan berat badan yang tepat. Intervensi 1. Kaji keluhan klien terhadap mual, muntah dan anoreksia Rasional: menentukan penyebab masalah 2. Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan serta ciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman Rasional: menghilangkan tanda bahaya, rasa bau dari lingkungan pasien dan dapat menurunkan mual 3. Anjurkan klien untuk makan sedikit tapi sering Radional: dapat meningkatkan nutrisi dalam tubuh meskipun napsu makan berkurang 4. Timbang berat badan klien setiap minggu Rasional: Berguna menentukan kebutuhan kalori dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi 5. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan komposisi diet Rasional: berguna untuk kestabilan dan gizi yang masuk untuk pasien Diagnosa 4

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan Tujuan: klien dapat melakukan aktifitas secara mandiri setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil: 1. Klien melakuakan aktifitas sehari-hari tanpa bantuan 2. Klien dapat bergerak secara bebas 3. Kelelahan berkurang atau hilang 4. Tonus otot baik menunjukkan angka 5 Intervensi 1. Kali aktifitas yang dilakukan klien Rasional: mengetahui perkembangan aktivitas day living 2. Latih klien untuk melakukan pergerakan aktif dna pasif Rasional: supaya otot-otot tidak mengalami kekakuan 3. Berikan dukungan pada klien dalam melakukan latihan secara teratur, seperti: berjalan perlahan atau latihan lainnya. Rasional: meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan O2 4. Diskusikan dengan klien untuk rencana pengembangan latihan berdasarkan status fungsi dasar Rasional: untuk memberikan terapiyang sesuai pada status pasien saat ini 5. Anjurkan klien untuk konsultasi denan ahli terapi Rasional: menentukan program latihan spesifik sesuai kemampuan klien XI. DAFTAR PUSTAKA Muttaqin, arif . 2008 . Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan . Jakarta : Salemba Medika Ngastiyah . 1997 . Perawatan Anak Sakit . Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC Soemantri, irman . 2009 . Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan edisi 2 . Jakarta : Salemba Medika Gede, Niluh, dkk . 2002 . Kepeerawatan Medikal Bedah . Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Soemantri, irman . 2008 . Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan edisi 2 . Jakarta : Salemba Medika http://ranikoko.blogspot.com/ diakses pada tanggal 11 November 2012 jam 18.15 WIB http://id.scribd.com/doc/52902285/Patofisiologi-Bronkitis diakses pada tanggal 31 Oktober 2012 pada jam 15.45 WIB